เข้าสู่ระบบTiba-tiba, suara sirine terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Wajah Pak Hendra menegang. "Itu mungkin bukan untuk kita, tapi kita tidak punya waktu lagi. Penghulu sudah menunggu di ruang bawah tanah. Kita harus turun sekarang."
"Aku tidak mau!" Arumi berteriak, mencoba lari menuju pintu. Namun, Pak Broto mencekal lengannya. "Arumi! Lihat Papa! Apa kamu mau Papa masuk sel malam ini juga? Apa kamu mau Kevin melihat kamu digelandang polisi karena dianggap ikut menyembunyikan uang Papa? Hanya ini jalannya! Setelah semua tenang, Papa janji akan mengurus perceraianmu. Hanya beberapa bulan, Arumi. Tolong!" Arumi terisak hebat. Tubuhnya lemas. Ia membayangkan hidupnya yang sempurna—pesta mewah, gaun indah, dan masa depan bersama Kevin—kini harus ternoda oleh sebuah tanda tangan di samping nama seorang pelayan tua. Dengan langkah gontai dan dipapah oleh ayahnya, Arumi berjalan menuju ruang bawah tanah yang biasanya digunakan sebagai gudang penyimpanan anggur. Di sana, seorang pria paruh baya dengan pakaian koko putih sudah menunggu di depan sebuah meja kecil. Ada dua orang penjaga keamanan rumah yang merangkap sebagai saksi. Arumi melihat meja itu dengan rasa mual. Di atas meja ada sebuah buku nikah dan beberapa dokumen pengalihan aset. "Silakan duduk," ucap sang Penghulu dengan suara tenang, tidak menyadari ketegangan luar biasa yang terjadi. Pak Darman duduk di sebelah Arumi. Jarak mereka hanya beberapa senti, tapi bagi Arumi, jarak itu terasa seperti jurang yang penuh dengan kotoran. Ia bisa mencium aroma minyak kayu putih dan sabun murah dari baju batik Pak Darman, sangat berbeda dengan parfum mahal yang biasa dipakai Kevin. "Saudara Darman bin Yusuf," Penghulu mulai memulai prosesi. Tangan Arumi gemetar hebat saat ia harus meletakkan tangannya di atas meja. Ia menatap ke langit-langit, mencoba menahan air mata agar tidak jatuh ke atas dokumen itu. Di dalam kepalanya, ia terus memohon maaf pada Kevin, meskipun ia tahu pengkhianatan ini—meski terpaksa—akan menjadi noda yang sulit dihapus. "Bagaimana, saksi? Sah?" "Sah." Kata "Sah" itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Arumi. Saat ia diminta menyalami tangan Pak Darman sebagai simbol bakti seorang istri untuk pertama kalinya, Arumi hanya menyentuh ujung jari pria tua itu dengan rasa jijik yang luar biasa, lalu segera menariknya kembali dan mengusap tangannya ke gaunnya sendiri. "Sudah selesai," bisik Pak Hendra lega. "Aset sudah berpindah. Sekarang, Pak Darman, kembali ke kamar belakang. Non Arumi, hapus air matamu. Besok Kevin akan datang pagi-pagi sekali." Arumi berdiri tanpa berkata apa-apa. Ia menatap Pak Darman dengan tatapan penuh kebencian. "Jangan pernah berpikir Bapak benar-benar suami saya. Di mata saya, Bapak tetaplah orang yang membersihkan kotoran di taman saya. Jangan pernah sentuh saya, jangan pernah bicara pada saya." Pak Darman hanya menunduk, ia memegang buku nikah itu dengan tangan gemetar, merasa bahwa beban yang ia pikul sekarang jauh lebih berat daripada memindahkan berkarung-karung pupuk di bawah terik matahari. Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, menyinari embun yang masih menempel di kelopak mawar yang kemarin sore disiram oleh Pak Darman. Di dalam kamar mewahnya, Arumi terbangun dengan perasaan seolah seluruh dunianya telah tertimbun reruntuhan. Ia menatap telapak tangannya sendiri, teringat sentuhan singkat nan kasar dari tangan Pak Darman saat akad rahasia semalam. Rasa mual kembali muncul, namun ia tidak punya waktu untuk terpuruk. "Non, Tuan Kevin sudah di depan. Dia membawakan sarapan favorit Non," suara pelayan dari balik pintu mengejutkannya. Arumi tersentak. Ia segera berlari ke arah cermin. Lingkaran hitam di bawah matanya sangat jelas. Dengan terburu-buru, ia memoleskan concealer tebal, bedak, dan pemerah pipi untuk menyembunyikan wajah pucatnya. Ia harus terlihat seperti calon pengantin yang bahagia, bukan wanita yang baru saja menggadaikan martabatnya pada seorang pembantu tua. Saat Arumi turun ke lantai bawah, ia melihat Kevin sedang berdiri di ruang tamu, tampak sangat tampan dengan kemeja polo berwarna biru cerah. Ia sedang berbincang ringan dengan Pak Broto yang, meski terlihat lelah, sudah mampu memasang kembali topeng wibawanya. "Pagi, Sayang!" Kevin menyambut Arumi dengan pelukan hangat dan kecupan di dahi. "Kamu kok kelihatannya agak pucat? Kurang tidur karena memikirkan konsep dekorasi?" Arumi memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sedikit sumbang di telinganya sendiri. "Iya, Vin. Aku terlalu bersemangat sampai susah tidur. Kamu tahu kan, aku ingin semuanya sempurna." "Jangan terlalu stres, Sayang. Ingat, ada aku di sini," ujar Kevin lembut sambil mengelus pipi Arumi. Tepat saat itu, Pak Darman masuk melalui pintu samping membawa nampan berisi kopi untuk Pak Broto dan Kevin. Arumi merasakan tubuhnya menegang kaku. Jantungnya berdegup kencang, takut jika Pak Darman melakukan kesalahan atau menunjukkan gelagat yang aneh. "Ini kopinya, Tuan," suara Pak Darman terdengar datar, matanya tetap menatap lantai, persis seperti biasanya. Kevin menoleh sekilas ke arah Pak Darman. "Oh, terima kasih, Pak... Pak siapa namanya?" "Darman, Tuan," jawab Pak Darman singkat. "Ah, iya, Pak Darman. Terima kasih ya," Kevin menyesap kopinya lalu kembali menatap Arumi. "Sayang, hari ini vendor bunga akan mengirimkan contoh mawar putih dari Belanda. Aku ingin kita melihatnya bersama di taman belakang." Mendengar kata 'taman belakang', Arumi hampir tersedak air liurnya sendiri. Itu adalah wilayah kekuasaan Pak Darman. Ia takut melihat pria itu di sana. "E-eh, apa tidak sebaiknya di teras depan saja, Vin? Di belakang sepertinya sedang ada perbaikan saluran air, agak berantakan." "Oh, ya? Tapi kata Papa tadi taman belakang sudah rapi," Kevin mengerutkan kening, merasa ada yang aneh dengan nada bicara Arumi. Pak Broto segera menengahi, "Maksud Arumi, dia ingin suasana baru, Vin. Teras depan lebih sejuk pagi ini.""Rapatnya selesai lebih cepat karena aku menekan mereka habis-habisan. Aku merindukanmu, jadi aku langsung pesan tiket pesawat pertama untuk pulang," kata Kevin dengan nada yang tidak biasanya, ia tampak sangat bersemangat.Malam itu, Kevin bersikap sangat berbeda. Dia yang biasanya langsung sibuk dengan urusan kantor, kali ini justru terus menempel pada Arumi. Saat Arumi hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Kevin mengikutinya dari belakang."Arumi, biarkan pelayan saja yang mengurus pakaian kotor itu. Sini, duduklah sebentar bersamaku," pinta Kevin sambil menarik tangan Arumi ke arah tempat tidur.Kevin merebahkan kepalanya di pangkuan Arumi, sebuah gerakan manja yang sangat jarang ia lakukan. Arumi terpaksa mengusap rambut suaminya dengan lembut, meskipun pikirannya masih tertinggal di teras rumah Pak Darman. Ia merasa sangat canggung. Hanya beberapa jam yang lalu ia bersandar di bahu pria tua di desa, dan sekarang suaminya yang sah sedang mencari perhatian di pangku
