LOGINLangkah kaki yang bergema di lorong pualam kediaman Ludwig terdengar seperti genderang perang. Tristan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Briana; ia justru mempereratnya, seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sisinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.
Pintu ganda ruang tamu utama terbuka lebar. Di sana berdiri William Rhys Thaddeus dengan wajah merah padam dan Charlotte Adelaide Bjorn yang tampak pucat. namun tetap berusaha menjaga keanggunannya yang rapuh. "Tristan! Apa maksud semua ini?" seru William tanpa basa-basi, mengabaikan etika bertamu. "Pelayanmu bilang Briana ada di sini. Kau tahu dia adalah tunanganku, dan menghilangnya dia semalam telah membuat keluarga kami—" Kalimat William terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sosok wanita yang berdiri di samping sang Duke. Briana tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri dalam kehancuran. Ia berdiri tegak dengan gaun beludru biru tua yang memancarkan aura kemewahan yang dingin. Tidak ada jejak air mata, tidak ada keraguan. Hanya ada tatapan tajam yang membuat William merasa seperti serangga yang sedang diamati. "Tunangan?" Tristan mengulang kata itu dengan nada meremehkan yang kental. Ia membawa Briana melangkah maju, memaksa William dan Charlotte mundur satu langkah. "Seingatku, seorang tunangan tidak akan membiarkan wanitanya kedinginan di tengah pesta sementara ia sibuk... menghangatkan diri dengan wanita lain." "Briana..." Charlotte bersuara, suaranya bergetar palsu. "Syukurlah kau baik-baik saja. Kami sangat khawatir. Mari pulang, biarkan kami menjelaskan semuanya." Briana melepaskan diri dari dekapan Tristan hanya untuk melangkah satu inci lebih dekat ke arah Charlotte. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Pulang? Pulang ke mana? Ke rumah di mana pengkhianatan kalian berdua di mulai?" Briana tertawa kecil, suara yang terdengar asing bagi William yang terbiasa dengan Briana yang penurut. "Sayang sekali, Charlotte. Aku harus bertukar tempat denganmu. Kakak sepupu kamu ini… telah berhasil meyakinkan aku untuk tinggal bersamanya di sini. Kau… bisa ambil posisiku di keluarga Rhys.” "Apa maksudmu, Briana? Jangan gila!" William hendak meraih lengan Briana, namun Tristan dengan sigap menghalangi. Tangan sang Duke mendarat di dada William, mendorongnya mundur dengan tenaga yang tak terbantahkan. "Jaga tanganmu, Tuan Rhys," desis Tristan. Suaranya rendah, berbahaya, dan penuh otoritas. "Kau sedang berhadapan dengan calon Duchess Ludwig. Satu sentuhan kasar darimu akan dianggap sebagai penghinaan terhadap nama besar keluargaku." Hening seketika menyergap ruangan itu. William ternganga, sementara Charlotte hampir kehilangan keseimbangannya jika tidak segera berpegangan pada kursi di dekatnya. "Calon... Duchess?" William tergagap. "Itu tidak mungkin! Kalian baru bertemu semalam!" Briana menoleh pada Tristan, memberikan tatapan yang seolah penuh cinta namun sarat akan provokasi. Ia kembali merapat pada sisi Tristan, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan manja yang dibuat-buat. "Terkadang, William, satu malam dengan pria yang tepat jauh lebih berharga daripada bertahun-tahun dengan pria yang salah," ucap Briana tenang. Ia kemudian menatap Charlotte, matanya berkilat penuh kemenangan. "Oh, dan kau Charlotte? Gaun merah mudamu itu indah, sangat cocok dan pas jika kamu yang memakainya." Tristan menyeringai, ia menyukai bagaimana Briana memainkan perannya. Ia memberi isyarat pada kepala pelayan. "Antar Tuan Rhys dan Lady Charlotte ke pintu keluar. Dan pastikan mereka tahu bahwa mulai detik ini, setiap urusan komunikasi dengan Lady Briana harus melalui aku." "Kalian tidak bisa melakukan ini!" teriak William saat para penjaga mulai mendekat. "Keluarga Rhys tidak akan tinggal diam!" "Aku sangat menantikannya," jawab Tristan dingin. "Sampaikan salamku pada ayahmu. Katakan padanya, Duke Ludwig baru saja mengambil perempuan paling berharga yang pernah kalian sia-siakan." Setelah pintu tertutup dan teriakan William menghilang di kejauhan, keheningan kembali menguasai ruangan. Briana segera menjauhkan dirinya dari Tristan, menegakkan bahunya kembali. Aktingnya selesai. “Apa yang mereka pikirkan? Dasar, tidak tahu malu.” Gerutu Briana. "Penampilan yang luar biasa," gumam Tristan, menatap Briana dengan senyum kemenangan. "Kau hampir membuatku percaya bahwa kau benar-benar mencintaiku." Briana merapikan gaunnya, wajahnya kembali dingin seperti