Home / Fantasi / MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN / 7. PESTA PERTUNANGAN YANG KACAU

Share

7. PESTA PERTUNANGAN YANG KACAU

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2026-02-05 22:08:32

Setelah keheningan yang mencekam itu, Tristan memberikan isyarat kepada para pengawal. "Tunjukkan jalan keluar bagi Tuan Rhys dan rombongannya.”

“Aku belum selesai dengan Briana, Duke!” Seru William.

“Kita sudah impas, William. Kau dapatkan Charlotte, dan Briana memilihku.” Telunjuknya mengarah tegas pada presensi William yang keras kepala.

“Ini bukan pertandingan, Duke! Anda tidak berhak memutuskan sendiri, sebelum Briana mengatakan padaku; siapa yang pantas untuk menjadi suaminya.” Bantah William yang masih menegakkan harga dirinya setinggi langit.

“Sudahlah, William. Akhiri kebohongan ini segera. Apa masih kurang jelas bagimu? Aku berada di kediaman Ludwing, diperlakukan baik oleh Duchess Guine, lalu bermalam di sini. Pria dewasa sepertimu masa tidak paham soal ini?” penjelasan Briana menusuk logika William, merobek rasa percaya diri yang semula diagung-agungkan.

William menatap tak percaya. Ia yang bersikeras untuk memperbaiki kesalahannya, meminta maaf terlebih dahulu, merendahkan martabat demi perempuan itu; ternyata Briana tidak mengindahkannya—sama sekali.

“Kau sudah dengar sendiri ‘kan? Aku tidak menekan Briana untuk menyudutkanmu, apalagi menolakmu, William.” Tristan mengambil gelas anggurnya, menyesap santai, “Dia sendiri yang menentukan pilihannya, bukan aku.” Duke Tristan melanjutkan kalimatnya… “Charlotte, kau membuatku kecewa Lady...” arah pandangnya berubah melirik sedikit ke arah Lady Charlotte, sepupunya. “Setelah ini, aku akan menyerahkan kembali hak asuhmu pada keluarga Bjorn. Aku tidak ingin ada masalah di kastilku, dengan membiarkan posisimu tetap di keluarga Ludwing.”

“Jadi, kau mengusirku, Tristan?” rautnya berubah gelap, segelap amarah yang ia tahan sejak tahu Briana bersembunyi di balik ketiak keluarga Ludwig.

“Lebih tepatnya agar kau belajar lagi menjadi seorang Lady yang terhormat,” tunjuk Tristan yang masih memegang gelas anggurnya. “Kau sudah mencoreng namaku di sini, Charlotte. Tidak akan aku biarkan kau berulah lebih dari ini.” 

“Kau lebih percaya padanya daripada aku? Aku adik sepupumu, Tristan!”

“Panggil aku, Duke!” Suara Tristan meninggi, “Kau harus paham soal tata krama, Charlotte. Dan hormati juga calon istriku, Duchess Briana.”

Charlotte merasakan panas di pelupuk matanya, berusaha menahan tangis serta malu yang hadir secara bersamaan. Ia mengangguk kecil, paham—sangat paham jika dipermalukan secara terang-terangan di hadapan kaum elit Moonsphire. “Baik. Aku akan pergi dari sini, aku harap kau tidak salah memilih perempuan sialan itu, Duke Tristan yang terhormat.”

Briana mengangkat tinggi dagunya, “Tenang saja, Lady. Duke Tristan tidak pernah salah memilih takdirnya. Yang aku khawatirkan saat ini adalah kalian… setelah ini, kamu pasti sibuk membantu William melunasi hutang-hutang itu.”

“Kau, lancang sekali mulutmu!” 

Charlotte hendak maju, mengangkat tangan kanannya untuk menampar pipi Briana, memberinya pelajaran yang akan diingatnya seumur hidup. Namun William menghalaunya, menahan tangan Charlotte agar tidak menimbulkan masalah baru.

“Pengawal! Antar mereka cepat keluar dari pesta jamuanku. Aku rasa sudah cukup mereka merusak acara pertunanganku dengan, Lady Briana.”

