Mahar 10 Miliar Wanita Sombong

Mahar 10 Miliar Wanita Sombong

last updateLast Updated : 2025-03-24
By:  GataaaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
12Chapters
446views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Alea, seorang wanita cantik, sukses, dan sombong, selalu memandang rendah pria yang mendekatinya. Baginya, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan transaksi. Ia percaya bahwa hanya pria dengan kekayaan luar biasa yang pantas berdampingan dengannya. Hingga suatu hari, Reyhan, seorang pengusaha muda yang penuh percaya diri, datang dengan tawaran mengejutkan—sebuah mahar 10 miliar rupiah untuk menjadikannya istri. Bukan karena cinta, tapi karena sebuah alasan yang tidak Alea pahami. Merasa tertantang, Alea menerima tawaran itu. Namun, semakin lama ia menjalani pernikahan ini, semakin ia sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Di balik sikap dingin dan misterius Reyhan, ada sesuatu yang perlahan mengguncang hati dan egonya. Apakah Alea akan tetap mempertahankan harga dirinya, atau justru jatuh cinta pada pria yang awalnya hanya dianggap sebagai penyedia mahar? Sebuah kisah tentang harga diri, cinta, dan kenyataan bahwa hati tak bisa dibeli dengan uang.

View More

Chapter 1

BAB 1 - Tawaran yang Tidak Masuk Akal

Berangkat karena tugas, pulang tinggal nama. Mungkin itu kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan mengenai apa yang telah terjadi pada Liam. Seorang prajurit angkatan laut yang telah gugur dalam pertempuran di laut perbatasan.

Area makam begitu ramai dihadiri oleh para rekan dan keluarga. Pemakaman dilakukan dengan cara militer, diberi penghormatan untuk yang terakhir.

Maudy hanya bisa menangis tanpa suara. Sakit karena luka bekas melahirkan belum kering. Lalu kini kembali diberi sayatan luka di hati yang mungkin tidak akan pernah terobati. Ia dan Liam jarang sekali menghabiskan waktu bersama, sebab selalu ditinggal tugas ke luar kota. Hari ini tepat satu tahun pernikahan mereka, bukan kado terindah yang ia dapatkan sebagai hadiah, tapi kenyataan pahit yang harus ia telan karena kehilangan suami tercinta.

“Mbak!” Hampir saja Maudy tumbang andai sang asisten rumah tangga tidak cepat tanggap dalam menangkapnya.

“Kamu bohong, Mas! Kamu bilang kamu bakalan pulang tanpa luka! Kamu bilang kamu bakalan pulang bawa hadiah buat anak kita! Kamu bohong! Kamu pembohong! Kenapa kamu harus ninggalin aku sama Sean! Siapa yang bakalan jagain kami kalau kamu gak ada!”

Tangis itu akhirnya pecah juga setelah sang suami terkubur di bawah gundukan tanah. Tangisnya terdengar begitu menyayat hati. Membuat suasana pemakaman menjadi begitu menyedihkan.

“Maudy, ikhlas, Nak. Dia gugur sebagai pahlawan, dia tidak mati sia-sia.” Tama berusaha menenangkan sang menantu. Apalagi Maudy baru melahirkan kemarin, bekas luka itu akan menyakitkan jika ia bergerak terlalu kasar. Ia bahkan baru keluar dari rumah sakit siang ini, saat mendapat kabar sang suami telah pulang tanpa nyawa.

“Maudy gak butuh pahlawan, Pa. Maudy cuma butuh Mas Liam.” Wanita itu terus saja menangis. Ia memberontak saat sang ART berusaha menenangkan.

“Bawa dia pulang!” Lelaki paruh baya itu memberi perintah pada gadis yang tengah berusaha menenangkan Maudy sejak tadi.

“Baik, Tuan.”

“Aku gak mau pulang!” Maudy memberontak saat Hanum berusaha memandunya keluar dari area pemakaman.

“Mbak, kondisi Mbak belum pulih total. Jangan banyak gerak dulu.” Hanum berusaha memberi pengertian. Harusnya Maudy tahu apa yang baik dan apa yang buruk untuknya. Peranakannya bisa turun jika ia terus saja memberontak seperti itu.

“Aku gak mau ninggalin Mas Liam!” Maudy terus saja memberontak. Ia lekas berlari saat mendapat celah, lalu menjatuhkan diri memeluk gundukan tanah yang masih basah itu.

“Maudy!” Kali ini Tama memanggil dengan nada tinggi. “Jangan membuat suamimu gelisah meninggalkanmu dan anakmu. Biarkan dia beristirahat dengan tenang!” Lelaki itu berucap dengan tegas. Ia sudah menahan tangis sejak tadi. Bukan karena ia tidak sakit dan merasa kehilangan atas kematian putranya. Ia bersikap seperti itu agar Maudy tidak terlalu larut dalam kesedihan. Jika ia ikut menangis, mungkin saja tangis Maudy akan menjadi lebih histeris.

Maudy terdiam dengan wajah yang basah dan memerah karena tangis yang parah. Ia sesenggukan menahan tangisan. Diusapnya kedua pipi dengan telapak tangannya yang kotor karena tanah kuburan.

