Home / Fantasi / MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN / 6. RAHASIA DAN BUKTI KECURANGAN WILLIAM RHYS THADDEUS

Share

6. RAHASIA DAN BUKTI KECURANGAN WILLIAM RHYS THADDEUS

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2026-02-04 21:55:10

Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang dingin, menuju sayap timur kastil di mana ruang kerja Tristan berada. Pelayan yang mereka lewati menunduk dalam, merasakan aura ketegangan sekaligus dominasi yang terpancar dari pasangan baru ini.

​Begitu pintu ruang kerja yang berlapis kulit itu tertutup dan terkunci, Tristan berjalan menuju meja mahoni besarnya. Ia mengambil sebuah amplop kecil dengan segel lilin merah darah yang masih utuh.

​"Ini baru tiba sepuluh menit sebelum kita masuk ke ruangan Ibuku," ujar Tristan, menyerahkan amplop itu kepada Briana.

​Briana memecahkan segelnya dengan cepat. Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan surat cinta yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenali, tulisan tangan William Rhys yang berantakan dan sebuah nota pembayaran dari sebuah toko perhiasan ternama.

​"Lihat tanggalnya," bisik Briana, matanya menyipit tajam. "Dua hari sebelum hari pertunangan kami, William membeli kalung zamrud untukku. Dan surat ini... dia berjanji pada Charlotte akan membatalkan pernikahan denganku setelah ia berhasil mendapatkan akses ke dana perwalian keluarga Maguy."

​"Bukan hanya itu," Tristan menunjuk ke arah tumpukan dokumen lain. "Informanku menemukan bahwa William memiliki utang judi yang sangat besar di klub bawah tanah. Dia tidak menginginkanmu, Briana. Dia menginginkan mas kawinmu untuk membayar kepalanya agar tidak dipenggal oleh penagih utang."

​Briana merasakan darahnya mendidih, namun ia justru tertawa—sebuah tawa kecil yang dingin dan mematikan. "Dia ingin bermain kotor rupanya,” 

​"Apa langkah yang akan kau ambil?" tanya Tristan, ia kini bersandar pada meja, menatap Briana dengan kekaguman yang sulit disembunyikan.

​"Jamuan sore ini bukan sekadar teh dan biskuit, Tristan. Aku ingin kau mengundang Lady Henderson dan Baroness Claire. Mereka adalah biang berita paling berpengaruh di ibu kota. Jika mereka melihat bukti ini, sebelum matahari terbenam, keluarga Rhys tidak akan bisa menunjukkan wajah mereka di jalanan mana pun."

​Briana mendekat ke arah Tristan, jarak mereka kini hanya sejengkal. Ia meletakkan tangannya di dada bidang sang Duke, merasakan detak jantung pria itu yang stabil. "Dan kau, Duke-ku... kau harus memainkan peranmu. Saat William datang untuk meminta aku kembali padanya, kau hanya perlu berdiri di sampingku agar terlihat seperti penyelamat yang gagah."

​Tristan meraih tangan Briana, mengecup punggung tangannya dengan lembut namun posesif. "Apapun untukmu, Lady-ku. Tapi ingat satu hal, setelah ini, dunia akan tahu kau adalah milik Ludwig. Tidak ada jalan kembali."

​"Aku sudah siap untuk itu sejak menginjakkan kaki di sini, Tristan," jawab Briana mantap.

​Tepat saat itu, ketukan pintu terdengar. "Yang Mulia, penjahit dan perias yang dikirim oleh Duchess Senior telah tiba."

​Briana menarik napas dalam, memperbaiki postur tubuhnya. "Waktunya bersiap. Aku harus terlihat pantas di sampingmu bukan?"

​Dua jam kemudian, aula utama kediaman Ludwig telah disulap menjadi medan perang yang dibalut kemewahan. Aroma bunga lili dan teh Earl Grey memenuhi udara, namun bagi Briana, ini adalah aroma provokatif.

​Briana berdiri di puncak tangga, memandang ke bawah ke arah kerumunan bangsawan yang mulai berbisik-bisik. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru safir gelap dengan potongan leher rendah yang memamerkan kalung berlian pemberian Duchess Guine. Rambutnya disanggul tinggi, menonjolkan leher jenjang dan tatapan matanya yang tak tergoyahkan.

​"Tarik napas, Ana," bisik Tristan yang berdiri di sampingnya, mengenakan seragam militer formalnya. "Mereka semua ada di sini untuk melihat dirimu."

​"Biarkan mereka menikmati tontonan itu, kita ikuti saja alurnya Duke." Balas Briana tenang.

​Saat mereka turun, pintu besar aula terbuka lebar. William Rhys Thaddeus  melangkah masuk dengan wajah merah padam karena amarah, diikuti oleh ayahnya, Lord Rhys, dan secara mengejutkan Charlotte Adelaide Bjorn yang mencoba bersembunyi di balik kipas bulunya.

