Home / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Malang... aku pergi...

Share

Malang... aku pergi...

Author: Aisyah Ahmad
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-26 22:00:51

Nisa mulai melawan. Nisa sebenarnya pernah bisa bela diri, tapi berhubung itu dua pria, dia jadi kesulitan melawannya. Beruntungnya ada orang lain yang lewat, seorang dengan membawa mobil pickup itu berhenti, lalu menghajar dua preman itu hingga pergi.

"Nggak usah takut mbak, saya bukan orang jahat kok." ucap pria itu. Nisa akhirnya berani mendongakan kepala dan mengucapkan terima kasih, dengan badan yang masih gemetar.

"Malam malam begini mau kemana mbak? Malang itu keras mbak, banyak begal b
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dewi Kurniasih
Lanjut y kak terima kasih up nya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Madu Suamiku   Ancaman Melisa

    Teriakan frustrasi Melisa menggema nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia berdiri dengan napas memburu, dadanya naik turun menahan murka yang membakar seluruh dadanya. Harga dirinya diinjak-injak, dan ego wanitanya benar-benar terluka oleh pria yang sangat ingin ia hancurkan itu.​Melisa melangkah dengan hentakan kaki yang berat menuju meja kerjanya. Di depannya, sebuah layar monitor komputer berukuran besar menyala terang, memancarkan pendar cahaya putih di tengah remangnya ruangan.​Layar itu menampilkan sebuah file foto dengan resolusi yang sangat bersih. Bukan siluet samar di dalam kamar seperti yang ada di ponselnya, melainkan sebuah foto dokumen lama, lengkap dengan selembar potret masa lalu yang melibatkan nama besar keluarga Dirgantara dan satu rahasia fatal yang selama ini tertutup sangat rapat. Sebuah kartu as yang sebenarnya ingin ia simpan sebagai senjata pamungkas.​Melisa menatap foto di layar monitor itu dengan sepasang mata yang menyipit tajam, penuh dendam yang m

  • Madu Suamiku   Lingeri Merah

    Mendengar kata 'kado' dikombinasikan dengan warna maroon pekat dan pita hitam yang kini terpampang nyata di depan matanya, kantuk Zean seolah menguap dalam satu detik. Matanya langsung terbuka lebar, menatap nanar benda di tangan Zahra.​Darah Zean mendadak berdesir sedingin es, dan rahangnya seketika mengeras rapat. Warna itu... terlalu familier dengan gaun wanita yang ditemuinya kemarin di kafe. Teror itu ternyata tidak menunggu lama untuk sampai ke depan pintu rumahnya.Ketegangan yang mengunci wajah Zean terbaca begitu jelas oleh radar intuisi Zahra. Sepasang mata istrinya menyipit, memancarkan binar kecurigaan yang kian menebal. Merasa ada yang tidak beres dengan sikap diam suaminya, Zahra langsung menarik kembali kotak kado itu dari depan dada Zean.​Tanpa babibu, Zahra merobek kertas kado maroon itu dengan sedikit kasar tepat di depan mata Zean. Sesekali ia melirik tajam, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah suaminya yang tampak kian pias.​Sreeek!​Kertas pembungku

  • Madu Suamiku   Kado Misterius

    Kalimat Zahra siang itu di kafe Jepang sempat menggantung di udara, sebelum akhirnya obrolan mereka teralih oleh pesanan makanan yang datang. Namun, bagi Zean, gema dari kata-kata istrinya tidak pernah benar-benar hilang. Kalimat itu terus berputar, merayap, dan menggerogoti pikirannya sepanjang sisa hari.​Hingga malam pun tiba.​Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Suasana di dalam rumah minimalis mereka sudah sunyi. Rayyan dan Zahwa sudah lama terlelap di kamar masing-masing setelah menyelesaikan tugas sekolah mereka.​Di kamar utama, lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di atas nakas yang memantulkan bayangan redup ke dinding. Zahra baru saja selesai mengoleskan night cream di wajahnya. Ia menoleh ke arah ranjang, mendapati Zean sudah berbaring dengan posisi telentang.​Namun, Zean tidak tidur.​Pria itu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Salah satu lengannya diletakkan di atas dahi, sementara guratan ha

