Share

02. Bertemu Lagi

Author: Meistoria
last update Last Updated: 2025-10-07 13:01:09

“Jadi Emily,” lanjut Meliana. “Tolong jaga sikapmu. Aku tahu betul mulutmu bisa lebih tajam dari pisau.”

Emily mendengus kecil. “Iya, iya, aku tahu. Aku tidak sebodoh itu.”

Meski dalam hati, ia mengakui bahwa mulutnya memang kadang tidak terkontrol.

Tanpa menunggu, Emily bergegas menuju ruang ganti, setengah kesal. Meliana benar-benar cari gara-gara!

Sekarang sudah pukul setengah sebelas siang.

Di ruang VIP, Emily sibuk menata hidangan. Sesekali, matanya mencuri pandang pada Meliana yang tengah berbincang dengan para tamu. Ia tak bisa memungkiri, melihat betapa profesionalnya Meliana.

Hingga derit pintu terbuka terdengar, Emily terhenti sejenak, rasa penasaran menyergapnya. Suara langkah sepatu pantofel bergema di ruangan, membuat hampir semua kepala menoleh—kecuali Emily dan Meliana. Mereka tetap fokus pada posisi masing-masing, tangan sigap melayani, tapi hati Emily sulit menahan rasa ingin tahu.

Dari telinganya, Emily menangkap percakapan di meja utama, tanpa benar-benar memahami konteks percakapan itu, meski ia berusaha tetap terlihat sibuk.

“Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.”

“Sudah lama?”

 “Hampir berabad-abad kami menunggumu. Kamu dari mana saja?”

Kemudian suara pria lain— Adrian, ikut menimpali, “Kamu seperti tidak tahu Vincent saja.”

Vincent, nama itu sekilas terdengar di telinganya. Siapa itu?

Namun suasana di ruangan itu tiba-tiba berubah hening.

Percakapan terputus begitu saja.

Emily tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi perlahan perasaan aneh menjalari tubuhnya—seperti ada sepasang mata yang menatap lurus ke arahnya. Entah siapa.

Kemudian suara dari pria yang terdengar, Dominic—bertanya dengan nada bingung.

“Vin, kenapa berhenti?”

Tak ada jawaban.

Hanya hening.

Lalu suara berat dan dingin itu memecah keheningan.

“Nona kecil… kemarilah.”

Emily terpaku, menghentikan aktivitasnya sesaat.

Nona kecil?

Panggilan itu terdengar begitu familiar, seperti pernah ia dengar sebelumnya.

Ia melirik sekilas ke arah Meliana—namun perempuan itu hanya menatap balik dengan dahi berkerut, sama bingungnya.

Emily segera menunduk lagi dan masih dengan aktivitasnya, detak jantungnya berdebar tak karuan saat ini.

Apa mungkin... yang dimaksud adalah dirinya?

 Emily belum menoleh, hanya berusaha mencuri dengar—terutama saat pria bernama Adrian bertanya tentang siapa yang pria bernama Vincent maksud.

“Yang bertubuh tidak terlalu tinggi itu,” jawab Vincent.

Tubuh Emily refleks menegang.

Tidak terlalu tinggi? Apa... dirinya?

Ia melirik sekilas ke arah Meliana yang berada tak jauh darinya, lalu kembali menunduk. Meliana memang sedikit lebih tinggi darinya.

Tapi tetap saja...

Tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah dengan susah payah, mencoba meyakinkan diri bahwa yang dimaksud bukan dirinya.

Tidak mungkin! Dirinya pasti hanya terlalu ketakutan.

“Nona Emily?”

Ia terdiam saat mendengar pria itu—Adrian, menyebut namanya.

Dan jawaban pria bernama Vincent setelahnya membuat napasnya tertahan.

Degup di dadanya terasa semakin cepat, bergema di telinga. Berbagai pertanyaan berputar dalam pikirannya.

Apakah dirinya melakukan sesuatu yang salah?

Ia tak berani menatap Meliana. Wanita itu pasti tengah menatap dengan kebingungan, tapi Emily tak sanggup memastikan.

