ホーム / Rumah Tangga / Madu Pilihan Mertua / Bab 37. Pengen dihormati

共有

Bab 37. Pengen dihormati

last update 公開日: 2025-11-29 14:30:58

“Pasti kamu yang bikin Maira pergi, kamu yang bikin dia sampai berpikir perceraian adalah satu-satunya jalan. Kamu puas sekarang?” lanjut Revan dengan suara rendah tapi menusuk, “kamu pikir aku bakal berterima kasih? Nggak, Riri. Aku malah jijik.”

Air mata mulai jatuh dari mata Riri. Ia ingin membela diri, tapi kata-kata Revan terlalu tajam, terlalu menyakitkan dan terlalu benar. “Mas, aku cinta sama Mas,” bisik Riri dengan suara bergetar, “aku cuma pengen dicintai balik.”
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 57 : Menunggu hasil

    Pukul tujuh pagi, Revan masih pingsan di dalam ruangan CEO di perusahaan yang ia pimpin. Tepat pada saat itu juga, para karyawan sudah datang ke kantor. Sekretaris Revan yang hendak mengantarkan dokumen untuk Revan tandatangani sangat terkejut melihat CEO mereka pingsan dalam keadaan terduduk dan darah di hidung yang sudah mengering. "Astaga, Bapak. Pak Revan, bangun, Pak." Sekretaris Revan yang bernama Jeno itu terus berusaha membuat Revan sadar tapi tetap tidak bisa. Pasti gara-gara lembur dan begadang setiap malam Pak Revan jadi seperti ini. Jeno langsung menghubungi ambulans untuk menjemput bosnya itu ke kantor agar bisa dibawa ke rumah sakit. Suasana di kantor langsung ricuh, para karyawan yang sudah siap bekerja jelas terkejut melihat atasan mereka pingsan dengan sangat mengenaskan di kantor. "Saya akan menemani Pak Revan ke rumah sakit, saya harap kalian semua bisa bekerja seperti biasa meskipun Pak Revan sedang sakit." Jeno memberi wejangan kepada par

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 56 : Redup

    Semakin hari Revan semakin memaksakan dirinya untuk terus bekerja. Sepulang dari kantor pun ia masih menyelesaikan laporan-laporan yang sebenarnya bisa dikerjakan keesokan harinya tapi Revan tetap bekerja di rumah.Revan seolah tidak ingin memberi ruang untuk dirinya sendiri bernapas, apalagi memikirkan kesehatannya yang kian memburuk. Revan seperti seseorang yang menyiksa dirinya melalui pekerjaan.Setiap detik ia tenggelam dalam pekerjaan dan bayangan Maira terus berputar-putar di kepalanya. Bayangan mantan istrinya itu tak pernah hilang, malah semakin nyata seiring bertambahnya rasa menyesal dalam dada Revan.Hari ini pun, seperti biasa, Revan datang paling awal dan pulang paling akhir. Separuh itu setiap hari tanpa jeda dan tanpa peduli dengan hari yang seharusnya libur.Di saat semua karyawannya libur, Revan tetap bekerja meski tubuhnya lelah.Dengan langkah berat ia memasuki ruang kerja, meletakkan tugas, dan menyalakan laptop. Namun baru lima menit bekerja, memaksakan menyerang

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 55 : Firasat buruk

    Nama Maira semakin hadir dengan desainer pendatang baru yang karyanya sudah menjadi bintang fashion dunia.Revan tersenyum kecil dibalik meja kerjanya sambil memandangi layar laptop yang menampilkan karya-karya Maira, sekaligus foto Maira yang menjadi model dari karyanya sendiri.“Akhirnya kamu bisa menggapai mimpimu, Na.” Revan memandang foto Maira dengan kagum. "Selamat ya, kamu memang berhak mendapatkan ini semua."Cukup lama Revan mengingat kembali potret Maira. Selama itu pula Revan memendam angan-angan untuk kembali pada wanita itu lagi.Revan menggeleng. “Mana mungkin dia mau kembali, sedangkan dulu aku begitu besar menyakiti hatinya.”Revan menutup ponselnya, kembali mengerjakan pekerjaan kantornya yang sangat banyak sampai dia terasa begitu sakit."Ssst." Revan meringis, bersamaan dengan itu darah segar mengalir dari hidungnya.Bukannya khawatir dengan dirinya yang sering sakit kepala dan mimisan, Revan justru tersenyum lebar."Mungkin ini karma, yang harus aku lakukan sekara