​Langkah kaki William yang gontai dan isak tangis Charlotte yang memuakkan perlahan menghilang di balik pintu besar aula yang tertutup dengan dentuman keras. Ruangan itu kembali berdengung, namun kali ini bukan dengan nada penghinaan, melainkan kekaguman yang bercampur rasa takut terhadap kekuatan yang baru saja terbentuk.

​Briana tidak membiarkan bahunya merosot. Ia tetap tegak, meski jantungnya berdegup kencang karena adrenalin yang mulai surut. Ia menoleh ke arah Lady Henderson dan Baroness Claire yang masih sibuk menelaah setiap kata dalam surat-surat tersebut.

​"Mohon maaf atas gangguan ini, Ladies," ujar Briana dengan senyum yang sempurna, seolah ia baru saja mengusir lalat dan bukan menghancurkan reputasi sebuah keluarga bangsawan. "Tehnya akan segera mendingin. Mari kita nikmati sore ini sebagaimana mestinya."

​Tristan mendekatkan wajahnya ke telinga Briana, napasnya terasa hangat di kulit leher wanita itu. "Kau melakukannya lebih baik dari yang kubayangkan, Briana. Kau tidak hanya menghancurkan mereka; kau membuat mereka bertekuk lutut di bawah kakimu.”

​"Itu karena aku memiliki bakat akting yang baik, Duke," bisik Briana, sedikit bercanda, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

Tatapannya beralih ke arah Duchess Guinevere yang masih duduk tenang di sudut ruangan. ​Duchess Senior itu kemudian meletakkan cangkirnya dan berdiri. Kehadirannya seketika membungkam seluruh ruangan. Ia berjalan mendekat ke arah pasangan itu, matanya yang tajam menatap Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​"Keberanianmu patut diberikan apresiasi Lady Maguy," suara Duchess Guinevere terdengar jernih. "Namun ketenangan dalam menghadapi masalah membuat seorang wanita layak menyandang gelar Ludwig. Briana Eleanor Maguy, ikutlah denganku ke ruang minum pribadi. Ada hal-hal yang perlu kita bicarakan,” titahnya dengan anggun.

Briana memiringkan kepalanya, sikap keingintahuan yang ia tunjukkan membuat Duchess Guine harus melanjutkan kalimatnya.

“Kita harus bicara mengenai persiapan pernikahanmu yang... harus dipercepat."

​Tristan melepaskan genggamannya pada pinggang Briana, memberikan ruang bagi ibunya, namun matanya tetap mengunci Briana dengan tatapan yang penuh janji. "Pergilah. Aku akan mengurus para tamu di sini."

​Briana menoleh, “Tapi kenapa harus berdua? Kamu tidak menemaniku?” tanya Briana dengan suara berbisik.

“Ibuku tidak akan memakanmu, Sayang.” Tristan terkekeh pelan, “Dia tidak main-main dengan keputusannya.” Lanjut Tristan sambil memajukan wajahnya, menyentuh ujung telinga Briana, “Percayalah… dia sudah merestui kita.” bisiknya disertai dengan kedipan menggoda, seperti sedang membalas sikap Briana beberapa sekon lalu.

Briana menghela napas pendek, “Baiklah… baiklah…” ujar Briana sebenarnya lelah dengan kegiatan drama raja ratu ini, “Mau nikah saja, kenapa ribet begini?” 

“R-Ri… Rabbit?” ulang Tristan yang tidak paham dengan bahasa burung Briana.

Bibir Briana melengkung ke atas perlahan, jari telunjuknya menyentil ujung hidung bangir Duke Tristan. “You are my rabbit, Duke.” 

Tristan menarik mundur wajahnya, mulutnya dipoutkan. “Kau harus tanggung jawab setelah menggodaku sepanjang hari ini, Sayang…”

“My pleasure…” lalu ia mengikuti langkah Duchess Guinevere yang berjalan angkuh di depannya. Saat ia berjalan melewati cermin besar di lorong, ia melihat bayangannya sendiri—bukan lagi sebagai gadis malang yang dikhianati, melainkan sebagai seorang wanita yang baru saja memegang kendali atas takdirnya.

