Se connecterSelama pembicaraan itu, Arumi melirik Pak Darman yang sedang merapikan meja. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada kilat kesedihan dan rasa bersalah di mata tua Pak Darman, namun Arumi membalasnya dengan tatapan penuh kebencian dan peringatan agar pria itu tetap tutup mulut.
"Ayo, Vin, kita ke depan saja," ajak Arumi sambil menarik lengan Kevin dengan sedikit tergesa. Di teras depan, Kevin mulai mengeluarkan brosur dan foto-foto dekorasi. Ia berbicara panjang lebar tentang bagaimana ia ingin altar pernikahan mereka nanti dikelilingi ribuan bunga mawar. Namun, pikiran Arumi melayang jauh. Setiap kali Kevin menyebut kata 'pernikahan', 'suami', atau 'istri', hati Arumi terasa seperti ditusuk sembilu. "Arumi? Kamu melamun?" tanya Kevin heran karena Arumi tidak memberikan tanggapan pada pilihan bunganya. "Ah, maaf, Vin. Aku... aku hanya merasa sedikit pusing. Mungkin karena belum sarapan," dalih Arumi. "Ya ampun, maafkan aku. Ayo, kita makan bubur ayam yang kubawa tadi," Kevin dengan telaten membuka bungkusan makanan dan menyuapi Arumi. Kebingungan dan rasa sesak memenuhi dada Arumi. Ia harus terus tersenyum, harus terus membalas kasih sayang Kevin, sambil memikul rahasia gelap yang bisa menghancurkan segalanya jika terbongkar. "Semuanya akan baik-baik saja, kan, Vin?" tanya Arumi tiba-tiba, suaranya hampir menyerupai bisikan putus asa. Kevin menatapnya dengan lembut, menggenggam tangannya erat. "Tentu saja, Sayang. Selama kita bersama, tidak ada yang bisa memisahkan kita." Arumi tersenyum pahit. Kita sudah terpisah sejak semalam, Vin, batinnya perih. Pagi yang tenang bersama Kevin seketika hancur saat suara deru beberapa mobil hitam memasuki halaman luas kediaman keluarga Broto. Bunyi ban yang berdecit di atas kerikil tajam terdengar seperti lonceng peringatan. Arumi yang sedang mencoba menelan bubur suapan Kevin langsung mematung. Sendok di tangan Kevin menggantung di udara. Dari dalam mobil-mobil tersebut, turunlah sekelompok pria berseragam resmi dan beberapa pria berpakaian batik dengan tanda pengenal yang dikalungkan di leher mereka. Petugas Kejaksaan dan juru sita negara. "Selamat pagi. Kami dari tim pelaksana sita aset berdasarkan surat perintah penyidikan terkait kasus Tuan Broto Atmodjo," ujar salah satu pria bertubuh tegap sambil menunjukkan dokumen bermaterai. Kevin berdiri dengan wajah bingung sekaligus terkejut. "Sita aset? Maaf, ini ada apa ya? Papa Broto, apa yang sebenarnya terjadi?" Pak Broto keluar dari pintu utama dengan wajah yang berusaha tetap tenang, meski Arumi bisa melihat jemari ayahnya bergetar hebat. "Ini hanya prosedur pemeriksaan rutin, Kevin. Ada sedikit kesalahpahaman administratif soal proyek lama. Jangan khawatir." Namun, para petugas tidak membuang waktu. Mereka mulai menyebar ke seluruh penjuru rumah. Ada yang masuk ke ruang kerja, ada yang memeriksa garasi berisi mobil-mobil mewah, dan beberapa mulai menempelkan stiker segel pada barang-barang di ruang tamu. "Tunggu dulu!" seru Pak Hendra, asisten Pak Broto, sambil berlari membawa setumpuk map dokumen. "Kalian tidak bisa menyita aset bangunan ini dan beberapa aset kendaraan di dalam." Petugas itu mengerutkan kening. "Kenapa tidak bisa? Semua ini terdaftar sebagai aset milik Broto Atmodjo." "Kalian salah," suara Pak Hendra terdengar tegas, namun ada nada tegang yang disembunyikan. "Malam tadi telah terjadi pengalihan sah atas kepemilikan aset utama sebagai bagian dari kesepakatan keluarga yang sudah direncanakan jauh hari. Rumah ini, tanah ini, dan sebagian besar saham sudah berpindah tangan kepada suami dari Non