"Terima kasih untuk teh dan ceritanya, Pak. Saya merasa jauh lebih baik sekarang," kata Arumi.Pak Darman mengantar Arumi sampai ke depan pagar kayu. Tidak ada lagi pelukan yang penuh nafsu, hanya sebuah jabat tangan erat yang penuh rasa hormat. Namun, saat Arumi hendak melangkah pergi, Pak Darman membisikkan sesuatu yang membuat Arumi tertegun."Jaga diri baik-baik, Non. Akal sehat Non adalah pelindung Non, tapi hati Non adalah penunjuk jalan. Jangan biarkan orang lain memadamkan cahaya di mata Non."Arumi mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya. Dia merasa tenang, namun ketenangan itu sedikit terusik saat dia melihat sebuah mobil hitam misterius yang tadinya terparkir di ujung jalan kini mulai menyalakan lampu mesinnya saat mobil Arumi mulai bergerak.Arumi melangkah perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya di bawah pohon besar. Sebelum membuka pintu, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah kecil itu. Ia melihat Pak Darman masih berdiri di depa
Arumi tersentak kecil. Bayangan wajah Kevin yang sedang bekerja di Surabaya, bayangan statusnya sebagai Nyonya Adiwangsa, dan kenyataan bahwa kontrak pernikahan mereka sudah lama berakhir, mendadak muncul seperti pagar yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang mereka bukan lagi suami istri, bahkan secara rahasia sekalipun. Apa yang sedang dia lakukan ini adalah sebuah pengkhianatan yang sangat nyata."Pak... tunggu sebentar," bisik Arumi sambil memegang tangan Pak Darman yang mulai meraba ke arah atas.Pak Darman menghentikan gerakannya. Dia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Arumi dengan tatapan yang penuh tanya namun tetap sabar. "Ada apa, Non? Apa Bapak terlalu kasar?""Bukan, Pak. Bukan itu," Arumi membalikkan badan, menatap Pak Darman dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya... saya mendadak takut. Kita sekarang bukan siapa-siapa lagi, Pak. Saya istri orang. Saya takut kalau saya kebablasan, saya tidak akan bisa kembali lagi ke hidup saya yang dulu."Arumi mencoba merapikan pakaiannya
Arumi masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya. Dia mengambil ponsel rahasianya dengan tangan gemetar. Dia sangat ingin menelepon Pak Darman, hanya untuk mendengar suara parau yang menenangkan itu. Arumi meraba perut dan dadanya sendiri, merasakan sensasi panas yang tidak tersalurkan. Dia mengingat betapa nikmatnya saat Pak Darman bergerak cepat di dalam dirinya, memberikan rasa sesak yang membahagiakan."Kenapa hidupku jadi begini," bisik Arumi sambil menahan tangis.Dia merasa tersiksa. Di satu sisi dia adalah istri terhormat yang harus menjaga martabat, namun di sisi lain, dia adalah wanita yang sedang kelaparan akan cinta yang nyata. Kehidupan kota yang gemerlap ini tidak bisa memberikan kehangatan yang ia dapatkan dari pelukan seorang pria tua di pinggiran desa. Gairah yang menumpuk itu kini menjadi beban yang sangat berat bagi Arumi.Malam itu, Arumi tidur di samping Kevin yang sudah mendengkur halus. Di dalam mimpinya, dia kembali ke kamar kayu di desa. Dia merasakan tangan Pa
