تسجيل الدخول“T-tuan, a-pa yang Anda lakukan di sini?”
Tubuh Aurin gemetar saat menahan rasa takut, ia juga terbata-bata saat bertanya pada pria itu.Kaki Rayden tergerak maju selangkah demi selangkah.Satu langkah Rayden maju, Aurin akan mundur dua langkah—bahkan lebih, hingga tidak ada lagi ruang untuk lari. Wanita itu benar-benar terpojok di sudut kamar.Rayden segera memangkas jarak. Ia mendekatkan tubuhnya pada wanita itu, hingga nyaris tak ada sekat di antara mere“Oh hell …. Apa yang kamu lakukan di sini, Dokter Darrel McKenzie?” Sebelum menekan handle pintu ke bawah, Rayden mengintip melalui lubang intip yang ada di daun pintu. Namun saat Rayden memicingkan mata untuk melihat dengan jelas siapa yang datang kala itu, tubuhnya seketika membeku, kaku.Itu Dokter Ken!Tanpa banyak kata, Rayden langsung membuka pintu, melayangkan konfrontasi pada Ken. Agar Dea tak melihatnya, Rayden segera menyeret sosok yang ia kenal itu untuk masuk ke dalam kamar Aurin. Di belakangnya, Rega ikut masuk. Di dekat pintu, Rayden mencecar pria berkemeja coklat gelap itu dengan tatapan sinis. Tangannya bersendekap di depan dada, wajahnya mendongak angkuh.Kedatangan Ken di sini cukup mencurigakan, mengusik ketenangan. Apalagi yang Rayden tahu, Ken adalah sahabat baik Dea.Benak mulai menduga, saat beberapa kali periksa, Dea pasti telah membayar Ken untuk tutup mulut. Lalu, Ken juga
“AURIN! AURIN, BANGUN AURIN!”Rayden panik setengah mati. Baru saja Aurin melangkah menjauhinya, tubuh wanita itu tiba-tiba limbung. Sebelum Aurin sempat terjatuh, refleksinya bergerak dengan cepat. Kedua tangan kekarnya sigap menyambar tubuh mungil itu tepat sebelum membentur lantai kamar mandi yang keras.Saat wanita itu berada dalam dekapannya, Rayden semakin kalang kabut. Ia menyeru, menepuk pipi wanita itu berulang-ulang dengan telapak tangannya. “Rin! Bangun, Aurin! Aurin bangun!”Nihil, teriakannya tak sekalipun digubris oleh Aurin. Wanita itu tidak memberikan reaksi, matanya terpejam rapat, tak sadarkan diri. Rayden takut tiga janin yang dikandung Aurin tidak selamat. Maka tanpa pikir panjang, ia langsung membopong Aurin keluar kamar mandi. Ia berniat membawanya ke ranjang. Ketika menggendongnya, Rayden tempat tercenung. Meski katanya Aurin sedang mengandung tiga nyawa sekaligus di dalam rahimnya, namun bobo
“Makanlah selagi hangat,” perintah Rayden dingin, datar, tanpa riak emosi seperti tadi. Sikap Aurin yang selalu tertutup memang membuat Rayden muak. Selama berminggu-minggu, Rayden menunggu kejujuran wanita itu. Sayangnya, Aurin malah diam saja. Kalau tidak dia bongkar, Aurin pun tak akan bicara.Namun kini, Rayden tidak bisa mengabaikan kesehatan calon anaknya. Benci pada ibunya boleh saja, tapi tanggung jawab pada buah hatinya tidak bisa ditawar.Aurin tampak kikuk. Tangan kanannya terjulur ragu-ragu menyentuh box makanan yang terbuat dari kertas tebal itu. Aurin tak yakin untuk menyantap hidangan mewah itu. Sikap Rayden yang berubah seratus delapan puluh derajat ini membuatnya takut.Pikiran Aurin mendadak liar. Bagaimana jika pria ini sengaja membubuhkan racun di dalam makanannya? Atau mungkin, membubuhkan obat yang bisa menggugurkan kandungannya?Jantung Aurin berdetak cepat, kencang dan menghentak kuat. Di satu