es. "Jangan terbawa suasana, Duke. Itu hanya latihan kecil.” “Kau marah, Ana?” Tristan terkekeh. “Aku hanya tidak mengerti cara pikir mereka. Bukankah lebih baik William dan Charlotte menikah saja? Kenapa masih mencariku? Apa yang mereka inginkan setelah perselingkuhan itu terbongkar?” wajahnya terlihat masam. “Kau masih mencintainya?” selidik Tristan, kedua alisnya nampak bertaut. “Ck,” mulut Briana mencebik kasar. “Sekarang yang harus aku pikirkan adalah menghadapi Ibumu nanti." Tristan berjalan mendekatinya, "Kalau begitu, bersiaplah.” Menatapnya penuh balutan rasa kagum tak terbaca. “Jika benar apa yang kau katakan, tidak ada lagi ruang bagi William di hatimu, itu akan mempermudah rencana kita. Masalah Charlotte biar aku yang urus, kau tidak perlu khawatir.” Dengan gerakan cepat, Briana menepis tangan Tristan yang hendak menyentuh pipinya, lalu mundur selangkah untuk menjaga jarak. “Seumur hidupku, aku tidak akan pernah mengampuni dosa seorang pria yang suka menyakiti hati perempuan, apalagi menduakannya.” Tristan urung melanjutkan, ia tidak memaksa Briana untuk bisa menerima kehadirannya secepat ini. “Tenanglah Ana… tidak semua pria brengsek seperti William.” Mereka butuh waktu untuk memastikan perasaan masing-masing. Mengaktifkan kembali fungsi hati yang tak hanya mencintai, tapi menghargai, menerima dan mengikhlaskan… … Langkah kaki Briana terasa lebih berat saat melewati lorong menuju sayap kanan kediaman Ludwig, tempat Duchess Senior—Guinevere von Ludwig—menghabiskan waktu paginya. “Jangan tegang begitu,” Tristan mencoba mencairkan suasana. Bagaimana Briana tidak tegang? Jika wanita yang akan mereka temui ini adalah penguasa logika dan tradisi. Manik coklat Briana melirik sinis, lalu melanjutkan kembali langkahnya dengan penuh kehati-hatian. “Kau yang terlihat tidak santai, Duke.” Balasnya. Tristan melambat, memberikan ruang bagi Briana untuk menyetarakan langkah. "Satu hal yang harus kau tahu," bisik Tristan tanpa menoleh, "Ibuku bisa mencium kebohongan dari jarak satu mil, dia paling benci calon menantunya tidak memiliki pendirian. Jika kau ragu, biarkan aku yang bicara." Briana meliriknya tajam. "Simpan kekhawatiranmu, Duke. Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun mengintimidasiku lagi." Pintu kayu ek berukir terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan bergaya konservatif yang dipenuhi aroma teh melati dan kertas tua. Di depan jendela, seorang wanita dengan rambut perak yang disanggul sempurna duduk tegak. Ia tidak menoleh, tetap fokus pada bordiran di tangannya. "Rupanya ada sesuatu yang sangat mendesak, hingga kau datang kemari, Tristan," suara Duchess Guine tenang, namun tajam seperti silet. "Dan aku dengar kau membawa 'tamu' yang membuat keributan di kediaman Ludwing yang tenang ini." Tristan melangkah maju, memberi isyarat agar Briana mengikutinya. "Ibu, perkenalkan. Ini Briana Eleanor Maguy. Calon Duchess yang akan mendampingiku."Napas Tristan terasa panas dan beraroma alkohol tipis, memburu di atas permukaan kulit Briana yang mulai meremang. Briana memalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan predator suaminya, namun jemari kuat Tristan mencengkram rahangnya, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya."Kau ingin tahu rasanya disakiti, Ana?" bisik Tristan rendah, suaranya parau oleh perpaduan antara kemarahan dan gairah yang meledak-ledak. "Atau kau ingin aku memperlakukanmu seperti pria-pria yang kau temui di luar sana?"Tanpa menunggu jawaban, Tristan merenggut kerah gaun Briana. Suara kain sutra yang robek terdengar nyaring di kamar yang sunyi itu, mengekspos kulit bahu Briana yang putih pucat ke udara dingin kastil. Briana tersentak, namun sebelum ia sempat memprotes, bibir Tristan sudah menerjang bibirnya dengan kasar. Tidak ada kelembutan di sana—hanya ada klaim kepemilikan yang destruktif.“Emphh…” ia memukul dada Tristan agar pria itu tidak melanjutkan, “D-Dasar brengsek kau
Derap kuda itu berhenti tepat di depan gerbang besi taman, memecah kabut yang menyelimuti Swan Lake. Debu beterbangan, menari-nari tertiup angin dingin yang tiba-tiba terasa lebih tajam. Briana menegakkan punggungnya, topeng ketenangannya terpasang kembali dengan sempurna. Ia tidak menoleh, namun telinganya menangkap suara langkah sepatu bot yang berat dan berirama tegas di atas jalan setapak berbatu. "Yang Mulia Duchess," sebuah suara pria yang berat dan familiar menyapa. Laura segera bergeser, berdiri sedikit di belakang Briana sebagai pelindung, sementara gadis itu akhirnya berbalik. Di hadapannya berdiri Duke Obsidian, “Duke Obsidian, dia bangsawan dari Inggris, Duchess. Sir Obsidian adalah salah satu keturunan dari orang kepercayaan ratu.” Bisik Laura menjelaskan. “Duke Obsidian,” Briana menaikkan sebelah alisnya, suaranya sedingin es. Obsidian menunduk dalam, sebuah gerakan hormat yang kaku. "Maafkan saya mengganggu waktu Anda, Duchess Briana. Namun, saya melihat Anda
