Home / Male Adult / Main Api / Dessert Dalam Bentuk Kepuasan

Share

Dessert Dalam Bentuk Kepuasan

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-09-26 10:23:51

Sinar matahari pagi merobos masuk melalui celah ventilasi, menimpa wajah Arman yang baru saja terbangun. Kepalanya sudah jauh lebih ringan dibanding semalam, meski rasa hangat samar masih tersisa di tubuhnya.

Arman menyibak selimut tipis lalu melangkah keluar dari kamar menuju dapur.

Aroma gurih bawang goreng dan nasi goreng menyergap penciumannya. Arman seketika tertegun mendapati Keysha sedang berdiri di depan kompor gas, sibuk mengaduk wajan. Di balik mantel tidur tipis yang tidak terk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Main Api   Gairah Yang Terkunci

    Tak lama kemudian, Arman sudah tampil sangat rapi. Arman duduk bersandar di salah satu sofa empuk ruang tunggu VIP. Ujung rokok di antara jemarinya menyala redup, sementara latte hangat di meja tinggal separuh.Langkah kaki bertumit tinggi yang menggetarkan lantai marmer memecah kesunyian. Arman menoleh dan seketika gerakannya terkunci.Veronica berjalan mendekat dalam balutan gaun malam merah tua yang jatuh rapat mengikuti tubuhnya. Lampu temaram memantul di kulit wajahnya yang terawat, membuat usia yang mendekati kepala empat nyaris sulit ditebak.Arman tanpa sadar berhenti mengisap rokok. Tatapannya mengikuti langkah Veronica sampai wanita itu berdiri tepat di hadapannya. "Udah siap, jagoanku?" sapa Veronica dengan suara beratnya yang khas, mengulas senyum tipis. "Ayo, kita makan malam." Arman tersadar dari keterpakuannya. Ia segera mematikan puntung rokok di asbak, bangkit berdiri, lalu menawarkan lengannya. Veronica menyambutnya tanpa ragu, dan keduanya berjalan bergandenga

  • Main Api   Dessert Dalam Bentuk Kepuasan

    Sinar matahari pagi merobos masuk melalui celah ventilasi, menimpa wajah Arman yang baru saja terbangun. Kepalanya sudah jauh lebih ringan dibanding semalam, meski rasa hangat samar masih tersisa di tubuhnya. Arman menyibak selimut tipis lalu melangkah keluar dari kamar menuju dapur. Aroma gurih bawang goreng dan nasi goreng menyergap penciumannya. