Share

36.

Author: Freyaa
last update publish date: 2026-06-28 23:35:22

Tak lama kemudian, Sarah berjalan cepat menghampiri Brian yang masih berdiri di ruang tengah bersama Abah Rizal. Di kedua tangannya, wanita itu tampak membawa sebuah rantang stainless steel bersusun dua yang berukuran cukup besar dan terasa berat.

"Katakan pada bosmu, aku tidak suka berutang budi pada siapa pun. Ini makanan sebagai bayaran atas bantuan kalian tadi di rumah sakit. Tempat rantangnya tidak perlu dikembalikan... dan satu lagi, jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapanku!" bisi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   37.

    Setelah menerima pesan singkat dari Sarah, Dewa langsung bergerak cepat memerintahkan anak buahnya untuk menyegel ruko sepatu milik Sarah.Tak lupa, Dewa juga meminta anak buahnya agar membantu Azriel dan Novi memindahkan seluruh isi ruko ke sebuah gudang khusus yang lokasinya sama sekali tidak diketahui oleh Rafli sekeluarga.[Semua isi ruko sudah aman masuk gudang. Rumah Kakak juga sudah berhasil dibobol dan kuncinya langsung diganti dengan yang baru.] lapor Dewa melalui pesan singkat ke Sarah."Aku minta tolong, keluarkan semua pakaian laki-laki dewasa yang ada di dalam kamar utama. Letakkan saja di teras." pinta Sarah langsung membalas pesan Dewa tanpa ragu."Terima kasih banyak, Dewa. Mungkin mantan suamiku dan keluarganya akan datang ke rumah malam ini. Sebaiknya kalian cepat menyembunyikan diri dari mereka," tambah Sarah cepat.Sarah tidak ingin Dewa dan anak buahnya ikut menjadi sasaran serangan blackmagic dari keluarga Rafli seandainya tahu mengenai Dewa."Kau meminta renteni

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   36.

    Tak lama kemudian, Sarah berjalan cepat menghampiri Brian yang masih berdiri di ruang tengah bersama Abah Rizal. Di kedua tangannya, wanita itu tampak membawa sebuah rantang stainless steel bersusun dua yang berukuran cukup besar dan terasa berat."Katakan pada bosmu, aku tidak suka berutang budi pada siapa pun. Ini makanan sebagai bayaran atas bantuan kalian tadi di rumah sakit. Tempat rantangnya tidak perlu dikembalikan... dan satu lagi, jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapanku!" bisik Sarah dengan nada yang teramat pelan namun penuh penekanan, tepat di depan wajah Brian, sembari menyerahkan rantang di tangannya.Bola mata Brian berpendar, menatap lekat ke arah Sarah yang kini tampak menarik napas panjang seolah sedang menahan beban yang berat."Aku ini wanita yang sudah menikah. Kehadiran kalian berdua di sekitarku benar-benar membuatku merasa sangat tidak nyaman. Ancamanku yang sebelumnya masih tetap berlaku, jadi camkanlah itu baik-baik jika kalian memang murni ingin berb

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   35.

    Baru saja mobil Camry yang dikendarai Catherine tiba dan berhenti di halaman rumah Abah Rizal dan Ibu Indar, mesinnya bahkan belum sempat dimatikan sepenuhnya, pintu rumah utama sudah terbuka.Sosok Tachi tampak langsung berlari riang keluar dari dalam rumah untuk menyambut kepulangan Mommynya.Namun, langkah kaki kecil anak lelaki itu mendadak melambat. Kedua mata sipitnya seketika membola terbeliak begitu melihat sosok Ethan yang keluar lebih dulu dari pintu belakang, sigap menahan lengan Sarah dengan pegangan kokoh agar wanita itu tidak terjatuh saat menapakkan kaki ke tanah."Lepaskan Mommy!" seru Tachi lantang.Anak laki-laki itu langsung berlari cepat dan mendorong sekuat tenaga tubuh tegap Ethan dengan kedua tangan kecilnya, sebelum akhirnya meraih dan menggenggam erat telapak tangan Sarah."Ma Bear, jangan tidak sopan sama tamu Kakek," tegur Sarah dengan nada suara yang teramat lembut sambil sedikit berjongkok, merundukkan tubuh bagian atasnya yang masih terasa agak lemas demi

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   34.

