LOGINDi ruang ganti, Emily sedang membereskan barang-barangnya ketika suara Meliana terdengar dari belakang, membuatnya menghentikan aktivitas sejenak.
“Lihat kan? Seandainya saja kamu diam dan menuruti ucapanku, kamu tak akan dipecat dengan cara tidak hormat seperti ini,” ucap Meliana. Emily menghela napas pelan. “Kalau aku hanya diam, berarti aku mengakui aku pengecut dan bersalah. Jadi aku memilih membela diri, karena aku memang tidak bersalah.” “Keras kepala sekali… tapi setidaknya pikirkan nasibmu ke depan dan juga janji kamu sama Owen,” kata Meliana. “Tenang saja, aku akan cari pekerjaan lain,” jawab Emily dengan tenang, mencoba menenangkan dirinya sendiri meski hati masih panas. “Terserah kamu. Tapi nanti kalau sudah dapat pekerjaan baru, jangan ulangi kesalahan yang sama. Mengerti?” Emily tersenyum kecil. “Siap.” Namun saat ia melihat Meliana menggeleng pelan, rasa bersalah menyergap. Ia tahu tindakannya telah memutus sedikit kepercayaan Meliana padanya, dan hal itu membuat dadanya terasa sesak. ... Emily melangkah keluar dari belakang restoran dengan langkah gontai. Di tangannya, ia membawa satu kardus kecil berisi barang-barangnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pria berdiri tak jauh darinya. Meski pria itu membelakangi, Emily tahu persis siapa dia. Tatapannya berubah tajam, jemarinya perlahan mengepal. Ia berniat melangkah mendekat, Namun… “Ah!” Kakinya terpeleset oleh sesuatu yang licin. Refleks, kedua matanya terpejam, bersiap menahan sakit di pinggang. Namun rasa sakit itu tak pernah datang. Sebaliknya—ia justru merasa tubuhnya seperti melayang, seolah waktu berhenti sesaat. “Apa aku... terbang? Atau bumi tiba-tiba kehilangan gravitasi?” Namun, tercium aroma maskulin, hingga perlahan, kedua kelopak matanya terbuka—dan dunia seolah berhenti berputar. Pandangan Emily langsung terpaku saat dirinya mendapati wajah seorang pria yang begitu dekat. Bahkan terlalu dekat, mungkin hanya berjarak dua jari dari wajahnya. Tampan sekali… Sayangnya, di tengah pikirannya yang sempat terpaut pada ketampanan pria itu, lamunannya buyar seketika saat pria tersebut tiba-tiba melepaskan pelukannya begitu saja. Bruk! “Ah! Pinggangku!” Emily meringis sambil memegangi punggungnya. “Hei! Bisa tidak jadi pria romantis sedikit?” Namun hanya tatapan santai serta ekspresinya datar tapi suaranya terdengar ringan, seakan tak ada rasa sedikit pun bersalah. “Sorry, tanganku licin.” Emily menengadahkan kepala, terdiam beberapa saat—tersadar akan pikirannya sendiri yang sempat memuji ketampanan pria itu. Ia spontan menggeleng cepat, seolah ingin menampar imajinasinya sendiri. ‘Bisa-bisanya aku kepikiran begitu…’ Dengan sisa tenaga, Emily bangkit. Pinggangnya masih sakit, tapi hal itu ia lakukan karena tak ingin terlihat lemah, dan tatapannya kembali tajam seperti sebelumnya. “Puas?” nada suaranya naik satu oktaf. Namun beberapa detik kemudian, dirinya bahkan tak mendapatkan tatapan rasa bersalah dari pria itu—Vincent—justru yang ia lihat sebaliknya, wajah tanpa ekspresi, seakan apa yang pria itu lakukan memang sudah benar di lakukan. “Maksud Anda apa nona kecil?” Nada suaranya seperti sedang mengejek. Jemari Emily mengepal di sisi tubuhnya, menahan emosi yang mendidih. Pria itu benar-benar tahu cara membuat siapa pun kehilangan kendali. Namun ia merasa Vincent seperti sedang berjalan mendekat, tenang namun seperti menekan hingga membuat dirinya tanpa sadar harus melangkah mundur. “Karena Paman, aku dipecat! Apa Paman puas!” Nada suaranya kembali kali ini naik dua oktaf. Vincent hanya menatapnya sambil memperlihatkan senyum tipis. Dingin. Dan… puas. “Menurutmu?” Emily, terdiam sejenak dan ia memilih untuk pergi. Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, pergelangan tangannya sedikit ditarik. Tak perlu menebak siapa yang menariknya, sudah pasti kalau bukan pria itu siapa lagi? Hingga suara berat terdengar dekat di telinganya. “Percaya atau tidak, aku bisa membuatmu sengsara.” Mendengar nada ancaman pria itu, Emily segera menoleh cepat. Menatapnya sejenak dan berusaha yakin bila bahwa ancaman tersebut hanya sebuah gertakan kosong. Tanpa pikir panjang, ia menginjak kaki Vincent sekuat tenaga hingga pria itu mengaduh tertahan. “Rasakan itu!” “Awas kamu, ya?” Emily hanya tapi senyum sinis. Tanpa menunggu reaksi, ia berbalik dan melangkah pergi, langkahnya ringan tapi jelas di wajahnya tersirat kemenangan kecil. Sementara Vincent, dirinya hanya berdiri mematung di tempat. Tatapannya tak lepas dari punggung Emily yang semakin menjauh dari pandangannya. Detik berikutnya, suara langkah sepatu pantofel terdengar mendekat dari arah belakang. Tatapan Vincent seketika berubah waspada. Gerakannya tenang saat dirinya diam-diam menarik sesuatu dari balik jas, lalu berbalik cepat sambil mengacungkan senjata yang tergenggam erat di tangannya. Begitu melihat siapa yang ada di depannya, gerakannya berhenti. Genggamannya melemah, dan ia menurunkan pistol perlahan sebelum menyelipkannya kembali ke saku jas. Suara helaan napas lega terdengar dari pria di depannya. “Selamat,” gumam pria itu dengan nada lega. Vincent menatap dingin. “Ada apa?” “Mobil sudah siap, Bos. Mau ke markas sekarang atau—” Vincent dengan cepat memotong ucapan Grayson. “Cari informasi tentang Nona kecil itu, Grayson.” “Nona kecil?” Vincent mendengar suara Grayson yang terdengar sedang kebingungan. Maka ia kembali membuka suara—nada bicaranya tetap dingin, nyaris tanpa emosi. “Emily.” “Emily, apa dia calon istri Bos?” Vincent menatap tajam ke arah Grayson, dan tak menjawab siapa gadis itu. “Malam ini, informasinya harus sudah ada.” Tanpa menunggu jawaban, Vincent berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya tenang, tapi setiap gerakan menunjukkan satu hal—perintahnya bukan untuk ditunda.Malam semakin larut. Emily menatap jam dinding. Jarumnya menunjuk setengah satu. “Ada apa?” suara Vincent terdengar dari sampingnya. Emily menoleh. “Aku gak bisa tidur.” “Apa mual?” tanya Vincent. Emily menggeleng pelan. Pandangannya meredup. “Aku masih kepikiran Lisa. Di mana wanita itu sekarang?” Ia menatap Vincent. “Bawa aku ke tempat Lisa.” “Buat apa?” Vincent mengernyit. Tangan Emily mengepal di atas selimut. “Kalau kamu gak mau, aku ke sana sendiri.” Ia hendak bangkit, tapi pergelangan tangannya ditahan. Vincent menghela napas. “Baiklah.” “Ayo, sekarang,” desak Emily. Tak lama kemudian, mereka pun beranjak, menuju tempat Lisa berada. ••• Sesampainya di sana, Emily melangkah masuk dengan tergesa. “Sayang, hati-hati.” Brak. Pintu dibukanya kasar. Lampu temaram menggantung, mengayun pelan. Di sudut ruangan, seorang wanita meringkuk di lantai. Senyum Emily terangkat tipis. “Grace. Menyedihkan.” Pandangan itu lalu bergeser. Sosok lain duduk terikat tak jauh dari sa
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti mendadak. Sebuah gudang tua berdiri kokoh di hadapannya, dikelilingi anak buah berbaju hitam, yang tak lain adalah anak buahnya.Saat ia keluar...“Bos, Mr. R ada di dalam,” lapor salah satu dari mereka.Vincent turun tanpa menoleh. Langkahnya tegas, tatapannya dingin.Pintu dibuka paksa.Brak.“Apa yang kalian—!” seorang pria paruh baya terkejut.“Seorang wanita membeli racun di sini,” ucap Vincent datar. “Akibatnya, adik istriku sekarat.”“Aku tidak ingat—”Vincent mengangkat tangan. Sebuah foto ditunjukkan tepat di depan wajah pria itu.“Kenal?”Wajah pria itu pucat. “I—iya. Dua minggu lalu. Dia membeli racun.”“Penawarnya, berikan padaku, Mr. R.”Pria itu menelan ludah. “Ada.”“Di mana? Tunjukkan.”“Di rak belakang.” Ia menunjuk ke arah sebuah lemari.Vincent mengikuti kemana arah jari itu menunjuk. Ia mengangguk kecil dan menara ke arah Grayson. Anak buahnya langsung bergerak menggeledah.“Yang mana?” tanya Grayson.Mr. R gemetar.Vincent su
