LOGIN
Nur Humairah baru saja selesai mandi dan mengambil wudhu. Perempuan yang biasa dipanggil dengan Nur ini menatap sang suami yang masih tertidur di atas kasur.
Nur berjalan mendekat ke arah Hanif, suaminya. Dia menutup tangan menggunakan mukena yang sudah ada di tubuhnya. Supaya kulit tangannya tidak bersentuhan dengan Hanif. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Sebentar lagi akan memasuki waktu salat Subuh. Nur dan Hanif biasa melakukan salat bersama di waktu Subuh dan Magrib atau saat mereka berada di dalam rumah saat memasuki waktu salat. "Mas, bangun Mas," ujar Nur menepuk selimut yang membungkus tubuh Hanif. Hanif tidak merespon. Dia masih terlelap dalam tidurnya. Kemarin dia banyak kerjaan dan tidur cukup telat. Sehingga tubuhnya membutuhkan banyak istirahat. "Mas bangun. Ini sudah mau subuh. Nanti kita telat salat Subuh," panggil Nur untuk kedua kalinya. Nur dengan setia membangunkan Hanif dengan lembut. Saat Hanif membalikkan badan, dia segera berdiri. Takut kalau air wudhunya batal kena tangan Hanif. Hanif mulai terjaga. Dia melihat ke arah sang istri yang berdiri di tepi kasur dalam keadaan sudah rapi. "Jam berapa sekarang?" tanya Hanif sambil bangun. Hanif masih berat membuka mata. Dia menguap kecil ketika angin ingin keluar dari mulutnya. Ciri khas orang bangun tidur atau mau tidur. "Sekarang sudah jam 4 pagi Mas," sahut Nur. "Apa? Jam 4 pagi," ucap Hanif terkejut. Hanif biasa bangun pagi setengah empat. Matanya reflek melihat ke arah jam dinding. Bukannya dia tidak percaya dengan jawaban Nur, tapi dia lebih tidak mempercayai diri sendiri bisa telat bangun. "Iya, Mas. Ayo Mas, cepat ke kamar mandi. Nanti kita telat salat Subuh," suruh Nur. "Sebentar ya, Mas mau mandi dulu," jawab Nur. "Baik, sana Mas mandi dulu," ujar Nur mengambil handuk untuk sang suaminya. Nur menyerahkan handuk kepada Hanif yang sudah berdiri dari atas tempat tidur. Hanif menerima handuk itu dengan cepat. Kemudian dia masuk ke kamar mandi. Hanif secepat mungkin mandi. Setelah itu dia berpakaian rapi untuk menghadap sang pencipta. Mereka segera salat berjamaah di atas sajadah yang telah disiapkan oleh Nur. Hanif dan Nur salat Subuh dengan sangat khusyuk. "Assalaamu alaikum wa rahmatullah." "Assalaamu alaikum wa rahmatullah," sahut Nur dari belakang dengan suara kecil. Setelah selesai salat, Hanif dan Nur sama-sama memanjatkan doa untuk kesehatan, rezeki dan juga perlindungan dari Allah. Sebagai makhluk Allah, harus mensyukuri apa yang sudah diberikan. "Ya Allah, tahun ini adalah tahun ketujuh hamba menikah dengan Mas Hanif ya Allah. Jika Engkau berkenan, tolong berikan kami anak ya Allah. Hamba sangat ingin seorang anak hadir dalam pernikahan kami," doa Nur sambil meneteskan air mata. Hanif menyudahi doanya. Dalam dia dia ikut mendengar doa yang dipanjatkan oleh istrinya. Memang benar, usia pernikahan mereka sudah memasuki 7 tahun, tapi mereka belum diberikan momongan. Setiap sang istri melihat anak kecil, hati Hanif jadi terluka. Dia tahu kalau sang istri sangat menginginkan kehadiran anak dalam pernikahan mereka. Apalagi ditambah beberapa cibiran dari tetangga yang selalu menyindir istrinya tidak bisa hamil. Setiap bertemu kenalan pasti ditanyakan kapan punya anak. Mereka berdua hanya bisa tersenyum. Rezeki, jodoh dan maut semua sudah Allah atur dengan sebaik mungkin. