INICIAR SESIÓNEthan terlihat sangat menikmati momen menggoda Sarah, lalu menuntun wanitanya itu berjalan mengitari penjual-penjual lainnya."Nggak ada kecap manis..." keluh Sarah berbisik pelan setelah mengamati beberapa lapak."Nanti aku minta Brian belikan di supermarket Asia di Moskow. Mereka berangkat sore ini ke Yaroslavl. Grandma baru aja menidurkan Tachi di rumah Praded," ucap Ethan setelah mengecek pesan yang masuk dari Brian di ponselnya."Kalau nggak ada ya nggak apa-apa. Ibu mungkin bisa bikin bumbu alternatif dari kecap asin campur gula merah. Tapi, aku mau cabe bubuk atau chili oil. Minta tolong Brian sekalian belikan, bisa?""Apa pun buat kamu pasti bisa, Sayang. Asal kamu nggak minta balikan sama pria bajingan di masa lalumu itu aja," sahut Ethan gemas, menoel pelan
Madam Maria baru saja keluar dari ruang kerja Mister Konstantin. Sementara itu, Brian yang masih fokus mendengarkan rekaman sadapan sambil membantu Tachi membuat menara dari Lego, tiba-tiba merasa telinganya berdengung.[Jika kau menyampaikan pada Ethan atau Sarah hasil percakapanku dengan Maria... maka hari ini akan menjadi hari terakhir kau melihat matahari, Brian!] ucap Mister Konstantin dengan nada tenang tepat di depan mikrofon alat perekam yang ditempelkan Brian di bagian bawah mejanya.Bibir Brian bergetar kaku. Ia hanya bisa mendengarkan ancaman maut itu tanpa sanggup memberikan balasan apa pun.[Siapkan helikopter, kita akan kembali ke Yaroslavl sebelum sore,] titah Mister Konstantin dingin pada Brian melalui earpiece alat komunikasi, sebelum pria tua itu mematikan dan menyimpan salurannya.Madam Maria yang sudah kembali ke ruang tengah tersenyum antusias melihat menara yang masih dirapikan oleh Tachi. Sementara Brian segera pamit undur diri untuk menyampaikan perintah Mister
Tachi yang sedang bermain dengan Brian di ruang tengah mendadak bangkit dan berlari kecil menyambut kedatangan Madam Maria yang juga melangkah cepat, berjongkok, lalu merengkuh cicit kesayangannya tersebut ke dalam pelukan hangat."Apakah Tachi dan Mommy baik-baik saja di Yaroslavl? Di sana lebih dingin. Bagaimana dengan perut Mommy? Aman?" tanya Madam Maria seraya tersenyum penuh haru, menatap netra mungil Tachi dengan sorot kasih yang melimpah.Tentu saja, Madam Maria sudah paham kalau perut Sarah bisa kram hanya karena udara dingin. Tachi mengangguk cepat, "Uhm! Praded dan Daddy sudah meminta Mister Pavel menstabilkan suhu hangat di dalam rumah, jadi perut Mommy baik-baik saja," sahutnya cermat. "Kalau Tachi..."Anak laki-laki itu memajukan wajahnya sedikit, memiringkan kepala lalu berbisik pelan di telinga Madam Maria, "Tachi suka dingin! Tachi diajari main bola sama Daddy di atas salju. Lalu, Tachi juga mandi berendam di sauna bersama Mommy."Madam Maria benar-benar tersenyum ce
Usai menghabiskan sarapan, Ethan mengajak Sarah melangkah ke area kebun belakang kediaman yang diselimuti salju putih tebal.Di sana, berdiri sebatang pohon apel legendaris. Pohon yang tetap berbuah lebat dengan warna merah menyala meski hawa dingin menyengat."Sangat cantik, ajaib, dan... seksi!" gumam Sarah seraya memetik sebuah apel merah menyala yang menjuntai di ujung dahan tanpa dedaunan."Seksi?" cetus Ethan dengan suara sedikit serak dan bibir menahan tawa, berdiri tepat di belakang punggung Sarah.Sarah menoleh melirik lelakinya itu, lalu bibirnya tersenyum. Setelah mengelap salju yang menempel di permukaan apel dengan telapak tangannya, ia menggigitnya pelan."Ya, warna merahnya sangat seksi, bukan? Diselimuti salju yang memutih, jadi teringat dongeng Putri Salju," ucap Sarah setelah menelan kunyahan apel di mulutnya.Ethan mendaratkan kecupan hangat di kening Sarah, seolah itu sudah menjadi kebiasaan alami yang kian sering ia lakukan. "Lihat, sudah ada putik baru yang tumbu
Setelah momen hangat dan pengakuan emosional di area sauna, benih-benih cinta di antara Sarah dan Ethan kian mekar sempurna. Sarah tak lagi menjaga jarak dan kini mulai membalas tatapan lembut pria itu, bahkan terang-terangan menunjukkan perhatiannya."Hei, kau sudah bangun?" sapa Ethan begitu melangkah masuk ke dalam kamar Sarah yang sedang duduk di depan meja rias, telah rapi berpakaian dengan rambut masih agak basah."Terima kasih sudah mengerti aku," balas Sarah tersenyum tipis, menoleh pada Ethan yang semalaman terbukti menjaga janjinya untuk tidak mengganggu atau menyelinap masuk ke kamarnya."Sebenarnya aku ingin sekali datang ke sini. Tetapi... aku pasti tak akan bisa menahan diri jika hanya berdua denganmu. Malam adalah waktu yang sangat bagus untuk saling melucuti pakaian, bukan?" bisik Ethan santai seraya mengambil alih pengering rambut dari tangan Sarah.Sarah mengulum senyum, namun sikunya langsung mendarat manis di samping perut Ethan. Pria itu mengelak cepat sambil tert
Sarah tidak mengerti kenapa dirinya bisa segila ini melanggar batasnya sendiri, tetapi di sisi lain, pikirannya merasa sangat nyaman menerima semua perlakuan penuh kasih sayang dari Ethan."Apakah Tachi sungguh lahir dari sini?" tanya Ethan sambil menahan tubuh Sarah agar berbaring di lengannya, sementara tangannya yang lain membelai perut rata wanitanya itu dengan ujung jemari. "Uhm, lahir dari sana... keluar secara alami lalu menyusu selama dua tahun di sini," sahut Sarah pelan sambil menahan pergelangan tangan Ethan yang hendak merayap membelai kebun tembakau kecilnya yang dicukur rapi.Tiba-tiba Ethan bergerak cepat, membaringkan Sarah di atas bentangan handuk di lantai, lalu turun, memposisikan wajahnya tepat di depan area sensitif Sarah."Oh, kau sungguh sangat cantik, Zaika..." desis Ethan sambil menahan kedua paha Sarah agar wanitanya itu tidak membalikkan badan. "Dia seperti tersenyum padaku..."Sarah benar-benar meronta pelan. Ia sangat malu bagian paling privasinya ditatap
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se