Lalu suara Dominic terdengar memanggil dirinya, “Nona Emily, Tuan Vincent memanggil Anda.”

Emily menarik napas perlahan, mencoba menenangkan diri, meski tubuhnya tetap kaku.

Tenang, Emily. Semua akan baik-baik saja.

Emily menoleh dan melangkah maju. Tatapannya membulat saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

“K–KAMU!”

Tidak mungkin!

Emily menatap pria yang tak asing itu. Senyum miringnya tertuju tepat ke arah Emily, dan nada suaranya terdengar tenang, tapi tetap menyebalkan di telinganya. Hatinya berdebar, meski wajahnya mencoba tetap tenang.

“Ternyata dunia ini sempit sekali, ya, Nona kecil? Siapa sangka kita bertemu lagi.”

Emily menelan ludah perlahan. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.

Kenapa harus bertemu dengannya lagi? Dan kenapa dia bisa ada di sini? Apa yang dia lakukan di sini? Apa Paman ini stalker?

“Kenapa diam saja?” suara itu kembali terdengar, kini dengan nada mengejek. “Masih belum menyangka kalau kita bertemu lagi?”

“Kenapa Paman ada di sini? Apa Paman menguntitku?”

Emily memperhatikan pria itu memijat pangkal hidungnya.

Hingga suara heran terdengar dari pria lain, Ethan.

“Kamu mengenalnya, Vin?”

Emily menatap Vincent. Sekilas, ia melihat pria itu menoleh ke arah Ethan sebelum kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Senyum miring Vincent membuat Emily bingung—harus marah atau merasa penasaran dengan jawaban Vincent mengenai dirinya.

“Tentu saja kenal. Karena nona kecil ini yang menabrak ku beberapa waktu lalu. Bahkan perkataannya yang lancang pun berani menyalahkan aku atas kecerobohannya sendiri.”

Rasa panas menjalar ke wajah Emily, bukti jelas kekesalannya pada pria itu. Emily membela diri—bagaimana tidak? Ia seorang perempuan dan tak mau disalahkan.

“Itu karena Pam… maksud saya, Anda yang berdiri di tengah jalan!”

Hingga hela napas panjang Vincent terdengar jelas sampai ke telinganya. Namun, tatapan Vincent yang menyorot tajam ke arah Emily.

Kenapa dia menatapku seperti itu?

Melihat pria itu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suara rendah tapi tegas terdengar.

“Nona kecil, berikan aku air hangat. Ingat… air hangat.” Kata terakhirnya menekan.

Emily menyipit curiga. Pasti dia ingin mengerjaiku, pikir Emily.

“Baik, Pam… maksud saya, Tuan."

Lalu ia berbalik pergi mengambil minuman yang di minta pria itu.

Dan sekilas, Emily menangkap senyum Vincent dari balik kaca, tapi dia tak tahu maksudnya. Rasanya sedikit tidak nyaman. Senyum itu... firasat buruk.

Sepanjang langkah, ia mendengar obrolan mereka, membahas tentang seorang yang entah siapa yang mereka bahas. Tak peduli.

Tak lama kemudian, Emily kembali dengan secangkir air hangat di nampan. Ia meletakkan gelas itu di depan Vincent, sambil menatap tak suka pada pria itu.

“Silakan diminum, Tuan. Saya pastikan suhunya tidak akan membuat Tuan mati tersedak."

Semoga dia tidak suka. Atau lebih baik, semoga dia tersedak!

Emily melihat gerakan tangan pria itu yang terulur hendak mengambil gelas, tapi begitu ujung jarinya menyentuhnya, ia menarik tangan itu kembali.

“Ah! Panas sekali! Apa kamu sengaja, huh? Ganti!”

Emily terkejut, menatapnya tak percaya. Panas? Dia pasti berbohong!

“Panas? Maksudnya apa, Tuan? Suhunya sudah sesuai—”

Vincent segera menyela, “Aku bilang ganti. Dan aku tak peduli berapa suhunya. Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia?”

Emily memejamkan mata sejenak, menahan diri agar tidak meledak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maid Kesayangan Bos Mafia   128. Akhir Kisah.