Arumi." Kevin terbelalak. Ia menatap Arumi dengan tatapan yang sangat asing. "Suami? Apa maksudnya, Arumi? Kita kan baru akan menikah bulan depan?" Jantung Arumi seolah berhenti berdetak. Ia berdiri di sana, di tengah kepungan petugas, ayahnya yang tersudut, dan Kevin yang mulai merasa dikhianati. Arumi menoleh ke arah Pak Broto, mencari bantuan, namun ayahnya hanya bisa menunduk. Petugas kejaksaan itu memeriksa dokumen yang disodorkan Pak Hendra dengan sangat teliti. "Suami? Atas nama... Darman Yusuf?" Petugas itu tampak bingung. "Siapa Darman Yusuf?" Suasana menjadi sunyi senyap. Hanya suara angin yang menggerakkan dahan pohon mawar. Semua mata kini tertuju pada sosok pria tua yang sedang berdiri mematung di kejauhan, memegang gunting rumput yang masih kotor oleh tanah. Pak Darman tampak ingin menghilang ke dalam bumi saat namanya disebut di depan banyak orang berseragam. "Saya, Pak..." suara Pak Darman terdengar kecil, hampir tak terdengar. "Dia?" Kevin menunjuk Pak Darman dengan tawa getir yang tidak percaya. "Dia tukang kebun di sini, kan? Apa-apaan ini, Arumi? Katakan padaku kalau ini cuma bercanda!" Arumi merasa lidahnya kelu. Ia ingin berteriak bahwa ini semua adalah skenario gila untuk menyelamatkan harta mereka, tapi ia tahu jika ia bicara jujur, aset itu akan langsung disita karena dianggap penipuan hukum. Ia harus mengikuti sandiwara ini. "Vin... ini rumit," Arumi akhirnya bersuara, suaranya parau karena menahan tangis. "Dia... dia suami sahku secara hukum. Kami sudah menikah." Kevin mundur beberapa langkah, wajahnya berubah dari bingung menjadi penuh rasa muak. "Menikah? Kapan? Arumi, kita setiap hari bersama! Bagaimana mungkin kamu menikah dengan... dengan dia? Orang yang biasanya membersihkan kotoran anjing kita?" Petugas kejaksaan tidak peduli dengan drama asmara tersebut. Mereka mulai mencocokkan buku nikah yang dibawa Pak Hendra dengan data kependudukan secara digital. "Pernikahannya tercatat sah semalam secara agama dan sudah didaftarkan lewat jalur kilat," gumam petugas itu. "Sesuai undang-undang, harta yang sudah berpindah tangan melalui ikatan perkawinan sebelum surat penyitaan resmi keluar, tidak bisa langsung disita kecuali terbukti ada aliran dana ilegal langsung ke pihak suami." Pak Broto menghela napas lega yang tipis, namun itu tidak bertahan lama. Kevin menghampiri Arumi, matanya memerah. "Jadi ini alasan kamu tidak mau aku ke taman belakang tadi? Karena kamu baru saja menjual dirimu pada pembantumu sendiri demi rumah ini?" "Bukan begitu, Vin! Ini demi menyelamatkan Papa!" Arumi mencoba memegang tangan Kevin, namun Kevin menepisnya dengan kasar.Malam di Paris seharusnya menjadi puncak dari segala penantian. Setelah keriuhan pesta pernikahan di Jakarta dan padatnya jadwal pertemuan bisnis di hari pertama mereka tiba, malam ini adalah waktu yang dijanjikan sebagai "penyatuan" yang sesungguhnya. Kevin telah menyiapkan segalanya dengan kesempurnaan seorang Adiwangsa: kamar Royal Suite yang dipenuhi kelopak mawar putih, aroma lilin esensial yang menenangkan, dan pemandangan Menara Eiffel yang berpendar keperakan di balik jendela besar.Arumi, yang telah memantapkan hati dengan segala keikhlasannya, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegugupan. Ia keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang anggun. Di dalam hatinya, ia sudah bersiap memberikan seluruh pengabdiannya kepada Kevin. Ia ingin malam ini menjadi fondasi baru, menghapus memori masa lalu yang pernah ia lalui secara sembunyi-sembunyi.Namun, realita seringkali memiliki cara yang pahit untuk menunjukkan wajah aslinya.