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghentikannya. Saat ini Allah masih berkata belum saatnya untuk mereka mempunyai anak. Mereka yakin kalau rencana Allah lebih bagus daripada apa yang mereka inginkan selama ini. Setiap orang mempunyai cobaan tersendiri. Dan untuk cobaan mereka adalah belum ada nya seorang anak. "Nur," panggil Hanif dengan lembut. Hanif melengkungkan senyuman ke arah Nur. Dia ingin Nur tahu kalau mereka akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan selama mereka tidak berbuat salah. "Mas," sahut Nur dengan sedih. "Nur, kamu tidak perlu bersedih. Jika Allah sudah mengizinkan, suatu saat kita pasti akan mempunyai anak," bujuk Hanif. "Tapi kapan Mas. Kapan kita akan mempunyai anak. Nur capek Mas, Nur capek ditanyain anak terus. Nur juga ingin mempunyai anak Mas," sahut Nur mengeluarkan emosi yang sudah ditahan selama ini. "Nur, apakah kamu meragukan apa yang terbaik untuk kita dari Allah?" tanya Hanif dengan ramah. Hanif tidak mau melukai hati istri. Tapi dia tidak bisa membiarkan istrinya berpikir yang negatif. Semua itu bisa mempengaruhi hati. Jika hati sudah kotor, maka semua kebenaran akan menjadi salah. "Bukan seperti itu Mas. Nur merasa bukan wanita yang sempurna," sahut Nur bersalah dengan ucapannya tadi. "Bagi Mas, Nur adalah perempuan yang paling sempurna di kehidupan Mas selain ibu Mas. Kalian berdua adalah perempuan yang hebat. Perempuan sholeha yang diberikan Allah. Kamu jangan berkecil hati ya," bujuk Hanif. "Apa Mas tidak ingin mempunyai anak?" "Mas juga sangat ingin mempunyai anak. Tapi bagi Mas, apa yang sudah Allah berikan sekarang sudah lebih dari cukup. Mas dengan ikhlas menerima apapun yang telah ditetapkan oleh Allah. Mas selalu percaya sama Allah." Nur terdiam mendengar jawaban dari Hanif. Hatinya masih saja gundah. "Apa Mas akan meninggalkan Nur kalau Nur masih tidak bisa hamil?" tanya Nur dengan takut-takut. "Tidak, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi. Mas mencintai kamu apa adanya. Kita menikah bukan karena ingin memiliki anak saja, tapi Mas menikah dengan kamu karena kamu apa adanya. Anak adalah berkah tambahan yang Allah berikan untuk sebuah pernikahan." "Coba Mas ngomong itu ke telinga tetangga. Nur dicap perempuan yang tidak subur," kata Nur memajukan bibirnya. Nur sebaliknya dengan mulut tetangga. Mulut tetangga tidak ada bedanya dengan mercon. Suka meletus kalau ada sambaran api sedikit. Apalagi kalau masalah menggunjing orang, jangan ditanyakan lagi. Dari pagi sampai pagi tidak akan bosan. "Nur, dengarkan Mas. Besok kamu pergilah periksa ke dokter kandungan atau mau menunggu Mas pulang dari menjenguk kawan Mas?" tawar Hanif. Hari ini adalah hari minggu. Jadi Hanif sengaja menyarankan Nur pergi pemeriksaan pada hari senin. "Tidak perlu Mas. Mas pergi saja. Nur bisa pergi sendiri. Mas bisa pergi menjenguk teman Mas yang sedang berada rumah sakit," cegah Nur. Hanif sudah minta izin kepada Nur beberapa hari yang lalu untuk pergi ke rumah sakit diluar kota. Dia ingin menjaga Arif, sahabat sekaligus orang yang sangat penting baginya. "Kalau