Home / Romansa / Mahligai Abu dan Berlian / BAB 6: PERMALUNAN DI DEPAN PUBLIK

Share

BAB 6: PERMALUNAN DI DEPAN PUBLIK

Author: ryoonella
last update Last Updated: 2025-12-03 21:34:34

Pesta ulang tahun perusahaan akhirnya tiba. Bagi Ayu, ini terasa seperti maju ke medan perang. Ketegangan sudah memuncak selama seminggu terakhir.

Ratna sengaja memilih gaun untuk Ayu. Berwarna krem muda dengan model yang sangat sederhana, seolah ingin Ayu menyamar menjadi pelayan.

"Ini cocok buatmu," katanya sinis. Sementara itu, Ayu mendengar Ratna memesankan gaun untuk Sasha. Desainer langsung dari Paris, berwarna merah menyala. Sudah pasti akan sangat mencolok.

Ayu memilih diam. Ia berpikir, biarkan saja. Malam ini ia hanya ingin bertahan. Namun, ia tetap membawa satu barang kecil: flashdisk berisi foto-foto bukti.

Siapa tahu perlu dibuka di depan umum? Jika diprovokasi terlalu jauh, ia tidak menjanjikan bisa menahan diri. Ia sudah lelah menjadi korban.

Sesampainya di lokasi acara, nyali Ayu langsung menciut. Tempatnya sangat mewah. Lampu kristal dan bunga segar menghiasi setiap sudut. Para tamu semuanya dari kalangan elite.

Bima datang sendiri, mengenakan tuksedo, tampak sangat tampan. Namun, wajahnya terlihat dingin kepada Ayu. "Jangan bikin malu keluarga," bisiknya di telinga Ayu.

Ayu hanya mengangguk. Ia masuk, mencoba mencari tempat yang nyaman. Namun, Ratna segera menyeretnya berkeliling.

"Ini istri Bima, Ayu," perkenalannya terdengar datar. Tidak ada embel-embel "anak saya" atau "menantu saya".

Hanya "istri Bima". Seolah-olah Ayu hanyalah sebuah properti. Para tamu hanya tersenyum tipis, tatapan mereka penuh penilaian.

Lalu, kejadian yang paling ditunggu Ratna terjadi. Sasha datang. Semua orang langsung terpana. Gaun merahnya benar-benar spektakuler.

Ia berjalan pelan, anggun seperti seorang model. Rambut pirangnya ditata sempurna. Ratna langsung menghampiri dan memeluknya erat. "Sayang! Kamu cantik sekali!"

Kontras sekali dengan sambutan kepada Ayu tadi. Ayu merasa dirinya seperti sampah. Bima juga langsung mendekat, dengan senyum lebar.

"Sasha, kamu luar biasa." Mereka bertiga-Ratna, Bima, Sasha-terlihat seperti keluarga inti. Ayu hanya menonton dari jauh. Ia tidak diundang untuk masuk ke lingkaran itu.

Saat makan malam, pengaturan tempat duduknya semakin memperjelas status Ayu. Bima duduk di meja utama. Di sebelah kirinya Sasha. Di kanannya, Ratna.

Ayu? Ia duduk di meja paling ujung, bersama sepupu-sepupu jauh yang jarang bertemu. Mereka sibuk mengobrol sendiri, tidak ada yang mengajak Ayu berbicara.

Ia mencoba makan, tetapi makanannya terasa tidak enak. Tenggorokannya seperti ada yang menyangkut. Dari kejauhan, ia melihat Bima sedang mengobrol asyik dengan Sasha.

Mereka tertawa, bersentuhan tangan, dan bertukar tatapan mesra. Semua orang pasti melihat, tetapi mereka pura-pura tidak tahu, atau mungkin memang tidak peduli.

Setelah makan, tiba sesi dansa. Bima langsung mengajak Sasha. Mereka berdua memasuki lantai dansa, terlihat seperti pasangan resmi.

Ayu ditinggalkan sendirian di kursi. Beberapa tamu mulai berbisik. Ayu mendengar sepenggal-sepenggal. "...dicuekin..." "...mantan lebih cocok..." "...kasihan ya..." Wajahnya memanas karena malu.

Ratna datang, duduk di sampingnya. "Kamu lihat? Mereka cocok banget," bisiknya. "Dari dulu udah gitu. Kamu cuma gangguan sementara." Ayu tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam flashdisk di tas kecilnya. Tangannya berkeringat. Ia ingin sekali lari, tetapi kakinya terasa terkunci.

