LOGINTangan Duchess Senior berhenti bergerak. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Perlahan ia meletakkan jarum bordirnya dan berbalik. Sepasang mata abu-abu yang dingin menyapu penampilan Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki, berhenti cukup lama pada warna biru tua gaunnya.
"Maguy?" Duchess Guine berdiri, keanggunannya mengintimidasi. "Putri yang kabur dari tunangannya sendiri? Berita itu sudah sampai ke telingaku sebelum tehku dingin, Tristan." Ia melangkah mendekati Briana, berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Briana bisa melihat garis-garis tegas di wajah wanita tua itu. "Kau sangat sehat, tidak seperti yang mereka beritakan pagi ini, Nona Maguy. Tristan pasti mengurusmu dengan sangat baik..." ia menyentuh dagu Briana dengan ujung jari yang dingin, memaksa Briana menatap matanya. "Kau terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre. Apa yang kau tawarkan pada puteraku, sehingga ia begitu ceroboh membawamu ke sini?" Briana tidak menurunkan pandangannya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang sopan namun tidak menunjukkan ketundukan. "Saya tidak menawarkan keberuntungan, Duchess," jawab Briana tenang. "Saya menawarkan apa yang tidak bisa diberikan oleh wanita lain untuk keluarga Ludwig. Kesetiaan yang lahir dari kehancuran, dan kekuatan yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan mahar secantik apa pun." Duchess Guine menaikkan sebelah alisnya. "Kesetiaan? Kata yang sangat mahal untuk seseorang yang baru saja meninggalkan tunangannya." "Saya meninggalkan pengkhianat, Duchess. Bukan komitmen," balas Briana cepat. "Dan jika Yang Mulia mengizinkan, saya ingin membuktikan bahwa kehadiran saya di sini patut diperhitungkan, daripada gadis lain di luar sana yang membosankan itu." Mata Duchess Guinevere Von Ludwig beralih ke arah Tristan, lalu kembali ke Briana. Keheningan itu terasa abadi, sampai akhirnya wanita tua itu mendengus kecil—hampir menyerupai tawa yang tertahan. "Dia memiliki lidah yang tajam, Tristan. Berbahaya untuk seorang Duke yang kaku sepertimu," ucap Duchess Guine sambil berjalan kembali ke mejanya. Ia menuangkan teh ke dalam cangkir porselen kedua. "Duduklah. Mari kita lihat apakah otakmu sepadan dengan keberanianmu, Lady Briana." Tristan menarik napas lega yang hampir tak terlihat, lalu menarikkan kursi untuk Briana. Briana duduk dengan punggung tegak, menyadari bahwa ujian pertama baru saja dimulai. "Jadi," Duchess Senior itu memulai, matanya berkilat penuh selidik. "Ceritakan padaku, bagaimana rencanamu menangani skandal 'penculikan' yang akan dituduhkan keluarga Rhys pada puteraku sore ini?" Briana tidak segera menjawab. Ia membiarkan uap teh melati naik di antara mereka, menciptakan tirai tipis yang menyembunyikan kilat strategi di matanya. Ia menyesap tehnya sedikit—tindakan yang tenang untuk menunjukkan bahwa ia tidak terburu-buru oleh tekanan sang Duchess Senior. "Skandal hanya akan menjadi skandal jika tidak ada narasi yang lebih kuat untuk menimpanya, Duchess," Briana memulai, suaranya kini lebih rendah namun penuh keyakinan. Ia meletakkan cangkir porselen itu tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. "Keluarga Rhys akan berteriak tentang 'penculikan' untuk menyelamatkan muka mereka. Namun, mereka lupa bahwa masyarakat lebih menyukai kisah tentang 'penyelamatan'. Saya tidak diculik. Saya diselamatkan oleh Duke Ludwig dari sebuah persekutuan yang tidak suci antara William Rhys dan Charlotte Bjorn." Briana mencoba untuk menjabarkan langkah-langkahnya, "Sore ini saya akan mengirimkan surat resmi kepada orang tua saya, dengan tembusan kepada tetua keluarga besar yang menyatakan pembatalan sepihak pertunangan saya karena pelanggaran moral yang dilakukan William." “Apa semudah itu rencana yang akan kau pakai untuk menyelamatkan nama putraku?" tanya Duchess Guine lebih dalam. “Charlotte hadir di kediaman Ludwig pagi ini bersama William. Itu adalah kesalahan fatal mereka. Siapa yang membawa selingkuhannya untuk menjemput tunangannya yang hilang? Saya akan memastikan rumor ini tersebar di klub-klub sosial bahwa mereka datang sebagai pasangan, bukan sebagai seseorang yang baru kehilangan.” Jabar Briana secara perlahan. “Kau pikir akan berhasil semudah itu?” ujung bibir Duchess Guine terangkat, ia tersenyum sinis. “Putra Anda setuju dengan rencana pernikahan ini, Duke Tristan akan mendeklarasikan saya sebagai calon istrinya. Dengan posisi saya saat ini, keluarga Rhys tidak akan berani menuntut apa pun, termasuk penculikan. Jika mereka tetap melakukan itu, keluarga Rhys harus berhadapan dengan pengacara