LOGINKeesokan paginya, Viana tetap melaksanakan pekerjaannya seperti biasa termasuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Yanto. Meskipun dadanya bergemuruh menahan sakit hati atas kebohongan suaminya, tetapi Viana mencoba untuk bersikap biasa saja di hadapan Yanto karena di dalam hatinya telah menyimpan sebuah rencana.
"Bang, nanti aku ikut Abang ke kantor ya," ucap Runi di sela-sela sarapan pagi mereka
"Lho, ngapain?" tanya Yanto dengan kening berkerut.
"Aku ada janji sama kak Feyla," jawab Runi.
"Pagi-pagi begini? Feyla tidak pernah datang ke kantor sepagi ini. Biasanya dia datang sekitar pukul sepuluh," tukas Yanto.
Viana yang mendengar hal itu tiba-tiba hatinya dilanda rasa cemburu.
'Kamu kini bahkan sudah berani menyebutnya dengan nama saja tanpa embel-embel 'Bu' dan jam kedatangannya pun kamu sudah hafal, mas. Seakrab itukah hubungan kalian berdua,' gumam Viana dalam hati dengan perasaan perih.
"Ya nggak apa-apa, Mas. Aku sudah buat ja
"Fey, ja-jangan lakukan ini. Ini salah, Fey," tolak Yanto saat kesadaran kembali menguasai dirinya.Lelaki itu membuang muka ke arah lain, tampak susah payah menahan gejolak hasrat dari dalam dirinya.Akan tetapi, Feyla yang telah dibutakan oleh perasaan cinta tidak menggubrisnya sama sekali. Dengan satu tangannya, dia menarik lembut wajah Yanto menghadap ke arahnya."Tatap wajahku, Mas. Apakah aku cantik?" tanya nya dengan suara lembut."I-iya, ka-kamu cantik," jawab Yanto dengan suara pelan nyaris berbisik disebabkan oleh hasrat yang tertahan."Kalau begitu, tunggu apalagi Mas, ayo jadikan aku milikmu seutuhnya. Aku siap, Mas." Lagi, Feyla berucap dengan nada suara yang lebih mirip desahan.Yanto menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan liar yang menari-nari dalam pikirannya.Namun, belum lagi dia berhasil, tiba-tiba saja sebuah benda kenyal nan manis telah menempel di bibirnya. Yanto terbelalak menatap benda kenya
"Ada apa, Fey?" tanya Yanto kala melihat Feyla berjalan menghampirinya."Nggak ada apa-apa, Mas. Aku hanya ingin melihat kondisi Randy," jawab Feyla.Kemudian wanita yang telah mengenakan jubah tidur merah maroon itu mendekati ranjang dimana putranya sedang berbaring lelap."Hm, sudah tidur dia rupanya," gumamnya.Feyla lalu berbalik dan menatap ke arah Yanto."Makasih ya, Mas. Sudah mau datang kemari. Kalau tidak, mungkin Randy masih belum bisa stabil kondisinya seperti sekarang ini.""Iya, nggak apa-apa kok. Jangan merasa sungkan gitu, Fey."Feyla tersenyum manis kemudian mengambil tempat duduk di samping Yanto. Semerbak bau parfum yang berasal dari tubuh Feyla memasuki indra penciuman Yanto, menimbulkan sensasi tenang sekaligus memabukkan.Seketika itu jantung Yanto berdebar kencang. Muncul dorongan dari dalam dirinya untuk menatap Feyla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah cantik itu kini hanya berjarak beberapa senti
