LOGINRama terus memompa dari belakang, matanya merem melek merasakan betapa sempitnya milik mertuanya itu. Sensasi ini benar-benar membuatnya candu, bahkan ia hampir lupa bagaimana rasanya bercinta dengan istrinya sendiri lantaran sudah terlalu lama mereka tak berbagi ranjang. Pernikahan Rama dan Nadia kini terasa semakin hambar, hanya menyisakan sikap dingin dan kesibukan masing-masing. Terlebih lagi, Rama sengaja mengecoh istrinya menggunakan akun anonim yang dioperasikan oleh Indra. Dengan begitu, ia bisa leluasa berduaan dengan Alya tanpa gangguan Nadia sedikit pun. Biarlah Nadia sibuk dengan masalahnya sendiri sampai dia melupakan keberadaanku dan ibunya, pikir Rama dengan seringai tipis yang mematikan di wajahnya. Tiba-tiba tubuh Alya kembali bergetar hebat. Ia hampir ambruk jika Rama tidak sigap menangkap perut rampingnya. "Orgasme kedua, Bu?" bisik Rama dengan nada kemenangan. Alya hanya mampu mengangguk lemah, napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak bicara, Rama
"Ya, terus Sayang... terus sebut namaku tanpa embel-embel 'Ibu'. Aku lebih suka kau memanggil namaku saja, lupakan status mertuamu ini," desah Alya seraya mencengkeram kedua pipi Rama, menuntut tatapan langsung dari pria itu. Keringat mulai membasahi pelipis Alya. Rambutnya yang berantakan justru menambah kesan liar dan menggoda. Tatapan matanya yang penuh gairah membuat sosoknya terlihat sempurna di mata Rama. "Sebut namaku lagi, Rama," pinta Alya lirih, bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir pria di hadapannya. Napasnya terengah-engah, berusaha menahan gelombang hasrat yang kian memuncak. Rama mengangguk pelan, seolah terhipnotis oleh pesona wanita yang seharusnya ia hormati itu. "Alya..." ucapnya lembut dengan suara serak yang berat. Mendengar namanya disebut tanpa sekat, Alya memejamkan mata, meresapi panggilan yang terdengar seperti pemujaan itu. Tanpa menunggu lama, ia menarik wajah Rama dan melumat bibir menantunya dengan ganas. Tangan Alya turun ke bawah, me
"Engh... mmmm...." Alya mendesah pasrah saat tangan kasar Rama mulai menjamahi lekuk tubuhnya. Pemandangan itu terasa sangat kontras dengan penderitaan Nadia di mansion, yang saat ini tengah berjuang menghadapi teror tanpa henti dari Indra dan Ambar. "Yes, Ram... ahh!" Alya memekik kecil ketika jemari Rama dengan berani menyelinap masuk ke dalam celana ketatnya yang masih ia kenakan. "Ibu suka?" bisik Rama tepat di telinga Alya. Permainan jemarinya yang lincah sukses membuat Alya melenguh panjang dengan napas yang mulai tak beraturan. "Tentu saja, Sayang... ahh!" Rama tidak membiarkan satu detik pun terbuang. Ia menyesap setiap inci kulit Alya, melucuti pakaian mertuarnya satu per satu sambil menatap tubuh di hadapannya dengan tatapan lapar yang memabukkan. Tanpa aba-aba, Rama menyambar bibir mungil Alya dengan ganas, sementara tangannya meremas kuat gundukan kenyal yang menggoda indranya. "Ram... ahh, terus Sayang... nikmat Sayang... yes!" Alya meracau tanpa henti, keh
"Sudahlah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Suatu saat Ibu harus kuat untuk mengungkap semuanya. Nadia harus tahu kebenarannya," ucap Rama lembut. Ia menatap mertuanya sekilas, lalu kembali fokus pada kemudi. Alya terdiam, hanya mampu mengangguk pelan.“Hah… Ibu tidak menyangka hidup Nadia akan seberantakan ini,” bisiknya lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin mobil.Rama mengangguk tenang. “Itulah kenyataannya, Bu. Dia harus siap menanggung konsekuensi dari apa yang ia tanam sendiri.”“Ibu juga tidak menyangka… kamu diam-diam punya siasat di belakangnya,” desis Alya, nadanya menyiratkan ketidaksetujuan.Ada kegelisahan di wajahnya.Ia tak sepenuhnya suka melihat cara Rama memperlakukan Nadia—bagaimanapun, itu tetap anaknya.Namun di saat yang sama…Alya seolah menutup mata pada kenyataan yang jauh lebih rumit.Bahwa ia sendiri—tengah melangkah terlalu jauh… dengan suami anaknya. Rama tak menjawab. Ia hanya terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa bersalah apalagi tersin