kamu tidak berani pergi sendirian, kamu boleh ajak ibu," saran Hanif. "Tidak apa Mas. Nur bisa pergi sendiri. Apa boleh setelah Mas pergi nanti, Nur izin ke rumah ibu," pinta Nur. "Boleh, kamu boleh pergi ke tempat ibu. Mas mengizinkan kamu pergi kemana saja asal kamu menjaga diri kamu dengan baik." "Terima kasih Mas." "Ayo kita bersiap-siap. Sebentar lagi Mas harus segera berangkat," ujar Hanif. Bersambung ….Ibu, apa Ayah balu cayang Jen kalau Jen ikut Bunda?" tambah Zain dengan mata yang sudah dibasahi air mata. "Kamu jangan pernah berbicara seperti itu, Zain," ujar Laila menangis dan memegang kedua bahu Zain. "Jen ingin Ayah menyayangi Zain sepelti Ayah menyayangi Kakak Yucuf dan Kak Lau. Dada Jen celalu catit kalau Ayah mengabaikan Jen. Apa Jen bukan anaknya Ayah?" "Siapa bilang Ayah tidak sayang sama Zan. Ayah sayang sama Zain," sahut Laila cepat. Laila membawa Zain kedalam pelukannya. Memeluk Zain dengan erat. Entah apa yang dipikirkan Zain sampai dia mengungkit masalah ini. 'Apa ini gara-gara kepergian Dika dan pelukan Papa Dika. Kenapa Zain bisa berpikir yang aneh-aneh Tuhan,' ratap Laila dalam hati. "Ibu jangan bohong. Jen tahu Ayah tidak cayang cama Jen. Ayah tidak pelnah mau main sama Jen. Tidak pelnah meluk Jen. Ayah tidak pelnah bemain sama Jen. Ayah tidak pelnah beli Jen mainan. Ayah tidak pelnah …." "Cukup sayang, cukup. Ibu mohon, hentikan. Ini tidak sanggup mendenga
"Tuan, apa Tuan mau lihat-lihat dulu," ujar karyawan dengan cepat menghampiri Hanif yang berdiri di depan toko mereka. Mencoba menarik perhatian calon pembeli untuk cuci mata terlebih dahulu. Biasanya pelanggan banyak beli barang saat tidak berniat belanja. "Tidak, tidak usah," tolak Hanif. "Lihat aja dulu Tuan. Kalau misalkan tidak ada yang tertarik, tidak apa-apa," bujuknya lagi. Hanif luluh, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam toko mainan sebentar. Hanya lihat-lihat saja. Tanpa niat beli. "Tuan, apa ada yang ingin Tuan beli? Tuan bisa menjelaskan mainan apa yang ingin dibeli. Biar kami bisa rekomendasi barang terbaru?" *** Setelah dari pusat perbelanjaan, Hanif mampir pulang ke rumah untuk mengambil dokumen yang tertinggal di rumah. Dokumen yang harus segera diselesaikan. Ketika berada di depan rumah Hanif berpapasan dengan Bibi. Lalu menemukan sebuah kardus besar di samping Bibi. "Bi, apa ini?" tanya Hanif. "Barang ini di antar oleh kurir Pak. Barusan kurirnya per
"Kenapa Bu?" "Sayang, kamu harus janji sama Ibu. Jangan pernah katakan seperti itu lagi sama Ibu," ujar Laila memeluk Zain dengan cepat dan erat."Emm iya," balas Zain tidak mengerti. Namun tetap mengiyakan permintaan Laila. "Zain harus janji sama Ibu," tambah Laila. "Iya, Jen janji." "Zain juga harus janji, tidak akan meninggalkan Ibu sendiri." "Janji." "Kamu harus tumbuh menjadi anak yang besar dan kuat." "Humm," angguk Zain. Laila melepaskan pelukannya. Menatap wajah Zain lalu mencium kening dan pipinya. Kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolah Rauzah. *** "Kalian mau main sampai jam berapa. Ini sudah malam. Sana tidur," suruh Hanif menegur Rauzah, Zain dan Yusuf yang masih bermain. Yusuf dan Rauzah sedang memainkan robot baru yang dibawa pulang oleh Zain. Zain menunjukkan kepada mereka berdua, membiarkan mereka untuk bermain dengan robot tersebut. Sehingga mereka belum mau tidur. Masih ingin bermain. Laila sudah menjelaskan kepada Hanif bahwa Zain mendapatkan mainan