Setiap malam setelah pulang dari kantor, Kevin biasanya langsung sibuk dengan tabletnya atau menonton berita ekonomi di ruang tengah. Dia jarang bertanya tentang bagaimana perasaan Arumi, atau apa yang sedang dipikirkan istrinya. Dia merasa sudah cukup menjadi suami yang baik dengan memberikan segalanya yang bisa dibeli dengan uang."Arumi, besok kita harus hadir di pembukaan galeri seni milik Pak Surya. Pastikan kamu pakai kalung berlian yang baru aku beli ya," ujar Kevin tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya."Iya Kevin, aku sudah siapkan," jawab Arumi singkat dari balik pintu kamar mandi.Lama Arumi di kamar mandi mulai menjadi rutinitas baru. Di sana, di balik pintu yang terkunci, Arumi duduk di tepi bathtub sambil menggenggam ponsel kecil yang ia sembunyikan di dalam kotak kosmetik. Dia baru saja mengirim paket berisi ponsel serupa ke desa untuk Pak Darman lewat kurir rahasia. Arumi menunggu dengan jantung berdebar sampai sebuah pesan singkat masuk."Non, ponselnya sud
"Arumi, kenapa dari tadi kamu terus memegang lehermu? Dan kenapa kamu terlihat sedikit pincang saat berjalan?" tanya Kevin dengan nada yang mulai menyelidik.Arumi membeku sejenak. Ia sadar bahwa tubuhnya memang masih terasa sedikit pegal dan perih akibat gerakan cepat Pak Darman yang luar biasa tadi pagi."Oh, ini... sepertinya aku salah posisi tidur saat di perjalanan tadi, Kevin. Mobilnya kan sempat mogok dan aku harus menunggu lama di tempat yang kurang nyaman," jawab Arumi cepat dengan alasan yang sudah ia siapkan.Kevin mengangguk pelan, meskipun matanya masih menatap Arumi dengan aneh. "Lain kali kalau mobil bermasalah, langsung telepon aku saja agar aku kirim helikopter. Aku tidak mau istriku harus menderita di tempat sembarangan."Malam itu, saat mereka sudah berada di kamar tidur dan Kevin mencoba untuk mendekati Arumi untuk bermesraan, Arumi segera berpura-pura mengantuk dan membelakangi Kevin. Ia merasa tidak sanggup jika harus disentuh Kevin saat ingatan tentang penyatuan
Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke arah taman, Pak Darman duduk di atas sebuah kursi kayu kecil. Ia tidak berani menyentuh kasur, bahkan tidak berani menginjak karpet bulu milik Arumi. Pria tua itu hanya duduk membeku dengan tas kain kusam di pangkuannya. Ia masih mengenakan batik us
Para petugas mulai menggeledah setiap sudut. Mereka memeriksa lemari, memotret interior rumah, dan mencatat nomor mesin mobil-mobil di garasi. Pak Darman hanya bisa berdiri gemetar saat beberapa petugas mendekatinya untuk menanyakan identitas dan latar belakangnya."Bapak Darman, Bapak benar-benar
Selama pembicaraan itu, Arumi melirik Pak Darman yang sedang merapikan meja. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada kilat kesedihan dan rasa bersalah di mata tua Pak Darman, namun Arumi membalasnya dengan tatapan penuh kebencian dan peringatan agar pria itu tetap tutup mulut."Ayo, Vin, kita ke dep
Hendra menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Tapi, jika aset itu berpindah tangan melalui pernikahan dengan seseorang yang 'tidak terlihat'—seseorang yang tidak punya sejarah bisnis, tidak punya harta, dan tidak dicurigai—kita bisa mengklaim bahwa itu adalah hibah atau mahar yang sudah diatur l







