เข้าสู่ระบบSelamat membaca!
Hari ini Girsa pulang lebih awal, bahkan sebelum jam makan siang. Beberapa bulan terakhir keadaan perusahaannya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Setelah melewati masa kerugian yang cukup berat, ritme kerja di kantor kini menjadi lebih fleksibel. Banyak urusan sudah dapat diselesaikan oleh para direktur divisi tanpa harus menunggunya turun tangan langsung. Begitu mobilnya berhenti di depan mansion Widjaja, suasana yang menyambutnya terasa terlalu sunyi. Rumah itu sangat besar—terlalu besar untuk terasa hidup ketika sebagian penghuninya tidak ada. Girsa berjalan melewati lorong panjang dengan langkah santai. Sepatunya berdetak pelan di lantai marmer yang mengilap. Para pelayan mungkin sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing. Ibunya kemungkinan sedang keluar bersama teman-teman sosialita nya untuk makan siang atau berbelanja. Bisa juga ia sedang tidur siang di kamarnya yang selalu tertutup. Ayahnya masih berada di luar negeri untuk urusan bisnis. Brian tent
Malamnya, Girsa pulang tepat waktu. Setelah makan malam bersama, sepasang suami istri tersebut kembali ke kamar. Ayura tidak melihat Largo disekeliling mereka, pria itu sudah menghilang sejak tadi, dia akan menghilang jika Girsa datang, dan muncul saat dibutuhkan. Keberadaannya tidak bermanfaat, nyatanya hanya dia yang diberi pengawasan sampai ke dalam rumah oleh Girsa, sedangkan yang lain tidak.Melihat Girsa keluar dari kamar mandi dan langsung duduk memangku laptop, membuat Ayura melangkah mendekat. "Apa kau ingin kupijat?" tanya Ayura berbasa-basi, padahal sebenarnya ia ingin lekas beristirahat. Namun demi membangun hubungan yang baik dengan Girsa, Ayura masih harus membuat ptia itu setidaknya menyukainya. "Mungkin aku bisa merilekskan tubuhmu yang kaku." Girsa mengalihkan pandangan dari laptopnya ke arah Ayura, lagi-lagi rautnya sulit dibaca. "Apa kau sengaja melakukannya?" Girsa menyipitkan mata, nada suaranya terasa merendahkan Ayura. . "Apa maksudmu?" Ayura gagal paha
Ayura sudah bersiap dengan pakaian formal paling bagus yang ia miliki. Wajahnya dipoles dengan riasan yang lebih tebal dari biasanya, merubah fitur murni nan lugunya menjadi lebih dewasa dan tajam. Setelah mempersiapkan berkas-berkas untuk melamar pekerjaan, ia melangkah keluar kamar. Ia membuka pintu dengan hati damai, tapi sepenuhnya terkejut ketika melihat Largo berdiri di samping pintu, tubuhnya terlonjak. "Kau mengagetkanku!" kesal Ayura. Largo menunduk sedikit. "Maafkan saya, Nona." Ayura hanya mendengus. Ia merapikan rambutnya sebentar sebelum melanjutkan langkahnya yang tertunda. Namun, Largo mengikutinya. Ayura berbalik dan menatapnya tegas. "Kali ini apa kau akan mengikutiku juga?" "Ya, Nona." Ayura mengetatkan rahangnya, menahan kekesalannya. Lagi-lagi dia harus menjaga emosi seseorang. Perkataan Girsa kembali terngiang di kepalanya. Largo adalah sosiopat, dia mungkin berbahaya jika lepas kendali. Pandangannya yang tenang dan emosinya yang seakan ter
Pagi itu suara dering ponsel berbunyi nyaring, membangunkan Ayura dari tidurnya. Dari celah matanya, Ayura melihat Girsa terbangun dan mengambil ponsel di atas nakas. Ia memilih untuk berpura-pura tidur, namun dalam diam memerhatikan Girsa yang berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Pagi ini dia tidak mood bertingkah manis di depan Girsa—sejak subuh dia sudah berencana, lebih baik bangun setelah pria itu berangkat bekerja. Ayura mendengar Girsa menghela napas lelah. "Kukira ada apa, Heidy, ternyata hanya karena ini kau menghubungiku pagi-pagi buta." Ayura tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Heidy di seberang telepon—dia tidak peduli. "Ya, aku juga merindukanmu," kata Girsa, matanya melirik Ayura yang masih terlelap, napas gadis itu begitu teratur. Girsa turun dari kasur karena tidak ingin membangunkan Ayura. Girsa berhenti di dekat pintu kaca yang menghubungkan ke balkon, menaruh sebelah tangannya di atas pinggang. "Bersabarlah sebentar lagi. Jangan k
"Turunkan aku! Siapa kau?!" pekik Ayura, sambil tangannya bergerak memukuli pria itu. "Anda harus segera diobati, Nona." "Apa? Apa kau gila?! Aku bahkan tidak mengenalmu!" "Maaf menakuti Anda," katanya sopan, tapi tanpa emosi apa pun. "Saya terlambat memperkenalkan diri, saya Largo, saya pengawal yang ditugaskan Tuan Girsa untuk menjaga Anda." Ayura tidak bisa mencerna kalimatnya secara langsung. Lidahnya terlalu kehabisan kata-kata. Dari semua orang yang mengirimkan pengawal adalah Girsa—bukan yang lain, tapi Girsa? Namun, Ayura tidak melihat kebohongan dalam wajahnya yang datar dan tanpa emosi. Orang itu—Largo, membawanya ke lantai tempat kamar Girsa berada, tapi alih-alih memasuki kamarnya, pria itu membawanya ke sofa di dekat balkon. Mendudukkannya di atas sofa dengan hati-hati. Pandangan pria itu bergeser ke arahnya, tatapan mereka kembali bertemu dalam jarak yang amat dekat. "Bisakah Anda menunggu sebentar? Saya akan mengambilkan obat." Ayura mengangguk dalam d
Setelah beberapa hari, Ayura akhirnya berhasil menemukan apa yang ia cari. Ayura hendak pulang setelah mengunjungi seseorang yang bisa melacak keberadaan ayahnya. Dia menyadari bahwa paman dan bibinya tidak akan pernah memberitahu apa-apa, karena mereka menggunakan ayahnya untuk memerasnya—entah sampai kapankapan. Ayura tidak bisa terus hidup mengikuti keinginan mereka. Ayura akui, paman dan bibi memang menolongnya dulu, memberinya makan ketika uang tabungan orangtuanya habis, membayar tunggakan uang sekolah, pajak, dan sebagainya, tapi bukan berarti utangnya harus dibayar dengan kehidupannya. keputusan Ayura sudah bulat, ia mencari cara untuk menemukan keberadaan ayahnya. Melalui internet, ia banyak membaca forum dan berbagai postingan orang-orang yang memiliki nasib yang sama dengannya. Untuk mencari seseorang yang hilang. Akhirnya dia menemukan sebuah jasa yang bekerja melakukan pencarian orang-orang hilang tersebut. Hanya saja bayaran untuk jasa tersebut cukup mahal,







