تسجيل الدخول“Hu … hu … hu ….”
Suara rintihan pelan itu terdengar begitu memilukan, begitu menyayat hati Rayden. Sejak dipindahkan ke ruang rawat inap tiga jam yang lalu, mamanya tak henti-hentinya merintih dan menangis. Air mata terus mengalir lambat dari sudut mata Rita, membasahi bantal rumah sakit yang dingin. Sebelah tubuh wanita paruh baya itu kini benar-benar lumpuh. Tangan kanannya kaku, menekuk tegang di atas dada, sem“Hu … hu … hu ….” Suara rintihan pelan itu terdengar begitu memilukan, begitu menyayat hati Rayden. Sejak dipindahkan ke ruang rawat inap tiga jam yang lalu, mamanya tak henti-hentinya merintih dan menangis. Air mata terus mengalir lambat dari sudut mata Rita, membasahi bantal rumah sakit yang dingin. Sebelah tubuh wanita paruh baya itu kini benar-benar lumpuh. Tangan kanannya kaku, menekuk tegang di atas dada, sementara kaki kanannya terbaring lurus tanpa daya, sama sekali tidak merespons ketika jemarinya disentuh. Rita yang dulu selalu tampak rapi dan memukau, kini hanya bisa berbaring pasrah dengan sudut bibir yang meleyot kaku. Setiap kali ia mencoba membuka mulut untuk memaki atau menolak kenyataan ini, yang terdengar hanyalah rintihan patah-patah yang menyedihkan. Wanita penguasa itu kini harus menelan pil pahit, terjebak
Tuk, tuk, tuk. Suara langkah kaki yang tergesa memecah kesunyian koridor ruang ICU. Rayden, yang masih berdiri mematung di depan pintu kaca, langsung menoleh ke arah sumber suara. Aurin melangkah lebar menghampirinya, didampingi oleh Jack dan seorang anak buahnya yang lain yang berjaga di belakang. Tanpa sepatah kata pun, Aurin langsung menghambur ke pelukan Rayden, mendekap tubuh suaminya itu dengan teramat erat. Rayden pun sama. Ia melingkarkan lengannya, membalas pelukan sang istri dengan kehangatan yang sama besarnya. Sebuah pelukan yang menyalurkan ketenangan luar biasa di tengah badai yang sedang mereka hadapi. Begitu pelukan terlepas, Aurin mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang tampak lelah. “Bagaimana keadaan Mama? Apa beliau sudah sadar?” tanyanya pelan. “Belumn.” Rayden menggeleng lemah. Tak mau membuat istrinya kelelahan jika harus terus berdiri di kor
Di rumah sakit.Sudah tiga jam lamanya Rayden berdiri mematung di depan kaca besar ruang ICU, namun ibunya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Di dalam ruangan steril itu, tubuh Rita tampak ringkih dikelilingi oleh berbagai kabel medis dan monitor yang berbunyi ritmis.Ingatan Rayden kembali pada kepanikan subuh tadi. Setelah dokter di klinik swasta menyatakan Rita terserang stroke mendadak. Hal itu ditandai dengan kesadaran yang menurun drastis dan sudut bibir sang ibu yang mulai meleyot ke satu sisi. Pihak klinik langsung angkat tangan. Mereka menyarankan Rega untuk segera melarikan wanita tua itu ke rumah sakit besar yang memiliki fasilitas penanganan stroke akut.Kini, Rita telah ditangani secara intensif oleh tim dokter spesialis saraf. Namun, statusnya yang masih tak sadarkan diri di dalam ruang ICU membuat atmosfer di koridor rumah sakit itu terasa begitu mencekam.Rayden menghela napas panjang, menyandarkan
“Benar, ‘kan?” timpal Ken pelan. Ia rasa, wanita tua itu memang pantas mendapatkannya. “Itu namanya karma instan karena sudah keterlaluan dan mau mencelakai kamu di altar kemarin. Biar dia tahu rasa!” “Ken! Jaga bicaramu, tidak baik menyumpahi orang yang sedang sakit,” tegur Meisya cepat sambil menyenggol lengan putranya, meski di dalam hati kecilnya ia pun masih menyimpan rasa dongkol atas perlakuan Rita pada Aurin.Ken ikut menarik napas panjang. Meski ia terlihat biasa saja pasca kejadian mengerikan tadi, namun jauh di lubuk hatinya ia menyimpan dendam kesumat pada Rita. Rahangnya sempat mengeras saat kalimat ketusnya tadi ditegur oleh sang mama.Ia bahkan membayangkan betapa kehilangannya ia jika sampai Aurin tertusuk tusuk konde tadi. Membayangkan anak-anak harus kehilangan ibunya, dan bagaimana hancurnya keluarga mereka jika wanita tua itu berhasil melaksanakan niat busuknya. Bagi Ken, Aurin adalah adik kecil yang harus ia lindungi, dan melihatnya nyaris celaka membuat naluri
