Share

Bab enam

Author: Ariess_an
last update Last Updated: 2026-01-09 18:34:44

"Yura!"

Panggilan itu menghentikan gerakan Ayura yang hendak memasukkan obat per4ngsang ke dalam gelas Brian. Ia buru-buru memasukkan kembali botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya sudah gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya.

"Hai, Resy! Eh, kenapa kemari? Di mana Rudy?" Ayura berdehem pelan menyamarkan rasa gugupnya.

Namun tiba-tiba Resy mengamit lengan Ayura dan membuat gadis itu kebingunagan, "Dia sedang bersama teman-temannya. Ayo kita ke sana!" Resy menunjuk ke arah perkumpulan para gadis.

Ayura mengangguk. Resy kembali menariknya menuju ke sudut area food stall. Mereka yang sudha lebih dulu disana langsung menyambut Resy dan Ayura.

"Ayura, kau cantik sekali!"

"Iya! Aku tahu kau memang cantik, tapi aku tidak pernah melihatmu memakai riasan sebelumnya! Kau terlihat seperti tuan putri!"

Ayura tersenyum mendengar pujian semua orang. "Terima kasih, tidak perlu berlebihan."

"Eh, tapi benar, 'kan? Ayura memang sangat cantik malam ini. Gaunmu juga cantik sekali, aku belum pernah melihat model yang seperti ini di mana pun." Gadis itu menyentuh gaun yang Ayura kenakan sambil terkagum.

Semua yang disana mengangguk setuju.

Ayura tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan, ia senang gaun buatannya dipuji, sejenak pikiran cemasnya berganti dengan perasaan bahagia.

"Aku sendiri yang membuat gaun ini, butuh waktu tiga bulan untuk merancang dan menyelesaikannya." Ucap Ayura dengan bangga.

Semua orang yang mendengar itu kaget, dan semakin terkagum setelah mendengar pernyataan Ayura.

"Ayura, kamu berbakat! Kenapa tidak ikut ekstrakurikuler fashion desain? Aku bisa merekomendasikanmu untuk menjadi duta dari sekolah kita."

Secara diam-diam Resy langsung menyenggol lengan Farah-mantan ketua anggota eskul fashion desain tahun lalu.

Namun semua itu terlihat oleh Ayura, ia merespin dengan senyuman. "Terima kasih."

Sedetik setelahnya pujian lain datang, "Yura bahkan berdansa dengan Brian, 'kan? Kau pasti sangat senang!"

Ya, satu angkatan bahkan satu sekolahan mengetahui Yura mengejar-ngejar Brian seperti fans fanatik.

"Ya, meski itu sedikit sulit karena kakiku, Brian membimbingku dengan murah hati," balas Ayura.

Membimbing apanya, Brian terus mengumpat sepanjang mereka berdansa. Pria itu hanya terlanjur sudah berjanji pada ibunya untuk berdansa setidaknya sekali dengan Ayura.

Mengingat itu, kaki kanan Ayura masih terasa sakit sampai sekarang, ia terlalu memaksakan diri.

Ayura tidak melunturkan senyumnya sedikit pun. Tangannya tak lagi gemetar, tapi telapaknya berkeringat karena gugup. Ia sedikit heran teman-temannya mau mengajaknya berbicara. Mereka memang bukan fans Brian yang pernah merundungnya, tapi tetap saja mereka amat jarang berbicara dengannya selama masa sekolah.

Melihat Ayura yang berubah diam dan tatapan sulit, mereka saling pandang. Kemudian salah satu gadis bernama Eva, mengambil tangan Ayura. Hal itu membuat Ayura tersentak.

"Yura, kami minta maaf, selama ini kamu pasti kesal. Kami tidak berani melawan Brian, ancamannya membuat kami menjauhi kamu." Itu suara Eva yang kini memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

Ayura hanya bisa tersenyum. Ia tidak lupa, saat baju olahraganya hilang dicuri antek-antek perundungnya, Eva diam-diam membawakan baju olahraga lain yang sepertinya diambil dari koperasi, tapi setelahnya berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Yang lainnya juga baik padanya meski harus secara diam-diam.

"Aku tahu, tidak apa-apa. Aku tahu kalian semua pernah membantuku. Terima kasih."