keluarga Ludwig dan saya memiliki bukti perselingkuhan mereka." Duchess Guinevere mengetukkan jarinya di atas meja, matanya masih terpaku pada Briana. "Kau berencana menghancurkan reputasi mereka sepenuhnya, seolah-olah membangun bentengmu sendiri. Apakah kau benar-benar mencintai putraku, Briana?” "Saya tidak mungkin menyia-nyiakan ketulusan serta kebaikan yang putra Anda berikan, Duchess," jawab Briana lugas. "Jika saya harus masuk ke keluarga Ludwig, saya masuk secara terhormat. Saya akan terus belajar untuk menjadi menantu serta istri yang patut kalian banggakan." Tristan menyeringai tipis, tangannya diam-diam bertumpu pada sandaran kursi Briana. "Seperti yang kukatakan, Ibu. Dia tidak hanya memiliki wajah yang cantik." Guinevere menghela napas panjang, lalu menyeruput tehnya. "Baiklah. Aku akan menahan perintah pengusiranku untuk sementara. Tapi ingat, Nona Maguy, di rumah ini, satu kesalahan kecil bisa menjadi belati yang menusuk punggungmu sendiri.” “Tristan, pastikan dia mendapatkan perhiasan yang layak. Aku tidak ingin calon menantuku terlihat seperti baru saja keluar dari debu jalanan saat menghadapi jamuan sore nanti." Kalimat itu bukan pujian, tapi itu adalah sebuah izin. Briana mengangguk takzim, menerima "izin" dingin itu dengan martabat yang tetap terjaga. Ia bisa merasakan tatapan Duchess Guinevere yang masih setajam silet, menakar setiap inci pergerakannya. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Duchess," suara Briana terdengar tenang, meski di dalam hati ia tahu bahwa ini hanyalah pengalihan isu sementara. "Saya akan menjaga kepercayaan Anda dengan segenap nyawa.” Tristan berdiri, jemarinya sempat menyentuh bahu Briana sekilas—sebuah gestur protektif yang tidak luput dari pengamatan tajam ibunya. "Kami permisi, Ibu. Masih banyak yang harus dipersiapkan sebelum jamuan sore dimulai." Begitu mereka keluar dari ruangan, dan pintu kayu ek yang berat itu tertutup rapat, keheningan lorong kastil menyambut mereka. Briana menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan di pangkal tenggorokan. Kakinya terasa sedikit lemas, namun ia menolak untuk goyah. "Kau melakukannya dengan sangat baik," bisik Tristan, suaranya kini lebih hangat, jauh dari nada kaku yang ia gunakan di depan ibunya. "Ibuku jarang sekali menarik kembali perintah pengusiran. Kau baru saja menjinakkan singa betina, Ana." Briana menoleh, menatap Duke muda itu dengan kilat jenaka sekaligus peringatan di matanya. "Menjinakkan? Jangan konyol, Tristan. Kau pikir kita sedang berburu di hutan? Ibumu masih menunggu saat yang tepat untuk melihatku jatuh, aku tidak boleh lengah sedetik pun.” “Setidaknya kita sudah berhasil sejauh ini,” balas Tristan. Briana memperbaiki letak sarung tangannya. "Sekarang, katakan padaku. Di mana bukti perselingkuhan William yang kau janjikan? Jika aku akan menyerang keluarga Rhys sore ini, aku butuh lebih dari sekadar gertakan. Aku butuh bukti yang akan membuat mereka berlutut memohon pengampunan, bukan hanya dari kita, tapi dari seluruh lingkaran sosial ibu kota." Tristan menyeringai, sebuah senyum predator yang menjelaskan mengapa ia begitu disegani di medan perang maupun politik. "Ikutlah ke ruang kerjaku. Ada seorang informan yang baru saja mengirimkan surat bertanda segel lilin merah. Kurasa kau akan menyukai isinya."“A-Ayah?” Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal. ‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri). Lucius Maguy. Menahan pedang ke arah samping agar tidak mengganggu langkahnya, pria berambut putih sebahu sedikit bergelombang itu berusaha menyeimbangkan pahatan besi cor pada sarung panjang berlapis perak. Briana menahan tawa yang hampir meledak di kerongkongannya. Melihat Lucius Maguy berjalan terengah-engah dengan baju zirah lengkap yang berderit di setiap langkah, ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan komedi di tengah drama operet yang serius. Cring. Cring. Cing. Suara logam yang saling beradu itu terdengar konyol di lorong kastil Ludwig yang elegan. Briana teringat akan karakter kaleng dalam cerita lama, namun ia segera memulihkan ekspresinya menjadi datar, meski binar jenaka di mat
