Se connecter“Kiara, masuk kamar!” Bianca berteriak lantang. Wajahnya merah padam, menatap kami yang baru tiba dengan marah.Kapan wanita ini sampai di rumah, kami tidak tahu. Yang jelas sekarang suasana hati Bianca sedang tidak baik-baik saja.“Aku udah cukup sabar, ya. Kamu terlalu banyak menghabiskan waktu sama anak-anakku. Kamu harus tahu batasan, Mas,” ocehnya, tenang tapi tetap mengintimidasi.“Video pertangkaran mereka menyebar di mana-mana, teman-temanku melihat, reputasi mereka jadi buruk. Di luar sana banyak orang yang mengenal mereka sebagai putri keluarga Satvika, dan kamu malah—““Lebih baik mereka dikenal karena bertengkar di tempat umum daripada terkenal karena duduk mabuk-mabukan bersama rekan-rekan bisnis ibunya, kan?” sindirku telak.Bianca terdiam, tatapannya terkunci, tubuhnya menegang. Ekspresinya yang seperti itu membuatku tersenyum menang—karena telah mematahkan ocehan kosongnya.“Dan kamu diam aja padahal kamu tahu,” lanjutku.“Ma-Mas—““Kalau kamu tanya aku tahu dari mana
“Om, aku mau ini!” Kiara menunjuk sebuah blouse warna merah muda pada manekin yang terpajang di window salah satu butik.Aku mengangguk. “Sana, cari ukuran yang pas,” sahutku.Kiara melompat kegirangan, persis seperti anak kecil yang keinginannya dituruti tanpa tapi.“Kamu gak mau juga?” Aku bertanya pada Celine.Gadis itu menggeleng. Tatapannya tak lepas pada Kiara, tatapan senang karena melihat adiknya sudah baik-baik saja.“Makasih ya, mas,” katanya. “Udah lama Kiara pengen punya blouse itu, tapi Mama gak pernah ngizinin beli.”“Kenapa?” Dahiku mengerut heran. Perasaan tidak ada yang aneh dengan blouse yang punya potongan rendah di bagian pundak itu.“Gak tau. Mama kan serba punya standar sendiri.”Aku menghela napas. “Ya sudahlah, yang penting sekarang saya beliin.”Celine mengangguk. “Makasih juga buat tasnya ya, Mas. Mau saya pakai untuk kerja besok,” katanya sambil mengangkat paperbag berisi tas jinjing seharga 30juta.Lama perbincangan kami di depan butik, Kiara kembali dengan
“KK itu artinya Kokoin. TG artinya Tembakau Genjer,” katanya.Aku terbelalak. Meskipun bahasanya ngalor-ngidul tapi aku mengerti. Celine sendiri pernah membahas tentang tembakau yang dicampur dengan bahan lain lalu diberi nama barang mahal.Aku tersenyum tipis, sudah dapat benang merahnya.“Huruf A di depan adalah kode pelabuhan Maritim, empat angka setelahnya adalah nomor pengiriman, dua huruf itu singkatan dari nama barang yang dikirim, dan angka di akhir adalah kualitas barang,” ujarnya menjelaskan.“100 artinya barang biasa, 200 premium, 300 eksklusif, 400 VVIP.” Kiara terkekeh.“Kalau Mama tahu aku ngomong hal ini ke orang lain, besok pasti badanku dimakan hiu.”Tanganku gemetar, tapi merangkul pinggang Kiara dengan santai, kukecup rambutnya yang sedikit basah dan masih beraroma alkohol.“Kenapa kamu bangun? Kepala kamu gak pusing?” tanyaku lembut.“Kak Celine tidur di samping aku, pulas banget, matanya bengkak. Dia nangisin aku, ya?”“Iya, Celine khawatir sama kamu.”“Semua gara
“Aku harus mengkhianati Mama?” Celine bertanya kemudian menggelengkan kepala dengan cepat. “Aku gak bisa, Mas.”Sudah kuduga, Celine tak akan menyanggupi.Aku terkekeh renyah. “Bercanda...,” selorohku, membuat Celine menatapku bingung.“Maksudnya?”“Kamu ini polos banget, sih,” cicitku sambil mencolek ujung hidung gadis itu. “Gak mungkin saya nyuruh anak berkhianat dari orang tuanya. Saya cuma orang asing di sini, dosa saya kalau ngadu domba kalian.”Celine menghela napas. “Mas jangan bikin aku kaget dong.”Kuraih telapak tangannya dan kukecup. “Tapi soal membatalkan pernikahan saya serius. Kenapa? Saya gak sanggup hidup lama dengan orang yang gak punya pendirian.”Celine terdiam, matanya menatapku dalam.“Apa yang Bianca lakukan terhadapmu dan Kiara malam ini benar-benar bukan tindakan manusiawi. Tidak mencerminkan sikap ibu yang baik,” lanjutku.“Ta-tapi, Mas. Kalau Mama sedih gimana? Mama sakit hati gimana?”“Kamu khawatir dengan perasaan Bianca? Kamu khawatir pembatalan ini membua
“Sial!” makiku, sudah kepalang tanggung, tapi tiba-tiba diganggu.Aku buru-buru memasang celanaku lagi. Celine turun dari pangkuanku, membetulkan dressnya. Panik setengah mampus.“Kamu pindah ke kursi belakang dulu, ya. Ngumpet di sana.”Celine mengangguk, lalu pindah ke belakang, menutup dirinya dengan bantal kursi kecil yang hanya mampu menutup setengah kepalanya saja.Kubuka jendela, alangkah terkejutnya aku melihat siapa yang berdiri di luar dan mengetuk jendela mobilku.“Sssttt...!” Pria itu berdesis.Komandan Rakabumi.Pria itu memberi isyarat padaku, lalu pergi. Aku keluar dari mobil, melangkah setengah berlari agar tidak tertinggal jauh lalu berhenti di balik pilar besar.“Komandan? Kenapa—““Jangan tanya apa-apa dulu dan kamu gak perlu panik. Saya ke sini hanya untuk memberitahu kalau pesta ini akan dilanjut sampai nanti subuh. Ada kemungkinan Bianca tidak akan pulang karena kata Nadira, keluarga Luan Hamijaya juga menyanggupi berpesta semalam suntuk,” katanya.“Anda ke sini
“Akhirnya kamu penasaran juga, kan?” Nadira menyenggolku.Aku terdiam, fokusku sekarang ada pada tempat yang disebut sebagai ballroom VVIP.Tidak! Tempat ini lebih mirip klub di lorong tersembunyi. Jauh dari keramaian pengunjung plaza.Penari stripsis berlenggok di tiang, di meja-meja, di sofa, memamerkan lekuk tubuh mereka, berjoget menggoda pria-pria, berharap mendapatkan selembar dua lembar uang tip terselip pada kain-kain yang membelit dada dan pinggul.Namun, tatapanku segera berpindah ke arah lain. Bukan kepada Bianca, melainkan Kiara yang duduk di antara tiga pria dewasa, menenggak minuman—tidak sampai mabuk. Kepalaku mendadak panas melihatnya.Namun, Nadira menahan tanganku. “Jangan gegabah, Jevan. Kiara adalah alat kita, sedangkan Bianca yang membuatnya duduk di sana. Kamu pasti tahu alasannya.”Gila!“Bianca menggunakan putrinya untuk melobi orang-orang berduit ini?” heranku.“Kalau dia bisa menjodohkan Celine dengan anak petinggi media di negeri ini, maka sisanya adalah Kia







