LOGINDi luar ruang tunggu privat, suasana aula utama terasa begitu khidmat, privat, namun memancarkan kekuasaan mutlak para kaum elit.Dewa duduk bersanding dengan Brian di barisan kursi tamu, tepat di belakang kursi Mister Konstantin, Tachi dan Abah Rizal.Mata Dewa diam-diam memindai sekeliling dengan decak kagum, sementara Brian membisikkan detail-detail eksklusif tamu yang hadir.Hanya ada 50 kursi tersusun rapi di ruangan itu. Kursi-kursi tersebut diisi secara eksklusif oleh keluarga inti, para pemimpin klan bangsawan Rusia terkemuka, dua jenderal besar militer federal, serta seorang perdana menteri yang hadir sebagai wujud penghormatan mutlak kepada pengaruh raksasa keluarga Volkov."Apakah mereka akan mengadakan rapat kenegaraan di sini?" bisik Dewa yang ditanggapi kekehan rendah Brian di sebelahnya. "Pria itu memang layak untuk sombong dan dingin... akad nikahnya saja dihadiri para tokoh hebat seperti ini!" dengkus Dewa seraya melirik Ethan di atas panggung dengan senyum takjub.
Sergei membawa Sarah dan Ethan pulang ke mansion, sementara Rubi dan Owen langsung berpamitan kepada Sarah dan undur diri untuk menuntaskan sisa urusan mereka.Di ruang istirahat staf Volkov Holdings, Brian tertinggal seorang diri, fokus merekam adegan menjijikkan di hadapannya. Igor dan Ksenia masih bergulat liar di atas karpet. Bibir wanita itu tak henti-hentinya mendesah, menyerukan nama Ethan dengan penuh nafsu."Kau ingin mencicipinya?" tawar Igor menyeringai lebar, mengelap air liur yang membanjir di sudut bibirnya sembari menoleh pada Brian yang tengah mengarahkan kamera ponsel untuk menyorot bagian tubuh pria itu yang keluar-masuk pada kemaluan Ksenia."Lanjutkan saja! Aku tidak tertarik pada wanita murahan!" dengkus Brian, mati-matian menahan rasa mual yang bergelung hebat di dalam perutnya, alih-alih merasa terangsang.Gigi Igor yang tampak kehitaman menyeringai puas ke arah kamera, sementara air liurnya terus meleleh. Tubuh besar pria itu sudah basah oleh keringat, mendesak
Setelah mengantarkan Catherine, Ali dan Dewa ke hotel yang tentu saja harus beristirahat dari perjalanan panjang mereka dulu sebelum esoknya ikut dalam persiapan terakhir pernikahan, Ethan membawa Sarah dan Tachi pulang ke mansion.Tetapi, baru saja Ethan mematikan mesin mobil di halaman utama mansion ketika ponselnya berdering nyaring.Setelah menjawab panggilan singkat itu, Ethan menoleh kepada Sarah dan Tachi, "Ada pekerjaan mendesak yang harus kutangani dulu di kantor. Brian masih sibuk dengan urusan lain," ucap Ethan pelan menatap Sarah."Aku mengerti. Pergilah," tanggap Sarah tenang.Sarah mengajak Tachi turun dari mobil, lalu berjalan beriringan masuk ke dalam mansion sementara SUV hitam Ethan langsung melaju meninggalkan halaman luas tersebut.Tidak lama berselang, Sarah yang sudah berganti pakaian santai melihat Tachi tengah bercengkrama riang bersama Bu Indar. Anak lelaki itu duduk antusias di atas meja marmer pantry sambil menikmati camilan khusus yang dibuatkan Bu Indar.S
Jelang hari pernikahan Sarah dan Ethan yang semakin dekat, Catherine, Ali, serta Dewa akhirnya tiba di Moskow.Sarah, Tachi, Ethan, dan para pengawal langsung menjemput ketiganya secara langsung di bandara. Sementara itu, Brian yang masih belum tahu tentang pernikahan Catherine dan Ali, tengah bersenang-senang membeli berbagai keperluan di pusat perbelanjaan, di sela-sela kesibukannya menyiapkan hotel dengan kamar terbaik bagi Catherine, Ali, dan Dewa untuk menginap sebagai 'keluarga' Sarah."Cathy!" pekik Sarah begitu melihat Catherine keluar dari pintu khusus kedatangan, tampak celingak-celinguk memperhatikan sekeliling.Catherine mengangkat wajahnya, lalu wanita cantik itu langsung berlari riang ke arah Sarah yang menyongsongnya dengan langkah cepat."Ra! Aku di Moskow!" pekik Catherine girang, langsung berpelukan erat dengan Sarah yang tertawa lepas menyambut sahabatnya itu, bagaikan dua gadis kecil. "Selamat datang di Moskow, iparku tersayang!" ujar Sarah setelah merenggangkan p
"Kita pergi ke toko perhiasan sekarang?" bisik Ethan setelah tautan bibirnya dengan Sarah terlepas."Uhm! Ayuk, kita pergi," sahut Sarah cepat sambil menganggukkan kepala.Ethan kembali mengambil alih posisi di depan kemudi, merapikan pakaiannya ala kadarnya. Sarah pun melakukan hal yang sama, merapikan dan mengancingkan kembali kemejanya yang sempat terbuka akibat ulah Ethan, lalu memasang kembali seatbelt-nya.Sarah mengulum bibirnya ke dalam, mengalihkan pandangan ke luar jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang merona dan salah tingkah. Sementara itu, Ethan menggerakkan ujung jemari sebelah tangan menyentuh bibirnya sendiri yang sempat digigit Sarah ketika mereka berciuman tadi. Tanpa sadar, kelopak mata cucu lelaki Madam Maria itu menyipit membentuk senyuman kemenangan. lalu kemudian ujung jemarinya tersebut mengetuk-ngetuk setir, dan kini sesekali bibirnya bersenandung kecil."Jangan kepedean!" seloroh Sarah gemas, menoel lengan Ethan dengan ujung telunjuknya karena mendengar
Ethan baru saja melajukan mobilnya dengan Sarah duduk di kursi pengemudi. Mereka mengobrol santai sambil menikmati cuaca cerah di luar, salju tampak berkilau bagaikan hamparan berlian yang diterpa cahaya matahari siang.Tiba-tiba ponsel Sarah berdering. Sebuah panggilan video dari Dewa terpampang di layar."Hei, tumben menghubungiku, ada apa?" sapa Sarah tersenyum begitu menggeser tombol jawab dan melihat Dewa melambaikan tangan menyapanya."Aku sedang berada di Hong Kong," ucap Dewa pendek sambil balas tersenyum menatap kamera ponselnya."Hong Kong?" ulang Sarah dengan dahi mengernyit heran."Aku tidak bisa menyerah mengejar Catherine... karena itu aku harus datang menemuinya," ujar Dewa santai diiringi tawa kecil."Dewa..."Dewa buru-buru mengangkat telunjuknya ke depan bibir, memberi gestur agar Sarah diam. Kamera ponsel Dewa lantas ia arahkan ke depan, memperlihatkan dua orang pria yang tengah bersalaman, disusul suara lantang dokter Ali mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan teg
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya







