MasukSelamat membaca!
Ayura duduk di kloset tertutup, mengambil napas sejenak dan membenarkan riasannya yang perlu diperbaiki sedikit. Toilet itu sepi kala dia memasukinya, tapi sekarang beberapa gadis masuk. Sepatu hak mereka terdengar gaduh, sepertinya ada banyak orang di wastafel toilet. Ayura masih sibuk memperbaiki riasannya saat telinganya menangkap suara dari luar pintunya. "Apa kau melihatnya? Dia pincang seperti yang dirumorkan." Gerakan Ayura sontak terhenti. "Aku tidak mengerti mengapa Brian mengajaknya kemari." "Ya, itu aneh, 'kan? Kudengar rumah tangganya berjalan buruk. Di hari pernikahan mereka, waktu itu sempat viral bahwa Girsa Widjaja tidak memakaikan cincin ke jarinya ataupun menciumnya. Itu sangat buruk." Setelah mengatakannya, orang itu tertawa, disusul tawa rekan-rekannya yang lain. Ayura sudah tidak lagi memikirkan riasannya. Dia sekarang sadar bahwa dirinya terlalu naif, menganggap mereka semua baik padanya, padahal di belakang, mereka sama seperti yang lain, mengejek
Setelah seharian penuh memulihkan diri, Ayura akhirnya bisa beranjak dari kasur. Badannya sudah lebih enteng. Kemarin, Girsa mengantarnya pulang lantaran pria itu hendak melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri entah sampai kapan. Dan dua hari berlalu semenjak dia sembuh. Seperti biasa, rumah besar kediaman Widjaja terasa membosankan baginya. "Bukankah ini sangat membosankan? Kurasa aku belum menyentuh pekerjaanku semenjak pulang dari kantor Girsa." Ayura bergumam sendiri di dalam kamarnya. Ia mengambil peralatan kerja miliknya, hanya untuk mendapati bahwa barang-barang miliknya telah hilang. Ekspresi keterkejutan nampak jelas di wajahnya. "Girsa!" Ayura menggeram marah, menyapu barang-barang di atas meja dalam sekali sentakan, membuat bunyi gaduh akibat barang-barang yang berjatuhan. Ayura berteriak menjambak rambutnya sendiri. Kemarahannya menghilang secepat itu datang tiba-tiba. Napasnya masih terengah, tapi emosinya sudah kembali terkontrol. Dia jatuh terduduk di kursi sa
Largo menjalankan tugas khususnya. Setelah membuat Ayura dikeluarkan secara paksa dari pekerjaannya yang sekarang, dia juga mengambil laptop, alat desain, dan barang-barang yang dipakai gadis itu untuk bekerja, untuk kemudian diserahkan kepada Tuan Girsa. Sejak awal ditugaskan, ia sudha merasa aneh. setelah mengamati selama beberapa waktu, dia tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga majikannya. Largo sendiri adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan kota terpencil, yang hidup di bawah kekejian rumah perdagangan manusia-berkedok panti asuhan. Dia adalah satu-satunya anak yang menyadari kebenaran tersebut, lalu melarikan diri dengan penuh rasa ketakutan yang mengakar kuat. Dia tidak ingin menjadi seperti temannya yang berakhir termutilasi di dalam drum bersama organ-organ manusia milik entah siapa. Selama tiga tahun, ia luntang-lantung di jalanan, mengais makanan dari tempat sampah atau menerima belas kasihan para dermawan. Berbagai kejahatan paling keji telah
Ayura mengetahui makna kalimat Girsa ketika kembali ke kamar yang mereka tempati sebelumnya. Kamar itu tampak seperti kamar pasangan yang tengah melakukan honeymoon romantis. Cahaya redup dari lilin-lilin yang tersusun rapi di sekeliling ruangan menciptakan sorotan lembut yang menambah nuansa misterius namun menggoda. Ketika ia pergi ke kamar mandi, bathub besar yang terletak di sudut diisi oleh kelopak bunga mawar merah yang tersebar dengan indah di permukaan air, memberikan aroma floral yang memikat. Di sisi lain ruangan, meja makan untuk dua orang telah diatur dengan sempurna. Taplak meja berwarna merah marun dan piring-piring porselen dihiasi dengan peralatan makan perak berkilau. Di tengah meja, sebuah vas kaca tinggi berisi rangkaian bunga tulip dan peony menambahkan sentuhan elegan. Gelas-gelas anggur kristal berdiri anggun di samping botol anggur merah yang siap dituang. Ayura terkesima. Andai saja yang menyiapkan semua ini bukan Girsa, dia mungkin akan menaruh hatinya
