MasukMendengar kata 'kado' dikombinasikan dengan warna maroon pekat dan pita hitam yang kini terpampang nyata di depan matanya, kantuk Zean seolah menguap dalam satu detik. Matanya langsung terbuka lebar, menatap nanar benda di tangan Zahra.Darah Zean mendadak berdesir sedingin es, dan rahangnya seketika mengeras rapat. Warna itu... terlalu familier dengan gaun wanita yang ditemuinya kemarin di kafe. Teror itu ternyata tidak menunggu lama untuk sampai ke depan pintu rumahnya.Ketegangan yang mengunci wajah Zean terbaca begitu jelas oleh radar intuisi Zahra. Sepasang mata istrinya menyipit, memancarkan binar kecurigaan yang kian menebal. Merasa ada yang tidak beres dengan sikap diam suaminya, Zahra langsung menarik kembali kotak kado itu dari depan dada Zean.Tanpa babibu, Zahra merobek kertas kado maroon itu dengan sedikit kasar tepat di depan mata Zean. Sesekali ia melirik tajam, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah suaminya yang tampak kian pias.Sreeek!Kertas pembungku
Kalimat Zahra siang itu di kafe Jepang sempat menggantung di udara, sebelum akhirnya obrolan mereka teralih oleh pesanan makanan yang datang. Namun, bagi Zean, gema dari kata-kata istrinya tidak pernah benar-benar hilang. Kalimat itu terus berputar, merayap, dan menggerogoti pikirannya sepanjang sisa hari.Hingga malam pun tiba.Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Suasana di dalam rumah minimalis mereka sudah sunyi. Rayyan dan Zahwa sudah lama terlelap di kamar masing-masing setelah menyelesaikan tugas sekolah mereka.Di kamar utama, lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di atas nakas yang memantulkan bayangan redup ke dinding. Zahra baru saja selesai mengoleskan night cream di wajahnya. Ia menoleh ke arah ranjang, mendapati Zean sudah berbaring dengan posisi telentang.Namun, Zean tidak tidur.Pria itu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Salah satu lengannya diletakkan di atas dahi, sementara guratan ha
Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kebisingan jalanan kota yang terik. Zean memutar kemudi, membawa mobil membelah jalanan menuju kafe bergaya Jepang yang jaraknya memang tidak begitu jauh dari gedung Dirgantara Group. Di kursi penumpang, Zahra langsung mencopot sepatu hak tingginya, menggantinya dengan sandal flat nyaman yang selalu ia simpan di bawah jok mobil. Begitu posisi duduknya sudah santai, ia langsung mulai bercerita dengan menggebu-gebu. "Mas, kamu tahu nggak? Rapat tadi tuh bener-bener alot banget. Pak Direktur sampai minta pasal-pasal sengketa lahan itu dibedah ulang satu-satu. Untung aja aku sama tim udah nyiapin kontra-analisisnya dari kemarin malam. Kalau nggak, wah... bisa habis kita didebat sama pihak lawan. Terus ya, tadi tuh sempat ada interupsi dari bagian operasional yang bikin suasana agak tegang..." Zahra terus mengoceh panjang lebar, tangannya sesekali bergerak heboh menggambarkan suasana ruang rapat. Namun, setelah beberapa menit berbica
Sementara itu, di sudut lain kota, suasana di dalam kantor Dirgantara Grup tampak berbanding terbalik dengan ketegangan di kafe pinggir kota tadi. Di balik kubikel kerjanya yang rapi, Zahra sedang berkutat dengan tumpukan berkas perkara perdata yang menggunung. Jemarinya bergerak lincah di atas kibor komputer, sesekali membolak-balik dokumen berlogo garuda dengan dahi sedikit berkerut, fokus sepenuhnya pada analisis hukum yang sedang ia susun."Aduh, yang statusnya sudah berubah jadi 'Nyonya Zean' ini sibuk banget, sih. Padahal kan yang punya kantor mertuanya sendiri," goda sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik sekat kubikel.Zahra mendongak, mendapati Maya dan srikandi divisi legal lainnya, Citra, sudah berdiri sambil membawa cangkir kopi masing-masing. Senyum jahil langsung terbit di wajah kedua temannya itu.Zahra seketika meletakkan pulpennya, wajahnya mulai memanas. "Apa sih, May, Cit. Jangan mulai deh, ini berkas buat sidang besok senin belum beres.""Halah, bilang a
Zean mencengkeram erat kemudi, matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang seolah menyempit di depannya. Napasnya memburu, berat dan tertahan di dada.Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi rasa sesak yang membakar. Zean menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah tersenyum Zahra di depan lobi kantor tadi. Senyum yang begitu tulus, yang justru membuat rasa bersalah di dalam hatinya kian mencuat tajam."Arghhh !!! Enggak-enggak. Ini harus sudah selesai sebelum semuanya kacau! Nggak bisa. Aku nggak mau... Zahra kembali terluka."Suaranya meninggi, menggema di dalam ruang mobil yang tertutup rapat. Kilasan masa lalu, tentang air mata Zahra dan luka lama yang susah payah mereka sembuhkan, mendadak berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Zean tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang. Tidak akan pernah."Agrrrhhhh. Bodoh kamu Zean! Ceroboh!"Brakk!Zean memukul setir mobilnya dengan keras. Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan
“Siap, Pa!”Meja makan yang biasanya menjadi tempat paling tenang di rumah itu, pagi ini berubah layaknya area komando. Wangi nasi goreng mentega buatan Zean beradu dengan aroma minyak telon yang masih menguar dari tubuh Zahwa.Zahra keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi, blus broken white dipadukan dengan celana kulot abu-abu. Rambutnya dicepol rapi, menyisakan beberapa anak rambut di tengkuknya. Meski wajahnya sudah segar, sisa-sisa kepanikan tadi tampaknya belum sepenuhnya menguap.“Kakak! Itu dasinya miring, Nak. Sini Bunda benerin,” panggil Zahra begitu melihat Rayyan berjalan malas sambil menyandang tas ranselnya yang tampak terlalu berat untuk anak kelas 1 SMP.Rayyan mendekat, membiarkan jemari bundanya bergerak cekatan membenarkan dasinya.“Bunda, Rayyan hari ini ada Melukis jam pertama. Kalau telat, disuruh lari keliling lapangan sama Pak Bambang.”“Makanya makannya dicepetin, Kak,” sahut Zean dari balik meja makan, meletakkan sepiring besar nasi gore
Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman.Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi.Lampu-lampu kecil masih menyala.Bunga-bunga segar belum layu.Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk
"Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju
"Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka ke
Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin te







