Home / Rumah Tangga / Madu Pilihan Mertua / Bab 36. Tidak bisa mengelak

Share

Bab 36. Tidak bisa mengelak

last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-29 09:00:53

Revan terdiam cukup lama di depan layar ponselnya, menatap kosong pada tulisan “pengadilan agama” yang terpampang di atas nomor tak dikenal itu. Kata cerai yang baru saja diucapkan pria di seberang sana masih terngiang di telinganya. Napasnya tiba-tiba terasa sesak, seperti baru saja ada sesuatu yang meninju dadanya dari dalam.

“A-apa maksudnya dengan cerai?” gumam Revan dengan suara hampir tak terdengar.

Revan jelas bingung, yang dia tahu Maira pulang ke negara asal ay
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 62 : Mendapatkan pekerjaan

    ``` "Vin, kalau kamu tidak mau dirawat di rumah sakit, minimal kamu minum obat-obatan dari dokter. Kamu pasti masih bisa sembuh." Revan kaget melihat Wita sudah ngomel-ngomel di depannya. Padahal Revan sudah mewanti-wanti semua karyawan di kantor ini agar tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruangannya, termasuk orang tuanya sendiri. “Mama ngapain di sini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Wita dengan sopan, Revan justru membalas dengan ketus. "Mama ke sini karena khawatir sama kamu, Revan. Sejak keluar dari rumah sakit kamu itu tidak pernah lagi datang untuk kemo atau hanya sekedar memeriksa kondisi tubuh kamu ke rumah sakit." Wita sudah tak tahan melihat Revan menyerah atas hidupnya. "Terus Mama maunya aku gimana? Mama mau aku menghabiskan hidup aku yang singkat ini di rumah sakit?" sinis Revan yang tak mau melihat ketulusan Wita sedikitpun. "Kamu pasti sembuh, Revan. Ayolah, Nak. Berobat ya," bujuk Wita agar Revan luluh. "

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 61 : Menyelidiki

    Maira berhenti di depan pintu besar menyebutkan CEO Room, Zila Ghassani. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong pintu itu dan langsung masuk seolah-olah dia adalah tamu terhormat. Zila yang sedang menatap layar laptop dengan wajah kusut langsung melorot. “Astaghfirullah, Runa. Kamu masuk kaya debt collector–eh tunggu, kok muka kamu kusut juga?” Zila salfok melihat muka Maira yang seperti seseorang yang sedang memikirkan beban negara. Maira menutup pintu dengan hati-hati, lalu menatap sahabatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Harusnya aku yang nanya itu.Kenapa kamu kaya habis berantem sama gorila?” Zila mendecak, memutar kursinya, lalu menyilangkan tangan di dada. "Jangan sebut gorila. Yang ada, aku baru saja perang dunia ketiga sama manusia paling ngeselin di bumi ini." Maira mengangkat alis. “Siapa?” Maira jadi penasaran, dengan siapa lagi sahabatnya itu bermasalah. “Nggak lain dan nggak bukan, si ember mulut itu. Jevan.” Maira spontan menahan tawa. "Kamu ketemu Pak Jevan

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 60 : Gadis kadaluarsa vs Bujang Lapuk

    “ Maira, sini dulu duduk sama Aa.”Maira yang baru pulang dari butik dibuat heran ketika Beno memanggil dirinya seserius itu.Maira mendekat sambil bertanya, "apa ada 'A?"Beno tak langsung menjawab, Beno sengaja datang ke rumah orang tuanya hanya untuk berdiskusi dengan sang adik untuk membahas sesuatu yang penting.Beno hanya datang sendiri tanpa anak dan istrinya. Entah hal penting apa yang akan dibahasnya dengan Maira."Kamu sudah melihat sesuatu yang sedang viral di Indonesia tentang para pebisnis?" tanya Beno setelah diam cukup lama."Yang lagi viral? Emang ada apa 'A?" Maira semakin bingung dibuatnya.Meski kini dia adalah seorang desainer yang sangat terkenal di level dunia, Maira tetap tidak tertarik dengan media sosial. Apalagi tentang negara yang meninggalkan trauma di hatinya.Beno menghela nafas, Beno bingung juga bagaimana cara menjelaskannya pada Maira."Ngomong aja 'A, Maira siap mendengar berita apapun itu karena Maira sudah bisa menerima dan berdamai dengan semua yan