    Malam semakin larut. Emily menatap jam dinding. Jarumnya menunjuk setengah satu. “Ada apa?” suara Vincent terdengar dari sampingnya. Emily menoleh. “Aku gak bisa tidur.” “Apa mual?” tanya Vincent. Emily menggeleng pelan. Pandangannya meredup. “Aku masih kepikiran Lisa. Di mana wanita itu sekarang?” Ia menatap Vincent. “Bawa aku ke tempat Lisa.” “Buat apa?” Vincent mengernyit. Tangan Emily mengepal di atas selimut. “Kalau kamu gak mau, aku ke sana sendiri.” Ia hendak bangkit, tapi pergelangan tangannya ditahan. Vincent menghela napas. “Baiklah.” “Ayo, sekarang,” desak Emily. Tak lama kemudian, mereka pun beranjak, menuju tempat Lisa berada. ••• Sesampainya di sana, Emily melangkah masuk dengan tergesa. “Sayang, hati-hati.” Brak. Pintu dibukanya kasar. Lampu temaram menggantung, mengayun pelan. Di sudut ruangan, seorang wanita meringkuk di lantai. Senyum Emily terangkat tipis. “Grace. Menyedihkan.” Pandangan itu lalu bergeser. Sosok lain duduk terikat tak jauh dari sa

  • Maid Kesayangan Bos Mafia   127. Keputusan.

    Beberapa saat kemudian, mobil berhenti mendadak. Sebuah gudang tua berdiri kokoh di hadapannya, dikelilingi anak buah berbaju hitam, yang tak lain adalah anak buahnya.Saat ia keluar...“Bos, Mr. R ada di dalam,” lapor salah satu dari mereka.Vincent turun tanpa menoleh. Langkahnya tegas, tatapannya dingin.Pintu dibuka paksa.Brak.“Apa yang kalian—!” seorang pria paruh baya terkejut.“Seorang wanita membeli racun di sini,” ucap Vincent datar. “Akibatnya, adik istriku sekarat.”“Aku tidak ingat—”Vincent mengangkat tangan. Sebuah foto ditunjukkan tepat di depan wajah pria itu.“Kenal?”Wajah pria itu pucat. “I—iya. Dua minggu lalu. Dia membeli racun.”“Penawarnya, berikan padaku, Mr. R.”Pria itu menelan ludah. “Ada.”“Di mana? Tunjukkan.”“Di rak belakang.” Ia menunjuk ke arah sebuah lemari.Vincent mengikuti kemana arah jari itu menunjuk. Ia mengangguk kecil dan menara ke arah Grayson. Anak buahnya langsung bergerak menggeledah.“Yang mana?” tanya Grayson.Mr. R gemetar.Vincent su

  • Maid Kesayangan Bos Mafia   126. Tak Terduga.

    Di dalam perjalanan, pandangan Emily kosong. Adegan di gudang tadi masih melekat, berulang tanpa izin. Jarinya saling meremas.“Mampir ke taman?” suara Vincent memecah lamunannya.Emily mengangguk.Mobil berhenti. Mereka duduk di bangku kayu, angin sore menyentuh wajahnya. Emily menatap danau kecil di depan, riaknya bergetar pelan.“Aku sudah berjanji,” ucap Vincent rendah, “akan membalas apa pun yang orang lain lakukan padamu.”Emily tak menjawab. Dadanya naik turun, perlahan.“Hai, Kakak Ipar.”Emily menoleh. “Tuan Dominic?” Tatapannya turun pada tangan Elowen. “Kenapa—”“Aku sudah melamar adikmu,” ujar Dominic santai. “Tunjukkan cincin yang kuberikan, Owen.”Elowen mengangkat jari, matanya berbinar.“Owen mau menikah dengan—”“Bukan paman,” Dominic memotong lembut. “Calon suami.”“Iya. Calon suami, Owen,” ulang Elowen, tersenyum kecil.“Owen,” suara Emily bergetar tipis, “pernikahan bukan seperti permainan.”“Aku sudah menjelaskan,” sahut Vincent. “Waktu kamu dirawat.”Dominic mela

  • Maid Kesayangan Bos Mafia   125. Karma Dari Perbuatan.