Mendengar itu, Arumi merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Kevin, dengan segala ambisinya, juga memiliki sisi empati yang dalam. Kevin menerima Arumi seutuhnya, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah diceritakan secara lisan.Arumi menggenggam tangan Kevin, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. "Terima kasih, Kevin. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku menjadi orang yang paling sulit untuk dicintai. Malam ini, aku memberikan seluruh diriku padamu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tembok."Malam itu menjadi momen di mana kasta, bisnis, dan gengsi keluarga melebur menjadi satu perasaan yang tulus: rasa memiliki. Arumi merasakan kenyamanan yang berbeda. Jika dulu ia menyerahkan diri dalam rasa takut dan sembunyi-sembunyi, kini ia menyerahkan diri dalam kedaulatan seorang istri yang sah dan terhormat.Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang banyak hal, bukan soal merger
Hari yang dinanti-nantikan oleh dua keluarga besar Atmodjo dan Adiwangsa akhirnya tiba. Langit Jakarta seolah ikut merayakan, memberikan cuaca cerah yang menyempurnakan suasana di ballroom hotel bintang lima yang telah disulap menjadi taman firdaus bernuansa putih dan emas. Wangi bunga melati dan mawar putih merebak, menyambut para tamu terhormat yang datang untuk menyaksikan penyatuan dua imperium bisnis terbesar di negeri ini.Namun, di balik kemegahan itu, ada sebuah keharuan mendalam yang menyelimuti hati setiap orang yang mengetahui perjalanan panjang sang Putri Mahkota. Pintu besar ballroom terbuka perlahan. Musik instrumen yang syahdu mulai mengalun, mengiringi langkah Arumi yang didampingi oleh Pak Broto. Arumi tampak sangat memukau dalam balutan kebaya akad nikah berwarna putih gading dengan ekor panjang yang menyapu lantai. Cadar tipis yang menutupi wajahnya tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya.Pak Broto menggenggam tangan pu
Arumi masuk ke kamarnya, melihat sekeliling ruangan yang kini tampak lebih hidup dengan vas-vas bunga segar pilihan Kevin. Ia berbaring di tempat tidurnya dengan senyuman tipis. Ia telah memilih jalannya, dan ia bertekad untuk menjadi pendamping terbaik bagi Kevin, membangun sebuah hubungan yang harmonis dan tanpa cela.Atmosfer di kediaman Atmodjo dan Adiwangsa kini berubah total, dari ketegangan yang menyesakkan menjadi binar persiapan pernikahan yang paling dinantikan tahun ini. Arumi, yang telah benar-benar melabuhkan hatinya pada keikhlasan, tidak lagi melihat persiapan ini sebagai sebuah kewajiban keluarga, melainkan sebagai perayaan atas hidupnya yang baru bersama Kevin.Pagi itu, butik pengantin paling eksklusif di Jakarta ditutup untuk umum. Arumi dan Kevin melangkah masuk ke dalam ruangan bernuansa minimalis mewah yang dipenuhi aroma bunga lili segar. Di sana, beberapa manekin telah mengenakan rancangan gaun pengantin haute couture yang dibuat khusus sesu
Setiap kali rasa rindu itu memuncak, Arumi harus menahannya sekuat tenaga. Ia ingin sekali menyuruh orang mencari keberadaan Pak Darman, ingin tahu apakah pria tua itu makan dengan teratur atau apakah ia merasa kesepian di masa tuanya. Namun, Arumi segera menepis keinginan itu."Tidak, Arumi. Jangan," ia mengingatkan dirinya sendiri. "Mencari Bapak hanya akan membawanya kembali ke dalam pusaran bahaya. Papa dan Kevin tidak akan tinggal diam jika mereka tahu hatiku masih tertinggal di sana."Ia sadar bahwa di usianya yang sudah senja, Pak Darman layak mendapatkan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan setelah pernikahan rahasaia demi menjaga martabat dan harta keluarga Atmodjo. Menghubunginya hanya akan menempatkan Pak Darman kembali di bawah pengawasan tajam mata-mata Kevin. Demi keselamatan pria yang ia cintai, Arumi memilih untuk menjadi orang asing yang paling setia menyimpan rahasia.Arumi mulai membangun benteng di sekelilingnya. Ia menjadi lebih waspada dan dingin. Jika dulu ia
Pagi itu, ruang kerja Pak Broto terasa lebih dingin dari biasanya. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari sebuah meja kayu jati panjang di mana dua map berwarna biru tua sudah terletak rapi. Pak Hendra berdiri di samping meja dengan pena emas di tangannya, wajahnya datar tanpa emosi, layaknya malaikat pencabut hubungan.Pintu terbuka. Arumi melangkah masuk dengan gaun hitam yang elegan namun tertutup. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sembab, meskipun ia telah menutupinya dengan riasan yang tebal. Di belakangnya, Pak Darman menyusul. Ia tidak lagi mengenakan baju tukang kebun, melainkan kemeja batik yang pernah dibelikan Arumi, batik yang sama yang ia kenakan saat mereka bangun bersama untuk pertama kalinya.Pak Broto duduk di kursinya, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kepuasan bisnis. "Kalian telah melakukan tugas yang luar biasa. Publik sudah tenang, Kevin sudah mulai melunak, dan nama baik Atmodjo pulih total. Sekarang, saatnya kita menyelesaikan admi







