Beranda / Romansa / MENGAJAR CINTA / 55. Taman dan Pantai

Share

55. Taman dan Pantai

Penulis: Nd.park
last update Tanggal publikasi: 2025-08-25 20:14:36

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA

...

Mobil Putra melaju pelan memasuki sebuah tempat wisata yang cukup ramai di hari Minggu ini. Hari yang memang pas untuk keluarga menikmati waktu bersama.

“Kita sampai, Papa?” tanya Ares saat merasakan mobil yang dikendarai Putra mulai melambat.

Masih fokus menyetir untuk mencari tempat parkir, Putra menjawab singkat, “Iya, Boy.”

“Ye, ye, ye! Kita sampai pantai!” teriak Ares senang.

“Bukan pantai, Boy, tapi t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MENGAJAR CINTA   76. Badai Pasti Berlalu

    SELAMAT MEMBACA SEMYANYA***Keesokan harinya, Putra berencana menjemput Ares di bimbel lebih cepat dari biasanya. Ia ingin meminta kejelasan mengapa Dinda menghindarinya. Putra sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menanyakan hal itu. Ia segera berdiri dari kursi kantornya dan langsung mengambil kunci mobil. "Sudah mau pulang, Pak?" tanya Nindi saat melihat Putra keluar dari ruangannya. "Iya, saya duluan," ucap Putra singkat. "Baik, Pak. Hati-hati di jalan," balas Nindi sopan. Putra hanya mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Tak lama kemudian, Putra akhirnya sampai di tempat bimbel Ares. Dari dalam mobil, ia melihat Dinda tengah duduk di mejanya, fokus menatap layar laptop. Setelah memastikan itu benar Dinda, Putra menarik napas pelan. Ia pun keluar dari mobil dan memutuskan menunggu Ares di dalam. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan saat memasuki bimbel. “Waalai

  • MENGAJAR CINTA   75. Pikiran yang Mulai Kacau

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Hampir satu bulan lamanya Putra dan Dinda tidak saling menyapa. Putra sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan Dinda juga tenggelam dalam kesibukannya di bimbel. Bahkan saat Putra sesekali menjemput Ares di bimbel, mereka tak pernah bertemu. Entah Dinda yang sudah pulang lebih dulu, atau justru sengaja menghindar ketika tahu Putra yang akan menjemput Ares. "Pak, Pak Putra," panggil Satria pada Putra yang tampak tidak fokus sejak tadi. "Pak..." panggilnya lagi sambil menepuk pelan pundak Putra, membuatnya sedikit tersentak. Putra menoleh ke arah Satria, alisnya menukik. "Ada apa?" ucapnya datar. Satria menghela napas pelan. "Bapak perlu istirahat?" tanyanya. "Atau ada yang bisa saya bantu? Dari tadi Bapak kelihatan kurang fokus," lanjutnya. Putra mengusap wajahnya pelan dengan kedua tangan, lalu mengembuskan napas panjang. "Sorry, Sat. Gue lagi nggak fokus,"

  • MENGAJAR CINTA   74. Sore yang Sederhana

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   73. Aneh

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Putra bekerja seperti biasa. Ia berada di kantor, berhadapan dengan tumpukan kertas yang sejak tadi diserahkan Santria. Tak lama kemudian, Satria kembali masuk ke ruangan Putra dengan membawa setumpuk berkas lainnya. “Apa lagi?” ujar Putra, sedikit menaikkan intonasi suaranya. Satria yang masih berdiri di ambang pintu terdiam sesaat, jelas kebingungan mendengar nada bicara Putra. “Kenapa sih? Sensi amat gue lihat-lihat lo hari ini,” sahut Satria sambil melangkah mendekat. “Gue capek. Mau pulang,” sahut Putra sambil berdiri, bersiap meninggalkan pekerjaannya. “Gak ada!” teriak Satria. “Gak ada yang namanya pulang duluan. Lihat tuh berkas yang harus lo urus.” Ia menunjuk tumpukan berkas di meja Putra. “Saya capek, Satria. Kamu sebagai asisten saya seharusnya bisa meng-handle ini,” ujar Putra dengan nada dingin khas bos. “Tapi, Pak, ini

  • MENGAJAR CINTA   72. Tanda Tanya?

