홈 / Rumah Tangga / Madu Pilihan Mertua / Bab 37. Pengen dihormati

공유

Bab 37. Pengen dihormati

last update 게시일: 2025-11-29 14:30:58

“Pasti kamu yang bikin Maira pergi, kamu yang bikin dia sampai berpikir perceraian adalah satu-satunya jalan. Kamu puas sekarang?” lanjut Revan dengan suara rendah tapi menusuk, “kamu pikir aku bakal berterima kasih? Nggak, Riri. Aku malah jijik.”

Air mata mulai jatuh dari mata Riri. Ia ingin membela diri, tapi kata-kata Revan terlalu tajam, terlalu menyakitkan dan terlalu benar. “Mas, aku cinta sama Mas,” bisik Riri dengan suara bergetar, “aku cuma pengen dicintai balik.”
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 66 : Usaha yang membuahkan hasil

    "Kali ini tidak boleh gagal, aku harus bertemu dengan Maira." Rio menatap pantulan wajahnya lewat kaca di dalam toilet.Wajah orang tuanya yang tampak lelah tidak menyebutkan tekad Rio untuk menemukan Maira.Rio mendengar malam ini ada acara besar, dan Rio juga sudah melihat berita yang sedang naik daun di Milan bahwa Maira akan menjadi bintang tamu utama."Semoga kali ini berhasil." Rio menghela nafas sambil mempersiapkan diri.Pastinya Maira tidak akan bertanya-tanya mau bicara dengannya.Sedangkan di tempat lain, Maira sedang bersiap-siap di sebuah salon bersama Zila, Tari, dan juga Hani.Semua orang penting dalam hidup Maira akan hadir di acara malam ini."Anak Mama memang sangat cantik." Hani mengelus pipi Maira yang begitu mulus dan beseri."Mama juga cantik." Maira tersenyum, senyum anggun yang telah sampai ke titik ini.“Waktunya berangkat, Runa. Papa sama Mas Beno udah ada di lokasi,” ajak Tari."Iya, Teh."*****Lampu sorot menyapu fasad gedung bersejarah itu, membuat malam

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 65 : Menemukan

    Malam di Milan terasa dingin meski lampu kota berkilau tanpa henti. Rio duduk di tepi kasur hotel dengan jas yang belum sempat ia lepaskan. Ponsel di tangan kembali ia letakkan setelah panggilan terakhir tak juga menghasilkan hasil. Semua nama yang ia hubungi berakhir dengan jawaban serupa, tidak mengenal Maira.Ia menghela nafas panjang, menengadah menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya sejak Revan terbaring lemah di rumah sakit, Rio merasa benar-benar kesepian. Jarak ribuan kilometer ini terasa seperti jurang yang memisahkannya dari harapan terakhir.Namun Rio bukan tipe pria yang mudah menyerah.“Papa pasti akan menemukan Maira demi kamu, Revan,” gumam Rio dengan semua tekad di dadanya.Pagi berikutnya, Rio berdiri di depan sebuah gedung bergaya klasik di kawasan Brera—pusat galeri seni dan biro desain ternama. Salah satu rekan bisnis lamanya menyebutkan sebuah nama biro yang sedang naik daun, dipimpin oleh seorang desainer Asia yang beberapa kali muncul di majalah Erop

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 64: Pergi

    Hari ini Maira kembali tenggelam dalam rutinitasnya. Setelah lama menghilang dari masa lalu yang penuh luka, kini ia berdiri di titik kehidupan yang berbeda. Maira mandiri, tenang, dan jauh lebih kuat. Mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gedung kaca berlapis tinggi milik Jevan Group. Maira menghela nafas singkat sebelum melangkah masuk. Sebenarnya Maira tidak benar-benar bisa menghilangkan ingatan tentang alasan sebenarnya dibalik perselingkuhan Revan. Karena jauh di lubuk hati Maira, dia sangat yakin Revan bukakanlah laki-laki seburuk itu jika tidak punya maksud tertentu. Memilih mengabaikan isi ingatan untuk sesaat, Maira kembali fokus pada rutinitas nya hari ini. Resepsionis langsung mengenalinya dan mempersilakan Maira naik ke lantai teratas. Ruang CEO Jevan dipenuhi cahaya matahari. Jendela-jendela besar menghadap kota, sementara aroma kopi masih hangat tercium samar. Maira masuk dengan langkah anggun, tata kerjanya rapi, rambutnya disanggul sederhana. Maira be