Setelah keheningan yang mencekam itu, Tristan memberikan isyarat kepada para pengawal. "Tunjukkan jalan keluar bagi Tuan Rhys dan rombongannya.”“Aku belum selesai dengan Briana, Duke!” Seru William.“Kita sudah impas, William. Kau dapatkan Charlotte, dan Briana memilihku.” Telunjuknya mengarah tegas pada presensi William yang keras kepala.“Ini bukan pertandingan, Duke! Anda tidak berhak memutuskan sendiri, sebelum Briana mengatakan padaku; siapa yang pantas untuk menjadi suaminya.” Bantah William yang masih menegakkan harga dirinya setinggi langit.“Sudahlah, William. Akhiri kebohongan ini segera. Apa masih kurang jelas bagimu? Aku berada di kediaman Ludwing, diperlakukan baik oleh Duchess Guine, lalu bermalam di sini. Pria dewasa sepertimu masa tidak paham soal ini?” penjelasan Briana menusuk logika William, merobek rasa percaya diri yang semula diagung-agungkan.William menatap tak percaya. Ia yang bersikeras untuk memperbaiki kesalahannya, meminta maaf terlebih dahulu, merendahka
Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang dingin, menuju sayap timur kastil di mana ruang kerja Tristan berada. Pelayan yang mereka lewati menunduk dalam, merasakan aura ketegangan sekaligus dominasi yang terpancar dari pasangan baru ini.Begitu pintu ruang kerja yang berlapis kulit itu tertutup dan terkunci, Tristan berjalan menuju meja mahoni besarnya. Ia mengambil sebuah amplop kecil dengan segel lilin merah darah yang masih utuh."Ini baru tiba sepuluh menit sebelum kita masuk ke ruangan Ibuku," ujar Tristan, menyerahkan amplop itu kepada Briana.Briana memecahkan segelnya dengan cepat. Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan surat cinta yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenali, tulisan tangan William Rhys yang berantakan dan sebuah nota pembayaran dari sebuah toko perhiasan ternama."Lihat tanggalnya," bisik Briana, matanya menyipit tajam. "Dua hari sebelum hari pertunangan kami, William membeli kalung zamrud untukku. Dan surat ini... dia berjanji
Tangan Duchess Senior berhenti bergerak. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Perlahan ia meletakkan jarum bordirnya dan berbalik. Sepasang mata abu-abu yang dingin menyapu penampilan Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki, berhenti cukup lama pada warna biru tua gaunnya."Maguy?" Duchess Guine berdiri, keanggunannya mengintimidasi. "Putri yang kabur dari tunangannya sendiri? Berita itu sudah sampai ke telingaku sebelum tehku dingin, Tristan."Ia melangkah mendekati Briana, berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Briana bisa melihat garis-garis tegas di wajah wanita tua itu."Kau sangat sehat, tidak seperti yang mereka beritakan pagi ini, Nona Maguy. Tristan pasti mengurusmu dengan sangat baik..." ia menyentuh dagu Briana dengan ujung jari yang dingin, memaksa Briana menatap matanya. "Kau terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre. Apa yang kau tawarkan pada puteraku, sehingga ia begitu ceroboh membawamu ke sini?"Briana tidak men
Langkah kaki yang bergema di lorong pualam kediaman Ludwig terdengar seperti genderang perang. Tristan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Briana; ia justru mempereratnya, seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sisinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.Pintu ganda ruang tamu utama terbuka lebar. Di sana berdiri William Rhys Thaddeus dengan wajah merah padam dan Charlotte Adelaide Bjorn yang tampak pucat. namun tetap berusaha menjaga keanggunannya yang rapuh."Tristan! Apa maksud semua ini?" seru William tanpa basa-basi, mengabaikan etika bertamu. "Pelayanmu bilang Briana ada di sini. Kau tahu dia adalah tunanganku, dan menghilangnya dia semalam telah membuat keluarga kami—"Kalimat William terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sosok wanita yang berdiri di samping sang Duke.Briana tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri dalam kehancuran. Ia berdiri tegak dengan gaun beludru biru tua yang memancarkan aura kemewahan yang dingin. Tida
"Percaya diri sekali," gumam Tristan, berusaha menetralisir debaran aneh yang menyerang dadanya. Ia segera berbalik, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin kediaman Ludwig. "Mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan pakaian yang layak untuk calon Duchess. Kita tidak mungkin menemui Ibu dengan gaun pesta semalam yang sudah kusut itu." Briana hanya mengangkat bahu, seolah perintah Tristan hanyalah angin lalu. Ia kembali berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, memperhatikan pantulan dirinya. "Pastikan warnanya bukan merah muda. Aku benci terlihat seperti permen kapas yang rapuh." Briana merasa jijik dengan dirinya yang lama; lemah, penakut, dan tidak memiliki kekuatan apa pun. Tristan berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Aku akan mencarikan sesuatu yang tepat untukmu, kau harus terlihat cantik dan bisa memikat mata semua orang.” Suaranya dibuat setenang mungkin, namun tidak demikian yang terdengar di telinga Briana; suara itu seperti menyalurk







