LOGINNur menatap kepergian Hanif dari teras rumah. Setelah mobil itu menghilang, dia memegang jantungnya. Jantung dia entah kenapa berdegup kencang. Seolah dia akan kehilangan Hanif.
"Ada apa ini? Kenapa jantung aku berdetak seperti ini. Semoga tidak terjadi apa-apa sama Mas Hanif ya Allah. Ya Allah, tolong lindungi suami hamba dimanapun dia berada." *** Nur sudah tiba di kediaman orang tuanya. Rumah orangtua Nur tidak jauh dari rumah milik mereka. Hanya perlu naik mobil sekitar 1 jam saja. Mereka seng buat rumah yang tidak terlalu jauh. Jadi sewaktu-waktu bisa mudah untuk berkunjung. "Assalamualaikum," salam Nur berdiri di depan rumah. "Waalaikumsalam, sebentar ya" sahut Halimah, ibunya Nur dari dalam rumah. "Nur, ternyata kamu. Kamu sendirian? Ke mana Hanif?" tanya Halimah membuka pintu rumah. "Nur pergi sendirian Bu," jawab Nur. "Kamu sendiri, kenapa tidak berbarengan sama suami kamu." "Bu, mas Hanif pergi menemui temannya hari ini. Temannya sedang sakit dan berada di luar kota. Mas Hanif baru dapat kabar beberapa hari yang lalu," terang Nur. "Temannya siapa? Apa kamu kenal?" "Kata mas Hanif orang yang pernah menyelamatkan dia dulu." "Semoga temannya Hanif baik-baik saja. Ayo masuk dulu," ajak Hakimah. Mereka dari tadi berbicara di depan pintu. Halimah sampai lupa menyuruh anaknya masuk terlebih dahulu. "Apa Bapak tidak ada di rumah Bu? Suasananya sangat sepi," tanya Nur masuk ke dalam rumah. "Bapak kamu sudah pergi sama teman-temannya." "Emmm," gumam Nur. "Kenapa wajah kamu lesu seperti ini?" Halimah memegang tangan putrinya dengan lembut. Dia menuntun Nur untuk duduk di sofa sederhana milik mereka. Mereka merupakan keluarga yang sederhana. Itu pun sudah banyak dirombak ketika perusahaan milik Hanif sudah berkembang. "Ada apa sayang, ayo cerita sama Ibu," pinta Halimah. Halimah tahu anaknya sedang ada masalah. Dia adalah orang yang telah melahirkan Nur. Setiap gerakan Nur bisa dia baca. Nur sangat dekat dengan dia dari kecil. Apalagi dia anak tunggal. "Bu, entah kenapa hati Nur hari ini sangat gelisah," cerita Nur. "Gelisah kenapa sayang?" "Nur juga tidak tahu Bu. Seakan-akan Nur akan kehilangan mas Hanif. Hari ini Nur berat membiarkan mas Hanif pergi. Nur ingin sekali melarang mas Hanif pergi. Nur tidak bisa Bu." "Nur jangan ngomong seperti itu. Itu tidak baik. Kalau suami kamu pergi, kamu berdoa yang baik-baik untuk nya. Semoga dia pulang dengan selamat. Dia pergi dalam niat baik menjenguk temannya yang sakit," tegur Halimah. "Iya Bu, Nur tahu. Tapi …." Nur berhenti berkata. Rasanya berat hanya untuk bercerita. "Tapi apa lagi?" "Nur takut kalau Mas Hanif menikah lagi." "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Halimah menautkan kedua keningnya. Dia belum tahu arah pembicaraan Nur. "Nur takut kalau mas Hanif akan bosan sama Nur. Nur belum bisa menjadi seorang istri yang sempurna untuk mas Hanif. Nur belum bisa memberikan keturunan untuk mas Hanif," cerita Nur dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Apa Hanif pernah bilang seperti itu?" tanya Halimah dengan suara lemah lembut. Sekarang anaknya butuh