로그인Alea, seorang wanita cantik, sukses, dan sombong, selalu memandang rendah pria yang mendekatinya. Baginya, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan transaksi. Ia percaya bahwa hanya pria dengan kekayaan luar biasa yang pantas berdampingan dengannya. Hingga suatu hari, Reyhan, seorang pengusaha muda yang penuh percaya diri, datang dengan tawaran mengejutkan—sebuah mahar 10 miliar rupiah untuk menjadikannya istri. Bukan karena cinta, tapi karena sebuah alasan yang tidak Alea pahami. Merasa tertantang, Alea menerima tawaran itu. Namun, semakin lama ia menjalani pernikahan ini, semakin ia sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Di balik sikap dingin dan misterius Reyhan, ada sesuatu yang perlahan mengguncang hati dan egonya. Apakah Alea akan tetap mempertahankan harga dirinya, atau justru jatuh cinta pada pria yang awalnya hanya dianggap sebagai penyedia mahar? Sebuah kisah tentang harga diri, cinta, dan kenyataan bahwa hati tak bisa dibeli dengan uang.
더 보기Elizabeth hazel Kingston (AUTHOR POV)
The cold marble floor felt like ice against Hazel’s bare knees. She was shivering, but not because of the air conditioning that was turned up to maximum power inside the massive, cold mansion. She was shivering because of fear. In front of her stood a man who looked like he was carved by gods, yet his eyes were colder than the deepest part of the ocean. Xander Kingston. The name alone commanded respect and fear in the entire country. He was the youngest billionaire, the CEO of Kingston Group of Companies, and the most eligible bachelor—until today. Today, he was forced to marry her. Hazel looked down at her hands. They were trembling. She was wearing a simple white dress, nothing compared to the luxury surrounding her. She didn’t look like a bride. She looked like a prisoner standing before her judge. “Look at me, Hazel,” Xander’s voice was low, deep, and laced with venom. It sent chills down her spine. Slowly, Hazel lifted her head. Her big, innocent eyes met his piercing gaze. Xander was sitting on the expensive leather sofa, legs crossed, looking at her with pure disgust. “Do you know why you are here?” he asked, his finger tapping rhythmically on his knee—Hazel swallowed the lump in her throat. Her voice came out as a whisper. “Because… because we are getting married, Sir .”Xander let out a short, mocking laugh. “Sir? Call me husband later, but don’t you dare fool yourself, Hazel. This is not a marriage made in heaven. This is a business transaction. A deal.” He stood up and walked towards her. He was so tall that he towered over her small frame. The scent of his expensive cologne filled her senses, but it didn’t make her feel romantic, it made her feel small and insignificant. “You and your family need money,” Xander said coldly, his eyes narrowing. “Five million dollars. That is the price I paid to buy you. That is enough to pay your father’s debts and pay for his surgery, isn’t?” Hazel’s heart clenched painfully. Bought. That was what she was. A commodity. Something to be purchased. “Yes,” she answered softly, tears threatening to fall but she held them back. She couldn’t cry. Not now. Not in front of him. “Thank you, Mr. Kingston. I… I will do everything to repay you.” “Repay me?” Xander scoffed. He grabbed her chin forcefully, forcing her to look at him directly. His grip was tight, hurting her. “You can never repay me with anything, Hazel. The only thing you need to do is to act as my wife in public. You will wear the ring, you will attend parties, and you will bear my name. But inside this house? You are nothing.” He let go of her face as if touching her burned him. Hazel stumbled back a little, holding her aching chin. “Understood?” he demanded. “Yes,” Hazel whispered, her heart breaking into tiny pieces. “I understand.” The wedding was quick and cold. There was no celebration, no music, no guests except for the lawyers and witnesses. The priest mumbled the words, but Hazel felt like she was in a nightmare. When the priest asked if Xander took her as his wife, he didn’t say “I do” with love. He said it with gritted teeth, looking at her as if she was the worst thing that ever happened to him. And just like that, Hazel Anderson became Hazel Kingston. The wife of the richest man, but also the most unwanted woman in the world.Mobil yang dikendarai Adrian melaju di jalan raya yang mulai lenggang. Suasana malam terasa mencekam, seakan-akan bayangan ketakutan terus membuntuti Alea. Dia menyadari bahwa keputusan yang baru saja diambil bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi mungkin juga membahayakan dirinya sendiri. Alea mengeratkan genggamannya dipangkuan. "Kemana kita pergi sekarang?