    Sarah refleks melingkarkan kedua lengannya ke pundak tegap Ethan karena terkejut. Ia mendongak, memperhatikan rahang tegas pria itu yang tampak dingin dan irit kata, namun entah mengapa pelukannya memberikan rasa nyaman yang aneh.Namun, kenyamanan itu justru menyalakan alarm tanda bahaya di dalam benak Sarah. Ia tidak ingin jatuh dan hancur lagi oleh ilusi perhatian serta kenyamanan pria. Bukankah dahulu sebelum menikah dengan Rafli, pria berondong itu juga sangat perhatian, lembut, serta peduli padanya dan Tachi hingga dirinya merasa sangat nyaman dan menyerahkan segalanya?Hati, jiwa, raga, dan harta... semuanya telah ia serahkan, meski ternyata cinta itu palsu dan hanya efek dari buhul bulu perindu.Buru-buru Catherine mengatupkan mulutnya yang melongo, lalu bergegas setengah berlari mengejar langkah kaki panjang Ethan yang sudah berjalan jauh menuju halaman rumah sakit, diikuti oleh Brian di belakangnya."Ada apa memandangku? Apakah kau berharap dokter itu yang menggendongmu seka

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   33.

    Baru beberapa langkah keluar dari bilik perawatan, Catherine langsung mendengkus sinis begitu ia berpapasan dengan Ethan dan Brian di koridor UGD, yang rupanya hendak masuk menemui Sarah.Beberapa saat yang lalu di ruang tunggu, Madam Maria sempat menghubungi Ethan melalui telepon internasional, menanyakan tentang keberadaan dan kondisi Sarah.[Baiklah, tunggulah sampai dia sembuh, lalu bawa dia kemari. Jika bisa mengambil video atau foto dirinya secara diam-diam, tolong lakukan. Grandma mau melihatnya,] pinta Madam Maria dengan suara pelan namun penuh penekanan di seberang telepon."Ya, nanti akan kulakukan," jawab Ethan pendek atas permintaan neneknya itu.[Apakah Sarah terlihat sama seperti di fotonya atau jauh lebih cantik? Apakah kau menyukainya, Ethan?]Ethan menghela napasnya sejenak, lalu berkata santai dengan nada acuh tak acuh, "Tidak masalah suka atau tidak, yang penting dia berbeda jenis kelamin denganku dan bisa kukawini!""Dasar anak nakal!" gerutu Madam Maria kesal, nam

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   32.

    Catherine dengan cepat menyibak kelambu bilik sebelahnya yang kebetulan sedang kosong, tidak ada botol air minum di sana.Lalu wanita itu pun nekat mengintip ke beberapa bilik lain yang semuanya sama, tidak memiliki air minum botol kemasan seperti yang baru saja ia tenggak separuh.Tentu saja kedua wanita itu tidak ada yang tahu, karena Dokter Ali yang sebelumnya sempat meminta sebotol air minum ukuran sedang pada perawat untuk memberikan minuman rukyah pada Sarah tanpa sepengetahuan Ethan dan Catherine. "Oh Tuhan, amit-amit jabang bayi! Aku minum bekas pria kaku dan budeg itu!" ujar Catherine bergidik ngeri sembari berlagak hendak muntah, yang langsung membuat Sarah memuncratkan tawa renyah tanpa suara yang masih terhubung di telepon."Ini Sarah, Bu. Maaf ya, Sarah agak terlambat pulang hari ini. Ada Catherine yang ga ada hujan, ga ada badai, tiba-tiba pulang dan langsung datang ke ruko." tutur Sarah terkekeh rendah, sengaja berbohong, tidak memberitahu Ibu Indar jika dirinya saat i

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   3.

    Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   2.

    Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   1.

    "Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri

  • MOKONDO Level Dewa : Ambil Saja Benalu Itu, Sayang!   19.

    Setelah Pak Ridwan pamit undur diri, Abah Rizal merengkuh lembut pundak Sarah. Wanita itu akhirnya membalikkan tubuh dan melabuhkan wajahnya ke pundak lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu. Detik berikutnya, bahu Sarah berguncang hebat dalam isak tangis di pelukan Abah Rizal.Abah Rizal membelai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status