Di saat-saat terakhir seperti malam prom ini, mereka semua berdamai dan akhirnya bisa bercengkrama bersama.

Acara pun berlangsung panjang namun hingga acara berakhir, Ayura belum berhasil menjalankan misinya.

Brian membawanya pulang ke rumah seperti biasa. Namun begitu turun dari mobil, Ayura bisa melihat Pamela memelototinya diam-diam. Pasti karena ia gagal menjebak Brian. Ia sudah bersiap menerima hukuman. Atau mungkin kali ini pipinya akan ditampar. Namun sampai dirinya turun dari mobil, bibi dan pamannya itu hanya mengabaikan Ayura.

Itu aneh, Ayura merasa ada yang salah dengan sikap keduanya.

"Istirahatlah dikamar, Yura, kamu pasti lelah. Besok kita akan bicara lagi," ujar Pamela.

Sejenak, remasan tangan bibinya di bahu Ayura membuat gadis itu takut.

Namun, Ayura mengabaikan rasa tidka nyamannya itu, ia bergegas pergi ke kamarnya. Ia akan melupakan hal buruk yang menjadi rencananya pada Brian.

Ayura lelah, kaki kanannya juga masih terasa nyeri.

Setelah mandi dan mengganti baju menggunakan piyama tidur, Ayura merebahkan diri di atas kasur lalu menarik selimut. Tak butuh waktu lama setelah memejamkan mata, Ayura jatuh tertidur.

Suara ketukan di pintu kamar membuat Ayura kembali terjaga.

Ayura membuka pintu dengan wajah bantal. Netranya memandang heran.

"Bibi?"

"Bisa tolong antarkan ini ke kamar Brian? Tadi dia muntah-muntah karena mabuk, Nyonya Elena menyuruh untuk membawakannya ini. Tapi perut bibi rasanya mulas."

Ayura mengernyit, menatap nampan berisi air teh beraroma madu dan herbal tersebut dengan curiga.

"Brian tidak mabuk, Bi. Dia bahkan menyetir pulang bersama Yura."

"Dia habis minum bersama Tuan Darren setelah mengobrol bersama. Cepat, bersiap dan bawakan ini ke kamarnya."

Ayura bergeming, ia menatap bibinya dengan tatapan curiga. "Kenapa harus Yura yang mengantarkan?"

"Karena yang lain sudah tidur, aku lelah membersihkan kekacauan yang dibuat oleh Tuan Girsa."

"Tuan Girsa?" Beo Ayura. Kekacauan apa yang bisa dibuat oleh orang pendiam dan cuek seperti Tuan Girsa? Bukankah bibinya terlalu mengada-ada?

Melihat Yura yang menyirotinya dengan tatapan curiga membuat Pamela berdecak. "Dia mengamuk karena Nona Heidy berselingkuh dan mendadak membatalkan pernikahan."

Netra Ayura membola. Ia kaget. Namun belum sempat memprotes suara bibinya kembali penuh tekanan dan tidak ingin dibantah.

"Sudah! Bawakan ini cepat!"

Ayura buru-buru menerima nampan tersebut dengan tergopoh saat bibinya menyerahkannya paksa secara tiba-tiba.

"Bibi!"

Ayura masih ingin protes namun Pamela lebih dulu pergi, wanita itu menaruh telunjuk di bibir ketika Ayura memanggilnya dengan suara keras, mengisyaratkan Ayura untuk diam.

Ayura menghela napas. Terpaksa ia mengantar seperti suruhan bibinya. Namun sebelum keluar ia sempat masuk kembali ke kamar untuk memakai kardingan dari setelan piyamanya, ia menutup pintu dan mulai melangkah dari mes pelayan menuju kediaman utama.

Sebenarnya, Ayura merasa ada yang aneh dari cerita bibinya, Disaat Girsa mengamuk, Brian dan ayahnya justru mengobrol sambil minum-minum santai sampai mabuk?

Sambil berjalan pelan, Ayura berharap tidka bertemu Tuan Girsa. Ia khawatir bertemu Girsa karena ucapan bibinya yang mengatakan ptia itu mengamuk dan menghancurkan barang-barang. Ayura tidak mau menjadi samsak kemarahan oria itu.