“Pulanglah dan istirahat. Sean pasti butuh kamu, jangan tinggalkan dia lama-lama.”

Maudy menggeleng. “Enggak, Pa. Maudy gak akan pulang.”

“Papa tau bagaimana perasaanmu. Tapi sekarang bukan waktunya untuk larut dalam kesedihan, ada Sean yang butuh kamu. Biarkan mereka menyelesaikan tugas mereka untuk memberi penghormatan terakhir bagi Liam. Kamu bisa datang kembali ke sini kapan pun kamu mau, dengan satu syarat yaitu setelah kamu sehat.” Tama berucap dengan tegas.

Lagi, Maudy tetap saja menggeleng tidak setuju.

“Pulang atau papa tidak akan pernah mengizinkanmu untuk mendatangi makam Liam setelah ini.” Tama bersikap sangat keras karena ingin memberikan yang terbaik untuk menantunya. Ia tidak ingin kondisi Maudy semakin memburuk.

Maudy terdiam. Ia menghela napas dengan dalam, lalu bangkit berdiri dengan pundak yang terasa begitu berat. Kakinya seolah tertancap pada tanah yang sedang ia pijak. Hanum datang untuk membantu Maudy beranjak.

‘Maaf karena papa sudah membentakmu. Papa terpaksa bersikap keras, jika tidak begini kamu tidak akan mau pulang.’ Tama berucap dalam hati saat Maudy dan Hanum melewatinya. Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata lelaki itu. Segera ia hapus air matanya sebelum tetes yang lain ikut berjatuhan.

***

Maudy tidak ingin keluar kamar sama sekali. Ia terus saja menangis di sana. Belum bisa ia menerima kematian sang suami tercinta. Terdengar lantunan ayat suci yang berasal dari lantai bawah, acara tahlilan berlangsung dengan begitu khikmat.

“Mbak!” Hanum mengetuk pintu dengan lembut. Berharap Maudy akan membukakan pintu untuknya. Ini kali ketiga ia datang membawakan makanan, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.

“Mbak belum makan dari siang. Mas Liam pasti bakalan sedih kalau tau Mbak kayak gini.” Gadis itu terus saja berusaha membujuk, ia terus mengetuk. Namun, tetap saja Maudy tidak memberi respons apa pun. Hanum hanya bisa menghela napas dengan kasar, lalu kembali ke dapur dengan membawa makanan yang tidak disentuh sama sekali oleh Maudy.

Rumah mulai beranjak sepi setelah acara tahlilan selesai. Tama menatap sekitar, mencari keberadaan Hanum yang ia minta untuk menemani Maudy.

“Mbak Maudy tidak mau membuka pintunya, Tuan.” Hanum berucap setelah Tama bertanya padanya.

Tama menarik napas dengan kasar. Tangis mulai terdengar saat lelaki paruh baya itu menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas. Bukan tangis Maudy, tapi tangis Sean yang sudah haus akan ASI ibunya. Tidak terdengar sama sekali usaha Maudy untuk mendiamkan putranya.

“Maudy ….” Tama memanggil dengan sangat lembut. Namun, tidak ada jawaban sama sekali.

“Kamu tidur? Sean menangis, mungkin haus atau popoknya basah.”

Tetap saja Maudy tidak memberi tanggapan sama sekali.

“Maudy!” Suara Tama meninggi, berpikir Maudy tidak mendengar karena suaranya terlalu lembut.

Brak! Terdengar suara benturan yang cukup keras dari dalam kamar.

Tama mulai panik, ia tidak bisa tenang setelah mendengar suara gubrakan itu. Pikirannya mulai mengarah ke mana-mana, apalagi kondisi jiwa dan pikiran Maudy sedang tidak baik-baik saja.

“Maudy! Kamu baik-baik saja?” Tama mulai mendobrak pintu, tapi pintu itu terlalu keras untuk ia buka secara paksa. Butuh beberapa kali hantaman hingga pintu terbuka juga pada akhirnya.

Hanya ada Sean yang menangis di atas ranjang. Sementara Maudy tidak ada di sana sama sekali.

“Maudy!” Tama dibuat semakin panik.

“Hanum!” Lelaki itu memanggil dengan kepanikan yang begitu tinggi.

“Ya, Tuan.” Hanum datang terburu-buru memenuhi panggilan majikannya.

“Kamu buatkan saja susu formula untuk Sean. Malam ini biar Sean tidur denganmu dulu.” Lelaki itu berucap dengan panik. Ujung matanya masih mencari keberadaan Maudy. Hingga lirikannya mengarah pada kamar mandi.

Lekas Tama berlari menuju kamar mandi. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sang menantu telah tergeletak  lemah dengan mulut yang dipenuhi busa. Di sisi kanannya tergeletak pembersih lantai dengan tutup terbuka. Tampaknya Maudy baru saja melakukan percobaan bunuh diri.

Segera Tama membawa wanita itu ke dalam gendongan. Lekas ia berlari keluar kamar. Berteriak dari atas sana agar mobil segera disiapkan. Ia akan membawa Maudy ke rumah sakit sebelum terlambat.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments

user avatar
Gaguk Subaharsyah
bagus sekali
2025-03-12 17:03:52
0
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status