LOGIN"Yura!"
Panggilan itu menghentikan gerakan Ayura yang hendak memasukkan obat per4ngsang ke dalam gelas Brian. Ia buru-buru memasukkan kembali botol obat itu ke dalam sakunya. Tangannya sudah gemetaran. Ia berbalik, berusaha memasang senyum naturalnya. "Hai, Resy! Eh, kenapa kemari? Di mana Rudy?" Ayura berdehem pelan menyamarkan rasa gugupnya. Namun tiba-tiba Resy mengamit lengan Ayura dan membuat gadis itu kebingunagan, "Dia sedang bersama teman-temannya. Ayo kita ke sana!" Resy menunjuk ke arah perkumpulan para gadis. Ayura mengangguk. Resy kembali menariknya menuju ke sudut area food stall. Mereka yang sudha lebih dulu disana langsung menyambut Resy dan Ayura. "Ayura, kau cantik sekali!" "Iya! Aku tahu kau memang cantik, tapi aku tidak pernah melihatmu memakai riasan sebelumnya! Kau terlihat seperti tuan putri!" Ayura tersenyum mendengar pujian semua orang. "Terima kasih, tidak perlu berlebihan." "Eh, tapi benar, 'kan? Ayura memang sangat cantik malam ini. Gaunmu juga cantik sekali, aku belum pernah melihat model yang seperti ini di mana pun." Gadis itu menyentuh gaun yang Ayura kenakan sambil terkagum. Semua yang disana mengangguk setuju. Ayura tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan, ia senang gaun buatannya dipuji, sejenak pikiran cemasnya berganti dengan perasaan bahagia. "Aku sendiri yang membuat gaun ini, butuh waktu tiga bulan untuk merancang dan menyelesaikannya." Ucap Ayura dengan bangga. Semua orang yang mendengar itu kaget, dan semakin terkagum setelah mendengar pernyataan Ayura. "Ayura, kamu berbakat! Kenapa tidak ikut ekstrakurikuler fashion desain? Aku bisa merekomendasikanmu untuk menjadi duta dari sekolah kita." Secara diam-diam Resy langsung menyenggol lengan Farah-mantan ketua anggota eskul fashion desain tahun lalu. Namun semua itu terlihat oleh Ayura, ia merespin dengan senyuman. "Terima kasih." Sedetik setelahnya pujian lain datang, "Yura bahkan berdansa dengan Brian, 'kan? Kau pasti sangat senang!" Ya, satu angkatan bahkan satu sekolahan mengetahui Yura mengejar-ngejar Brian seperti fans fanatik. "Ya, meski itu sedikit sulit karena kakiku, Brian membimbingku dengan murah hati," balas Ayura. Membimbing apanya, Brian terus mengumpat sepanjang mereka berdansa. Pria itu hanya terlanjur sudah berjanji pada ibunya untuk berdansa setidaknya sekali dengan Ayura. Mengingat itu, kaki kanan Ayura masih terasa sakit sampai sekarang, ia terlalu memaksakan diri. Ayura tidak melunturkan senyumnya sedikit pun. Tangannya tak lagi gemetar, tapi telapaknya berkeringat karena gugup. Ia sedikit heran teman-temannya mau mengajaknya berbicara. Mereka memang bukan fans Brian yang pernah merundungnya, tapi tetap saja mereka amat jarang berbicara dengannya selama masa sekolah. Melihat Ayura yang berubah diam dan tatapan sulit, mereka saling pandang. Kemudian salah satu gadis bernama Eva, mengambil tangan Ayura. Hal itu membuat Ayura tersentak. "Yura, kami minta maaf, selama ini kamu pasti kesal. Kami tidak berani melawan Brian, ancamannya membuat kami menjauhi kamu." Itu suara Eva yang kini memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Ayura hanya bisa tersenyum. Ia tidak lupa, saat baju olahraganya hilang dicuri antek-antek perundungnya, Eva diam-diam membawakan baju olahraga lain yang sepertinya diambil dari koperasi, tapi setelahnya berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Yang lainnya juga baik padanya meski harus secara diam-diam. "Aku tahu, tidak apa-apa. Aku tahu kalian semua pernah membantuku. Terima kasih." Di saat-saat terakhir seperti malam prom ini, mereka semua berdamai dan akhirnya bisa bercengkrama bersama. Acara pun berlangsung panjang namun hingga acara berakhir, Ayura belum berhasil