Ayura menggeleng. Kedua tangannya menyentuh lengan Girsa, berusaha menahan serangan tiba-tiba pria itu, dan untungnya Girsa mengeluarkan jarinya. Ayura berusaha menarik simpati Girsa, alisnya terkulai dan matanya berkaca-kaca. "Aku tidak berbohong. Aku hanya ... sangat mencintaimu. Girsa, aku mencintaimu." Ayuraa tidak bisa memikirkan alasan untuk mengelak, dan dia mengalungkan tangannya di leher Girsa, menyambar bibirnya dan melumatnya dengan tergesa. Girsa terdiam sesaat, hanya sesaat sebelum hasratnya mengambil alih semuanya dan kemudian mengikuti permainan Ayuraa. Tangannya melingkari pinggang ramping Ayura, meremas lengannya yang bergetar. Girsa memimpin ciuman mereka, awalnya perlahan kemudian menjadi semakin menuntut. Rasa panas menjalari tubuhnya hingga membuatnya goyah menahan diri. Girsa mendorong bahu Ayura, membuat gadis itu terduduk di sofa. Girsa buru-buru melepaskan jasnya dengan mata tak berpaling memandang wajah Ayura yang penuh keyakinan. Ia masih terkej
Meskipun pekerjaannya saat ini tidak menghasilkan uang sebanyak sebelumnya, Ayura senang karena setidaknya dari pekerjaan barunya ia bisa menyisipkan uang untuk menabung. Ia menggunakan uang tabungannya untuk membiayai perawatan ayahnya jika ayahnya ditemukan. Dia tak lagi berharap pada Girsa, pria itu pelit. Ayura merentangkan tangannya ke atas, tulangnya mengeluarkan bunyi "krek" saat ia meregang. Punggung dan persendian nya terasa kaku setelah berjam-jam duduk menggambar desain baju. Sebuah senyuman tipis tergambar di bibirnya, penghasilan tambahan bulan ini memungkinkannya membeli laptop baru yang membuat pekerjaannya semakin lancar. Ayura baru saja mandi dan berdandan. Hari ini, sesuai rutinitasnya, ia harus mengantarkan makan siang untuk Girsa. Sebelumnya, ia mencoba resep kue baru dari internet. Sayangnya, hasilnya tidak sesuai harapan, kuenya tampak seperti kotoran yang gosong. Namun, itu tidak terlalu menjadi masalah karena pada akhirnya kue tersebut akan dibuang jug
Ayura perlahan mulai membuka matanya. Hidungnya mencium bau antiseptik yang kuat, khas rumah sakit. Suara orang-orang terdengar di sekitarnya, tapi telinganya tidak dapat menangkap jelas apa yang mereka katakan. Seluruh tubuhnya amat sakit dari ujung kepala hingga ujung kaki, perih dan terasa mem
Ayura ditinggalkan sendirian. Girsa, Heidy, dan tiga orang lainnya berbaur dengan kelompok lain, jauh di pojok. Masing-masing tangan mereka memegang gelas berisi wine mahal, tampak asyik mengobrol dan sesekali tertawa. Ayura hanya memandang mereka seraya menghela nafas pelan. Ia merasa bosan, d
Ayura melihat Girsa yang bertelanjang dada tengah memakai kausnya. Rambutnya masih meneteskan air. Harum sabun khas milik pria itu menggelitik hidungnya, entah mengapa membuatnya ingin mendekap pria itu. Ayura menggeleng menyadari pemikiran gilanya. Ia menyukai bau sabun Girsa. Sepertinya ia akan
Ayura membereskan alat tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas dengan tergesa. Pandangannya melirik seorang pria yang baru saja berdiri dan melangkah keluar kelas di tengah keramaian murid lain. Kening Ayura berkerut, rasa kesal menyeruak. “Brian, tunggu aku!” pekiknya sambil menyampirkan tas







