INICIAR SESIÓNselamat membaca...
Ayura terkekeh sinis. "Aku tahu, kepindahan paman dan bibiku sangat janggal, apa alasan mereka untuk pindah? Lalu tiba-tiba River bilang kalau dia dipaksa untuk tidak mengatakan kebenaran tentang ayahku. Aku tahu bahwa ini adalah ulah tuanmu yang tidak berperasaan," desis Ayura.Largo tidak bisa mengatakan apa pun sebagai bantahan, semua itu memang merupakan fakta. Sorot mata Ayura penuh dengan kekecewaan, Largo takut Ayura akan ikut membencinya hanya karena dia melaksanakan perintah Girsa. Jika Ayura membencinya, dia rela melakukan apa saja untuk dimaafkan lagi, bahkan jika itu mengkhianati Girsa selaku orang yang telah menyelamatkan kehidupannya.Ayura mengatupkan rahang, amarahnya begitu membumbung tinggi, tetapi entah bagaimana dia dapat menahannya meski tubuhnya gemetar."Kapan?" tanya Ayura dengan suara yang bergetar."Yuraaa-" Ayura menatap Largo murka. "Sejak kapan kalian tahu?! Sejak kapan Girsa tahu semua ini?!" desak Ayura dengan nada tinggi.Largo meneguk salivanya, men
Ayura menyayangkan ponselnya yang rusak, padahal sebelumnya dia menerima pesan dari River yang belum sempat dia baca. Mungkin ada petunjuk tentang ayahnya, tapi pertama-tama dia harus memperbaiki ponselnya terlebih dahulu. Ayura diam-diam mengambil tasnya dan pergi dari rumah keesokan harinya, Girsa tidak akan mengetahuinya karena sekarang pria itu sedang ada di ruang kerjanya bersama Largo.Siang itu, ia berhasil keluar dari kediaman Widjaja, lalu setelahnya buru-buru memesan taksi karena dia tidak pergi dengan supir, dia keluar melewati gerbang kecil di taman samping. Ayura pergi ke tempat service ponsel. Sembari menunggu ponselnya diperbaiki, dia pergi ke rumah bibinya. Selagi tidak diketahui Girsa, dia bebas melakukan apa pun.Menurutnya ada yang aneh, karena Girsa melarangnya pergi ke rumah bibinya sendiri, padahal sebelumnya dia bebas pergi kesana. Ayura akhirnya sampai di rumah paman dan bibinya, hanya saja dia merasakan atmosfir yang berbeda dari rumah tersebut. Rumah terse
Ayura heran dengan paman dan bibinya, perlahan keheranannya berubah menjadi perasaan curiga. Waktu itu bibinya menagih uang, tapi ketika dia hendak memberikannya, bibinya membalas pesannya bahwa dia tidak perlu datang ke sana lagi karena pamannya menggadaikan entah apa-harta milik mereka, dan mendapatkan uang banyak. Jadi, uang yang diberikan Girsa sekarang masih utuh. Hanya saja, Ayura justru curiga. Dia harus mengecek sendiri sesuatu yang janggal tersebut, perasaannya tidak enak. Ayura menyelempangkan tas di pundaknya dan melangkah menuju pintu ketika pintu kamar dibuka dari luar, menampilkan Girsa yang hendak masuk. Ayura mundur, ia segera memasang senyuman tipis. Tubuh Girsa berkeringat sehabis berolahraga, pria itu hanya memakai singlet putih yang menampilkan otot bugarnya. Namun, Girsa sendiri tidak yakin apa penampilannya dapat menggugah hati Ayura barang sedikit saja. Girsa menatap Ayura dari atas ke bawah. Keningnya berkerut tak suka melihat Ayura berdandan seperti he
Ruangan kerja Girsa penuh dengan bekas kekacauan di beberapa tempat, seperti sofa, meja, atau di dekat jendela. Beberapa barang jatuh ke bawah dan membuat ruangan tampak berantakan. Beberapa saat lalu, pergumulan sepasang suami-istri tersebut begitu intens setelah Girsa bertindak tanpa pertimbangan, menekan Ayura dengan kuat. Berhari-hari semenjak percakapan aneh Giraa sore itu tentang sumpah dan segala macamnya, Girsa menjadi aneh. Pria itu seakan tak ingin meninggalkannya barang sedetik pun, dengan intensitas yang hampir menyakitkan. girsa tak ingin berpisah sejengkal pun darinya. Ayura menjadi yang pertama bangun. Dia lantas memakai pakaiannya dan berjalan menuju pintu. Hari sudah malam, dia belum menampakkan diri pada makan malam kali ini pada keluarga Widjaja, mungkin itu sudah terlewatkan. Keningnya berkerut khawatir memikirkan Elena yang akan menjulidinya lagi. Namun, kala dia membuka pintu, sosok Largo yang mengangkat tangan hendak mengetuk pintu terpampang di depannya
