Share

BAB 18

Author: stevendeeary
last update publish date: 2026-05-24 00:34:56

“Jangan pernah datang ke pelabuhan, Mas, sekali pun Mama yang ngajak,” kata Celine lagi.

Napasku tersendat sesaat, kuhela putus-putus, lalu kutatap Celine. “Emangnya di pelabuhan ada apa, Cel?”

Celine menghela napas, lega kurasa. “Syukurlah kalau kamu gak ke sana. Sumpah, semalam aku kebangun dan lihat kamu gak ada di sampingku.”

“Aku mulai berpikir aneh-aneh, aku cek handphone dan ada pesan dari Mama kalau Mama lagi di pelabuhan. Aku mau hubungi kamu, tapi aku takut kamu lagi sama Mama. Aku ga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 19

    “Mas Jevan....” Celine melenguh keras di atasku. Mendengar itu, mulutku makin bersemangat memilin pucuk kedua dadanya.Kuakui dia tak serta merta membuatku tergila-gila seperti saat pertama kali aku mencicipi tubuh Kiara, tetapi sekali lagi kuulang, “Celine tidak memaksa, dia menghargaiku.”“Udah basah ternyata,” godaku, kupercepat gesekan telunjuk dan jari tengahku pada labia yang masih tertutup celana dalam.Basah, harum menggoda. Lagi kupilin dadanya, kusesap lembut hingga gadis itu kehilangan keseimbangan tubuhnya. Celine menjerit pelan, kepalanya terlempar ke belakang, menahan nikmat yang kuberikan dari dua arah.Ku baringkan tubuhnya, bibirku mulai bergeriliya mengabsen tiap sisi kulit tubuhnya. Bercak merah bekas permainan kami semalam masih tertinggal di sana, tak menyurutkan keinginanku untuk berbuat sedikit lebih kasar dari sebelumnya.Satu tanganku melepas panty gadis itu dengan tak sabar, ciumanku turun ke sana, kunikmati ranumnya segitiga basah kemerahan itu.Cup!Kulebar

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 18

    “Jangan pernah datang ke pelabuhan, Mas, sekali pun Mama yang ngajak,” kata Celine lagi.Napasku tersendat sesaat, kuhela putus-putus, lalu kutatap Celine. “Emangnya di pelabuhan ada apa, Cel?”Celine menghela napas, lega kurasa. “Syukurlah kalau kamu gak ke sana. Sumpah, semalam aku kebangun dan lihat kamu gak ada di sampingku.”“Aku mulai berpikir aneh-aneh, aku cek handphone dan ada pesan dari Mama kalau Mama lagi di pelabuhan. Aku mau hubungi kamu, tapi aku takut kamu lagi sama Mama. Aku gak tenang, Mas.“Aku takut kamu keseret dalam bisnis Mama. Aku takut nasib kamu kayak Papa. Kematian Pak Panca masih jadi sesuatu yang bikin aku gak tenang.”“Itu sebabnya gerd kamu kambuh? Kamu kirim pesan kepada saya saat perut kamu sakit karena mikirin saya, Cel?” tanyaku menyela.Gadis itu mengangguk. “Mas, aku butuh kamu di sini. Aku sampe mikir, apa aku kabur aja, ya? Tapi aku maunya kabur sama kamu, Mas.”Kutarik tubuh gadis itu naik ke pangkuanku, kupeluk dia erat-erat, kubiarkan kepalany