perhatian dan ingin didengarkan. Oleh karena itu dia memilih mengikuti pembahasan Nur dengan tangannya menghapus air mata dari pipi Nur. "Tidak Bu. Bahkan mas Hanif tidak mempermasalahkan anak." "Terus kenapa kamu mengungkit masalah ini?" "Nur hanya takut saja, Bu." "Apa kamu butuh teman Nur? Kamu lebih baik malam ini menginap saja di rumah Ibu. Kamu tinggal bersama Ibu dan Ayah malam ini. Kamu akan berpikiran aneh kalau tinggal sendiri. Itu hanya pikiran negatif kamu saja sayang. Semuanya akan baik-baik saja," bujuk Halimah menenangkan Nur. "Baik Bu." Halimah percaya jika itu hanya halusinasi yang diciptakan dari pikiran orang yang banyak pikiran. Orang yang memiliki banyak beban cenderung berpikir negatif. Mereka membutuhkan orang agar bisa tenang. *** Perjalanan Hanif menuju ke rumah sakit yang ditempati oleh Arif membutuhkan waktu selama 4 jam. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Dia tidak mau membawa terburu-buru sehingga menyebabkan kecelakaan. Kecelakaan tidak hanya merugikan dia, tapi juga bisa merugikan orang lain. Setelah menempuh waktu 4 jam, akhirnya Hanif tiba di rumah sakit. Dia segera keluar dari mobil dan menuju ke ruangan milik Arif. Hanif sudah berada di depan pintu. Tanganya dengan pelan mengetuk pintu rawat. Hanif menatap seorang perempuan yang membuka kamar. Perempuan yang lebih muda dibandingkan istrinya. Hanif sudah berusia 31 tahun. Sedangkan Nur berusia 29 tahun. "Siapa ya?" tanya Laila/ perempuan yang dilihat oleh Hanif. "Apa benar ini kamar rawatnya Arif?" tanya Hanif. "Iya benar. Apa Tuan ini Pak Hanif?" "Iya, saya Hanif," sahut Hanif. "Silahkan masuk Pak. Suami saya sudah menunggu Bapak dari kemarin," ujar Laila. Laila mempersilahkan Hanif masuk ke dalam ruangan. Setelah Hanif masuk, Laila menutup pintu kembali. Hanif menatap Arif dengan sangat terkejut. Tubuh Arif sudah sangat kurus sekali. Wajahnya juga sangat pucat. Berbagai alat medis ada di tubuhnya untuk menopang hidupnya. "Arif, kenapa kamu jadi seperti itu?" tanya Hanif sedih melihat keadaan Arif. "Kamu jangan seperti itu. Aku baik-baik saja," sahut Arif memaksa tertawa kecil. "Baik-baik saja bagaimana? Apa kamu lihat kondisi kamu sekarang? Kenapa kamu tidak ngomong sama aku lebih awal Arif. Apa kamu tidak menganggap aku sahabat kamu lagi?" tanya Hanif menyerbu Arif. "Laila, kamu bisa keluar sebentar? Mas ingin berbicara berdua sama Hanif," pinta Arif menatap istrinya. "Baiklah Mas. Nanti kalau apa-apa panggil saja. Laila akan menunggu di luar," balas Laila. Laila berjalan ke arah luar. Suaminya sudah menunggu kedatangan Hanif sejak beberapa hari yang lalu. Suaminya setiap bangun selalu menanyakan keberadaan Hanif Laila sebisa mungkin menjawab pertanyaan Arif. Dia berpikir kalau suaminya sedang rindu kepada teman baiknya. "Arif, kenapa selama ini kamu tidak menghubungi aku." "Aku tidak mau merepotkan kamu. Tapi ujung-ujungnya aku harus merepotkan kamu juga," sahut Arif. "Apa maksud kamu?" "Hanif, bukannya kamu dulu pernah berjanji akan mengabulkan satu permintaan aku apapun itu?" tanya Arif mengungkit masa lalu. "Ya, mana mungkin aku akan melupakan janji itu," sahut Hanif. Hanif tidak akan pernah lupa apa yang telah dilakukan Arif kepada dirinya. Seandainya dulu Arif tidak menyelamatkannya, dia sudah tidak ada sekarang. Bersambung ….