“Aurin, ada yang salah?” “Ah! Iya, iya, tidak apa-apa.” Panggilan keras Rayden menyadarkan Aurin dari lamunannya. Mata Aurin berkedip-kedip bingung, ia menyahut tergagap. “Yakin perutmu tidak apa-apa?” tanya Rayden lagi, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Aurin tersenyum canggung, “Iya, Tuan, saya baik-baik saja.” Meski begitu, Rayden mendecakkan lidahnya pelan. Lalu, ia menghela napas. Ia juga menyeletuk, “Akhir-akhir ini, kamu aneh.” “A-aneh?” Aurin menatap Rayden takut-takut. “Aneh bagaimana, Tuan? Saya … baik-baik saja. Sungguh.” “Entahlah,” tanggap Rayden tak acuh. “Kamu sering sekali melamun dan bengong di dekat saya. Kenapa? Takut sama saya yang agak galak ini?” Pertanyaan itu membuat Aurin panik. “I-iya, Tuan … eh, bukan! Bukan! Bukan itu maksud saya, Tuan!” Rayden mendengus mendengar jawaban jujur itu. Sudut bibirnya berkedut, sedikit terangkat. Aneh sekali rasanya saat bicara dengan Aurin. Selama ini, Rayden terbiasa berhadapan dengan wanita yang badas,
“T-tuan, a-pa yang Anda lakukan di sini?”Tubuh Aurin gemetar saat menahan rasa takut, ia juga terbata-bata saat bertanya pada pria itu.Kaki Rayden tergerak maju selangkah demi selangkah.Satu langkah Rayden maju, Aurin akan mundur dua langkah—bahkan lebih, hingga tidak ada lagi ruang untuk lari. Wanita itu benar-benar terpojok di sudut kamar.Rayden segera memangkas jarak. Ia mendekatkan tubuhnya pada wanita itu, hingga nyaris tak ada sekat di antara mereka. Tatapannya tajam bak seekor elang, kini tengah menyorot Aurin yang nampak kerdil. Aurin bagai kelinci di padang pasir yang siap dicabik-cabik oleh pemangsanya.Saat Aurin benar-benar tak berkutik, Rayden menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding—tepat di samping telinga Aurin. Kali ini, Aurin terkurung di antara kedua lengan kekar Rayden. Wajahnya ia tundukkan beberapa sentimeter lebih dekat—sangat dekat hingga berada tepat di depan wajah Aurin yang sangat t
“Apa belum ada kabar dari Aurin?”Rayden menyesap minuman yang ada. Meskipun ekspresi yang terpancar di wajahnya datar dan dingin seperti biasa, namun tetap tersirat sebuah rasa gelisah saat pertanyaan itu terlontar pada asisten pribadinya. Pandangannya mengarah lurus ke depan, menatap permukaan kolam yang tenang. Sementara Rega yang ada di sampingnya, ikut duduk lalu melapor, “Belum, Tuan. Dia belum keluar kamar sejak pagi tadi,” jelas Rega sambil melirik pergelangan tangan kanannya, waktu sudah menunjuk ke angka 10 pagi.“Shit!” Rayden mengumpat pelan, rasa kesal dan khawatir bercampur aduk menjadi satu dalam dadanya. Dia pun menoleh ke arah Rega dan mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi membelit dirinya. “Apa menurutmu, setelah ditampar Dea, pipinya bengkak?”“Saya tidak tahu pasti, Tuan.” Rega menjawab jujur. “Saat saya hubungi tadi, dia tidak menjawabnya.”Rayden beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan mondar-mandir
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Ahhh …. Jangan hanya diam dan menatapku seolah aku ini monster,” bisik Rayden. Jari jemarinya yang kasar membelai paha Aurin dan memberikan tekanan yang menuntut. “Tunjukkan padaku betapa kamu menginginkanku. Kendalikan aku sesuka hatimu atau kamu akan menyesali hukuman yang kuberikan nanti ka
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s