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 17

    “Eeuunghh...”Saliva kami terputus. Sialnya aku tidak bisa berbuat lebih jauh karena Nadira sedang datang bulan. Tidak apa-apa, nanti main sama Celine.“Kangen,” kata Nadira lalu meletakkan kepalanya di atas dadaku yang penuh bercak lipstik merahnya.“Jadi, kamu minta ketemu di sini cuma buat kangen-kangenan? Kamu bilang kamu tahu soal Ardian, itu cuma alibi aja, ya?” tanyaku iseng.Nadira menggeleng. “Masa ketemu cuma buat ngomogin kasus.” Perempuan itu menautkan seluruh kancing kemejanya. Sudah puas aku bermain-main dengan dada sintalnya.Ia turun dari ranjang, mengambil tas laptop lalu kembali duduk di sebelahku. “Soal Ardian dan pembunuhan berencana Panca Wardana semuanya sudah dirancang dua bulan setelah kematian Rendra Satvika,” ujar Nadira memulai.Aku mengangkat satu alis. Nadira menunjukkan layar laptopnya ke arahku. “Sudah beberapa hari sejak rapat besar di markas, aku tinggal di dekat rumah keluarga Luan Hamijaya.”“Menurut penelitian salah satu anggota kita yang menyamar d

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 16

    “Jangan coba-coba bohong ya, Mas!” Bianca membentakku, tapi matanya berkaca-kaca.Aku termenung sebentar, menatap wanita itu dengan tak biasa.Inikah Bianca yang kulihat semalam?Inikah Bianca yang mengomando puluhan anak buah kapal di gudang pelabuhan?Inikah Bianca yang memaki dan membunuh Ardian?Sialnya, aku tidak bisa menebak peran dan wajah mana yang sedang Bianca pakai pagi ini. Sorot matanya menyiratkan sebuah ketulusan saat ia berbicara, lembut dan tertata suaranya.“Mas, jawab! Kamu ngapain ke rumah Bianca? Tetangga di sana ngomong sama aku loh, Mas. Katanya kamu nginep—““Nginep?” Aku menyela.“Benar, kan? Kamu nginep di rumah Celine!” bentakan Bianca terdengar makin frustrasi.Aku menghela napas, mana mungkin aku mengaku. Kupasang ekspresi tenang—mengimbangi Bianca yang bermuka dua. “Aku datang siang hari, bawain makan siang untuknya. Terus mal

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 15

    “Bianca, sinting!” gumamku memaki.Kulepas masker dan topi yang menutupi wajahku, cepat kuberlari keluar dari tempat itu, mengendap melalui lorong-lorong yang tak tersentuh kamera CCTV, lalu kembali masuk ke mobil.Waktu menunjukkan pukul dua pagi saat kutinggalkan pelabuhan. Jalanan sangat sepi, hanya ada beberapa orang bertopi caping menggendong jala dan kail di pundak.Ponselku berdering, nama komandan muncul di layar.“Ardian meninggal, dia dilempar hidup-hidup ke laut setelah Bianca menyiksanya,” kataku cepat.“APA?!” Rakabumi berteriak di seberang sana. “Bagaimana bisa?!”“Saya sudah merekam semuanya, jangan khawatir. Ini bukti paling kuat yang bisa kita tunjukkan di pengadilan setelah Bianca tertangkap nanti.”“Baiklah, tapi soal Ardian... dia narapidana kita, dan dia menghilang di lautan?”Mengingat kejadian itu saja aku t

  • MENJERAT NYONYA DIJERAT NONA MUDA   BAB 14

    “Jangan sampai barang-barang ini sampai di tangan yang salah!”Suara itu terlalu tajam untuk wanita yang selama ini kukenal lemah lembut. Dia Bianca, berdiri tak jauh dari loading door memantau orang-orang yang sedang menarik troli-troli berisi peti-peti besi berwarna perak.Aku adalah salah satu dari mereka—orang-orang yang melakukan kegiatan di bawah pengawasan Bianca—separuh wajahku tertutup masker agar tak mudah dikenali.Bianca terlihat berbeda. Wanita cantik yang kukenal manis dan penurut, kini berdiri seperti orang asing dengan wajah bengis, seolah ia tak akan mengampuni siapa pun yang berani melawannya.Suasana tempat ini terlalu hening, tapi dari jauh bisa kudengar suara debur ombak menggulung tipis. Air laut pasti sedang pasang, tapi kenapa masih ada pengiriman barang?“Fino, ada kabar tentang Ardian?”“Saya belum berhasil menghubunginya, Nyonya.”Bianca menghela napas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status