​"Duke Ludwig!" suara William menggelegar, menghentikan denting sendok teh di seluruh ruangan. "Kembalikan tunanganku sekarang juga! Kau tidak punya hak untuk menyembunyikan Briana Maguy di sini. Ini adalah penculikan!"

​Ruangan seketika sunyi. Lady Henderson dan Baroness Claire, yang sudah duduk di baris depan, langsung menajamkan pendengaran mereka.

​Tristan tidak menjawab. Ia hanya menatap William dengan tatapan menghina seolah pria itu adalah serangga yang mengganggu jalannya. Justru Briana yang maju selangkah, melepaskan lengannya dari Tristan.

​"Penculikan, William?" Briana bertanya dengan nada yang sangat manis, namun cukup keras untuk didengar semua orang. "Bukankah kau sendiri yang mengantarkan aku ke gerbang kematian dengan pengkhianatanmu? Aku tidak diculik. Aku sedang mencari perlindungan dari seorang pria yang bahkan tidak bisa membayar hutang judinya tanpa menggunakan mas kawin tunangannya."

​Wajah William memucat. "Apa yang kau bicarakan? Itu fitnah!"

​"Fitnah?" Briana memberi isyarat kepada seorang pelayan. Pelayan itu membawa nampan perak berisi salinan surat-surat yang ditemukan Tristan tadi. "Lady Henderson, Baroness... mungkin Anda ingin melihat bagaimana Tuan Rhys yang terhormat ini merayu Nona Bjorn yang juga hadir di sini, tepat dua malam sebelum hari pertunangan kami seharusnya berlangsung."

​Salinan surat itu berpindah tangan dengan cepat. Bisik-bisik di ruangan itu berubah menjadi gumaman kaget yang merendahkan.

​"Astaga, lihat tanggalnya! Dia menjanjikan uang keluarga Maguy untuk selingkuhannya!" seru Baroness Claire tanpa tedeng aling-aling.

​Lord Rhys, ayah William, mencoba membela diri. "Ini pasti rekayasa! Briana, kau hanya ingin membenarkan tindakanmu berselingkuh dengan Duke Ludwig!"

​"Saya tidak berselingkuh," potong Briana tajam, matanya berkilat. "Saya menyelamatkan kehormatan saya dari kalian para penjilat. Duke Ludwig adalah satu-satunya orang yang memberikan harapan serta perlindungan, saat ia melihat seorang wanita dikhianati secara keji di depan matanya sendiri."

​Tristan kemudian melangkah maju, meletakkan tangannya di pinggang Briana secara posesif. Kekuatan fisiknya yang intimidatif membuat William mundur selangkah.

​"Lord Rhys," suara Tristan berat dan mengancam. "Jika kau menyebut kata 'penculikan' sekali lagi, aku akan membawa bukti utang judi putramu ke pengadilan kerajaan sore ini juga. Dan mengenai Nona Maguy... dia bukan lagi tunangan siapa pun. Dia adalah calon Duchess Ludwig yang akan berada di bawah perlindunganku sepenuhnya."

​Pernyataan itu seperti hantaman palu godam. Charlotte Adelaide Bjorn mulai terisak karena malu, sementara William hanya bisa ternganga, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya—harta, nama baik, dan harga diri.

​Di sudut ruangan, Duchess Guinevere mengamati dari balik cangkir tehnya. Ia tidak tersenyum, tapi ia memberikan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat kepada Briana. Sebuah pengakuan bahwa Briana telah lulus ujian pertamanya sebagai calon menantu di keluarga Ludwing.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   8. KEPUTUSAN MUTLAK BRIANA

    “A-Ayah?” Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal. ‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri). Lucius Maguy. Menahan pedang ke arah samping agar tidak mengganggu langkahnya, pria berambut putih sebahu sedikit bergelombang itu berusaha menyeimbangkan pahatan besi cor pada sarung panjang berlapis perak. Briana menahan tawa yang hampir meledak di kerongkongannya. Melihat Lucius Maguy berjalan terengah-engah dengan baju zirah lengkap yang berderit di setiap langkah, ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan komedi di tengah drama operet yang serius. ​Cring. Cring. Cing. ​Suara logam yang saling beradu itu terdengar konyol di lorong kastil Ludwig yang elegan. Briana teringat akan karakter kaleng dalam cerita lama, namun ia segera memulihkan ekspresinya menjadi datar, meski binar jenaka di mat

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   7. PESTA PERTUNANGAN YANG KACAU