Terakhit kali Ayura melihat Girsa ketika dia mengantar cemilan pada sepasang kekasih itu. Ia tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak di paviliun waktu itu karena dirinya selalu bekerja di bagian dapur atau area yang jarang dikunjungi pemilik rumah.

Ia membawa nampan kecil tersebut dengan satu tangan, dan mengangkat tangan yang lain untuk mengetuk pintu kamar Brian.

"Permisi, aku membawakan teh hangat!"

Ayura mengetuk pintu lagi namun tidak ada sahutan. Pintunya sedikit terbuka namun didalam sana gelap.

"Tidak beres," gumam Ayura dalam hati.

Ia tidak berani masuk. Memilih berdiri diluar sambil menoleh ke kanan dan kiri, memerhatikan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya.

Sepi.

"Brian, ini teh hangat madu pesanamu!" Ayura sengaja menaikan suara.

Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar dari ujung koridor, bukan dari kamar Brian di depannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab delapan

    Sebuah teriakan nyaring membangunkan Girsa yang masih terlelap setelah semalaman penuh menggempur sendirian. Matanya membelalak, terkejut, menoleh ke sekeliling sembari sesekali menyipitkan mata menyesuaikan cahaya lampu yang masih menyala hingga pagi hari. Ironisnya, wajah bantalnya terlihat bagus dipandang terlepas dari bagaimana dia bertindak ketika kehilangan kendali. "Apa-apaan ini, Girsa?!" Pekikan itu kembali menyentaknya. Girsa mengerjap, belum sepenuhnya sadar. "Ibu?" Sorot lampu yang menyilaukan membuatnya menyipitkan mata. Perlahan lahan, kesadarannya pulih. Ibunya berdiri di hadapannya dengan ekspresi campur aduk antara terkejut dan marah. Bukan hanya Elena. Ayahnya, Brian, serta beberapa pelayan juga berada di sana, menatapnya dengan pandangan ngeri. Terutama Tuan Darren—tatapan ayahnya itu tajam dengan sorot yang penuh amarah, seakan ingin menebasnya saat itu juga. "Kenapa kalian berkumpul disini?" tanya Girsa, berusaha terdengar tenang meski kebingungan jela

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tujuh

    Ayura sontak menoleh. "Kemari, bawakan tehnya." "Brian?" Shanina menatap bingung, alih-alih beristirahat di kamarnya, Brian justru ada di kamar Girsa di ujung sana. Bagi Ayura, Kamar Tua Girsa menjadi tempat yang pantang untuk dilewati semenjak kepulangan putra sulung keluarga Wijaya itu. Meski hanya pernah bertemu beberapa kali, Ayura bisa merasakan Girsa tidak menyukainya, tatapan Girsa juga membuat Ayura merasa diintimidasi. "Ayura, bawa sini!" Perintah itu menyadarkan Ayura dari lamunan. Dengan hati-hati Ayuraa berjalan menghampiri Brian. "Ini, teh madu untukmu." "Berikan saja pada kakakku." "Tapi katanya-" Ayura menghentikan ucapannya. "Baiklah." Ujarnya lagi. Ia tidak ingin berdebat atau berlama lama dengan Brian. Ia menyodorkan nampan tersebut. "Taruh sendiri di sana." Brian menunjuk ke dalam kamar kakaknya-Girsa. "Tapi-" Ayura ingin protes tapi suara dering ponsel Briann memotong ucapannya. Ayura menghentikana memutar bola mata saat Brian tidak menghadapnya. "H

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab enam

    "Yura!" Panggilan itu menghentikan gerakan Ayura yang hendak memasukkan obat per4ngsang ke dalam gelas Brian. Ia buru-buru memasukkan kembali botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya sudah gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya. "Hai, Resy! Eh, kenapa kemari? Di mana Rudy?" Ayura berdehem pelan menyamarkan rasa gugupnya. Namun tiba-tiba Resy mengamit lengan Ayura dan membuat gadis itu kebingunagan, "Dia sedang bersama teman-temannya. Ayo kita ke sana!" Resy menunjuk ke arah perkumpulan para gadis. Ayura mengangguk. Resy kembali menariknya menuju ke sudut area food stall. Mereka yang sudha lebih dulu disana langsung menyambut Resy dan Ayura. "Ayura, kau cantik sekali!" "Iya! Aku tahu kau memang cantik, tapi aku tidak pernah melihatmu memakai riasan sebelumnya! Kau terlihat seperti tuan putri!" Ayura tersenyum mendengar pujian semua orang. "Terima kasih, tidak perlu berlebihan." "Eh, tapi benar, 'kan? Ayura memang sangat cantik malam ini. Gaunmu juga can

