Share

Kebohongan Yanto

Author: Kurnia_cy
last update Last Updated: 2025-12-24 13:00:01

"Tadi sore itu, mas sebenarnya sudah bersiap-siap untuk pulang, tetapi mendadak Pak Rangga, atasan mas menginstruksikan anak-anak di divisi pemasaran untuk meeting guna mengevaluasi hasil pemasaran produk yang baru saja diluncurkan. Meetingnya berjalan cukup lama, makanya mas jadi terlambat pulang," ujar Yanto sembari berusaha untuk tetap terlihat tenang sewaktu dia memaparkan cerita bohongnya itu agar Viana tidak menjadi curiga.

Sedangkan Viana sendiri tidak langsung merespon penjelasan Yanto itu. Dia hanya terdiam sembari terus menatap Yanto dengan tatapan menyelidik.

Yanto yang ditatap demikian menjadi salah tingkah. Hal itu bisa ditangkap oleh penglihatan Viana.

Viana menghela napas pelan. Hatinya mengatakan bahwa Yanto tengah berbohong padanya. Lima tahun hidup bersama, Viana bisa mengetahui apakah suaminya itu berkata jujur atau berbohong.

"Kamu nggak bohong kan, Mas?" cecar Viana ingin memancing reaksi Yanto lebih lanjut.

"Ti-tidak kok. Mas

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Pemberian Ipar    Aku Akan Menikahimu.

    "FEYLA! YANTO! APA-APAAN INI? APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?!"Suara menggelegar seorang pria paruh baya menggema di dalam ruangan berukuran 3 x 4 meter itu, membuat dua orang yang sedang tertidur di lantai menjadi terkejut bukan main.Buru-buru mereka bangkit, tapi sedetik kemudian wajah mereka memucat lalu merah padam ketika menyadari bahwa mereka dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka. Rupanya setelah mereguk kenikmatan surga dunia, mereka berdua merasa lelah dan tak sanggup lagi untuk pindah tidur ke tempat yang semestinya. Alhasil, mereka berdua pun tertidur di lantai tanpa sempat mengenakan pakaiannya kembali.Dengan kecepatan kilat, kedua orang itu menyambar pakaian mereka yang berserakan di lantai lalu mengenakannya dengan terburu-buru, tidak lagi memperhatikan apakah mereka memakainya secara benar atau tidak, yang penting tubuh mereka sudah tertutupi.Setelah itu barulah mereka berani mengangkat wajah, melihat siapa orang yang telah berteriak itu d

  • Madu Pemberian Ipar    Kebablasan

    "Fey, ja-jangan lakukan ini. Ini salah, Fey," tolak Yanto saat kesadaran kembali menguasai dirinya.Lelaki itu membuang muka ke arah lain, tampak susah payah menahan gejolak hasrat dari dalam dirinya.Akan tetapi, Feyla yang telah dibutakan oleh perasaan cinta tidak menggubrisnya sama sekali. Dengan satu tangannya, dia menarik lembut wajah Yanto menghadap ke arahnya."Tatap wajahku, Mas. Apakah aku cantik?" tanya nya dengan suara lembut."I-iya, ka-kamu cantik," jawab Yanto dengan suara pelan nyaris berbisik disebabkan oleh hasrat yang tertahan."Kalau begitu, tunggu apalagi Mas, ayo jadikan aku milikmu seutuhnya. Aku siap, Mas." Lagi, Feyla berucap dengan nada suara yang lebih mirip desahan.Yanto menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan liar yang menari-nari dalam pikirannya.Namun, belum lagi dia berhasil, tiba-tiba saja sebuah benda kenyal nan manis telah menempel di bibirnya. Yanto terbelalak menatap benda kenya

