LOGINselamat membaca
"jangan pergi.. "Ayura mengangkat satu alisnya."Apa? Ternyata kau bisa bicara?""Jangan ...."Untuk beberapa saat keduanya hanya saling bertatapan. Ayura masih heran dan tenggelam dalam pikirannya, sementara lelaki kecil itu panik dan diam-diam memikirkan cara untuk mencegahnya pergi. Dia memegang tangannya erat-erat, tangan yang paling halus yang pernah dia genggam, kecil dan hangat."Aku tidak bisa menemuimu selamanya," kata Ayuta, lalu memandang tangan kotor dan dekil dengan alis menyatu. "Hei, bisa tolong lepaskan aku?"Perlahan, dia melepaskannya meski dengan terpaksa."Siapa namamu?"Perasaan rendah diri itu hadir untuk pertama kalinya di hadapan sang gadis. Selama ini dia mewaspadainya, tapi diam-diam tanpa menyadarinya sama sekali, dia bergantung padanya. Dia malu menatapnya, dirinya adalah seseorang yang tidak memiliki apa-apa dihadapan seorang gadis cantik yang memiliki banyak binar berseri di matanya.Laki-laki itu menggeleng dengan kepala menunduk."Aku ... aku tidak me
Sore itu, langit mendung menggantung rendah di atas kota kecil yang jauh dari metropolitan, menampilkan hujan yang akan turun. Tidak lama, butiran air tersebut mulai jatuh dengan deras, mengubah jalanan menjadi sungai kecil yang mengalir cepat. Di sebuah gang sempit, air hujan mengalir membentuk genangan di setiap sudut yang tak terjamah saluran pembuangan.Di tengah kebisingan tetesan hujan, terdapat seorang pengemis yang meringkuk di pinggiran tembok pada sebuah gang buntu, berdekatan dengan tempat sampah. Tubuhnya yang kurus terbungkus jaket lusuh yang sudah tak mampu lagi menahan dingin. Matanya yang sayu memandang ke arah orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan dengan muram, sementara perutnya keroncongan menahan lapar.Tangan-tangannya yang keriput dan kotor itu meremas erat kantong plastik yang tampak kosong, seakan mencari sesuatu yang bisa mengisi kehampaan. Sayangnya, makanan terakhir yang dia miliki telah habis sejak tiga hari yang lalu, kini krisis pangan yang
Untuk pertama kalinya, Ayura melihat Largo mengembangkan senyuman meski itu tipis. "Ya, itu kau." Tubuh Ayura menjadi kaku. Beberapa ingatan samar terlintas di otaknya. Awalnya dia tidak yakin apakah itu adalah peristiwa yang terlupakan atau hanya mimpinya belaka. Namun, sekarang semuanya menjadi jelas. Ayura ingat, dulu dia melihat seseorang yang meringkuk di gang gelap, tubuhnya sangat kurus dan gemetaran. Orang itu tampak seolah-olah sedang sekarat. Karena tidak tega melihatnya dalam kondisi seperti itu, Ayura memberikan makanan dan juga payung yang sedang ia gunakan. "Largo-" Ayura tidak bisa berkata-kata. Dia menyentuh dada kirinya sekilas dan merasakan jantungnya berpacu dengan begitu cepat, berbagai emosi merayap di dadanya. Dahulu, sekitar lima tahun lalu, dia menolong seseorang, berdoa agar kehidupannya menjadi lebih baik. Lalu ia tidak pernah menemuinya lagi karena dia pikir gelandangan itu sudah menjadi lebih baik tanpanya karena telah sembuh. Hingga perlahan gela
Largo membaringkan Ayura di atas ranjang, kemudian melepas sepatunya dan menarik selimut hingga ke dadanya. Dalam remang-remang cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai, Largo menatap wajah Ayura dengan lekat. Di tengah tekanan yang dihadapi Ayura, wajahnya yang damai saat tertidur membangkitkan insting Largo untuk melindunginya. Semua orang ingin menyakiti Ayura, akan lebih baik jika dia menyembunyikan gadis itu di suatu tempat yang jauh, sampai tidak bisa ditemukan siapapun. Setelah puas memandangi wajah Ayura, Largo tersadar. Dia tidak tahu perasaan apa yang sedang merayap di hatinya, mungkin bukan kasih sayang, atau justru sesuatu yang lebih mengikat. Hampir tak terkendali, terutama saat dia menyentuhnya lebih banyak. Itulah kenapa Largo buru-buru pergi dari sana, lalu memastikan kamar Ayura terkunci rapat. Tepat saat Largo mengunci pintu, Brian muncul dengan wajah merah padam yang tampak berapi-api, mendekat nyaris memukulnya kalau saja dia tidak menghindar. "Brengsek! K
