Home / Fantasi / MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN / 3. PERMEN KAPAS UNTUK CALON DUCHESS

Share

3. PERMEN KAPAS UNTUK CALON DUCHESS

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2026-01-24 18:38:43

​"Percaya diri sekali," gumam Tristan, berusaha menetralisir debaran aneh yang menyerang dadanya. Ia segera berbalik, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin kediaman Ludwig. "Mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan pakaian yang layak untuk calon Duchess. Kita tidak mungkin menemui Ibu dengan gaun pesta semalam yang sudah kusut itu."

​Briana hanya mengangkat bahu, seolah perintah Tristan hanyalah angin lalu. Ia kembali berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, memperhatikan pantulan dirinya. "Pastikan warnanya bukan merah muda. Aku benci terlihat seperti permen kapas yang rapuh." Briana merasa jijik dengan dirinya yang lama; lemah, penakut, dan tidak memiliki kekuatan apa pun.

​Tristan berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Aku akan mencarikan sesuatu yang tepat untukmu, kau harus terlihat cantik dan bisa memikat mata semua orang.” Suaranya dibuat setenang mungkin, namun tidak demikian yang terdengar di telinga Briana; suara itu seperti menyalurkan gelombang elektromagnetik yang memaksanya untuk menurut.

“Haruskah? Apa aku harus menyenangkan semua orang? Tidak cukup di hadapanmu saja, Duke?” Briana tidak suka berpura-pura. Manik hazelnya masih menatap ke ambang pintu yang belum tertutup, Duke Tristan masih berdiri di sana, di posisi yang sama.

“Untuk memulai semua sandiwara ini, kau harus bisa mengambil hati keluargaku.” Ucapan Duke Tristan pelan, lagi-lagi seperti sebuah titah yang tidak bisa Briana bantah.

​Pintu tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan Briana sendirian dalam keheningan kamar yang luas, seketika bahu yang tadinya tegak itu sedikit merosot. Briana menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan, tanpa ia sadari tangannya gemetar hebat.

​"Hampir saja Briana," batinnya. "Jika aku sedikit saja menunjukkan keraguan, dia pasti akan langsung memangsaku." Ia duduk di tepi ranjang, memegangi dadanya yang berdentum bak genderang.

***

​Satu jam kemudian, Briana turun ke ruang makan dengan gaun beludru berwarna biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah tegasnya.

"Perhatikan langkah Anda, Lady," ujar Marlon, sang kepala pelayan.

"Tak perlu khawatir begitu, aku bukan anak kecil lagi. Urusan berjalan saja, kenapa kalian sangat ribut sekali? Eh, aduh, awh!" tiba-tiba kakinya tersandung gaun panjangnya sendiri, membuat punggung Briana condong ke arah depan.

"Hati-hati, Lady!" untung saja Marlon, perempuan paruh baya berambut putih itu segera menangkapnya sebelum jatuh tersungkur.

"Sial! Kenapa gaun-gaun ini sangat merepotkanku?" gerutu Briana yang merapikan penampilannya kembali, ia tidak boleh terlihat berantakan di hadapan pria itu.

​Tristan sudah menunggu di sana, menyesap kopi hitamnya sedikit. Ia sempat tertegun sesaat melihat transformasi Briana—dari wanita yang hancur semalam menjadi sosok yang memancarkan otoritas luar biasa pagi ini.

"Awas, nanti matanya lepas..." canda Briana sambil duduk, ia memperingatkannya.

Buru-buru Tristan mengalihkan pandangannya ke lain arah, ia meraih gelas minuman dengan asal, kemudian meminumnya secara serampangan.

​"Kau tahu," Tristan membuka suara saat Briana mulai memotong steak tartare-nya dengan elegan, "Ibuku adalah wanita yang sangat tradisional. Baginya, pernikahan adalah aliansi suci, bukan kontrak politik yang didasari sandiwara atau kepura-puraan semata. Dari sini kau paham apa yang aku katakan, Briana?"

Ia mengangkat wajahnya, menatap presensi Tristan dengan santai. ​"Lalu?" Briana menyuapkan daging itu ke mulutnya, mengunyah pelan. "Kau ingin aku berperan menjadi menantu idaman yang pandai merajut dan membuat teh seperti gadis manja lainnya?" bibirnya tersenyum, seperti sebuah ejekan.

Tristan membalas tatapan itu, seakan memberikan sebuah peringatan. ​"Aku ingin kau tidak membuatnya pingsan di pertemuan pertama nanti," balas Tristan datar. "Dia sangat pintar bermain strategi, apalagi menghadapi orang-orang yang lemah." Sambung Duke Tristan yang melahap makanannya dengan sikap tenang.

Briana memanyunkan bibirnya, "Apa yang kau takutkan, Duke? Kau takut aku bertingkah di hadapan keluargamu?” Briana menyuap makanannya, “Itu tandanya kau belum cukup mengenal seorang Briana Eleanor Maguy.”