Ayuraa masuk ke ruangan Girsa dengan memasang senyuman berseri. Tatapan mereka bertemu, Ayura berjalan ke hadapan Girsa dan menaruh camilan yang dia bawa di atas meja. Ayura sedikit gugup saat melihat tatapan Girsa yang memandangnya dengan sorot sulit diartikan. Namun, Ayura tetap melancarkan sandiwaranya. "Aku sengaja membuatnya untukmu, makanlah sedikit. Seharian ini kau terus berada di sini tanpa keluar." Girsa hanya memberikannya tatapan mematikan, membuat Ayura tanpa sadar gemetar. Niatnya yang ingin bergelayut di tubuh Girsa dia urungkan. Ayura menyembunyikan tangannya yang gemetar di belakang tubuhnya. Padahal Girsa tidak melakukan apa-apa, tapi reaksi tubuhnya terkadang masih sama seperti dulu-penuh antisipasi dan ketakutan. "Ada apa?" tanya Ayura terbata. "Apa kau marah?" Girsa memandang lurus mata Ayura. Jelas terlihat bahwa gadis itu tengah terintimidasi, rasa takut tampak begitu jelas di matanya, membuat penyesalannya kembali berkobar. Hatinya ikut sakit. Namun, en
Semenjak mengetahui fakta bahwa Ayura tengah mencari ayahnya, Girsa mulai mempertanyakan seluruh tingkah laku Ayura terhadapnya selama ini. Selama melakukan perjalanan bisnisnya beberapa waktu lalu, dia tidak pernah bisa tenang, tanpa sadar dia selalu memikirkannya. Meski dia sibuk-beberapa kali melakukan penerbangan dalam satu waktu untuk melakukan kerjasama, Girsa sebenarnya tidak begitu fokus terhadap pekerjaannya. Heidy datang ke tempatnya di hari kelima. Jika itu dulu, mungkin dia akan senang dengan kedatangan wanita itu, tapi sekarang semuanya telah berubah. Dirinya yang dulu mungkin akan mengamuk jika tidak bertemu wanita itu. Sekarang ia sadar bahwa dia tidak lagi begitu memikirkan atau menginginkan Heidy, mungkin sejak awal melihatnya berselingkuh, kepercayaan dan perasaannya hancur. Tanpa keraguan dia mengabaikan Heidy. Hal itu membuat wanita tersebut semakin beringas, dengan lancang menyentuh tubuhnya, membuatnya refleks mendorongnya dengan kasar. Tidak ada peny
“Apa yang terjadi di sini?!” Seorang bartender bertubuh kekar menerobos kerumunan dengan wajah garang. Begitu melihat kondisi bar yang porak-poranda—bangku terbalik, pecahan gelas dan botol alkohol berserakan—emosinya langsung memuncak. Seorang pria tergeletak dengan wajah babak belur, sementar
Ayura tahu paman dan bibinya tidak akan pernah menyerah untuk mendorong Ayura menjadi bagian keluarga Wijaya. Tujuan mereka jelas, ingin menguras harta keluarga Wijaya jika Ayura berhasil menjadi istri Brian. Tapi Ayura tidak mau! "Bibi, Yura tidak bisa melakukan ini, sungguh. Yura akan mencob
"Sayang, lihat pelayan itu!" Mendengar ucapan wanita yang menjadi kekasihnya, Girsa yang sedang memeriksa pesan masuk dari kolega bisnis mendongak. "Ya? Oh, ya. Aku melihatnya. Kenapa?" Heidy menjilat sebentar selai raspberry di ujung bibirnya, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kurasa dia
"Yura!" Panggilan itu menghentikan gerakan Ayura yang hendak memasukkan obat per4ngsang ke dalam gelas Brian. Ia buru-buru memasukkan kembali botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya sudah gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya. "Hai, Resy! Eh, kenapa kemari? Di mana Rudy?"







