Home / Romansa / Mahar Rahasia Tukang Kebun / Sandiwara hari Pertama

Share

Sandiwara hari Pertama

Author: Gudet
last update Last Updated: 2026-01-02 21:54:47

Tiba-tiba, suara sirine terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Wajah Pak Hendra menegang. "Itu mungkin bukan untuk kita, tapi kita tidak punya waktu lagi. Penghulu sudah menunggu di ruang bawah tanah. Kita harus turun sekarang."

"Aku tidak mau!" Arumi berteriak, mencoba lari menuju pintu.

Namun, Pak Broto mencekal lengannya. "Arumi! Lihat Papa! Apa kamu mau Papa masuk sel malam ini juga? Apa kamu mau Kevin melihat kamu digelandang polisi karena dianggap ikut menyembunyikan uang Papa? Hanya ini jalannya! Setelah semua tenang, Papa janji akan mengurus perceraianmu. Hanya beberapa bulan, Arumi. Tolong!"

Arumi terisak hebat. Tubuhnya lemas. Ia membayangkan hidupnya yang sempurna—pesta mewah, gaun indah, dan masa depan bersama Kevin—kini harus ternoda oleh sebuah tanda tangan di samping nama seorang pelayan tua.

Dengan langkah gontai dan dipapah oleh ayahnya, Arumi berjalan menuju ruang bawah tanah yang biasanya digunakan sebagai gudang penyimpanan anggur. Di sana, seorang pria paruh baya dengan pakaian koko putih sudah menunggu di depan sebuah meja kecil. Ada dua orang penjaga keamanan rumah yang merangkap sebagai saksi.

Arumi melihat meja itu dengan rasa mual. Di atas meja ada sebuah buku nikah dan beberapa dokumen pengalihan aset.

"Silakan duduk," ucap sang Penghulu dengan suara tenang, tidak menyadari ketegangan luar biasa yang terjadi.

Pak Darman duduk di sebelah Arumi. Jarak mereka hanya beberapa senti, tapi bagi Arumi, jarak itu terasa seperti jurang yang penuh dengan kotoran. Ia bisa mencium aroma minyak kayu putih dan sabun murah dari baju batik Pak Darman, sangat berbeda dengan parfum mahal yang biasa dipakai Kevin.

"Saudara Darman bin Yusuf," Penghulu mulai memulai prosesi.

Tangan Arumi gemetar hebat saat ia harus meletakkan tangannya di atas meja. Ia menatap ke langit-langit, mencoba menahan air mata agar tidak jatuh ke atas dokumen itu. Di dalam kepalanya, ia terus memohon maaf pada Kevin, meskipun ia tahu pengkhianatan ini—meski terpaksa—akan menjadi noda yang sulit dihapus.

"Bagaimana, saksi? Sah?"

"Sah."

Kata "Sah" itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Arumi. Saat ia diminta menyalami tangan Pak Darman sebagai simbol bakti seorang istri untuk pertama kalinya, Arumi hanya menyentuh ujung jari pria tua itu dengan rasa jijik yang luar biasa, lalu segera menariknya kembali dan mengusap tangannya ke gaunnya sendiri.

"Sudah selesai," bisik Pak Hendra lega. "Aset sudah berpindah. Sekarang, Pak Darman, kembali ke kamar belakang. Non Arumi, hapus air matamu. Besok Kevin akan datang pagi-pagi sekali."

Arumi berdiri tanpa berkata apa-apa. Ia menatap Pak Darman dengan tatapan penuh kebencian. "Jangan pernah berpikir Bapak benar-benar suami saya. Di mata saya, Bapak tetaplah orang yang membersihkan kotoran di taman saya. Jangan pernah sentuh saya, jangan pernah bicara pada saya."

Pak Darman hanya menunduk, ia memegang buku nikah itu dengan tangan gemetar, merasa bahwa beban yang ia pikul sekarang jauh lebih berat daripada memindahkan berkarung-karung pupuk di bawah terik matahari.

Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, menyinari embun yang masih menempel di kelopak mawar yang kemarin sore disiram oleh Pak Darman. Di dalam kamar mewahnya, Arumi terbangun dengan perasaan seolah seluruh dunianya telah tertimbun reruntuhan. Ia menatap telapak tangannya sendiri, teringat sentuhan singkat nan kasar dari tangan Pak Darman saat akad rahasia semalam. Rasa mual kembali muncul, namun ia tidak punya waktu untuk terpuruk.

"Non, Tuan Kevin sudah di depan. Dia membawakan sarapan favorit Non," suara pelayan dari balik pintu mengejutkannya.