menjalankan misinya. Brian membawanya pulang ke rumah seperti biasa. Namun begitu turun dari mobil, Ayura bisa melihat Pamela memelototinya diam-diam. Pasti karena ia gagal menjebak Brian. Ia sudah bersiap menerima hukuman. Atau mungkin kali ini pipinya akan ditampar. Namun sampai dirinya turun dari mobil, bibi dan pamannya itu hanya mengabaikan Ayura. Itu aneh, Ayura merasa ada yang salah dengan sikap keduanya. "Istirahatlah dikamar, Yura, kamu pasti lelah. Besok kita akan bicara lagi," ujar Pamela. Sejenak, remasan tangan bibinya di bahu Ayura membuat gadis itu takut. Namun, Ayura mengabaikan rasa tidka nyamannya itu, ia bergegas pergi ke kamarnya. Ia akan melupakan hal buruk yang menjadi rencananya pada Brian. Ayura lelah, kaki kanannya juga masih terasa nyeri. Setelah mandi dan mengganti baju menggunakan piyama tidur, Ayura merebahkan diri di atas kasur lalu menarik selimut. Tak butuh waktu lama setelah memejamkan mata, Ayura jatuh tertidur. Suara ketukan di pintu kamar membuat Ayura kembali terjaga. Ayura membuka pintu dengan wajah bantal. Netranya memandang heran. "Bibi?" "Bisa tolong antarkan ini ke kamar Brian? Tadi dia muntah-muntah karena mabuk, Nyonya Elena menyuruh untuk membawakannya ini. Tapi perut bibi rasanya mulas." Ayura mengernyit, menatap nampan berisi air teh beraroma madu dan herbal tersebut dengan curiga. "Brian tidak mabuk, Bi. Dia bahkan menyetir pulang bersama Yura." "Dia habis minum bersama Tuan Darren setelah mengobrol bersama. Cepat, bersiap dan bawakan ini ke kamarnya." Ayura bergeming, ia menatap bibinya dengan tatapan curiga. "Kenapa harus Yura yang mengantarkan?" "Karena yang lain sudah tidur, aku lelah membersihkan kekacauan yang dibuat oleh Tuan Girsa." "Tuan Girsa?" Beo Ayura. Kekacauan apa yang bisa dibuat oleh orang pendiam dan cuek seperti Tuan Girsa? Bukankah bibinya terlalu mengada-ada? Melihat Yura yang menyirotinya dengan tatapan curiga membuat Pamela berdecak. "Dia mengamuk karena Nona Heidy berselingkuh dan mendadak membatalkan pernikahan." Netra Ayura membola. Ia kaget. Namun belum sempat memprotes suara bibinya kembali penuh tekanan dan tidak ingin dibantah. "Sudah! Bawakan ini cepat!" Ayura buru-buru menerima nampan tersebut dengan tergopoh saat bibinya menyerahkannya paksa secara tiba-tiba. "Bibi!" Ayura masih ingin protes namun Pamela lebih dulu pergi, wanita itu menaruh telunjuk di bibir ketika Ayura memanggilnya dengan suara keras, mengisyaratkan Ayura untuk diam. Ayura menghela napas. Terpaksa ia mengantar seperti suruhan bibinya. Namun sebelum keluar ia sempat masuk kembali ke kamar untuk memakai kardingan dari setelan piyamanya, ia menutup pintu dan mulai melangkah dari mes pelayan menuju kediaman utama. Sebenarnya, Ayura merasa ada yang aneh dari cerita bibinya, Disaat Girsa mengamuk, Brian dan ayahnya justru mengobrol sambil minum-minum santai sampai mabuk? Sambil berjalan pelan, Ayura berharap tidka bertemu Tuan Girsa. Ia khawatir bertemu Girsa karena ucapan bibinya yang mengatakan ptia itu mengamuk dan menghancurkan barang-barang. Ayura tidak mau menjadi samsak kemarahan oria itu. Terakhit kali Ayura melihat Girsa ketika dia mengantar cemilan pada sepasang kekasih itu. Ia tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak di paviliun waktu itu karena dirinya selalu bekerja di bagian dapur atau area yang jarang dikunjungi pemilik rumah. Ia membawa nampan kecil tersebut dengan satu tangan, dan mengangkat tangan yang lain untuk mengetuk pintu kamar Brian. "Permisi, aku membawakan teh hangat!" Ayura mengetuk pintu lagi namun tidak ada sahutan. Pintunya sedikit terbuka namun didalam sana gelap. "Tidak beres," gumam Ayura dalam hati. Ia tidak berani masuk. Memilih berdiri diluar sambil menoleh ke kanan dan kiri, memerhatikan tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Sepi. "Brian, ini teh hangat madu pesanamu!" Ayura sengaja menaikan suara. Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar dari ujung koridor, bukan dari kamar Brian di depannya.Ayura berhenti, menatap nanar bunga kesukaannya yang kini berantakan. Dia tidak pernah mengira bahwa Girsa akan memerhatikan bunga tersebut, dia pikir Giraa akan tergoda untuk menghabiskan waktu bersamanya daripada memikirkan masalah bunga. Jadi, Ayura dengan bebas memilih bunga apa saja. Dia berusaha meraih Girsa, memastikannya berbelok ke tempat yang sudah dia persiapkan. Kali ini dia berhasil meraihnya. "Tunggu!" Ayura mencegat Girsa. "Apa kau tidak lapar? Aku sudah menyiapkan masakan kesukaanmu! Kali ini kesukaanmu! Ada puding lemon dan pai lemon, kau mau, 'kan?" Girsa menatapnya sejenak sebelum akhirnya mendengus lelah. Dia mengangguk, membuat Ayura segera menarik pelan tangannya ke sebuah ruangan. Saat pintu terbuka, dekorasi yang elegan segera terlihat, ada meja kecil beserta kedua kursi yang berhadapan dengan bunga baby breath di dalam vas di tengah meja. Girsa menunduk melihat Ayura di sampingnya, dia mengernyit samar saat melihat Ayura menatapnya dengan pandangan be
Semenjak mengetahui kabar bahwa hari itu Girsa akan pulang, Ayura menyiapkan banyak makanan untuknya. Dia harus rela mengeluarkan beberapa uangnya untuk investasi tersebut. Lagipula jika Girsa senang, pria itu mungkin akan lengah dan dia akan dengan mudah menjalankan rencana paman dan bibinya yang terkutuk itu. "Kondisi ayahmu sudah semakin membaik, tidakkah kau ingin menjadi orang pertama yang melihatnya membuka mata? Tapi pertama, lahirkan bayinya Girsa lebih dulu!" Ayura memejamkan matanya, merasa frustasi tatkala ucapan bibinya melintas di pikirannya. Mengandalkan pencarian ayahnya yang memakan waktu cukup lama tidak akan berhasil. Sebelum Girsa benar-benar menceraikannya setelah satu bulan yang akan segera terlewati, dia harus melakukan sesuatu untuk menahan Girsa. Tapi, memikirkan harus kembali hamil dengan Girsa, membuat tangannya gemetar. Dia harus memikirkan cara lain, tapi kecemasan itu membunuh kewarasannya hingga rasanya sulit untuk memikirkan hal lain. Ay
"jangan pergi.. "Ayura mengangkat satu alisnya."Apa? Ternyata kau bisa bicara?""Jangan ...."Untuk beberapa saat keduanya hanya saling bertatapan. Ayura masih heran dan tenggelam dalam pikirannya, sementara lelaki kecil itu panik dan diam-diam memikirkan cara untuk mencegahnya pergi. Dia memegang tangannya erat-erat, tangan yang paling halus yang pernah dia genggam, kecil dan hangat."Aku tidak bisa menemuimu selamanya," kata Ayuta, lalu memandang tangan kotor dan dekil dengan alis menyatu. "Hei, bisa tolong lepaskan aku?"Perlahan, dia melepaskannya meski dengan terpaksa."Siapa namamu?"Perasaan rendah diri itu hadir untuk pertama kalinya di hadapan sang gadis. Selama ini dia mewaspadainya, tapi diam-diam tanpa menyadarinya sama sekali, dia bergantung padanya. Dia malu menatapnya, dirinya adalah seseorang yang tidak memiliki apa-apa dihadapan seorang gadis cantik yang memiliki banyak binar berseri di matanya.Laki-laki itu menggeleng dengan kepala menunduk."Aku ... aku tidak me