Pandangan Yanto menyapu seisi kamar Randy yang kini tampak berbeda dari sebelumnya karena sekarang ada sebuah sofa bed berwarna merah yang terletak di samping ranjang Randy, lengkap dengan satu buah bantal dan satu buah guling. Tak ketinggalan pula sehelai selimut terletak pada ujung sofa. Sofa bed itu memang diperuntukkan bagi Yanto untuk tidur malam itu. Hal ini lantaran ranjang Randy hanya ranjang single bed yang tidak muat untuk dua orang tidur di atasnya.Kini Yanto sudah duduk di atas sofa bed itu. Dia mengeluarkan ponselnya, mencoba untuk menghubungi Viana. Pertama-tama, Yanto mencoba mengirimkan chat 'ping' dan ternyata chat itu langsung dibaca oleh Viana.Sedetik kemudian ponselnya langsung berdering, ada panggilan masuk dari Viana."Hallo, Dek.""Hallo, Mas! Kamu dimana sekarang? Kok kamu belum pulang juga?""Mas...."Yanto terdiam, hatinya bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia khawatir kalau dia jujur, Viana akan marah-mar
Sontak Yanto mendongakkan kepalanya lalu menggeleng pelan."Tidak usah, Pak. Biar saya saja yang bicara dengan istri saya. Baiklah Pak, saya bersedia menginap di sini untuk menemani Randy.""Syukurlah, terimakasih banyak Yanto. Saya benar-benar berhutang budi padamu.""Tidak perlu merasa demikian, Pak. Saya telah menganggap Randy seperti anak saya sendiri dan perihal permintaannya ini bukanlah merupakan suatu beban bagi saya, jadi Bapak tidak perlu merasa bersalah atau berhutang budi kepada saya."Pak Indra mengangguk sambil tersenyum lega. Kemudian pandangannya beralih kepada Feyla."Feyla, berhubung Yanto sudah setuju menginap di sini, jadi tolong kamu persiapkan segala keperluan untuk Yanto menginap malam ini," titah Pak Indra."Baik, Pa," jawab Feyla tersenyum lebar. Betapa bahagianya hati ibu muda itu ketika mendengar keputusan Yanto. Sudah terbayang di pelupuk matanya dia akan bisa berlama-lama berduaan dengan pria pujaannya itu.
Memikirkan hal itu, Pak Indra menghembuskan napas panjang."Kenapa, Pa?" tanya Feyla yang kebetulan menengok ke arah ayahnya itu."Tidak apa-apa, papa hanya merasa senang karena Randy terlihat sudah lebih baikan daripada tadi," kilah pria paruh baya itu."Benar, Pa dan semua itu berkat mas Yanto," puji Feyla sambil tersenyum.Mendengar pujian Feyla, Yanto tampak sedikit salah tingkah."Ah, nggak juga Fey, ini semua karena Randy anak yang baik dan penurut," tukas Yanto yang tidak ingin dianggap besar kepala mendapatkan pujian dari Feyla."Randy memang anak yang penurut, tapi dia lebih penurut jika Mas ada di sampingnya," balas Feyla."Ha ha ha...kamu bisa aja Fey," jawab Yanto sambil tertawa."Om, Om jangan pulang dulu ya. Om tidur di sini saja sama Randy," celetuk Randy tiba-tiba.Yanto sedikit kaget mendengar permintaan Randy."A-Apa Ran?""Itu Mas, Randy minta kamu nginap aja di sini dulu. Dia masih kange
"Gimana keadaan Randy, Fey?" tanya Yanto ketika kakinya telah menjejak di lantai ruang tamu rumah mewah itu."Masih belum stabil, Mas. Demamnya masih tinggi meski sudah diberi obat dan dia terus manggil-manggil namamu," jelas Feyla dengan wajah cemasnya."Kalau gitu, ayo antarkan aku menemui Randy sekarang," ucap Yanto dengan wajah tak kalah cemasnya.Feyla mengangguk dan dengan langkah lebar, mereka berdua segera menuju ke kamar Randy.Ternyata orang yang menelpon Yanto itu adalah Feyla. Yanto sengaja menyamarkan nama Feyla dengan id caller 'Dika 2' untuk menghindari kecurigaan Viana jika sewaktu - waktu Feyla menelepon dan Viana melihat nama si penelepon itu adalah Feyla.Yanto tidak ingin kelak terjadi keributan antara dia dan Viana karena Yanto mengetahui bahwa sampai pada detik ini, Viana masih menaruh rasa cemburu kepada Feyla.Setibanya di kamar Randy, Yanto melihat Randy sedang terbaring lemah di atas ranjang. Matanya tertutup rapat,