  • Madu Pemberian Ipar    Godaan Feyla

    "Ada apa, Fey?" tanya Yanto kala melihat Feyla berjalan menghampirinya."Nggak ada apa-apa, Mas. Aku hanya ingin melihat kondisi Randy," jawab Feyla.Kemudian wanita yang telah mengenakan jubah tidur merah maroon itu mendekati ranjang dimana putranya sedang berbaring lelap."Hm, sudah tidur dia rupanya," gumamnya.Feyla lalu berbalik dan menatap ke arah Yanto."Makasih ya, Mas. Sudah mau datang kemari. Kalau tidak, mungkin Randy masih belum bisa stabil kondisinya seperti sekarang ini.""Iya, nggak apa-apa kok. Jangan merasa sungkan gitu, Fey."Feyla tersenyum manis kemudian mengambil tempat duduk di samping Yanto. Semerbak bau parfum yang berasal dari tubuh Feyla memasuki indra penciuman Yanto, menimbulkan sensasi tenang sekaligus memabukkan.Seketika itu jantung Yanto berdebar kencang. Muncul dorongan dari dalam dirinya untuk menatap Feyla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah cantik itu kini hanya berjarak beberapa senti

  • Madu Pemberian Ipar    Lagi-lagi Berbohong 

    Pandangan Yanto menyapu seisi kamar Randy yang kini tampak berbeda dari sebelumnya karena sekarang ada sebuah sofa bed berwarna merah yang terletak di samping ranjang Randy, lengkap dengan satu buah bantal dan satu buah guling. Tak ketinggalan pula sehelai selimut terletak pada ujung sofa. Sofa bed itu memang diperuntukkan bagi Yanto untuk tidur malam itu. Hal ini lantaran ranjang Randy hanya ranjang single bed yang tidak muat untuk dua orang tidur di atasnya.Kini Yanto sudah duduk di atas sofa bed itu. Dia mengeluarkan ponselnya, mencoba untuk menghubungi Viana. Pertama-tama, Yanto mencoba mengirimkan chat 'ping' dan ternyata chat itu langsung dibaca oleh Viana.Sedetik kemudian ponselnya langsung berdering, ada panggilan masuk dari Viana."Hallo, Dek.""Hallo, Mas! Kamu dimana sekarang? Kok kamu belum pulang juga?""Mas...."Yanto terdiam, hatinya bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia khawatir kalau dia jujur, Viana akan marah-mar

  • Madu Pemberian Ipar    Menginap

    Sontak Yanto mendongakkan kepalanya lalu menggeleng pelan."Tidak usah, Pak. Biar saya saja yang bicara dengan istri saya. Baiklah Pak, saya bersedia menginap di sini untuk menemani Randy.""Syukurlah, terimakasih banyak Yanto. Saya benar-benar berhutang budi padamu.""Tidak perlu merasa demikian, Pak. Saya telah menganggap Randy seperti anak saya sendiri dan perihal permintaannya ini bukanlah merupakan suatu beban bagi saya, jadi Bapak tidak perlu merasa bersalah atau berhutang budi kepada saya."Pak Indra mengangguk sambil tersenyum lega. Kemudian pandangannya beralih kepada Feyla."Feyla, berhubung Yanto sudah setuju menginap di sini, jadi tolong kamu persiapkan segala keperluan untuk Yanto menginap malam ini," titah Pak Indra."Baik, Pa," jawab Feyla tersenyum lebar. Betapa bahagianya hati ibu muda itu ketika mendengar keputusan Yanto. Sudah terbayang di pelupuk matanya dia akan bisa berlama-lama berduaan dengan pria pujaannya itu.

  • Madu Pemberian Ipar    Dilema

    Memikirkan hal itu, Pak Indra menghembuskan napas panjang."Kenapa, Pa?" tanya Feyla yang kebetulan menengok ke arah ayahnya itu."Tidak apa-apa, papa hanya merasa senang karena Randy terlihat sudah lebih baikan daripada tadi," kilah pria paruh baya itu."Benar, Pa dan semua itu berkat mas Yanto," puji Feyla sambil tersenyum.Mendengar pujian Feyla, Yanto tampak sedikit salah tingkah."Ah, nggak juga Fey, ini semua karena Randy anak yang baik dan penurut," tukas Yanto yang tidak ingin dianggap besar kepala mendapatkan pujian dari Feyla."Randy memang anak yang penurut, tapi dia lebih penurut jika Mas ada di sampingnya," balas Feyla."Ha ha ha...kamu bisa aja Fey," jawab Yanto sambil tertawa."Om, Om jangan pulang dulu ya. Om tidur di sini saja sama Randy," celetuk Randy tiba-tiba.Yanto sedikit kaget mendengar permintaan Randy."A-Apa Ran?""Itu Mas, Randy minta kamu nginap aja di sini dulu. Dia masih kange

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status