“Sebentar lagi kau dikenal dengan, Duchess Ludwig. Ingat itu, Ana. Aku masih pegang semua kata-katamu, kau harus tepati itu.” Tristan menatapnya lekat, mengarahkan sejenak garpu yang dipegangnya pada Briana yang duduk bersebrangan dengannya.

“Suka sekali merubah nama orang. Tapi sepertinya nama Ana tidak buruk. Aku bersyukur bisa terdampar di tempat yang tepat... bersamamu." Briana merasa tidak nyaman Tristan mengganti nama panggilannya, namun ia menyampaikannya dengan nada bercanda.

Tristan meliriknya sekilas, masih fokus dengan makanan di piring. "Keluarga Rhys sudah mengirim surat pencarian. Mereka bergerak mencari keberadaanmu, Ana. Kabar kau menghilang sudah menyebar. Kita harus menghubungi keluargamu terlebih dahulu untuk memastikan, sebelum semuanya terlambat. Jika Ibuku tahu aku menyembunyikanmu di sini, dia akan berpikir aku menculikmu." Tristan memberikan sebuah berita terbaru tentangnya.

​Briana meletakkan garpunya dengan denting logam yang nyaring. “Kalau begitu… kita harus mengumumkan pertunangan ini secepatnya sebelum William sampai di gerbangmu.”

“Tahan dulu. Jangan terburu-buru…” Tristan ikut meletakkan alat makannya, menautkan kedua telapak tangannya di bawah dagu. “Kita harus mengatur langkah, agar mereka tidak curiga.” Tatapannya tajam, menyorot Briana yang dinilai terlalu gegabah.

“Kau takut? Biarkan Charlotte tahu bahwa aku bukan lagi saingannya, melainkan penguasa baru yang harus ia sembah.”

​"Kau sangat terobsesi dengan balas dendam, ya?" Tristan menatapnya tajam.

​"Ini bukan balas dendam, Duke. Ini adalah harga yang pantas William dan Charlotte dapatkan," sahut Briana dingin. "Mereka sudah mengambil hidupku, sekarang saatnya aku mengambil masa depan mereka."

​Belum sempat Tristan membalas, seorang kepala pelayan masuk dengan wajah pucat pasi. Ia membungkuk dalam-dalam di hadapan Tristan.

​"Mohon maaf, Yang Mulia Duke. Di luar... ada Tuan William Rhys dan Lady Charlotte. Mereka memaksa masuk karena mengklaim telah melacak keberadaan Lady Briana di kediaman ini."

​Sudut bibir Briana terangkat. Bukan ketakutan yang terpancar, melainkan gairah berburu. Ia menatap Tristan yang kini tampak mulai emosi.

​"Cepat sekali," bisik Briana. Ia berdiri, lalu berjalan mendekati Tristan. Dengan gerakan yang sangat intim, ia merapikan dasi pria itu dan berbisik tepat di depan bibirnya. "Mau menunjukkan pada mereka siapa pemilik baru tempat ini, atau kau ingin aku bersembunyi di bawah meja seperti selir yang kau tawarkan tadi?"

​Tristan mendengus, sorot matanya berubah gelap dan berbahaya. Ia menangkap pinggang Briana, menariknya mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka.

​"Pakai topengmu, Duchess Ana. Mari kita buat mereka menyesal karena telah menginjakkan kaki di wilayah Ludwig tanpa seizinku."

Dalam hitungan nol sekian detik, tubuh Briana sudah memeluk dada bidang Tristan. Keduanya masih saling bertukar pandang, hingga Briana menarik smirk devilnya.

“Baik, Duke.” Jawab Briana tanpa ragu sedikit pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   8. KEPUTUSAN MUTLAK BRIANA

    “A-Ayah?” Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal. ‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri). Lucius Maguy. Menahan pedang ke arah samping agar tidak mengganggu langkahnya, pria berambut putih sebahu sedikit bergelombang itu berusaha menyeimbangkan pahatan besi cor pada sarung panjang berlapis perak. Briana menahan tawa yang hampir meledak di kerongkongannya. Melihat Lucius Maguy berjalan terengah-engah dengan baju zirah lengkap yang berderit di setiap langkah, ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan komedi di tengah drama operet yang serius. ​Cring. Cring. Cing. ​Suara logam yang saling beradu itu terdengar konyol di lorong kastil Ludwig yang elegan. Briana teringat akan karakter kaleng dalam cerita lama, namun ia segera memulihkan ekspresinya menjadi datar, meski binar jenaka di mat

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   7. PESTA PERTUNANGAN YANG KACAU