    *SELAMAT MEMBACA SEMUANYA****Keesokan harinya, Dinda menjalani pagi dengan langkah yang lebih pelan. Senyumnya tetap ada, namun hatinya tidak lagi seutuh biasanya. “Ada masalah, Mbak?” tanya Tari sambil menatap Dinda heran. Dinda tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nggak kok. Emang lagi capek aja beberapa hari ini.” Tari hanya mengangguk paham, paham bahwa Dinda belum ingin bercerita apa-apa padanya. Tak lama kemudian, bunyi pintu dibuka dari luar, menampakkan sosok laki-laki yang sejak tadi memenuhi pikiran Dinda. “Mas Putra,” ucap Dinda pelan sambil berdiri. Putra membalas panggilan itu dengan senyum tipis. “Aku antar Ares untuk belajar hari ini,” ujarnya. “Halo, Miss Dinda,” sapa Ares sambil melambaikan tangan. “Iya, Mas. Hai, Ares,” balas Dinda sambil tersenyum, membalas lambaian itu. Dinda melihat Putra berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Ares.

  • MENGAJAR CINTA   71. Perasaan yang Disalahkan

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA***Sudah beberapa hari komunikasi Dinda dan ibunya merenggang. Hal itu tentu saja disadari oleh sang suami, Sulin. “Buk?” panggil Sulin, mencoba membuka obrolan dengan istrinya, Ara. “Bapak perhatikan ibu dan kakak sepertinya sedang bertengkar, ya?” lanjutnya tanpa menunggu jawaban atas panggilannya. Ara yang sejak tadi sibuk menyiapkan makan malam akhirnya duduk dalam dekat suaminya setelah semua menu tersaji. “Perasaan bapak saja kali,” sahut Ara, masih berusaha menghindar. “Bapak sudah hafal kebiasaan ibu kalau sedang marah,” ujar Sulin sambil menggenggam tangan Ara dan mengelusnya pelan. Ara menghela napas pelan, lalu berkata, “Ibu kesal, Pak,” ucapnya, memulai cerita.Sulin tetap diam, menunggu istrinya melanjutkan. “Ibu kesal sama kakak. Bapak masih ingat, kan, anak laki-laki kecil yang pernah kakak bawa ke rumah kita?” lanjutnya. Sulin yang memang ma

  • MENGAJAR CINTA   57. Sederhana Tapi Berarti

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Dekat, semakin dekat. Kedekatan Putra dan Dinda terasa makin erat karena Ares yang selalu minta jalan bersama. Ah, tidak… benarkah hanya karena Ares? Atau karena papanya juga… ups. Di ruangan ber-AC yang tenang itu, seseorang teng

  • MENGAJAR CINTA   56. Confess!!

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA ... Semakin hari, kedekatan antara Putra dan Dinda semakin terasa, apalagi setiap kali Ares pulang dari bimbel, Putra lah yang selalu menjemputnya Namun hari ini, Dinda hanya berada di bimbel setengah hari, sehingga Ares terpak

  • MENGAJAR CINTA   53. Hari Pertama Bimbel

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Ares sudah kelelahan bertanya soal tujuan perjalanan mereka, dan akhirnya tertidur. Padahal, perjalanan baru memakan waktu sekitar dua puluh menit. Putra membelokkan mobilnya, memasuki area parkir tempat bimbel. Sesuai perkataannya pada Are

  • MENGAJAR CINTA   52. Kemana Papa?

    SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...Malam itu rumah sudah mulai tenang. Hanya suara jarum jam di ruang kerja yang terdengar, menemani Putra menatap tumpukan berkas di mejanya. Namun pikirannya justru melayang entah ke mana, bukan pada angka-angka atau laporan yang terbuka di hadapannya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status