ANMELDEN"Wah, lagi ngapain di situ, Bang?" tanya Runi yang baru saja keluar dari kamarnya dengan dandanan rapi.
Dengan santainya, adik ipar Viana itu berjalan menghampiri Yanto dan Viana.
"Apa ini? Wah, uang? Banyak sekali. Uang siapa ini, Bang?"
Runi segera mengambil tempat duduk di samping Yanto, matanya tak lepas dari tumpukan uang yang masih terletak di atas meja.
"Ini uang gaji abang bulan ini, Run."
"Sebanyak ini?"
"Iya, jumlahnya sepuluh juta," ucap Ya
Singkat cerita, beberapa hari kemudian, keluarga Yuda datang melamar Runi. Yanto yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Runi mengenai hal tersebut tampak ogah-ogahan menerima kedatangan keluarga Yuda. Yanto merasa keberatan dengan hal ini lantaran status Yuda yang merupakan suami orang. Dia berusaha membujuk Runi untuk menolak lamaran tersebut, tetapi jelas saja Runi tidak mau. Sudah susah payah mencapai tahap ini, mana mungkin dia akan melepaskannya begitu saja. Apalagi Feyla juga sangat mendukungnya, membuat Runi semakin mantap untuk melangkah bahkan selama pertemuan itu berlangsung justru Feyla yang terkesan menjadi juru bicaranya dibandingkan dengan Yanto yang notabene adalah saudara kandung Runi, pengganti kedua orang tua mereka yang sudah tiada.Feyla teringat beberapa hari yang lalu saat dia menegur Runi yang tidak kunjung juga mencari pekerjaan seperti janjinya, Runi malah berkata bahwa dia tidak perlu bekerja karena dia akan menikah dengan seorang pria kaya. Awalny
Tik...tok...tik... tok...Detak suara jam dinding dengan ritme yang teratur mengalun dengan cukup jelas di tengah keheningan ruangan berukuran 4x4 m tersebut. Meskipun ada dua manusia di dalamnya, tetapi keheningan terasa begitu nyata karena kedua orang tersebut sedang dibelit masalah yang membuat mereka lebih memilih berdiam diri daripada berkomunikasi satu sama lainnya. Mereka adalah Yuda dan Clara, keduanya duduk di tempat yang berbeda dengan raut wajah yang muram. Clara duduk meringkuk di atas ranjang dengan kedua lengan memeluk kaki dan dagu yang ditumpukan pada kedua lututnya sedangkan Yuda duduk di sofabed, terpekur menatap lantai. Sesekali Yuda melirik Clara yang masih diam membisu dengan pandangan menerawang.Bosan dengan keheningan yang menyelimuti mereka, Yuda mencoba memulai pembicaraan.“Clara, bicaralah sesuatu. Jangan hanya diam saja. Aku jadi bingung melihatmu seperti ini.”Clara bergeming, tidak sedikit pun dia menoleh ke arah Yuda, membuat Yuda menjadi gemas. Dia seg
Plak!“Hei, apa-apaan kamu, Clara?! Kenapa kau menamparku? Apa kau sudah gila, hah?!” pekik Runi saat sebuah hadiah tamparan dari Clara singgah di pipinya.“Kau yang gila! Kau wanita yang tidak punya perasaan! Kau setuju menikah dengan mas Yuda padahal kau tahu dia adalah suamiku. Kau adalah temanku, tapi kau menusukku dari belakang! Apa kau tidak punya hati nurani, hah?!” seru Clara dengan dada naik turun karena emosi yang meletup – letup dalam dadanya.Keduanya tampak bersitegang di halaman belakang rumah. Ya, setelah keluar dari kamar Elvina, Clara segera membawa Runi ke halaman belakang untuk melampiaskan amarah dan perasaan kecewanya atas sikap Runi yang mau-mau saja menyetujui permintaan Bu Elvina untuk menjadi istri kedua Yuda.Runi tersenyum kecil, sikapnya terlihat santai seolah-olah tidak terpengaruh akan kemarahan Clara.“Bukan salahku, Clara. Ibu mertuamu yang memaksa aku. Bukankah aku sudah menolaknya tadi,” ucap Runi dengan tenang.“Kau wanita licik. Aku tahu sebenarnya