  • Madu Pilihan Mertua    63 : Sadar yang terlambat

    Davin sebenarnya ingin menyingkirkan pusing yang sejak pagi menusuk sampai ke tengkuknya, tapi dia memaksa dirinya untuk tetap menatap layar laptop. Angka-angka mulai bergoyang di pandangan Revan, huruf-huruf terlihat ganda. Jantungnya berdebar tidak normal. Napasnya juga mulai terasa berat.Sampai akhirnya—“Pak Revan!!"Jeno memekik ketika melihat Revan abruk ke sisi meja. Kursi berderit keras, tubuh Revan jatuh nyaris tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya."Pak! Pak Revan, astaga, jangan bercanda, Pak." Jeno langsung panik, meraih ponselnya dengan tangan gemetar.Tak butuh waktu satu menit, Jeno sudah memanggil ambulans dan menyeret Revan ke dadanya, menopang tubuh bosnya yang semakin lemas. “Bertahan, Pak. Kita akan segera ke rumah sakit.”Sejauh ini Jeno dan orang lain belum ada yang mengetahui penyakit mematikan yang Revan derita. Hanya orang tua Revan saja yang tahu tentang hal ini.Begitu ambulans tiba di rumah sakit, Revan langsung

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 62 : Mendapatkan pekerjaan

    ``` "Vin, kalau kamu tidak mau dirawat di rumah sakit, minimal kamu minum obat-obatan dari dokter. Kamu pasti masih bisa sembuh." Revan kaget melihat Wita sudah ngomel-ngomel di depannya. Padahal Revan sudah mewanti-wanti semua karyawan di kantor ini agar tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruangannya, termasuk orang tuanya sendiri. “Mama ngapain di sini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Wita dengan sopan, Revan justru membalas dengan ketus. "Mama ke sini karena khawatir sama kamu, Revan. Sejak keluar dari rumah sakit kamu itu tidak pernah lagi datang untuk kemo atau hanya sekedar memeriksa kondisi tubuh kamu ke rumah sakit." Wita sudah tak tahan melihat Revan menyerah atas hidupnya. "Terus Mama maunya aku gimana? Mama mau aku menghabiskan hidup aku yang singkat ini di rumah sakit?" sinis Revan yang tak mau melihat ketulusan Wita sedikitpun. "Kamu pasti sembuh, Revan. Ayolah, Nak. Berobat ya," bujuk Wita agar Revan luluh. "

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 61 : Menyelidiki

    Maira berhenti di depan pintu besar menyebutkan CEO Room, Zila Ghassani. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong pintu itu dan langsung masuk seolah-olah dia adalah tamu terhormat. Zila yang sedang menatap layar laptop dengan wajah kusut langsung melorot. “Astaghfirullah, Runa. Kamu masuk kaya debt collector–eh tunggu, kok muka kamu kusut juga?” Zila salfok melihat muka Maira yang seperti seseorang yang sedang memikirkan beban negara. Maira menutup pintu dengan hati-hati, lalu menatap sahabatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Harusnya aku yang nanya itu.Kenapa kamu kaya habis berantem sama gorila?” Zila mendecak, memutar kursinya, lalu menyilangkan tangan di dada. "Jangan sebut gorila. Yang ada, aku baru saja perang dunia ketiga sama manusia paling ngeselin di bumi ini." Maira mengangkat alis. “Siapa?” Maira jadi penasaran, dengan siapa lagi sahabatnya itu bermasalah. “Nggak lain dan nggak bukan, si ember mulut itu. Jevan.” Maira spontan menahan tawa. "Kamu ketemu Pak Jevan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status