    Setelah keheningan yang mencekam itu, Tristan memberikan isyarat kepada para pengawal. "Tunjukkan jalan keluar bagi Tuan Rhys dan rombongannya.”“Aku belum selesai dengan Briana, Duke!” Seru William.“Kita sudah impas, William. Kau dapatkan Charlotte, dan Briana memilihku.” Telunjuknya mengarah tegas pada presensi William yang keras kepala.“Ini bukan pertandingan, Duke! Anda tidak berhak memutuskan sendiri, sebelum Briana mengatakan padaku; siapa yang pantas untuk menjadi suaminya.” Bantah William yang masih menegakkan harga dirinya setinggi langit.“Sudahlah, William. Akhiri kebohongan ini segera. Apa masih kurang jelas bagimu? Aku berada di kediaman Ludwing, diperlakukan baik oleh Duchess Guine, lalu bermalam di sini. Pria dewasa sepertimu masa tidak paham soal ini?” penjelasan Briana menusuk logika William, merobek rasa percaya diri yang semula diagung-agungkan.William menatap tak percaya. Ia yang bersikeras untuk memperbaiki kesalahannya, meminta maaf terlebih dahulu, merendahka

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   6. RAHASIA DAN BUKTI KECURANGAN WILLIAM RHYS THADDEUS

    Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang dingin, menuju sayap timur kastil di mana ruang kerja Tristan berada. Pelayan yang mereka lewati menunduk dalam, merasakan aura ketegangan sekaligus dominasi yang terpancar dari pasangan baru ini.​Begitu pintu ruang kerja yang berlapis kulit itu tertutup dan terkunci, Tristan berjalan menuju meja mahoni besarnya. Ia mengambil sebuah amplop kecil dengan segel lilin merah darah yang masih utuh.​"Ini baru tiba sepuluh menit sebelum kita masuk ke ruangan Ibuku," ujar Tristan, menyerahkan amplop itu kepada Briana.​Briana memecahkan segelnya dengan cepat. Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan surat cinta yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenali, tulisan tangan William Rhys yang berantakan dan sebuah nota pembayaran dari sebuah toko perhiasan ternama.​"Lihat tanggalnya," bisik Briana, matanya menyipit tajam. "Dua hari sebelum hari pertunangan kami, William membeli kalung zamrud untukku. Dan surat ini... dia berjanji

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   5. SURAT BERSEGEL LILIN MERAH

    ​Tangan Duchess Senior berhenti bergerak. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Perlahan ia meletakkan jarum bordirnya dan berbalik. Sepasang mata abu-abu yang dingin menyapu penampilan Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki, berhenti cukup lama pada warna biru tua gaunnya.​"Maguy?" Duchess Guine berdiri, keanggunannya mengintimidasi. "Putri yang kabur dari tunangannya sendiri? Berita itu sudah sampai ke telingaku sebelum tehku dingin, Tristan."​Ia melangkah mendekati Briana, berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Briana bisa melihat garis-garis tegas di wajah wanita tua itu.​"Kau sangat sehat, tidak seperti yang mereka beritakan pagi ini, Nona Maguy. Tristan pasti mengurusmu dengan sangat baik..." ia menyentuh dagu Briana dengan ujung jari yang dingin, memaksa Briana menatap matanya. "Kau terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre. Apa yang kau tawarkan pada puteraku, sehingga ia begitu ceroboh membawamu ke sini?"​Briana tidak men

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   4. BRIANA ELEANOR MAGUY

    Langkah kaki yang bergema di lorong pualam kediaman Ludwig terdengar seperti genderang perang. Tristan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Briana; ia justru mempereratnya, seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sisinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.​Pintu ganda ruang tamu utama terbuka lebar. Di sana berdiri William Rhys Thaddeus dengan wajah merah padam dan Charlotte Adelaide Bjorn yang tampak pucat. namun tetap berusaha menjaga keanggunannya yang rapuh.​"Tristan! Apa maksud semua ini?" seru William tanpa basa-basi, mengabaikan etika bertamu. "Pelayanmu bilang Briana ada di sini. Kau tahu dia adalah tunanganku, dan menghilangnya dia semalam telah membuat keluarga kami—"​Kalimat William terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sosok wanita yang berdiri di samping sang Duke.​Briana tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri dalam kehancuran. Ia berdiri tegak dengan gaun beludru biru tua yang memancarkan aura kemewahan yang dingin. Tida

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   3. PERMEN KAPAS UNTUK CALON DUCHESS

    ​"Percaya diri sekali," gumam Tristan, berusaha menetralisir debaran aneh yang menyerang dadanya. Ia segera berbalik, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin kediaman Ludwig. "Mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan pakaian yang layak untuk calon Duchess. Kita tidak mungkin menemui Ibu dengan gaun pesta semalam yang sudah kusut itu." ​Briana hanya mengangkat bahu, seolah perintah Tristan hanyalah angin lalu. Ia kembali berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, memperhatikan pantulan dirinya. "Pastikan warnanya bukan merah muda. Aku benci terlihat seperti permen kapas yang rapuh." Briana merasa jijik dengan dirinya yang lama; lemah, penakut, dan tidak memiliki kekuatan apa pun. ​Tristan berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Aku akan mencarikan sesuatu yang tepat untukmu, kau harus terlihat cantik dan bisa memikat mata semua orang.” Suaranya dibuat setenang mungkin, namun tidak demikian yang terdengar di telinga Briana; suara itu seperti menyalurk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status