"Pungut kertas-kertas itu, Briana," perintahnya, suaranya kembali ke mode seorang Duke yang memberi perintah kepada bawahannya. "Kita punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, terlepas dari perasaanmu yang sedang kacau."Briana mencengkram pinggiran meja, buku-buku jarinya memutih. Ia tahu Tristan sengaja melakukannya—memberinya perintah untuk mengalihkan gairah yang masih mengambang di udara menjadi sesuatu yang dingin dan teknis.Briana terpaku sejenak, membiarkan detak jantungnya yang berpacu melambat. Perintah itu—begitu dingin, begitu otoriter—adalah sebuah tamparan halus. Tristan tidak sedang memintanya bekerja; ia sedang mengembalikan batasan, menempatkan Briana kembali ke dalam tempat yang semestinya.Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak menunjukkan getaran, Briana membungkuk. Jemarinya yang masih sedikit gemetar memungut lembaran-lembaran kertas yang berserakan di atas karpet beludru. Setiap kertas yang ia raih—laporan pajak, nota pengeluaran, angka-angka
Ketegangan di ruang kerja itu seakan memuncak hingga ke titik didih. Pernyataan Tristan bukan sekadar tawaran, melainkan sebuah pengakuan keputusasaan yang justru menghujam tepat di ulu hati Briana."Kau pikir semudah itu?" suara Briana bergetar, bukan karena takut, melainkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia mendorong dada Tristan, namun pria itu justru mencengkeram pinggangnya lebih erat, mengunci posisinya di antara tubuh sang Duke dan meja kerja yang berantakan."Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Briana! Aku mencoba memberimu ruang, mencoba menjadi suami yang setidaknya tidak membebanimu dengan kehadiranku yang berantakan, tapi setiap langkah yang kuambil, kau memandangnya sebagai penghinaan," desis Tristan. Suaranya serak, matanya yang hazel berkilat dengan gairah sekaligus rasa frustrasi yang mendalam."Karena kau memang menghinaku!" balas Briana menantang. "Kau membawaku ke dunia ini… atau entah bagaimana takdir mempermainkanku, dan satu-satunya hal yang bisa kau tawa
Tristan melangkah menuruni tangga pualam dengan setelan formal yang rapi, namun wajahnya masih memancarkan sisa-sisa kelelahan. Aroma kopi dan roti panggang menyeruak saat ia memasuki ruang makan. Di sana, Briana sudah duduk dengan punggung tegak, jemarinya lincah membolak-balik lembaran surat kabar pagi.Begitu Tristan menarik kursi di seberangnya, Briana tidak mendongak. Ia justru menggeser sebuah piring kecil berisi potongan lemon dan air jahe hangat."Minum itu. Kepalamu tidak akan berhenti berdenyut hanya dengan melamun," cetus Briana dingin.Tristan menatap gelas itu, lalu beralih menatap istrinya. "Terima kasih. Dan soal yang terjadi semalam, Briana? Aku ingat ada keributan dan..."Briana meletakkan surat kabarnya dengan suara plak yang cukup keras. Matanya menatap tajam, berkilat penuh emosi yang tertahan."Kau ingin tahu seberapa buruknya? Dua wanita dari rumah bordir The Velvet datang ke Citadel menuntut bayaran yang kau janjikan saat mabuk. Mereka berteriak di depan para pe
Di balik pintu berwarna putih, dua orang tengah berdiri di dalamnya. Satu orang nampak menahan amarahnya mati-matian, sedangkan yang lainnya bertampang tenang; seperti tidak pernah melakukan kesalahan.“Welcome to my world, Ana…” suaranya terdengar serak, akibat hangover minuman yang ia konsumsi. Briana berbalik cepat, menatap dengan wajah dimiringkan, “Welcome to my world?” ulang Briana dengan dahi berkerut, “Kau pikir semua ini lucu, huh? Bagaimana kalau orang-orang di luar sana menyebarkan berita ini? Kau tak hanya mengacaukan akting honeymoon sialan kita ini. Tapi kau telah membuat skandal baru, Duke.” Kata Briana dengan jari telunjuk terangkat ke arah Tristan.Tristan melepaskan cotte biru dongker miliknya ke atas ranjang, ia membuka bajunya satu per satu dengan santai.“Eh, mau apa kau?” Briana mendadak kebingungan, suaranya tidak pernah didengar oleh Duke Tristan—suaminya.Tristan terkekeh rendah, hingga menyisakan celana dengan belt yang menggantung di pinggangnya. “Aku lelah