    Emily duduk di balkon, menatap langit hitam yang dipenuhi bintang. “Sudah setengah dua belas, belum tidur?” suara Vincent terdengar di belakangnya.Emily tak langsung menoleh. “Kalau Owen menikah, tugasku sebagai kakak selesai.”“Tentu,” jawab Vincent tenang. “Tugas menjaga itu akan beralih ke Dominic.”Emily menunduk. Jemarinya saling meremas. “Dengan sikap Tuan Dominic seperti itu, aku masih ragu.”Kedua bahunya tiba-tiba ditarik. Tubuhnya berbalik, memaksanya menatap Vincent. Mata mereka bertemu, jaraknya dekat.“Owen pasti mengadu kalau Dominic menyakitinya,” ucap Vincent pelan. “Sekarang, apa ada aduan darinya?”Emily terdiam. Ingatannya berputar, namun tak menemukan satu keluhan pun.“Tidak, kan?” lanjut Vincent.“Tidak,” jawabnya lirih.Emily menyandarkan kepala ke dada Vincent. Detak jantung pria itu terasa stabil di pelipisnya.“Aku ngantuk,” gumamnya. “Nyanyikan lagu tidur untukku.”Vincent menghela napas kecil, lalu suaranya mengalun rendah.“Tidurlah… pejamkan matamu…mal

  • Maid Kesayangan Bos Mafia   124.

    “Eugh…”Emily mengerang lirih. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum terbuka. Cahaya menusuk samar, membuat kepalanya berdenyut. Pandangannya sempat mengabur, lalu perlahan kembali jelas.“Sayang…”Ia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. “Tuan…” ucapnya terhenti saat melihat sebelah suaminya berdiri seorang gadis kecil dengan mata berkaca-kaca.“O—Owen…”“Kak Ely…” suara Elowen gemetar. “Maafkan Owen.”Jari-jari kecil itu menggenggam tangannya erat. Emily menelan napas, lalu mengalihkan pandangan ke Vincent. “Sayang, maaf. Aku terlambat,” ucap Vincent rendah.Emily memalingkan wajah. “Tuan… kita bercerai saja.”“Jangan bercanda,” jawab Vincent cepat.“Aku tidak bercanda.” Suaranya lirih, nyaris patah. “Tuan sudah meniduri Grace.”Vincent tersenyum tipis, “Aku sama sekali tak melakukan apapun, atau mungkin kamu.”Alis Emily berkerut. “Maksud Tuan?”“Kamu mengkhianatiku.”“Aku tidak—”“Jelaskan,” potong Vincent. Sebuah foto dilemparkan ke atas ranjang.Emily meraih foto itu.

  • Maid Kesayangan Bos Mafia   123. Berhasil lepas.

    Satu Bulan Kemudian. Vincent tak lagi mencari keberadaan Emily. Sejak foto itu jatuh ke tangannya, sejak kata pengkhianatan bergaung di kepalanya, ia memilih menutup semuanya. Yang ia lakukan kini hanya satu, menjadi dirinya yang dulu. Bos mafia tanpa celah, tanpa hati. Hari-harinya diisi rapat gelap, transaksi kotor, dan perintah berdarah. Malam itu— Sebuah ruangan dipenuhi musik keras dan tawa yang dipaksakan. Lampu berkelip, gelas-gelas beradu. Vincent duduk di sudut, botol di tangannya hampir kosong. Tatapannya nanar, tajam, rahangnya mengeras setiap kali cairan panas itu melewati tenggorokannya. “Hei, berhentilah minum,” tegur Ethan sambil menepis botol di tangannya. “Tidak sayang dengan dirimu?” Vincent menepis tangan itu kasar. “Jangan mengaturku.” “Tapi bukan begitu cara menyiksa diri,” sambung Adrian, nada suaranya ditekan. Bibir Vincent terangkat, senyum getir terbentuk. “Kalian tidak mengerti.” “Sudah-sudah,” sela Lucien, menepuk pundaknya. “Malam ini buang saja se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status