Arumi tersentak. Ia segera berlari ke arah cermin. Lingkaran hitam di bawah matanya sangat jelas. Dengan terburu-buru, ia memoleskan concealer tebal, bedak, dan pemerah pipi untuk menyembunyikan wajah pucatnya. Ia harus terlihat seperti calon pengantin yang bahagia, bukan wanita yang baru saja menggadaikan martabatnya pada seorang pembantu tua.

Saat Arumi turun ke lantai bawah, ia melihat Kevin sedang berdiri di ruang tamu, tampak sangat tampan dengan kemeja polo berwarna biru cerah. Ia sedang berbincang ringan dengan Pak Broto yang, meski terlihat lelah, sudah mampu memasang kembali topeng wibawanya.

"Pagi, Sayang!" Kevin menyambut Arumi dengan pelukan hangat dan kecupan di dahi. "Kamu kok kelihatannya agak pucat? Kurang tidur karena memikirkan konsep dekorasi?"

Arumi memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sedikit sumbang di telinganya sendiri. "Iya, Vin. Aku terlalu bersemangat sampai susah tidur. Kamu tahu kan, aku ingin semuanya sempurna."

"Jangan terlalu stres, Sayang. Ingat, ada aku di sini," ujar Kevin lembut sambil mengelus pipi Arumi.

Tepat saat itu, Pak Darman masuk melalui pintu samping membawa nampan berisi kopi untuk Pak Broto dan Kevin. Arumi merasakan tubuhnya menegang kaku. Jantungnya berdegup kencang, takut jika Pak Darman melakukan kesalahan atau menunjukkan gelagat yang aneh.

"Ini kopinya, Tuan," suara Pak Darman terdengar datar, matanya tetap menatap lantai, persis seperti biasanya.

Kevin menoleh sekilas ke arah Pak Darman. "Oh, terima kasih, Pak... Pak siapa namanya?"

"Darman, Tuan," jawab Pak Darman singkat.

"Ah, iya, Pak Darman. Terima kasih ya," Kevin menyesap kopinya lalu kembali menatap Arumi. "Sayang, hari ini vendor bunga akan mengirimkan contoh mawar putih dari Belanda. Aku ingin kita melihatnya bersama di taman belakang."

Mendengar kata 'taman belakang', Arumi hampir tersedak air liurnya sendiri. Itu adalah wilayah kekuasaan Pak Darman. Ia takut melihat pria itu di sana. "E-eh, apa tidak sebaiknya di teras depan saja, Vin? Di belakang sepertinya sedang ada perbaikan saluran air, agak berantakan."

"Oh, ya? Tapi kata Papa tadi taman belakang sudah rapi," Kevin mengerutkan kening, merasa ada yang aneh dengan nada bicara Arumi.

Pak Broto segera menengahi, "Maksud Arumi, dia ingin suasana baru, Vin. Teras depan lebih sejuk pagi ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Diperkenalkan oleh Suami

    "Iya aku tahu Kevin aku sudah siapkan tim terbaik untuk itu" kata Arumi lagi.Tiba-tiba ponsel Arumi bergetar ada pesan masuk dari sekretaris pribadinya di kantor. Arumi membacanya sebentar lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja."Siapa yang kirim pesan pagi-pagi begini" tanya Kevin dengan nada sedikit penasaran."Cuma sekretarisku dia tanya soal jadwal pengiriman bahan kain dari Italia saja" jawab Arumi dengan sangat santai."Oh begitu kirain ada hal penting lain" sahut Kevin sambil kembali fokus pada makanannya.Setelah sarapan selesai Arumi mengantar Kevin sampai ke depan mobil. Dia menunggu sampai mobil Kevin keluar dari gerbang rumah sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam. Arumi berjalan menuju taman belakang rumah yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Dia melihat seorang tukang kebun baru sedang memotong rumput dengan rapi. Arumi berhenti sebentar dan memperhatikan kerja orang itu."Pak tolong mawar yang di sud

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Minta Cucu

    Kehidupan Arumi sekarang sudah sangat teratur dan sibuk setiap hari. Dia bangun pagi saat matahari belum terlalu terik lalu menyiapkan keperluan Kevin sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Meskipun di rumah mereka punya banyak asisten rumah tangga Arumi tetap turun ke dapur untuk memastikan kopi Kevin tidak terlalu manis dan rotinya dibakar dengan pas.Pagi itu Kevin turun ke ruang makan sambil merapikan dasinya. Arumi menghampiri Kevin dan membantu merapikan kerah kemejanya supaya terlihat lebih gagah."Terima kasih Arumi kamu selalu tahu cara membuat penampilanku sempurna" kata Kevin sambil tersenyum puas melihat bayangannya di kaca ruang makan."Itu sudah jadi tugas aku Kevin kan kita harus selalu terlihat kompak di depan orang banyak" jawab Arumi pelan sambil memberikan tas kerja Kevin."Nanti malam jangan lupa ya kita ada undangan makan malam dengan kolega dari Singapura kamu pakai gaun yang kita beli di Paris kemarin saja" ujar Kevin lag