​Begitu pintu ruang pribadi hendak ditutup, Duchess Guinevere berbalik. Wajahnya yang kaku kini sedikit melunak, meski tetap terlihat waspada.

​"Jangan mengira ini sudah selesai, Briana," ujar sang Duchess. "William Rhys Thaddeus hanyalah kerikil kecil. Dengan mengumumkan dirimu sebagai calon Duchess Ludwig, kau baru saja menyatakan perang pada setiap keluarga di ibu kota yang menginginkan posisi itu untuk putri mereka. Apakah kau benar-benar siap menghadapi kendala yang lebih besar?"

​Briana tersenyum tipis, tangannya menyentuh kalung berlian di lehernya. "Yang Mulia. Saya tidak pernah sesiap ini menjadi seorang perempuan,” jawabnya dengan tenang, “Takdir telah mengikatku dengan putra Anda. Kami bertemu, dan jatuh cinta pada pandangan pertama—”

“BOHONG!” 

Teriak seseorang dari ujung lorong. Sendirian. Tanpa pengawalan siapa pun. Mematahkan kalimat Briana yang belum selesai diucapkan.

“Apa yang kau harapkan dengan semua kebohongan ini, Briana? Dengan menumbalkan nama baik keluarga Maguy? Sungguh? Anak macam apa kau ini?” 

“A-Ayah?” 

Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah karena zirah itu cukup mengganggu. 

‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri).

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   8. KEPUTUSAN MUTLAK BRIANA

    “A-Ayah?” Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal. ‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri). Lucius Maguy. Menahan pedang ke arah samping agar tidak mengganggu langkahnya, pria berambut putih sebahu sedikit bergelombang itu berusaha menyeimbangkan pahatan besi cor pada sarung panjang berlapis perak. Briana menahan tawa yang hampir meledak di kerongkongannya. Melihat Lucius Maguy berjalan terengah-engah dengan baju zirah lengkap yang berderit di setiap langkah, ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan komedi di tengah drama operet yang serius. ​Cring. Cring. Cing. ​Suara logam yang saling beradu itu terdengar konyol di lorong kastil Ludwig yang elegan. Briana teringat akan karakter kaleng dalam cerita lama, namun ia segera memulihkan ekspresinya menjadi datar, meski binar jenaka di mat

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   7. PESTA PERTUNANGAN YANG KACAU

    Setelah keheningan yang mencekam itu, Tristan memberikan isyarat kepada para pengawal. "Tunjukkan jalan keluar bagi Tuan Rhys dan rombongannya.”“Aku belum selesai dengan Briana, Duke!” Seru William.“Kita sudah impas, William. Kau dapatkan Charlotte, dan Briana memilihku.” Telunjuknya mengarah tegas pada presensi William yang keras kepala.“Ini bukan pertandingan, Duke! Anda tidak berhak memutuskan sendiri, sebelum Briana mengatakan padaku; siapa yang pantas untuk menjadi suaminya.” Bantah William yang masih menegakkan harga dirinya setinggi langit.“Sudahlah, William. Akhiri kebohongan ini segera. Apa masih kurang jelas bagimu? Aku berada di kediaman Ludwing, diperlakukan baik oleh Duchess Guine, lalu bermalam di sini. Pria dewasa sepertimu masa tidak paham soal ini?” penjelasan Briana menusuk logika William, merobek rasa percaya diri yang semula diagung-agungkan.William menatap tak percaya. Ia yang bersikeras untuk memperbaiki kesalahannya, meminta maaf terlebih dahulu, merendahka