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 54 : Jauh dari kata baik

    Dua minggu setelah butik Maira Atelier dibuka, dunia Maira mulai berputar lebih cepat dari yang ia duga. Awalnya ia hanya ingin butik kecil itu berjalan stabil, menarik sedikit pelanggan lokal, dan menjadi rumah bagi proses penyembuhan dirinya. Namun takdir tampaknya telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar untuk Maira.Pagi Itu, Milan Berhenti Sejenak untuk Mengagumi Maira sang bintang baru yang namanya tiba-tiba mencuat di dunia fashion di Milan.Di sebuah kafe kecil di sudut Via della Moscova, seorang fashion blogger terkenal asal Prancis sedang menggulir timeline Instagram-nya sambil menyesap cappuccino. Matanya berhenti ketika melihat unggahan Zila.Sebuah video slow motion Maira sedang menyentuh kain satin sampanye, dengan butik elegan bernuansa putih-marmer sebagai latarnya.“Siapakah dia?”Kata-kata itu meluncur tanpa ia sadari.Video itu sederhana, nyaris tanpa editan, namun aura seorang perempuan yang terluka dan bangkit lagi terpancar dengan jelas. Gaun yang dikenakan

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 53 : Masa depan

    Satu bulan berlalu sejak malam Maira bercerita pada kakak iparnya . Luka Maira masih ada, masih menggores setiap kali ia mengingatnya, tapi setiap pagi ia memaksakan dirinya bangun dengan niat bahwa hidupnya harus terus berjalan.Milan di awal musim gugur terasa berbeda kali ini. Udara dingin yang dulu membuat malas keluar rumah kini justru menjadi teman yang menenangkan. Maira mulai menemukan ritme baru, ritme seorang perempuan yang sedang membangun kembali dirinya dari puing-puing masa lalu.Maira berusaha terus bangkit meskipun tidak meniru yang Maira banyangkan. Setiap saat Maira selalu merindukan Revan, akan sangat munafik rasanya jika Maira mengaku dia sudah benar-benar melupakan sang mantan suami.Pagi itu, Maira berdiri di depan etalase butik kecilnya yang baru selesai rekreasi. Di kaca depan tertulis nama: ARUNA ATELIER. Huruf kaligrafi elegan warna emas tampak kontras dengan dinding marmer putih di belakangnya.Maira menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Akhirnya jad

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 52 : Menambah masalah

    Setelah makan malam dengan kelurganya selesai, Maira membantu Hani membereskan meja makan meski sang mama terus menghalanginya."Udah, Runa. Kamu pasti capek setelah lama di pesawat. Sana istirahat," ujar Hani sambil merebut piring dari tangan Maira.“Tapi Ma, aku nggak capek.”“Kamu istirahat dulu, nurut sama Mama,” sahut Hani dengan sangat memaksa karena Hani tau Maira itu anaknya tidak enakan.Maira tersenyum kecil, lalu pamit naik ke lantai dua. Suasana rumah itu terasa begitu tenang. Cahaya lampu temaram, aroma khas rumah yang ia rindukan, dan suara AC halus yang menemani langkah kakinya.Begitu sampai di ujung koridor, pintu kamar Beno terbuka sedikit. Dari dalam, suara rengekan bayi terdengar di telinga Maira.Karena tak tahan untuk bertemu sang ponakan, Maira mengetuk pelan pintu kamar sang kakak.“Teh?” panggil Maira dengan suara yang selalu lembut.Pintu kamar itu segera terbuka. Tari langsung muncul dengan menggendong Tasya yang akhirnya tertidur setelah drama panjang. Ramb

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status