Sore itu, langit mendung menggantung rendah di atas kota kecil yang jauh dari metropolitan, menampilkan hujan yang akan turun. Tidak lama, butiran air tersebut mulai jatuh dengan deras, mengubah jalanan menjadi sungai kecil yang mengalir cepat. Di sebuah gang sempit, air hujan mengalir membentuk genangan di setiap sudut yang tak terjamah saluran pembuangan.Di tengah kebisingan tetesan hujan, terdapat seorang pengemis yang meringkuk di pinggiran tembok pada sebuah gang buntu, berdekatan dengan tempat sampah. Tubuhnya yang kurus terbungkus jaket lusuh yang sudah tak mampu lagi menahan dingin. Matanya yang sayu memandang ke arah orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan dengan muram, sementara perutnya keroncongan menahan lapar.Tangan-tangannya yang keriput dan kotor itu meremas erat kantong plastik yang tampak kosong, seakan mencari sesuatu yang bisa mengisi kehampaan. Sayangnya, makanan terakhir yang dia miliki telah habis sejak tiga hari yang lalu, kini krisis pangan yang
Untuk pertama kalinya, Ayura melihat Largo mengembangkan senyuman meski itu tipis. "Ya, itu kau." Tubuh Ayura menjadi kaku. Beberapa ingatan samar terlintas di otaknya. Awalnya dia tidak yakin apakah itu adalah peristiwa yang terlupakan atau hanya mimpinya belaka. Namun, sekarang semuanya menjadi jelas. Ayura ingat, dulu dia melihat seseorang yang meringkuk di gang gelap, tubuhnya sangat kurus dan gemetaran. Orang itu tampak seolah-olah sedang sekarat. Karena tidak tega melihatnya dalam kondisi seperti itu, Ayura memberikan makanan dan juga payung yang sedang ia gunakan. "Largo-" Ayura tidak bisa berkata-kata. Dia menyentuh dada kirinya sekilas dan merasakan jantungnya berpacu dengan begitu cepat, berbagai emosi merayap di dadanya. Dahulu, sekitar lima tahun lalu, dia menolong seseorang, berdoa agar kehidupannya menjadi lebih baik. Lalu ia tidak pernah menemuinya lagi karena dia pikir gelandangan itu sudah menjadi lebih baik tanpanya karena telah sembuh. Hingga perlahan gela
Largo membaringkan Ayura di atas ranjang, kemudian melepas sepatunya dan menarik selimut hingga ke dadanya. Dalam remang-remang cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai, Largo menatap wajah Ayura dengan lekat. Di tengah tekanan yang dihadapi Ayura, wajahnya yang damai saat tertidur membangkitkan insting Largo untuk melindunginya. Semua orang ingin menyakiti Ayura, akan lebih baik jika dia menyembunyikan gadis itu di suatu tempat yang jauh, sampai tidak bisa ditemukan siapapun. Setelah puas memandangi wajah Ayura, Largo tersadar. Dia tidak tahu perasaan apa yang sedang merayap di hatinya, mungkin bukan kasih sayang, atau justru sesuatu yang lebih mengikat. Hampir tak terkendali, terutama saat dia menyentuhnya lebih banyak. Itulah kenapa Largo buru-buru pergi dari sana, lalu memastikan kamar Ayura terkunci rapat. Tepat saat Largo mengunci pintu, Brian muncul dengan wajah merah padam yang tampak berapi-api, mendekat nyaris memukulnya kalau saja dia tidak menghindar. "Brengsek! K
Ayura perlahan mulai membuka matanya. Hidungnya mencium bau antiseptik yang kuat, khas rumah sakit. Suara orang-orang terdengar di sekitarnya, tapi telinganya tidak dapat menangkap jelas apa yang mereka katakan. Seluruh tubuhnya amat sakit dari ujung kepala hingga ujung kaki, perih dan terasa mem
Ayura ditinggalkan sendirian. Girsa, Heidy, dan tiga orang lainnya berbaur dengan kelompok lain, jauh di pojok. Masing-masing tangan mereka memegang gelas berisi wine mahal, tampak asyik mengobrol dan sesekali tertawa. Ayura hanya memandang mereka seraya menghela nafas pelan. Ia merasa bosan, d
Ayura melihat Girsa yang bertelanjang dada tengah memakai kausnya. Rambutnya masih meneteskan air. Harum sabun khas milik pria itu menggelitik hidungnya, entah mengapa membuatnya ingin mendekap pria itu. Ayura menggeleng menyadari pemikiran gilanya. Ia menyukai bau sabun Girsa. Sepertinya ia akan
"Jangan menyentuh ku!" desis Girsa. Netranya menyoroti Ayura tajam dan penuh rasa jijik. "Tuan, maafkan aku, tapi aku benar-benar sedang membutuhkannya. Aku akan membayarnya kembali, aku akan membayarnya dengan cepat." Alis Ayura menurun, matanya berkaca-kaca. Ayura benci saat-saat di mana diri