Ayura duduk di kloset tertutup, mengambil napas sejenak dan membenarkan riasannya yang perlu diperbaiki sedikit. Toilet itu sepi kala dia memasukinya, tapi sekarang beberapa gadis masuk. Sepatu hak mereka terdengar gaduh, sepertinya ada banyak orang di wastafel toilet. Ayura masih sibuk memperbaiki riasannya saat telinganya menangkap suara dari luar pintunya. "Apa kau melihatnya? Dia pincang seperti yang dirumorkan." Gerakan Ayura sontak terhenti. "Aku tidak mengerti mengapa Brian mengajaknya kemari." "Ya, itu aneh, 'kan? Kudengar rumah tangganya berjalan buruk. Di hari pernikahan mereka, waktu itu sempat viral bahwa Girsa Widjaja tidak memakaikan cincin ke jarinya ataupun menciumnya. Itu sangat buruk." Setelah mengatakannya, orang itu tertawa, disusul tawa rekan-rekannya yang lain. Ayura sudah tidak lagi memikirkan riasannya. Dia sekarang sadar bahwa dirinya terlalu naif, menganggap mereka semua baik padanya, padahal di belakang, mereka sama seperti yang lain, mengejek
Setelah seharian penuh memulihkan diri, Ayura akhirnya bisa beranjak dari kasur. Badannya sudah lebih enteng. Kemarin, Girsa mengantarnya pulang lantaran pria itu hendak melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri entah sampai kapan. Dan dua hari berlalu semenjak dia sembuh. Seperti biasa, rumah besar kediaman Widjaja terasa membosankan baginya. "Bukankah ini sangat membosankan? Kurasa aku belum menyentuh pekerjaanku semenjak pulang dari kantor Girsa." Ayura bergumam sendiri di dalam kamarnya. Ia mengambil peralatan kerja miliknya, hanya untuk mendapati bahwa barang-barang miliknya telah hilang. Ekspresi keterkejutan nampak jelas di wajahnya. "Girsa!" Ayura menggeram marah, menyapu barang-barang di atas meja dalam sekali sentakan, membuat bunyi gaduh akibat barang-barang yang berjatuhan. Ayura berteriak menjambak rambutnya sendiri. Kemarahannya menghilang secepat itu datang tiba-tiba. Napasnya masih terengah, tapi emosinya sudah kembali terkontrol. Dia jatuh terduduk di kursi sa
Elena melebarkan matanya ketika melihat Brian berlari sembari menggendong Ayura yang pingsan. Ia buru-buru mengejarnya. Wanita berkepala lima yang masih lincah karena sering yoga dan berolahraga itu menghentikan Brian dan bertanya dengan raut terkejut. “Ada apa ini, Brian? Apa yang terjadi pada Y
Seperti sudah menjadi kebiasaan, Ayura selalu bangun pagi. Hanya saja kini ia bukan lagi seorang pelayan. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan sebagai istri Girsa di pagi hari. Girsa sendiri belum kembali sejak pria itu pergi. Dan entah mengapa, hal itu justru cukup melegakan. Ayura memu
Ayura tidak mengira kejadian ini berubah menjadi menjadi yang sangat besar. Ia sempat optimis akan dibuang atau disuap uang, lalu diusir dengan penuh drama. Keluarga Wijaya memang bukan tipe keluarga yang suci dan taat, tapi Daren, sang kepala keluarga amat menjunjung tinggi moralitas dan tanggun
Ayura sontak menoleh. "Kemari, bawakan tehnya." "Brian?" Shanina menatap bingung, alih-alih beristirahat di kamarnya, Brian justru ada di kamar Girsa di ujung sana. Bagi Ayura, Kamar Tua Girsa menjadi tempat yang pantang untuk dilewati semenjak kepulangan putra sulung keluarga Wijaya itu. Meski