Setelah berbincang panjang, akhirnya Alya mengetahui semuanya. Pria itu adalah Indra, mantan kekasih Nadia yang sudah diperas habis-habisan sampai bangkrut. Begitu Indra jatuh miskin, Nadia meninggalkannya begitu saja tanpa merasa berdosa. Seolah takdir berpihak pada mereka, Indra dan Rama sempat tak sengaja bertabrakan di sebuah restoran waktu iti. dan Saat itu, sebuah foto terjatuh dari jas Indra—foto Nadia semasa kuliah, tampak begitu imut dan cantik dalam seragamnya. Rama yang kaget langsung mencecar pria asing itu. Dari sanalah semua kebenaran terkuak hingga mereka memutuskan bekerja sama. Indra menyimpan banyak aib Nadia, begitu pula Rama. Keduanya menggabungkan "amunisi" tersebut dan mengunggahnya melalui akun anonim. Namun, Indra yang menyimpan dendam kesumat tampak kalap dan kehilangan kendali. Ia terus-menerus mengunggah aib itu tanpa henti, hingga perlahan membuat Rama merasa jengah. Kini, Nadia benar-benar merasakan bagaimana rasanya dikhianati dan dipermalukan
Rama melangkah maju, tangannya mencengkeram leher pria itu dengan tenaga yang luar biasa, membuat napas pria itu seketika tersengal dan wajahnya memerah padam. Siapa sangka, Rama yang biasanya terlihat tenang dan tak punya nyali, kini berubah total menjadi sosok yang mengerikan saat amarahnya meledak. "Ram... lepaskan... a-aku benar-benar gak tahu, dan aku..." suara pria itu tercekik, jemari Rama menekan kuat di jakunnya, mengirimkan rasa perih dan panas yang menjalar ke seluruh tubuh. "Mas Rama! Intan mohon, Mas! Lepaskan!" Intan menjerit histeris sambil berusaha menarik lengan kakaknya. Gadis itu gemetar hebat, bingung sekaligus takut melihat kakaknya seperti orang kesurupan yang siap membunuh. tenaga Rama terlalu kokoh; permohonan Intan sama sekali tak digubris. Dalam kepanikan yang memuncak, Intan teringat satu-satunya orang yang bisa menjinakkan kakaknya. Perempuan yang telah mengubah Rama 180 derajat, satu-satunya sosok yang ditaati Rama dengan sepenuh hati. Dengan
Ternyata itu Anggita. Perempuan manis itu berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam—sangat berbeda dari senyum hangat yang tadi sempat ia lihat. Kini, senyum itu lenyap, tergantikan oleh sorot mata penuh kecurigaan. “Kamu siapa sebenarnya?” tanyanya tanpa basa-basi. Rama mengerutkan dahi, tak m
Rama melangkah kembali ke dalam kamar dengan langkah gontai. Di telapak tangannya, kalung berbandul batu hitam itu terasa sejuk, kontras dengan suhu tubuhnya yang masih panas akibat panggilan video tadi. Ia menatap benda itu lekat-lekat di bawah lampu kamar yang temaram. "Aneh... Aku baru pertam
“Apa saya mengganggu hari santaimu?” tanya pria itu. Suaranya rendah namun berwibawa, dengan tatapan mata yang seolah mampu membaca isi kepala orang di hadapannya. Rama segera menggeleng pelan, berusaha menetralkan rasa canggung yang mendadak menguasainya. “Ah, tentu saja tidak, Tuan. Justru sebu
Rama tiba di Kuala Lumpur dengan perasaan campur aduk. Alamat yang diberikan oleh bosnya ternyata bukanlah alamat kantor biasa, melainkan sebuah gedung pencakar langit megah milik Tan Sri Mukhriz—salah satu konglomerat terkaya di Malaysia. Ia berdiri sejenak, menengadah menatap bangunan tinggi ya