Lalu, kejadian yang paling menyebalkan terjadi. Dion, adik Bima yang sombong, datang dengan segelas anggur merah. Ia pura-pura tersandung.

Anggurnya tumpah tepat di gaun Ayu. Warna merah menyebar di bagian dada dan perut. Gaun kremnya rusak total. "Aduh! Maaf ya, Mbak!" katanya sambil tertawa.

Semua orang melihat. Ada yang terkejut, ada yang tertawa kecil. Ayu berdiri, tidak tahu harus berbuat apa. Gaunnya basah dan belepotan.

Ratna langsung beraksi. "Ayu! Lihat nih! Kamu bahkan nggak bisa duduk dengan benar!" teriaknya. Suaranya keras, semua orang mendengar. "Bawa malu aja! Gaun mahal-mahal begini dirusak!"

Ratna terus mempermalukan Ayu. Ayu tidak bisa bergerak. Ia seperti dihujam di tempat. Bima hanya melihat dari kejauhan.

Wajahnya tanpa ekspresi. Ia tidak datang menolong, tidak memarahi adiknya. Ia bersikap acuh tak acuh. Sasha malah tersenyum-senyum kecil, puas melihat rivalnya dipermalukan.

Ayu merasa air mata hendak keluar, tetapi ia menahan diri. Ia tidak ingin memberi mereka kepuasan.

"Maaf, aku ke toilet dulu," bisik Ayu. Suaranya gemetar. Ia berjalan cepat, menghindari tatapan orang, menuju ke arah toilet yang letaknya jauh.

Sesampainya di toilet, ia masuk ke salah satu bilik. Barulah ia menangis. Diam-diam. Gaunnya rusak, perasaannya hancur. Ia membenci malam ini. Membenci semua orang di sini.

Setelah beberapa menit, ia mencoba membersihkan gaunnya menggunakan tisu. Namun, noda anggur merah sulit hilang, malah semakin melebar.

Semuanya kacau. Ia keluar dari bilik, berniat melihat di kaca. Tiba-tiba, ia mendengar suara dari luar. Pintu toilet utama terbuka.

Dua orang masuk. Suara Ratna dan Sasha. Ayu buru-buru masuk lagi ke bilik, mengunci pintunya sedikit. Ia tidak mau bertemu mereka dalam keadaan seperti ini.

"Tadi itu bagus banget," kata Sasha sambil tertawa.

"Dion memang jago akting. Anggurnya tumpah pas banget." Ratna ikut tertawa.

"Iya. Sekarang semua melihat dia tidak pantas ada di sini. Gaun murah, sikap pas-pasan." Ayu tidak percaya. Jadi, tumpahan anggur itu sudah direncanakan? Untuk mempermalukannya lebih dalam?

Mereka benar-benar kejam.

"Tapi Bima masih nggak setuju buat cerai," keluh Sasha.

Ratna menghela napas. "Bima itu keras kepala. Tapi tenang, Ibu yang atur."

"Gimana caranya?" tanya Sasha penuh harap. Ratna berbisik pelan, tetapi Ayu masih mendengarnya.

"Bersabarlah. Ayu nggak akan lama lagi di sini."

"Serius, Bu?" Sasha terdengar senang.

"Iya. Ibu udah atur semuanya. Sebelum ulang tahunmu bulan depan, dia akan pergi."

"Maksudnya... pergi gimana?" tanya Sasha agak ragu. Ratna tertawa kecil.

"Jangan khawatir. Legal dan bersih. Tapi dia pasti enggak betah." Mereka akhirnya keluar dari toilet. Ayu keluar dari bilik, wajahnya pucat.

"Nggak akan lama lagi di sini." Apakah itu ancaman atau sebuah rencana? Apakah mereka mau mengusirnya secara paksa? Atau membuat skandal agar ia minggat sendiri? Ayu tidak tahu. Namun, ia merasa dalam bahaya.

Ia melihat dirinya di cermin. Gaun rusak, mata sembab. Tetapi di balik itu, ada tekad yang semakin kuat. Mereka ingin mengusirnya? Silakan coba.

Ayu mengambil ponsel, memotret kondisi gaunnya. Lalu ia merekam suaranya yang berkata, "6 November. Gaun dirusak Dion, direncanakan Ratna dan Sasha." Ia simpan sebagai bukti.

Siapa tahu nanti diperlukan. Ia akhirnya keluar dari toilet dan langsung pulang naik taksi. Ia tidak berpamitan kepada siapa pun.

Biarkan saja mereka mencarinya. Biarkan Bima malu karena istrinya menghilang. Ayu sudah lelah bermain sesuai aturan mereka.