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab Lima

    “Apa yang terjadi di sini?!” Seorang bartender bertubuh kekar menerobos kerumunan dengan wajah garang. Begitu melihat kondisi bar yang porak-poranda—bangku terbalik, pecahan gelas dan botol alkohol berserakan—emosinya langsung memuncak. Seorang pria tergeletak dengan wajah babak belur, sementara beberapa orang lain sibuk menahan seorang pria yang mengamuk, berusaha terus menghajarnya. Kerugian itu membuat darah sang bartender mendidih. “Hentikan! Jangan membuat kekacauan di sini! Kalian harus mengganti semua kerusakan ini! Sialan!” Pengunjung lain berseru gaduh. Beberapa wanita memekik ngeri menyaksikan perkelahian brutal tersebut. “Girsa! Girsa, kendalikan dirimu!” Girsa sama sekali tidak mendengar teriakan temannya. Ia masih sibuk memukuli pria yang sudah tak berdaya. Empat orang temannya segera datang menahan tubuh Girsa. Namun, tenaga pria itu terasa tidak masuk akal, terlebih dalam kondisi mabuk dan kehilangan kendali sepenuhnya. “Sialan! Bajuku basah karena kec

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab empat

    Ayura tahu paman dan bibinya tidak akan pernah menyerah untuk mendorong Ayura menjadi bagian keluarga Wijaya. Tujuan mereka jelas, ingin menguras harta keluarga Wijaya jika Ayura berhasil menjadi istri Brian. Tapi Ayura tidak mau! "Bibi, Yura tidak bisa melakukan ini, sungguh. Yura akan mencoba cara lain saja. Yura pasti bisa membuat Brian suka dan jatuh cinta tapi Yura butuh waktu, dia pasti tertarik meski hanya sedikit, atau mungkin Brian hanya malu mengungkapkan perasaannya." Ucap Ayura sambil menatap bibinya dengan pandangan memohon "Ayura, ingat kesepakatan kita. Kau berjanji akan menurutiku dan suamiku jika kau ingin ayahmu selamat." Ayura berusaha menahan air matanya, jangan sampai riasannya berantakan karena sudah susah payah ia merias wajahnya sendiri disaat dirinya tidak pandai berias. Namun beberapa tetes tetap mengalir di pipinya. Dari awal Ayura tidka setuju dengan ide paman dan bibinya. Dia tidak mau menyerahkan tubuhnya pada siapa pun sebelum menikah, itu me

  • MENIKAHI LELAKI YANG MEMBENCIKU   Bab tiga

    "Sayang, lihat pelayan itu!" Mendengar ucapan wanita yang menjadi kekasihnya, Girsa yang sedang memeriksa pesan masuk dari kolega bisnis mendongak. "Ya? Oh, ya. Aku melihatnya. Kenapa?" Heidy menjilat sebentar selai raspberry di ujung bibirnya, lalu menjawab dengan suara pelan, "Kurasa dia sedikit pincang." Girsa kembali menjatuhkan pandang pada gadis yang baru saja mengantarkan makanan mereka. Jika dilihat lagi, cara berjalannya memang terlihat sedikit kesulitan. Namun, Girsa merasa tidak ada yang penting dan kembali berkutat pada ponselnya. "Ya, mungkin memang seperti itu cara berjalannya," kata Girsa acuh. Sedetik kemudian, ponsel yang dipegang Girsa direnggut Heidy. Girsa melemparkan tatapan protes ke arah gadis itu. "Kenapa kamu terus bermain ponselmu saat kita sedang menikmati waktu bersama?" Heidy terlihat kesal meski nada bicaranya masih terdengar manja. “Ada urusan kantor di Swiss yang harus tetap kupantau dari sini. Beberapa laporan belum selesai,” jaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status