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Nyonya Adiwangsa

    Siang harinya, mereka tiba di gedung perkantoran mewah di kawasan kota. Di hadapan para investor Eropa, Arumi dan Kevin adalah definisi dari "Pasangan Emas". Arumi tampil begitu berwibawa, mempresentasikan rencana ekspansi mereka dengan kecerdasan yang memukau para hadirin.Kevin duduk di sampingnya, sesekali merangkul bahu Arumi atau menggenggam tangannya saat negosiasi mencapai titik krusial. Siapa pun yang melihat mereka akan menyangka bahwa mereka baru saja melewati malam pengantin yang paling romantis dalam sejarah. Arumi memainkan perannya dengan sangat mahir; ia tertawa pada lelucon Kevin dan menatap suaminya itu dengan binar kebanggaan yang meyakinkan.Namun, setiap kali Kevin menyentuhnya, Arumi merasakan sebuah getaran yang hampa. Ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam sebuah sangkar emas yang sangat kokoh. Kevin mencintainya dengan cara memiliki, cara yang sama seperti Kevin mencintai koleksi mobil mewah atau saham perusahaannya.Selesai per

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kehidupan Setelah Pernikahan

    Malam di Paris seharusnya menjadi puncak dari segala penantian. Setelah keriuhan pesta pernikahan di Jakarta dan padatnya jadwal pertemuan bisnis di hari pertama mereka tiba, malam ini adalah waktu yang dijanjikan sebagai "penyatuan" yang sesungguhnya. Kevin telah menyiapkan segalanya dengan kesempurnaan seorang Adiwangsa: kamar Royal Suite yang dipenuhi kelopak mawar putih, aroma lilin esensial yang menenangkan, dan pemandangan Menara Eiffel yang berpendar keperakan di balik jendela besar.Arumi, yang telah memantapkan hati dengan segala keikhlasannya, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegugupan. Ia keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang anggun. Di dalam hatinya, ia sudah bersiap memberikan seluruh pengabdiannya kepada Kevin. Ia ingin malam ini menjadi fondasi baru, menghapus memori masa lalu yang pernah ia lalui secara sembunyi-sembunyi.Namun, realita seringkali memiliki cara yang pahit untuk menunjukkan wajah aslinya.

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Cinta & Kehormatan

    Mendengar itu, Arumi merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Kevin, dengan segala ambisinya, juga memiliki sisi empati yang dalam. Kevin menerima Arumi seutuhnya, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah diceritakan secara lisan.Arumi menggenggam tangan Kevin, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. "Terima kasih, Kevin. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku menjadi orang yang paling sulit untuk dicintai. Malam ini, aku memberikan seluruh diriku padamu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tembok."Malam itu menjadi momen di mana kasta, bisnis, dan gengsi keluarga melebur menjadi satu perasaan yang tulus: rasa memiliki. Arumi merasakan kenyamanan yang berbeda. Jika dulu ia menyerahkan diri dalam rasa takut dan sembunyi-sembunyi, kini ia menyerahkan diri dalam kedaulatan seorang istri yang sah dan terhormat.Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang banyak hal, bukan soal merger

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Pernikahan dengan Kevin

    Hari yang dinanti-nantikan oleh dua keluarga besar Atmodjo dan Adiwangsa akhirnya tiba. Langit Jakarta seolah ikut merayakan, memberikan cuaca cerah yang menyempurnakan suasana di ballroom hotel bintang lima yang telah disulap menjadi taman firdaus bernuansa putih dan emas. Wangi bunga melati dan mawar putih merebak, menyambut para tamu terhormat yang datang untuk menyaksikan penyatuan dua imperium bisnis terbesar di negeri ini.Namun, di balik kemegahan itu, ada sebuah keharuan mendalam yang menyelimuti hati setiap orang yang mengetahui perjalanan panjang sang Putri Mahkota. Pintu besar ballroom terbuka perlahan. Musik instrumen yang syahdu mulai mengalun, mengiringi langkah Arumi yang didampingi oleh Pak Broto. Arumi tampak sangat memukau dalam balutan kebaya akad nikah berwarna putih gading dengan ekor panjang yang menyapu lantai. Cadar tipis yang menutupi wajahnya tidak mampu menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya.Pak Broto menggenggam tangan pu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status