Ruangan rumah sakit itu membisu selama beberapa menit. Setelah Papa Dika sedikit bisa mengobati rasa Rindunya kepada sang anak melalui pelukan Zain, baru dia melepaskan pelukannya. "Om jangan nangis ya," bujuk Zain. "Iya, Om tidak akan menangis lagi," sahut Papa Dika menahan air mata yang ingin keluar kembali. "Jadi Zain, apa Zain mau membawa kembali robot itu," ujar Papa Dika. "Tapi …." "Om juga mau memberikan beberapa boneka milik Dika kepada kamu. Kamu sudah dianggap adik oleh Dika. Mau ya." "Emmm," gumam Zain bingung. "Sebentar." Papa Dika berdiri, lalu berjalan ke arah salah satu mainan milik Dika. Setelah itu berjongkok lagi di depan Zain." "Ini adalah mainan robot yang paling Dika suka. Sekarang dia kesepian, sudah tidak ada Dika. Zain mau bermain dengan robot ini. Dia bisa jadi teman bermain robot yang Zain pegang." Zain menatap antara robot di tangannya dan yang ada di tangan Papa Dika. Dia tidak tega jika robot itu tidak ada teman bermain. Pasti kesepian jika send
"Kemarin, tiba-tiba tubuhnya drop. Ini kami mau bereskan semua barang-barang. Kemarin kami tidak sempat membereskannya." "Kak Dika sudah sembuh dong," ujar Zain dengan polos. Zain tidak mengerti sepenuhnya apa yang Laila dan Mama Dika bicarakan. Hanya satu yang dia tangkap, Dika tidak akan sakit lagi. Artinya Dika sudah sembuh. "Zain!" seru Laila. "Jadi Dika ada dimana Tante?" tanya Zain mengabaikan seruan Laila. Papa Dika dengan perlahan berjalan ke arah Zain. Setiap dia mengunjungi anaknya beberapa minggu belakangan ini, Dika sering menyebut dan membahas tentang Zain. Lalu dia berjongkok di depan Zain. Memandang wajah Zain mengingatkannya pada Dika yang sudah pergi. Zain memperhatikan apa yang dilakukan Papa Dika dengan seksama. "Sekarang Dika sudah pergi jauh," sahut Papa Dika dengan sendu menahan tangisan. "Jauh? Ke mana Om? Apa Jen boleh ikut?" "Zain!" seru Laila ingin memeluk Zain. Laila tidak akan membiarkan Zain pergi dari sisinya. Walaupun Zain tidak tahu makna da
Laila tersenyum melihat Zain yang keluar bersama Lisa dari ruangan kelas. Zain bisa mengikuti pembelajaran sampai jam berakhir. Tidak ada kendala. "Sayang, bagaimana sekolah hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Laila saat Zain dan Lisa sudah berdiri di depannya. "Seru Tante. Tadi kami disuruh menyanyi dan menari," sahut Lisa, bukan Zain. *Benarkah?" balas Laila tidak mempermasalahkan Lisa yang mewakili Zain untuk menjawab pertanyaannya. "Iya Tante. Tante tau, Minggu depan kami mau ada pentas. Lisa akan menjadi bunga matahari," cerita Lisa dengan semangat. "Wah, pasti sering. Terus Zain jadi apa?" "Zain jadi pohon, Tante. Nanti Lisa mau suruh Papa cariin kostum bunga matahari yang cantik, buat Lisa. Biar Lisa tampil cantik juga." "Berarti Ibu juga harus cari kostum untuk Zain." "Ibu mau beliin?" tanya Zain buka suara. Zain dari tadi berdiri di samping Lisa tanpa bicara. Dia tidak ada kesempatan untuk menjawab pertanyaan Laila. Semua di borong sama Lisa. "Harus dong sayang. Za