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Adrian meliriknya sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. " Ada tempat yang aman di luar kota, sebuah rumah persembunyian yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Kita bisa berlindung di sana untuk sementara waktu sambil mencari tahu langkah berikutnya." Alea mengangguk, meski dalam hatinya dia masih ragu. Apakah benar dia telah memilih jalan yang tepat? Mobil mereka maju tanpa suara, hanya ditemani cahaya lampu jalan yang sesekali melintas. Alea bersandar pada jendela mobil, pikirannya masih terikat pada satu sosok yaitu Reyhan. Apakah Reyhan benar-benar memanfatkannya? Selama in
Alea berdiri di antara dua pria itu, hatinya berdebar kencang. Di satu sisi, ada Reyhan pria yang selama ini dia cintai, yang selalu membuatnya merasa aman. Tapi sekarang, kepercayaanya mulai terkikis. Di sisi lain, pri asing ini membawa subuah kenyataan baru yang menghancurian segalanya. "Bagaimana aku bisa tau siapa yang haru kupercayai?" suara Alea hampir seperti bisikan. Reyhan mengulurkan tangannya. "Percayalah padaku, Alea. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."Pria asing itu mendengus. "Itulah yang selalu dia katakan, bukan? Tapi lihat dimana kau sekarang, terikat diculik. Jika dia benar-benar ingin melindungimu, mengapa kau ada di tempat ini?"Alea mengigit bibirnya, ada kebenaean dalam kata-kata pria itu. Tiba-tiba, suara tembakan terdengar. Salah satu pria berbaju hitam berdiri di luar roboh dengan darah mengucur dari dadanya. "Kita tidak punya waktu," kata pria asing itu tegas. "Alea, pilih sekarang."Alea memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas panjang.
Alea berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Ruangan ini begitu dingin, dan tangan Tata kaki yang terikat membuat tubuhnya semakin kaku. Jantungnya berdebar kencang saat sosok pria itu melangkah mendekat. "Sudah lama aku msnunggumu, Alea," kata pria itu dengan suara tenang namun berbahaya. Alea menatapnya tajam. "Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?"Pria itu tersenyum miring, matanya mengamati Alea dengan penuh ketertarikan. "Pertanyaan yang menarik, tapi pertanyaan yang lebih penting adalah... apakah kau siap untuk kebenaran?"Alea mengigit bibirnya. "Aku tidak punya banya waktu untuk permaina ini, jika kau ingin uang Reyhan akan membayarmu. Jika ini tentang dendam, maka kau salah orang. Aku tidak memiliki musuh."Pria itu menghela napas panjang, lalu menarik kursi dan duduk dihadapan Alea. "oh, kau punya banyak musuh, Alea. Kau hanya belum menyadarinya."Alea menelan ludah, suasana di ruangan ini begitu menekan seakan udara menjadi lebih berat. "Apa maksudmu?""Sebelum aku
Alea menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendaljkan detak jantungnya yang berpacu. Kata-kata pria itu masih bergema di benaknya, tentang perjanjian keluarga, tentang Reyhan dan tentang orang-orang yang menginginkan pernikahan mereka terjadi. Tidak, dia tidak akan membiarkan hidupnya dikendalikan oleh perjanjian yang bahkan tidak pernah dia ketahui. Dia menatap Reyhan, mencari jawaban di mata pria itu. Ada sesuatu yang selama ini tidak dikatakan Reyhan, sesuatu yang lebih dari kewajiban terhadap keluarganya. "Aku harus pergi," Alea akhirnya berkata. Reyhan langsung menegang. "Pergi kemana?""Aku butuh waktu memikirkan semua ini," jawabnya tegas. "Aku tidak bisa begitu saja menerima kenyataan bahwa hidupku sudah ditentukan oleh orang lain."Pria itu menatap lama sebelum akhirnya mengangguk. "Aku ngerti perasaanmu, nak. Tapi kau juga harus sadar, mereka tidak akan tinggal diam."Alea mengertakan giginya. "Kalau mereka berani mengusik hidupku, maka aku juga tidak akan tinggal diam."
Alea duduk di sofa apartemennya,menatap layar ponsel yang masih menampilkan pesan misterius itu."Berhati-hatilah dengan Reyhan."Kata-kata itu terasa semakin berat setelah pertemuan terakhir mereka. Reyhan menyuruhnya untuk tidak mempercayai siapapun selain dirinya. Tapi bagaimana bisa Alea memper
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