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 59 : Udara kosong

    Zila tidak yakin kalau Maira baik-baik saja, sejak tadi Zila memperhatikan Maira melamun tanpa sebab dan wajahnya cukup murung.Zila jadi bertanya-tanya, hal apa yang Maira pikirkan sampai-sampai Maira gagal fokus dengan pekerjaannya.Tapi Zila tidak berani bertanya, Zila tau ada yang Maira sembunyikan darinya. Zila hanya ingin memberi Maira ruang untuk berpikir sebelum nanti Zila akan mendesak Maira untuk berbicara jujur padanya."Na, kamu udah makan siang belum? Kita ke restoran Indo yang gak jauh dari sini yuk, katanya restoran itu baru buka dan asli Indo banget." Zila mencoba mencari topik lain agar beban Maira sedikit berkurang.Meskipun Maira mengatakan dia tidak apa-apa, tapi Zila tetap tahu bahwa Maira pasti ada masalah atau beban pikiran yang berat."Besok aja bisa nggak sih, Zil? Aku lagi mager dan lagi nggak minat kemana-mana, mau di sini aja sambil mandangin karya-karya terbaru aku." Maira menjawab tanpa menoleh."Ayolah, Na. Itu restoran lagi viral sekali, aku penasaran s

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 58 : Melamun

    Hasil pemeriksaan laboratorium akhirnya keluar tepat keesokan siangnya. Dokter yang kemarin membahas Rio dan Wita kembali masuk ke ruangan khusus konsultasi. Wajah Dokter yang sangat serius, bahkan lebih tegang dari sebelumnya, membuat dada Wita langsung sesak karena pikiran buruk langsung menyerangnya.“Pak, Bu.” Dokter meletakkan berkas di atas meja. “Kami sudah mendapatkan seluruh hasil lab dan pencitraan CT scan.”Wita menggenggam tangan Rio erat-erat seolah mencari kekuatan di sana. “Dok, tolong katakan dengan jelas, bagaimana kondisi anak saya?”Dokter menarik napas panjang, napas seorang dokter yang tahu kabar itu akan menghancurkan kedua orang tua di depannya."Pak Revan mengalami kerusakan parah pada organ ginjal dan jantung. Ada gagal ginjal kronis stadium empat yang sudah terjadi cukup lama. Selain itu, ada indikasi kardiomiopati akibat stres berkepanjangan, kelelahan berat, dan pola hidup yang tidak stabil."Derajat!Bagai disambar petir di siang hari bolong, Wita dan Rio

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 57 : Menunggu hasil

    Pukul tujuh pagi, Revan masih pingsan di dalam ruangan CEO di perusahaan yang ia pimpin. Tepat pada saat itu juga, para karyawan sudah datang ke kantor. Sekretaris Revan yang hendak mengantarkan dokumen untuk Revan tandatangani sangat terkejut melihat CEO mereka pingsan dalam keadaan terduduk dan darah di hidung yang sudah mengering. "Astaga, Bapak. Pak Revan, bangun, Pak." Sekretaris Revan yang bernama Jeno itu terus berusaha membuat Revan sadar tapi tetap tidak bisa. Pasti gara-gara lembur dan begadang setiap malam Pak Revan jadi seperti ini. Jeno langsung menghubungi ambulans untuk menjemput bosnya itu ke kantor agar bisa dibawa ke rumah sakit. Suasana di kantor langsung ricuh, para karyawan yang sudah siap bekerja jelas terkejut melihat atasan mereka pingsan dengan sangat mengenaskan di kantor. "Saya akan menemani Pak Revan ke rumah sakit, saya harap kalian semua bisa bekerja seperti biasa meskipun Pak Revan sedang sakit." Jeno memberi wejangan kepada par

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status