LOGINSemua orang kekenyangan menyantap mie ayam yang rasanya memang sangat lezat. Sesuai perkataan Sarah sebelumnya, mereka diperbolehkan membungkus mie ayam untuk di bawa pulang jika masih ada yang tersisa.Maya membungkus dua porsi mie ayam untuk adik-adiknya di rumah. Karyawan yang lain pun turut membungkus untuk istri, ibu, bahkan pacar mereka.Sarah melakukan pembayaran penuh kepada bapak penjual mie ayam, yang menerima uangnya dengan wajah berseri-seri, "Terima kasih banyak, Mbak cantik..."Sarah menolehkan wajahnya pada Ethan, mengisyaratkan bahwa ini semua adalah permintaan suaminya yang menginginkan makan mie ayam khas Indonesia."Oh, terima kasih Bang Bule! Barakallah... Langgeng dan bahagia selalu ya Mbak dan Bang Bule!" ucap bapak penjual sumringah menatap Ethan
Tidak lama setelah obrolan hangat antara Sarah, Novi, dan Maya membicarakan gosip masa lalu mereda di mana Maya tetap tidak tahu-menahu soal hubungan kelam Sarah dengan Rafli dan Pitri terus berceloteh tanpa saringan, hingga membuat Sarah dan Novi tersenyum-senyum kecil, Ethan dan Azriel akhirnya tiba kembali ke halaman ruko."Mana mie ayamnya? Abangnya tidak jualan?" tanya Sarah seraya bangkit berdiri. Matanya memicing heran menatap Ethan dan Azriel yang kedua tangan mereka sama sekali tidak membawa bungkusan mie ayam.Novi dan Maya pun turut bangkit, memandang kedua pria di depan mereka dengan senyum terkulum.Azriel tertawa kecil seraya menggaruk tengkuknya, "Bang Ipar ingin penjualnya membawa langsung gerobaknya ke sini, Kak. Jadi, bapak penjualnya sedang dalam perjalanan. Tadi bilangnya mau mampir mengambil stok daging ayamnya dulu di rumah. Tidak jauh kok
"Ya Tuhan... tadi malam aku bermimpi Kak Sarah pulang. Ternyata beneran pulang!" seru Azriel antusias begitu keluar dari ruangan live streaming, lalu memeluk Sarah tanpa canggung.Ethan yang melihat istrinya di peluk pria muda di depannya, sengaja memalingkan wajah berpura-pura meneliti sudut lain ruangan, lalu memanggil Novi untuk segera membagikan oleh-oleh yang dibawakan Sarah untuk mereka semua."Makasih banyak ya, Kak Sarah dan Abang Ipar! Wah, ini oleh-oleh dari Moskow? Cantik banget!" seru Novi berbinar-binar seraya merengkuh sebuah bola salju hias yang dilengkapi figur boneka, penunjuk waktu, serta alarm yang sudah disetting oleh Sarah dengan waktu Jakarta."Kemarin kami sempat mampir ke Jepang dulu sebelum pulang ke sini. Itu ada oleh-oleh dari Jepang juga, dibagi rata ya buat semuanya," ucap Sarah yang sudah melepaskan pelukannya dari Azriel.Sarah membawa banyak sekali kudapan manis, permen, mainan, gantungan kunci, hingga omamori khas Jepang untuk Novi, Azriel, serta selur
Sarah terduduk di tepi ranjang dalam kamarnya. Sentuhan kenangan tentang orang tua yang tak pernah sempat ia dekap membuat dadanya berdenyut nyeri.Tak lama kemudian, pintu kamar terdorong pelan. Madam Maria melangkah masuk dengan tatapan serba salah dan penuh penyesalan. Wanita tua itu mendekat, lalu duduk di samping Sarah dan membawa tubuh cucunya ke dalam pelukan hangat yang erat."Maafkan Grandma, Sayang... Maafkan Grandma yang sudah membuatmu menangis..." bisik Madam Maria lirih, suaranya bergetar menahan sebak.Sarah menyandarkan kepalanya di bahu sang nenek, membiarkan air matanya membasahi pakaiannya."Semua ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup Grandm
Matahari masih memancarkan sinarnya yang terang menjelang sore. Abah Rizal berjalan santai mengelilingi pekarangan rumahnya yang telah dirapikan oleh para tetangga. Namun, mereka tampaknya sengaja tidak memetik buah-buahan dan sayuran yang sudah siap panen."Kakek, jambu airnya sudah merah-merah sekali!" pekik Tachi antusias seraya membuntuti di belakang Abah Rizal.Abah Rizal tersenyum bahagia melihat binar ceria di mata Tachi yang akan selalu menjadi cucunya. Ia memetik sebuah jambu air merah ranum dan menyerahkannya kepada Tachi. Anak lelaki itu dengan sigap membawanya ke keran halaman, mencucinya hingga bersih, lalu menggigitnya diliputi rasa gembira."Manis, Kek!" seru anak lelaki itu riang.Air jambu yang manis meleleh di sudut bibir Tachi saat ia mengunyahnya dengan ekspresi begitu nikmat.
Setelah seluruh rangkaian urusan penggabungan perusahaan di gedung Tashiro Corp dan liburan awal tahun usai, kini saatnya Sarah beserta rombongan keluarga besar bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.Pagi itu, suasana haru mewarnai private lounge Tokyo Disneyland hotel tempat mereka menginap. Sarah dan keluarga besar saling berpamitan dengan keluarga Sato, keluarga Keisuke, beserta anak-anak mereka yang selama liburan menjadi teman bermain Tachi. Pelukan hangat, senyuman rasa syukur, dan ucapan terima kasih tulus terucap di antara mereka atas kebersamaan yang begitu indah."Nee-chan titip perusahaan, ya, Eiji," ucap Sarah seraya menyalami Eiji, yang langsung disambut anggukan sopan oleh pria muda itu.Di rapat restrukturisasi kemarin, Sarah menunjuk Eiji sebagai asisten Mister Hiraga di Tashiro Corp untuk membantu mengelola dua perusahaan sekaligus, Tashiro Corp dan V.M Company. Tak hanya posisi strategis, Sarah juga telah menyiapkan fasilitas lengkap berupa unit apartemen nyaman di pu
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri