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   6. RAHASIA DAN BUKTI KECURANGAN WILLIAM RHYS THADDEUS

    Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang dingin, menuju sayap timur kastil di mana ruang kerja Tristan berada. Pelayan yang mereka lewati menunduk dalam, merasakan aura ketegangan sekaligus dominasi yang terpancar dari pasangan baru ini.​Begitu pintu ruang kerja yang berlapis kulit itu tertutup dan terkunci, Tristan berjalan menuju meja mahoni besarnya. Ia mengambil sebuah amplop kecil dengan segel lilin merah darah yang masih utuh.​"Ini baru tiba sepuluh menit sebelum kita masuk ke ruangan Ibuku," ujar Tristan, menyerahkan amplop itu kepada Briana.​Briana memecahkan segelnya dengan cepat. Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan surat cinta yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenali, tulisan tangan William Rhys yang berantakan dan sebuah nota pembayaran dari sebuah toko perhiasan ternama.​"Lihat tanggalnya," bisik Briana, matanya menyipit tajam. "Dua hari sebelum hari pertunangan kami, William membeli kalung zamrud untukku. Dan surat ini... dia berjanji

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   5. SURAT BERSEGEL LILIN MERAH

    ​Tangan Duchess Senior berhenti bergerak. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Perlahan ia meletakkan jarum bordirnya dan berbalik. Sepasang mata abu-abu yang dingin menyapu penampilan Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki, berhenti cukup lama pada warna biru tua gaunnya.​"Maguy?" Duchess Guine berdiri, keanggunannya mengintimidasi. "Putri yang kabur dari tunangannya sendiri? Berita itu sudah sampai ke telingaku sebelum tehku dingin, Tristan."​Ia melangkah mendekati Briana, berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Briana bisa melihat garis-garis tegas di wajah wanita tua itu.​"Kau sangat sehat, tidak seperti yang mereka beritakan pagi ini, Nona Maguy. Tristan pasti mengurusmu dengan sangat baik..." ia menyentuh dagu Briana dengan ujung jari yang dingin, memaksa Briana menatap matanya. "Kau terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre. Apa yang kau tawarkan pada puteraku, sehingga ia begitu ceroboh membawamu ke sini?"​Briana tidak men

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   4. BRIANA ELEANOR MAGUY

    Langkah kaki yang bergema di lorong pualam kediaman Ludwig terdengar seperti genderang perang. Tristan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Briana; ia justru mempereratnya, seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sisinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.​Pintu ganda ruang tamu utama terbuka lebar. Di sana berdiri William Rhys Thaddeus dengan wajah merah padam dan Charlotte Adelaide Bjorn yang tampak pucat. namun tetap berusaha menjaga keanggunannya yang rapuh.​"Tristan! Apa maksud semua ini?" seru William tanpa basa-basi, mengabaikan etika bertamu. "Pelayanmu bilang Briana ada di sini. Kau tahu dia adalah tunanganku, dan menghilangnya dia semalam telah membuat keluarga kami—"​Kalimat William terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sosok wanita yang berdiri di samping sang Duke.​Briana tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri dalam kehancuran. Ia berdiri tegak dengan gaun beludru biru tua yang memancarkan aura kemewahan yang dingin. Tida

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   3. PERMEN KAPAS UNTUK CALON DUCHESS

    ​"Percaya diri sekali," gumam Tristan, berusaha menetralisir debaran aneh yang menyerang dadanya. Ia segera berbalik, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin kediaman Ludwig. "Mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan pakaian yang layak untuk calon Duchess. Kita tidak mungkin menemui Ibu dengan gaun pesta semalam yang sudah kusut itu." ​Briana hanya mengangkat bahu, seolah perintah Tristan hanyalah angin lalu. Ia kembali berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, memperhatikan pantulan dirinya. "Pastikan warnanya bukan merah muda. Aku benci terlihat seperti permen kapas yang rapuh." Briana merasa jijik dengan dirinya yang lama; lemah, penakut, dan tidak memiliki kekuatan apa pun. ​Tristan berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Aku akan mencarikan sesuatu yang tepat untukmu, kau harus terlihat cantik dan bisa memikat mata semua orang.” Suaranya dibuat setenang mungkin, namun tidak demikian yang terdengar di telinga Briana; suara itu seperti menyalurk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status