Di dalam perjalanan, pandangan Emily kosong. Adegan di gudang tadi masih melekat, berulang tanpa izin. Jarinya saling meremas.“Mampir ke taman?” suara Vincent memecah lamunannya.Emily mengangguk.Mobil berhenti. Mereka duduk di bangku kayu, angin sore menyentuh wajahnya. Emily menatap danau kecil di depan, riaknya bergetar pelan.“Aku sudah berjanji,” ucap Vincent rendah, “akan membalas apa pun yang orang lain lakukan padamu.”Emily tak menjawab. Dadanya naik turun, perlahan.“Hai, Kakak Ipar.”Emily menoleh. “Tuan Dominic?” Tatapannya turun pada tangan Elowen. “Kenapa—”“Aku sudah melamar adikmu,” ujar Dominic santai. “Tunjukkan cincin yang kuberikan, Owen.”Elowen mengangkat jari, matanya berbinar.“Owen mau menikah dengan—”“Bukan paman,” Dominic memotong lembut. “Calon suami.”“Iya. Calon suami, Owen,” ulang Elowen, tersenyum kecil.“Owen,” suara Emily bergetar tipis, “pernikahan bukan seperti permainan.”“Aku sudah menjelaskan,” sahut Vincent. “Waktu kamu dirawat.”Dominic mela
Emily duduk di balkon, menatap langit hitam yang dipenuhi bintang. “Sudah setengah dua belas, belum tidur?” suara Vincent terdengar di belakangnya.Emily tak langsung menoleh. “Kalau Owen menikah, tugasku sebagai kakak selesai.”“Tentu,” jawab Vincent tenang. “Tugas menjaga itu akan beralih ke Dominic.”Emily menunduk. Jemarinya saling meremas. “Dengan sikap Tuan Dominic seperti itu, aku masih ragu.”Kedua bahunya tiba-tiba ditarik. Tubuhnya berbalik, memaksanya menatap Vincent. Mata mereka bertemu, jaraknya dekat.“Owen pasti mengadu kalau Dominic menyakitinya,” ucap Vincent pelan. “Sekarang, apa ada aduan darinya?”Emily terdiam. Ingatannya berputar, namun tak menemukan satu keluhan pun.“Tidak, kan?” lanjut Vincent.“Tidak,” jawabnya lirih.Emily menyandarkan kepala ke dada Vincent. Detak jantung pria itu terasa stabil di pelipisnya.“Aku ngantuk,” gumamnya. “Nyanyikan lagu tidur untukku.”Vincent menghela napas kecil, lalu suaranya mengalun rendah.“Tidurlah… pejamkan matamu…mal
“Eugh…”Emily mengerang lirih. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum terbuka. Cahaya menusuk samar, membuat kepalanya berdenyut. Pandangannya sempat mengabur, lalu perlahan kembali jelas.“Sayang…”Ia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. “Tuan…” ucapnya terhenti saat melihat sebelah suaminya berdiri seorang gadis kecil dengan mata berkaca-kaca.“O—Owen…”“Kak Ely…” suara Elowen gemetar. “Maafkan Owen.”Jari-jari kecil itu menggenggam tangannya erat. Emily menelan napas, lalu mengalihkan pandangan ke Vincent. “Sayang, maaf. Aku terlambat,” ucap Vincent rendah.Emily memalingkan wajah. “Tuan… kita bercerai saja.”“Jangan bercanda,” jawab Vincent cepat.“Aku tidak bercanda.” Suaranya lirih, nyaris patah. “Tuan sudah meniduri Grace.”Vincent tersenyum tipis, “Aku sama sekali tak melakukan apapun, atau mungkin kamu.”Alis Emily berkerut. “Maksud Tuan?”“Kamu mengkhianatiku.”“Aku tidak—”“Jelaskan,” potong Vincent. Sebuah foto dilemparkan ke atas ranjang.Emily meraih foto itu.
Satu Bulan Kemudian. Vincent tak lagi mencari keberadaan Emily. Sejak foto itu jatuh ke tangannya, sejak kata pengkhianatan bergaung di kepalanya, ia memilih menutup semuanya. Yang ia lakukan kini hanya satu, menjadi dirinya yang dulu. Bos mafia tanpa celah, tanpa hati. Hari-harinya diisi rapat gelap, transaksi kotor, dan perintah berdarah. Malam itu— Sebuah ruangan dipenuhi musik keras dan tawa yang dipaksakan. Lampu berkelip, gelas-gelas beradu. Vincent duduk di sudut, botol di tangannya hampir kosong. Tatapannya nanar, tajam, rahangnya mengeras setiap kali cairan panas itu melewati tenggorokannya. “Hei, berhentilah minum,” tegur Ethan sambil menepis botol di tangannya. “Tidak sayang dengan dirimu?” Vincent menepis tangan itu kasar. “Jangan mengaturku.” “Tapi bukan begitu cara menyiksa diri,” sambung Adrian, nada suaranya ditekan. Bibir Vincent terangkat, senyum getir terbentuk. “Kalian tidak mengerti.” “Sudah-sudah,” sela Lucien, menepuk pundaknya. “Malam ini buang saja se







