เข้าสู่ระบบ“Pasti kamu yang bikin Maira pergi, kamu yang bikin dia sampai berpikir perceraian adalah satu-satunya jalan. Kamu puas sekarang?” lanjut Revan dengan suara rendah tapi menusuk, “kamu pikir aku bakal berterima kasih? Nggak, Riri. Aku malah jijik.”
Air mata mulai jatuh dari mata Riri. Ia ingin membela diri, tapi kata-kata Revan terlalu tajam, terlalu menyakitkan dan terlalu benar. “Mas, aku cinta sama Mas,” bisik Riri dengan suara bergetar, “aku cuma pengen dicintai balik.”“Ya Allah, apa tadi aku sudah keterlaluan sama Papa Rio?” Maira masih berpikir meskipun sekarang posisinya Maira sedang menyetir."Sebenarnya ini ya mas yang bikin kamu selingkuh dari aku?" Maira terpesona seperti orang bodoh dalam kisah ini. "Aku kira kamu benar-benar laki-laki jahat, ternyata ini cara kamu agar aku pergi."Sekarang Maira mengumpulkan perselingkuhan Revan pasti ada hubungannya dengan panyakit yang Revan derita.Maira masih merasa bersalah atas sikap acuhnya pada mantan ayah mertuanya tadi. Tapi mau mau bagaimana lagi, setiap melihat wajah-wajah yang telah menyakitinya di masa lalu, Maira tidak bisa menahan rasa perih di hatinya.Tidak ingin pusing memikirkan masalah ini sendirian, Maira memutuskan untuk membicarakan Tasya di mansion sahabatnya itu. Jaraknya lumayan jauh dari posisi Maira saat ini, tapi Maira tidak bisa menahan diri untuk menceritakan semuanya dan tidak akan afdol rasanya jika Maira bercerita lewat telepon saja.*****Mobil Maira akhirnya memasuki hal
"Kali ini tidak boleh gagal, aku harus bertemu dengan Maira." Rio menatap pantulan wajahnya lewat kaca di dalam toilet.Wajah orang tuanya yang tampak lelah tidak menyebutkan tekad Rio untuk menemukan Maira.Rio mendengar malam ini ada acara besar, dan Rio juga sudah melihat berita yang sedang naik daun di Milan bahwa Maira akan menjadi bintang tamu utama."Semoga kali ini berhasil." Rio menghela nafas sambil mempersiapkan diri.Pastinya Maira tidak akan bertanya-tanya mau bicara dengannya.Sedangkan di tempat lain, Maira sedang bersiap-siap di sebuah salon bersama Zila, Tari, dan juga Hani.Semua orang penting dalam hidup Maira akan hadir di acara malam ini."Anak Mama memang sangat cantik." Hani mengelus pipi Maira yang begitu mulus dan beseri."Mama juga cantik." Maira tersenyum, senyum anggun yang telah sampai ke titik ini.“Waktunya berangkat, Runa. Papa sama Mas Beno udah ada di lokasi,” ajak Tari."Iya, Teh."*****Lampu sorot menyapu fasad gedung bersejarah itu, membuat malam
Malam di Milan terasa dingin meski lampu kota berkilau tanpa henti. Rio duduk di tepi kasur hotel dengan jas yang belum sempat ia lepaskan. Ponsel di tangan kembali ia letakkan setelah panggilan terakhir tak juga menghasilkan hasil. Semua nama yang ia hubungi berakhir dengan jawaban serupa, tidak mengenal Maira.Ia menghela nafas panjang, menengadah menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya sejak Revan terbaring lemah di rumah sakit, Rio merasa benar-benar kesepian. Jarak ribuan kilometer ini terasa seperti jurang yang memisahkannya dari harapan terakhir.Namun Rio bukan tipe pria yang mudah menyerah.“Papa pasti akan menemukan Maira demi kamu, Revan,” gumam Rio dengan semua tekad di dadanya.Pagi berikutnya, Rio berdiri di depan sebuah gedung bergaya klasik di kawasan Brera—pusat galeri seni dan biro desain ternama. Salah satu rekan bisnis lamanya menyebutkan sebuah nama biro yang sedang naik daun, dipimpin oleh seorang desainer Asia yang beberapa kali muncul di majalah Erop
Hari ini Maira kembali tenggelam dalam rutinitasnya. Setelah lama menghilang dari masa lalu yang penuh luka, kini ia berdiri di titik kehidupan yang berbeda. Maira mandiri, tenang, dan jauh lebih kuat. Mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gedung kaca berlapis tinggi milik Jevan Group. Maira menghela nafas singkat sebelum melangkah masuk. Sebenarnya Maira tidak benar-benar bisa menghilangkan ingatan tentang alasan sebenarnya dibalik perselingkuhan Revan. Karena jauh di lubuk hati Maira, dia sangat yakin Revan bukakanlah laki-laki seburuk itu jika tidak punya maksud tertentu. Memilih mengabaikan isi ingatan untuk sesaat, Maira kembali fokus pada rutinitas nya hari ini. Resepsionis langsung mengenalinya dan mempersilakan Maira naik ke lantai teratas. Ruang CEO Jevan dipenuhi cahaya matahari. Jendela-jendela besar menghadap kota, sementara aroma kopi masih hangat tercium samar. Maira masuk dengan langkah anggun, tata kerjanya rapi, rambutnya disanggul sederhana. Maira be
Davin sebenarnya ingin menyingkirkan pusing yang sejak pagi menusuk sampai ke tengkuknya, tapi dia memaksa dirinya untuk tetap menatap layar laptop. Angka-angka mulai bergoyang di pandangan Revan, huruf-huruf terlihat ganda. Jantungnya berdebar tidak normal. Napasnya juga mulai terasa berat.Sampai akhirnya—“Pak Revan!!"Jeno memekik ketika melihat Revan abruk ke sisi meja. Kursi berderit keras, tubuh Revan jatuh nyaris tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya."Pak! Pak Revan, astaga, jangan bercanda, Pak." Jeno langsung panik, meraih ponselnya dengan tangan gemetar.Tak butuh waktu satu menit, Jeno sudah memanggil ambulans dan menyeret Revan ke dadanya, menopang tubuh bosnya yang semakin lemas. “Bertahan, Pak. Kita akan segera ke rumah sakit.”Sejauh ini Jeno dan orang lain belum ada yang mengetahui penyakit mematikan yang Revan derita. Hanya orang tua Revan saja yang tahu tentang hal ini.Begitu ambulans tiba di rumah sakit, Revan langsung
``` "Vin, kalau kamu tidak mau dirawat di rumah sakit, minimal kamu minum obat-obatan dari dokter. Kamu pasti masih bisa sembuh." Revan kaget melihat Wita sudah ngomel-ngomel di depannya. Padahal Revan sudah mewanti-wanti semua karyawan di kantor ini agar tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruangannya, termasuk orang tuanya sendiri. “Mama ngapain di sini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Wita dengan sopan, Revan justru membalas dengan ketus. "Mama ke sini karena khawatir sama kamu, Revan. Sejak keluar dari rumah sakit kamu itu tidak pernah lagi datang untuk kemo atau hanya sekedar memeriksa kondisi tubuh kamu ke rumah sakit." Wita sudah tak tahan melihat Revan menyerah atas hidupnya. "Terus Mama maunya aku gimana? Mama mau aku menghabiskan hidup aku yang singkat ini di rumah sakit?" sinis Revan yang tak mau melihat ketulusan Wita sedikitpun. "Kamu pasti sembuh, Revan. Ayolah, Nak. Berobat ya," bujuk Wita agar Revan luluh. "