Di taksi, ia menangis lagi. Namun, kali ini tangisannya berubah, dari sedih menjadi marah, dari lemah menjadi bertekad.

Mereka pikir dengan memalukan dirinya, ia akan lari? Salah besar. Itu malah membuatnya ingin membalas dendam dengan cara yang lebih cerdas.

Keesokan harinya, Ratna pasti akan marah besar karena ia pulang duluan. Bima akan mengomel. Tetapi Ayu sudah siap. Ia punya rekaman, foto, dan bukti-bukti lainnya.

Waktunya mulai melawan. Dan pertarungannya tidak akan lagi di pesta, tetapi di balik layar, di mana ia yang memegang kendali. Mereka ingin ia pergi? Ia malah akan bertahan dan membuat merekalah yang pergi.

Taksi akhirnya sampai di rumah. Sunyi. Para pelayan sudah diliburkan untuk ikut pesta. Ayu masuk, melepaskan gaun rusak itu. Ia berganti dengan piyama biasa.

Lalu mengambil laptop. Ia mulai riset tentang hukum pernikahan, hak istri, dan cara investigasi finansial.

Malam itu, ia hanya tidur dua jam. Tetapi ia terbangun dengan semangat baru. Babak baru telah dimulai. Dan Ayu siap menjadi pemain utamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 69: EPILOG

    “Tahun depan, aku ingin mengembangkan program beasiswa.” Kania memulai dengan suara jelas.“Khusus untuk anak-anak marjinal di daerah terpencil.” Matanya berbinar dengan tekad.Aran segera menyambung. “Aku sedang mengerjakan aplikasi baru.”“Aplikasi yang menyambungkan donor langsung ke penerima.” Tangannya membuat gerakan menghubungkan.“Tanpa perantara yang memotong bantuan.” Senyumnya penuh semangat.Dion dan Rara saling berpandangan. Lalu berbicara serempak. “Kami ingin memperluas yayasan.”“Ke wilayah-wilayah konflik yang terlupakan.” Suara Dion tegas.“Banyak anak-anak di sana yang membutuhkan bantuan.” Rara menambahkan dengan lembut.Ayu tersenyum bangga melihat mereka. Visi keluarga mereka terus bertumbuh. Semakin luas dan semakin dalam.“Kalian semua luar biasa,” ucap Bima dengan suara bergetar. Tangannya menutupi matanya sejenak.“Nenek dan kakek pasti sangat bangga.” Ayu menambahkan sambil memegang tangan Bima.Malam semakin larut. Angin malam berhembus sepoi-sepoi. Membawa

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 68: PELABUHAN AKHIR

    Ayu dan Bima duduk di bangku kayu taman mereka. Bangku itu sudah lapuk dimakan usia. Namun tetap kokoh menopang mereka berdua.Usia telah mengukir tanda di wajah mereka. Keriput halus seperti peta pengalaman hidup. Namun mata mereka masih berbinar sama seperti dulu.Di tangan Ayu yang sudah berbercak bintik, tergenggam secarik kertas usang. Kertas itu lembut dan rapuh di ujung-ujungnya. Surat terakhir dari Ratma yang dia simpan selama tiga puluh tahun.“Dia menulis ini saat tahu ajalnya mendekat,” ucap Ayu dengan suara parau. Dia membacanya untuk kesekian kalinya.“Saat dia tahu dia tak punya banyak waktu lagi.” Jarinya menelusuri tulisan tangan Ratma yang sudah memudar.Bima mengangguk perlahan. Matanya berkaca-kaca. “Dan dia tidak pernah salah tentang kita.”“Kita benar-benar telah membangun rumah.” Tangannya menunjuk ke arah rumah besar di belakang mereka.“Dari semua puing-puing yang ditinggalkannya.” Suaranya bergetar penuh syukur.Anak-anak dan cucu-cicit mereka bermain di halam

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 67: CAHAYA ITU ADA

    Di sesi tanya jawab, suasana menjadi lebih hidup. Seorang wanita muda berdiri dengan gemetar. Mikrofon di tangannya bergetar.“Bagaimana caranya memaafkan orang yang tidak merasa bersalah?” Suaranya lirih dan penuh rasa sakit.“Kamu tidak perlu memaafkan mereka.” Jawaban Ayu langsung dan tegas. “Itu bukan kewajibanmu.”“Maafkan dirimu sendiri terlebih dahulu.” Pandangannya penuh kasih. “Maafkan dirimu karena membiarkan rasa sakit itu mengontrol hidupmu.”Wanita itu menangis terisak. Seorang pria paruh baya mengambil alih mikrofon. Wajahnya tampak keras namun penuh pertanyaan.“Apa tidak takut dicuekin saat membuka semua ini?” Suaranya berat.“Pernah takut.” Ayu mengangguk jujur. “Sangat takut.”“Tapi aku lebih takut hidup dalam kebohongan.” Matanya berbinar dengan keberanian. “Kebenaran memang pahit.”“Tapi kebenaran membebaskan.” Senyumnya melebar. “Dan itu sepadan dengan segala risikonya.”Seminar berakhir dengan standing ovation meriah. Ratusan orang berdiri serentak. Tepuk tangan