    Setelah keheningan yang mencekam itu, Tristan memberikan isyarat kepada para pengawal. "Tunjukkan jalan keluar bagi Tuan Rhys dan rombongannya.”“Aku belum selesai dengan Briana, Duke!” Seru William.“Kita sudah impas, William. Kau dapatkan Charlotte, dan Briana memilihku.” Telunjuknya mengarah tegas pada presensi William yang keras kepala.“Ini bukan pertandingan, Duke! Anda tidak berhak memutuskan sendiri, sebelum Briana mengatakan padaku; siapa yang pantas untuk menjadi suaminya.” Bantah William yang masih menegakkan harga dirinya setinggi langit.“Sudahlah, William. Akhiri kebohongan ini segera. Apa masih kurang jelas bagimu? Aku berada di kediaman Ludwing, diperlakukan baik oleh Duchess Guine, lalu bermalam di sini. Pria dewasa sepertimu masa tidak paham soal ini?” penjelasan Briana menusuk logika William, merobek rasa percaya diri yang semula diagung-agungkan.William menatap tak percaya. Ia yang bersikeras untuk memperbaiki kesalahannya, meminta maaf terlebih dahulu, merendahka

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   6. RAHASIA DAN BUKTI KECURANGAN WILLIAM RHYS THADDEUS

    Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang dingin, menuju sayap timur kastil di mana ruang kerja Tristan berada. Pelayan yang mereka lewati menunduk dalam, merasakan aura ketegangan sekaligus dominasi yang terpancar dari pasangan baru ini.​Begitu pintu ruang kerja yang berlapis kulit itu tertutup dan terkunci, Tristan berjalan menuju meja mahoni besarnya. Ia mengambil sebuah amplop kecil dengan segel lilin merah darah yang masih utuh.​"Ini baru tiba sepuluh menit sebelum kita masuk ke ruangan Ibuku," ujar Tristan, menyerahkan amplop itu kepada Briana.​Briana memecahkan segelnya dengan cepat. Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan surat cinta yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenali, tulisan tangan William Rhys yang berantakan dan sebuah nota pembayaran dari sebuah toko perhiasan ternama.​"Lihat tanggalnya," bisik Briana, matanya menyipit tajam. "Dua hari sebelum hari pertunangan kami, William membeli kalung zamrud untukku. Dan surat ini... dia berjanji

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   5. SURAT BERSEGEL LILIN MERAH

    ​Tangan Duchess Senior berhenti bergerak. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Perlahan ia meletakkan jarum bordirnya dan berbalik. Sepasang mata abu-abu yang dingin menyapu penampilan Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki, berhenti cukup lama pada warna biru tua gaunnya.​"Maguy?" Duchess Guine berdiri, keanggunannya mengintimidasi. "Putri yang kabur dari tunangannya sendiri? Berita itu sudah sampai ke telingaku sebelum tehku dingin, Tristan."​Ia melangkah mendekati Briana, berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Briana bisa melihat garis-garis tegas di wajah wanita tua itu.​"Kau sangat sehat, tidak seperti yang mereka beritakan pagi ini, Nona Maguy. Tristan pasti mengurusmu dengan sangat baik..." ia menyentuh dagu Briana dengan ujung jari yang dingin, memaksa Briana menatap matanya. "Kau terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre. Apa yang kau tawarkan pada puteraku, sehingga ia begitu ceroboh membawamu ke sini?"​Briana tidak men

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   4. BRIANA ELEANOR MAGUY

    Langkah kaki yang bergema di lorong pualam kediaman Ludwig terdengar seperti genderang perang. Tristan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Briana; ia justru mempereratnya, seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sisinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.​Pintu ganda ruang tamu utama terbuka lebar. Di sana berdiri William Rhys Thaddeus dengan wajah merah padam dan Charlotte Adelaide Bjorn yang tampak pucat. namun tetap berusaha menjaga keanggunannya yang rapuh.​"Tristan! Apa maksud semua ini?" seru William tanpa basa-basi, mengabaikan etika bertamu. "Pelayanmu bilang Briana ada di sini. Kau tahu dia adalah tunanganku, dan menghilangnya dia semalam telah membuat keluarga kami—"​Kalimat William terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sosok wanita yang berdiri di samping sang Duke.​Briana tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri dalam kehancuran. Ia berdiri tegak dengan gaun beludru biru tua yang memancarkan aura kemewahan yang dingin. Tida

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   3. PERMEN KAPAS UNTUK CALON DUCHESS

    ​"Percaya diri sekali," gumam Tristan, berusaha menetralisir debaran aneh yang menyerang dadanya. Ia segera berbalik, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin kediaman Ludwig. "Mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan pakaian yang layak untuk calon Duchess. Kita tidak mungkin menemui Ibu dengan gaun pesta semalam yang sudah kusut itu." ​Briana hanya mengangkat bahu, seolah perintah Tristan hanyalah angin lalu. Ia kembali berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, memperhatikan pantulan dirinya. "Pastikan warnanya bukan merah muda. Aku benci terlihat seperti permen kapas yang rapuh." Briana merasa jijik dengan dirinya yang lama; lemah, penakut, dan tidak memiliki kekuatan apa pun. ​Tristan berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Aku akan mencarikan sesuatu yang tepat untukmu, kau harus terlihat cantik dan bisa memikat mata semua orang.” Suaranya dibuat setenang mungkin, namun tidak demikian yang terdengar di telinga Briana; suara itu seperti menyalurk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status