*** Begitu bel berbunyi, Lisa dengan cepat mengemas barang-barang miliknya. Semuanya dimasukan dengan sembarang. Asal masuk saja. "Bu, sudah bel," kata Lisa tidak sabaran. "Anak-anak, sekarang sudah waktunya pulang." "Hore!" seru anak-anak sudah bisa pulang. Lisa segera menghampiri Bu Guru yang berada di depan kelas yang sedang salim dengan anak-anak lain. "Bu, di mana rumahnya Zain. Ayo tulis di sini," ujar Lisa menyerahkan satu lembar kertas kepada Ibu Guru. Ibu Guru membuka handphone mencari data tentang Zain. Setelah ditemukan, dia menuliskan alamat rumah Zain. "Ibu antar ke depan ya. Ibu mau pastikan biar kamu tidak nekat pergi sendiri," ujar Bu Guru setelah selesai menuliskan alamat. "Lisa tidak akan pergi sendiri Bu," sahut Lisa. "Ibu Guru kurang percaya sama Lisa. Tadi saja nekat pergi." Lisa mengurutkan bibirnya. Tadi sama sekarang kan sudah beda. *** Zain dan Laila sudah tiba di rumah. Laila memarkirkan mobil di bagasi. Lalu turun duluan untuk membuka pintu untu
Laila sudah selesai mengambil obat milik Zain. Lalu dia langsung menuju ke ruangan milik Dika. Setelah beberapa saat berjalan mencari ruangan Dika, dia menemukan ruang Dika. Suara Dika dan Zain bisa terdengar sampai arah luar. Dengan segera tangannya membuka pintu ruangan. Laila senang melihat Zain yang sudah tertawa gembira bersama dengan Dika. Dari tadi pagi Zain hanya terlihat lesu. Beda dengan sekarang. "Bu, Ibu udah datang," ujar Zain menyadari kehadiran Laila. Zain turun dari sofa dan menuju ke arah Laila yang berada di depan. "Ibu sudah selesai. Ayo kita pulang," ajak Laila. Laila suka melihat Zain sudah senang lagi. Tapi Zain harus segera beristirahat agar cepat sembuh. Jadi terpaksa mengajak Zain untuk segera pulang. "Zain mau pulang sekarang," ujar Dika dengan sedih. "Zain harus segera pulang untuk istirahat agar cepat sembuh," sahut Laila dengan lembut. "Baiklah," jawab Dika tidak semangat lagi. "Dika, Dika juga harus istirahat. Kalian kan sudah main tadi," ujar M
***Pada keesokan paginya, sakit perut masih terasa. Jadi pada hari itu Zain tidak pergi ke sekolah. Laila kembali membawa Zain ke rumah sakit.Setelah melakukan konsultasi dengan Dokter, Zain disarankan untuk beberapa hari kemudian makan makanan yang lunak dan tidak berat. Biar kinerja perutnya tidak berat. Agar proses pemulihan pencernaan bisa berjalan dengan normal kembali."Zain!" panggil Dika dari kejauhan dengan suara besar.Dika langsung menghampiri Zain yang baru keluar dari ruangan Dokter. Dia sangat senang melihat Zain lagi. Sudah berhari-hari menunggu Zain kembali ke rumah sakit."Kamu dari mana aja. Aku lama menunggu kamu disini," ujar Dika dengan nafas memburu."Dika, kamu jangan ganggu temanmu," tegur Mama Dika ikut mengejar Dika."Lihat, teman kamu lagi pucat," sambungnya lagi."Kamu sakit apa? Apa sakit parah?" tanya Dika ingin tahu."Zain hanya sakit perut saja," sahut Laila