“Apa? Stroke?”Rayden tersentak bangun, sisa kantuknya menguap seketika. Ia baru saja terlelap satu jam yang lalu setelah melewati malam yang panjang dan intim bersama Aurin. Namun, kini ia terpaksa menegakkan punggung dengan raut wajah yang berubah tegang lantaran sambungan telepon dari Rega, asisten pribadinya, membawa kabar buruk tentang kondisi sang ibu.Dari seberang telepon, Rega menjawab dengan nada berat dan penuh penyesalan. “Benar, Tuan. Tekanan darah Nyonya Besar melonjak sangat tinggi karena ledakan emosi yang luar biasa saat insiden di pernikahan tadi. Ditambah lagi dengan benturan keras saat beliau terjatuh di tangga altar, hal itu memicu pecahnya pembuluh darah di bagian otak yang vital. Dokter menyatakan bahwa akumulasi syok berat dan trauma fisik tersebut menyebabkan Nyonya Besar mengalami stroke mendadak.”“Ya Tuhan ….” Usai meraup wajahnya, Rayden terdiam namun napasnya masih memburu.Pikirannya seketika melayang pada sosok ibunya yang tadi pagi masih penuh dengan
“Tuan, Nyonya Besar—”Salah seorang pengawal yang berada paling dekat dengan posisi jatuhnya Rita menoleh ragu ke arah altar, menunggu instruksi lebih lanjut.“Biarkan saja. Bawa dia pergi!” titah Rayden santai. Suaranya terdengar begitu dingin dan datar, seolah wanita yang baru saja berguling di undakan tangga itu bukanlah orang yang penting dalam hidupnya.Padahal, jauh di lubuk hatinya, sang ibu tetaplah sosok yang sangat penting. Namun, karena tindakan Rita yang sudah melampaui batas—bahkan nyaris mencelakai Aurin dan merusak hari paling sakral dalam hidupnya—Rayden terpaksa menyingkirkannya dulu sementara waktu demi keselamatan semua orang.Rega, asisten pribadi Rayden yang sejak tadi bersiaga di bawah altar, langsung tanggap. Tanpa membuang waktu, ia segera mengkoordinir panitia acara dan memberi isyarat tegas kepada beberapa anak buahnya untuk mengangkat tubuh Rita dari lantai marmer.Namun, begitu tubuh wanita paruh baya itu diangkat, kepala Rita terkulai lemas. Ternyata ia su
“Kita jadi berangkat, ‘kan?” “Jadi.” Rayden menatap Dea lebih serius. Ada yang coba disembunyikan oleh wanita itu darinya. “Kenapa kamu cemas begitu? Apa perutmu sakit?” Dea menggeleng, memaksakan senyuman pada suaminya. “Tidak. Kondisiku aman, dan Dok
Ciiiit!Braaaak!Dea baru saja membuka mulut untuk menjawab pertanyaan pembantunya. Tapi sialnya, sebuah kendaraan sport mewah berwarna merah melesat dari samping kanannya dan memotong jalurnya tanpa basa-basi. Refleks, dia menginjak rem dan kuping sekuat tenaga. Sayangnya, benturan keras itu tak
“Ini surat fit to fly yang kamu inginkan!”Dengan cepat, Ken menyodorkan kertas itu pada Dea, sebagai formalitas saja. Tapi bagi Dea, kertas itu adalah kunci kecil untuk membuka jalan yang dia mau.“Good, itu baru namanya sahabat,” kata Dea. Tanpa ragu, dia menepuk pipi kiri Ken sebanyak dua kali.
“Kamu tidak bisa sembarangan membawanya ke sana, Dea! Jangan egois! Pikirkan kandungan Aurin! Usia kandungannya baru memasuki Minggu ke tujuh saat kamu pergi nanti! Yakin mau tetap pergi, hah? Picik sekali pikiranmu!”Bentakan itu melengking keras di dalam. Ruangan kedap suara ini. Terlalu keras da