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 65: MAHLIGAI ABADI

    Keesokan paginya, mereka bersiap pulang dengan hati berat. Perasaan campur aduk mengisi dada setiap anggota keluarga. Mereka meninggalkan tempat yang telah memberikan kedamaian.“Gue masih pengen ngerasain dinginnya udara sini tiap pagi,” keluh Alika sambil memandang ke arah danau. Suaranya terdengar sayu.“Jangan sedih, dik. Kita bisa balik lagi tahun depan,” bujuk Kania sambil merangkul pundak adiknya. Senyumnya menenangkan.Sebelum berangkat, mereka berfoto bersama di depan danau. Posisi diatur dengan ceria oleh anak-anak muda. Semua tersenyum lebar dan tulus.Wajah mereka memancarkan kepuasan hidup yang mendalam. Latar danau yang tenang menyempurnakan momen. Kenangan ini akan abadi.“Ini hidup yang sebenernya,” bisik Ayu pada Bima. Ia melihat hasil foto di ponsel. Matanya berbinar penuh rasa syukur.“Hidup yang penuh makna dan cinta,” lanjutnya dengan suara lirih. Jarinya menelusuri wajah-wajah dalam foto. Hatinya terasa hangat.Bima memeluk bahu istrinya dengan lembut. “Yang kita

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 66: KEKUATAN DALAM KELEMAHAN

    Ayu berdiri tegak di atas panggung yang luas. Ratusan pasang mata menantinya dengan harap. Seminar bertajuk "Membangun Kekuatan dari Kelemahan" telah dimulai.Dia adalah pembicara utama hari ini. Sebuah mikrofon kecil terpasang di dekat bibirnya. Hatinya berdebar, namun napasnya tetap tenang.“Banyak yang bilang, hidupku kayak sinetron.” Suaranya jernih terdengar di seluruh ruangan. Para hadirin tersenyum kecil.“Tapi ini beneran terjadi. Dan mungkin, ada di antara kalian yang ngerasain hal serupa.” Matanya menyapu kerumunan dengan lembut.Dia menarik napas dalam dengan sengaja. Udara dingin ruang seminar terasa di paru-parunya. Hadirin terdiri dari berbagai usia dan latar belakang.“Aku cuma mau bilang sesuatu yang sederhana.” Tangannya memegang sisi podium. “Nggak apa-apa nggak kuat.”“Nggak apa-apa nangis. Nggak apa-apa kesel.” Suaranya mantap, tidak mengandung rasa malu.“Karena dari situlah kita benar-benar mulai.” Senyum kecil muncul di wajahnya. “Dari ngakuin bahwa kita manusia

  • Mahligai Abu dan Berlian   BAB 64: HARMONI DI TEPI DANAU

    Lima tahun berlalu dengan damai penuh berkah. Keluarga besar mereka kini berkumpul di vila kayu di tepi danau. Mereka merayakan ulang tahun ke-10 pernikahan Dion dan Rara.Suasana santai dan penuh gelak tawa riang. Anak-anak sudah tumbuh menjadi remaja dan dewasa muda. Cucu-cicit pun bertambah jumlahnya dengan wajah-warga ceria.Tiga generasi hidup bersama dalam harmoni yang indah. Setiap sudut vila dipenuhi canda dan cerita. Kekayaan terasa nyata dalam kebersamaan ini.“Dulu kita nggak ada yang nyangka Dion bisa jadi suami yang bertanggung jawab kayak gini,” canda Bima sambil memangku cucu bungsunya. Matanya berbinar penuh kasih.Dion hanya bisa menggeleng geli. “Jangan ingetin masa lalu aku, dong! Aku udah berubah total!” protesnya. Namun wajahnya berseri-seri bahagia.Rara tersenyum lembut lalu memeluk suaminya. “Justru karena masa lalunya, aku lebih menghargai dia sekarang.” Pelukannya erat dan penuh makna.“Orang yang berubah itu kuat,” lanjutnya. Dion menunduk, tersentuh oleh ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status