Sontak keduanya saling bertatapan penuh keheranan, tetapi sedetik kemudian seperti dikomando, Yuda dan Clara segera berlari menuju ke kamar Bagas dan Elvina.Setibanya di ambang pintu, Yuda dan Clara terkejut melihat pemandangan yang terhampar di depan mereka.Mereka melihat Bagas terduduk di lantai, sebelah tangannya tampak merangkul tubuh Elvina yang terbaring di pangkuannya dengan mata terpejam sedangkan satu tangan lagi menepuk-nepuk pelan pipi Elvina.“Ma! Ma! Bangun, Ma! Sadar, Ma!” serunya berulang-ulang. Kecemasan tergambar jelas di raut wajah pria paruh baya itu.“Pa, mama kenapa?” tanya Yuda yang langsung menghambur masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Clara.Bagas mengangkat wajahnya, menatap putra dan menantunya itu.“Ini, mamamu tiba-tiba pingsan, nggak tahu kenapa. Ayo, bantu papa meletakkan mamamu di atas ranjang!”Ketiganya segera mengangkat tubuh Elvina dan meletakkannya dengan perlahan di atas ranjang.“Bik! Bik Siti!” seru Bagas dengan suara keras.Tidak berapa lama k
“APA?! MENIKAH LAGI?!” teriak Yuda dengan mata melotot.“Iya, Yud. Mama sama papa sudah tidak bisa lagi menunggu. Teman-teman mama semuanya sudah pada punya cucu bahkan ada anaknya yang baru satu tahun menikah malah sudah melahirkan. Ini kalian malah belum sama sekali. Jangankan melahirkan, hamil pun belum,” ucap Elvina sedikit ketus.Yuda menyugar rambutnya ke belakang. Sungguh, dia tidak pernah menduga kedua orang tuanya mempunyai rencana seperti ini. Selama ini dia melihat hubungan istri dengan kedua orang tuanya itu baik-baik saja, tidak pernah terlihat Elvina maupun Bagas menekan Clara untuk segera hamil sehingga Yuda beranggapan bahwa kedua orang tuanya itu fine – fine saja dengan masalah ini.Akan tetapi, pada malam hari ini semuanya terungkap bahwa sebenarnya ayah dan ibunya tidak sepenuhnya bisa menerima kondisi Clara yang masih belum hamil sampai detik ini.“Tapi, Ma... aku sangat mencintai Clara dan tak ada sedikit pun keinginan di hatiku untuk menikah dengan perempuan lain
Beberapa hari kemudian di sebuah kafe...“Selamat siang, Tante. Maaf, saya terlambat dan membuat Tante menunggu lama,” ucap Runi sembari memasang wajah penuh penyesalan di hadapan seorang wanita paruh baya. Wanita itu adalah Elvina, mertua Clara.“Tidak apa-apa, Runi. Duduklah. Sebelum kita ngobrol, ada baiknya kita makan dulu. Kamu mau pesan apa?”Runi menatap wanita paruh baya di depannya itu seraya menyunggingkan senyum manisnya.“Terserah Tante saja. Saya tidak cerewet untuk urusan makanan. Semua makanan saya suka,” bual Runi.“Baiklah, kalau gitu tante pesan yang sama dengan punya tante saja, ya.”“Boleh, Tan.”Elvina segera memanggil seorang pelayan dan memesan makanan untuk Runi.Sembari menunggu, mereka berdua mulai mengobrol.“Bagaimana keadaan Tante sekarang? Apakah luka Tante sudah sembuh?”“Sudah Runi dan tante terima kasih banget sama kamu. Karena pertolonganmu, tante bisa selamat dari para perampok itu.”Runi tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya.“Sama – sama,
Runi memandang paper bag berisi makanan yang diakuinya sebagai hasil masakannya, padahal tidak. Sebenarnya makanan itu dibelinya dari sebuah restoran dan dia berbohong mengatakan bahwa dia sendiri yang memasaknya dengan tujuan untuk menambah nilai plus dirinya di hadapan Deon sebagai wanita yang
Haris, pria yang berstatus teman SMA Viana itu menatap wanita di hadapannya dengan lekat. Rasanya sulit untuk mempercayai pendengarannya saat ini karena selama ini yang diketahuinya, rumah tangga Viana dan Yanto selalu terlihat harmonis dan nyaris tidak ada pertengkaran di dalamnya.
Feyla melirik Deon dan Runi secara bergantian lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tampak beberapa orang karyawan memperhatikan mereka dari kejauhan dengan tatapan penuh tanda tanya.Tidak ingin menjadi bahan gosip para karyawan di sana, Feyla lalu menegur Deon."Deon, sambu
Keesokan paginya, Viana tetap melaksanakan pekerjaannya seperti biasa termasuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Yanto. Meskipun dadanya bergemuruh menahan sakit hati atas kebohongan suaminya, tetapi Viana mencoba untuk bersikap biasa saja di hadapan Yanto karena di dalam hatinya telah menyimpan