  • Madu Suamiku   Intuisi Seorang Istri

    Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kebisingan jalanan kota yang terik. Zean memutar kemudi, membawa mobil membelah jalanan menuju kafe bergaya Jepang yang jaraknya memang tidak begitu jauh dari gedung Dirgantara Group. ​Di kursi penumpang, Zahra langsung mencopot sepatu hak tingginya, menggantinya dengan sandal flat nyaman yang selalu ia simpan di bawah jok mobil. Begitu posisi duduknya sudah santai, ia langsung mulai bercerita dengan menggebu-gebu. ​"Mas, kamu tahu nggak? Rapat tadi tuh bener-bener alot banget. Pak Direktur sampai minta pasal-pasal sengketa lahan itu dibedah ulang satu-satu. Untung aja aku sama tim udah nyiapin kontra-analisisnya dari kemarin malam. Kalau nggak, wah... bisa habis kita didebat sama pihak lawan. Terus ya, tadi tuh sempat ada interupsi dari bagian operasional yang bikin suasana agak tegang..." ​Zahra terus mengoceh panjang lebar, tangannya sesekali bergerak heboh menggambarkan suasana ruang rapat. Namun, setelah beberapa menit berbica

  • Madu Suamiku   Bahagianya zahra

    Sementara itu, di sudut lain kota, suasana di dalam kantor Dirgantara Grup tampak berbanding terbalik dengan ketegangan di kafe pinggir kota tadi. Di balik kubikel kerjanya yang rapi, Zahra sedang berkutat dengan tumpukan berkas perkara perdata yang menggunung. Jemarinya bergerak lincah di atas kibor komputer, sesekali membolak-balik dokumen berlogo garuda dengan dahi sedikit berkerut, fokus sepenuhnya pada analisis hukum yang sedang ia susun.​"Aduh, yang statusnya sudah berubah jadi 'Nyonya Zean' ini sibuk banget, sih. Padahal kan yang punya kantor mertuanya sendiri," goda sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik sekat kubikel.​Zahra mendongak, mendapati Maya dan srikandi divisi legal lainnya, Citra, sudah berdiri sambil membawa cangkir kopi masing-masing. Senyum jahil langsung terbit di wajah kedua temannya itu.​Zahra seketika meletakkan pulpennya, wajahnya mulai memanas. "Apa sih, May, Cit. Jangan mulai deh, ini berkas buat sidang besok senin belum beres."​"Halah, bilang a

  • Madu Suamiku   Jangan sampai terulang

    Zean mencengkeram erat kemudi, matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang seolah menyempit di depannya. Napasnya memburu, berat dan tertahan di dada.Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi rasa sesak yang membakar. Zean menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah tersenyum Zahra di depan lobi kantor tadi. Senyum yang begitu tulus, yang justru membuat rasa bersalah di dalam hatinya kian mencuat tajam.​"Arghhh !!! Enggak-enggak. Ini harus sudah selesai sebelum semuanya kacau! Nggak bisa. Aku nggak mau... Zahra kembali terluka."​Suaranya meninggi, menggema di dalam ruang mobil yang tertutup rapat. Kilasan masa lalu, tentang air mata Zahra dan luka lama yang susah payah mereka sembuhkan, mendadak berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Zean tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang. Tidak akan pernah.​"Agrrrhhhh. Bodoh kamu Zean! Ceroboh!"​Brakk!​Zean memukul setir mobilnya dengan keras. Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan

  • Madu Suamiku   Panggilan Manis

    Jam sudah menunjuk lewat sebelas malam.Di luar, jalanan kompleks tampak lengang. Lampu-lampu jalan sesekali berkelip, dihampiri serangga malam yang berputar-putar di sekitarnya. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah lembap sisa hujan beberapa jam tadi. Suasana begitu sunyi, hanya sesekali terde

  • Madu Suamiku   Perdebatan

    Dimas diam, kepalanya menolah noleh songong. "Huft. Astagfirullah... " gumam Zahra sembari mengusap kepalanya yang tiba-tiba serasa mengepul. "Ibuk... Maaf kalau perkataan Zahra tadi menyinggung hati ibuk, itu tidak benar sama sekali. Maksud Zahra, Zahra cuma kasihan ibuk kalau kecapean. Tadi pag

  • Madu Suamiku   Sejarah baru di cafe kenangan

    “Ih, dasar!” Zahra mencubit lengannya pelan. Zean pura-pura kesakitan, lebay banget sampai hampir jatuh dari kursi.“Za, aaaauuuuhhh.... kamu serius banget nyakitin aku. Apa gini cara calon Istrinya nyiksa suaminya? Belum jadi suamii loh ini” katanya sambil meringis tapi matanya jelas bercanda.Zah

  • Madu Suamiku   Yang telah lama tertunda...

    Sampai di Café Aurora, suasana terasa aneh. Parkiran sepi. Lampu-lampu redup.“Rayyan… bener ini cafenya?” Zahra ragu.“Iya kok, Bun. Papa Zean bilang jelas banget.”“Tapi kok sepi ya…”Mereka turun. Zahra menggandeng Zahwa sambil melangkah pelan. Tapi begitu pintu café dibuka, cling. lampu-lampu g

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status