karena Zain hanya diam saja. Zain terlihat sangat lesu dan kurang bersemangat sejak tadi pagi
Zain baru terbangun pada sore hari. Keadaan perutnya masih terasa sakit. Laila sudah memberikan obat satu kali yang telah diresepkan oleh Dokter. Setelah Hanif membelikan obat, Laila membangunkan Zain dan menyuruh Zain untuk minum obat. Beri setelah itu Zain tidur lagi."Sayang kamu sudah bangun," ujar Laila membuka pintu kamar Zain. "Bu," ucap Zain ingin bangun. Tapi ujung-ujungnya dia hanya bisa meringkuk, ketika bergerak perut terasa terlilit. "Zain masih sakit. Tiduran saja," suruh Laila duduk di atas kasur di samping Zain."Jen ndak apa-apa," ujar Zain bohong. "Mana mungkin kamu tidak apa-apa sayang. Perut kamu masih sakit kan? Tidak perlu bohong di depan Ibu," tegur Laila.Zain mengganggu kepala sebagai jawaban masih sakit."Sudah Ayah bilang kamu tidak boleh jajan sembarangan. Masih saja tidak dengar," ujar Hanif ikut masuk ke dalam kamar Zain."Mas!" seru Laila tidak suka dengan perkataan Hanif yang bisa membuat Zain terpuruk."Lagian, darimana kamu bisa beli jajan seperti
Zain menatap tukang siomay memasukkan siomay ke dalam kantong plastik dengan fokus. Bola matanya bergerak searah gerakan tangan tukang siomay. Tukang siomay menambah saus sambal, saus kacang dan juga kecap. Dia belum pernah jajan seperti itu. Setelah menerima siomay, Zain memberikan uang yang dikasih Yusuf tadi dengan semangat. "Ayo kita masuk lagi. Kita makan di teras saja," ajak Yusuf biar mereka tidak bermain di jalanan. Rauzah duluan lari ke teras. Dia sudah sabar ingin makan. Tadi dia harus menunggu Yusuf dan Zain selesai dibungkus juga. Zain menatap siomay yang ada di depannya dengan berbinar. Memencet bulatan siomay dengan tangan kecilnya. "Zain kenapa tidak makan. Tidak suka ya?" tanya Yusuf yang sudah menggigit ujung plastik. Setelah plastik diikat terlebih dahulu. Dia lebih suka makan seperti itu daripada pakai tusukan. "Buat Rau aja kalau nggak mau," pinta Rauzah. "Jangan rakus, habisin punya sendiri. Jangan minta punya Zain," tegur Yusuf. Zain mulai makan miliknya
Laila kasihan mendengar kata Zain yang segitunya ingin menjadi anak normal seperti yang lainnya. Tapi tidak dengan obat kuat juga. Itu bukan obat untuk anak kecil. "Obat kuat itu apa Bu? Apa bisa menjadi seperti superhero?" tanya Rauzah yang juga penasaran. Mana tahu bisa menjadi superhero seperti yang di TV. Laila kehabisan kata-kata. Tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Zain dan Rauzah tentang obat kuat. Otaknya berpikir keras mencari jawaban untuk berbohong. Kali ini dia harus berbohong. "Mana ada minum obat bisa jadi superhero. Kamu jangan ngawur," sahut Yusuf yang lebih logis. "Siapa tahu ada," bantah Rauzah. "Jadi Bu, apa Jen boleh minta?" "Sayang, itu bukan obat …." "Sudah-sudah, sekarang sudah malam. Kalian pergi tidur," usir Hanif agar tidak meminta yang aneh-aneh. "Tapi," ucap Zain yang masih ingin obat kuat. "Kamu juga tidur. Besok kalian harus sekolah," sahut Hanif cepat. "Mas," tegur Laila saat Hanif mengabaikan perkataan Zain. "Ayo Zain, kita ke kamar," aja







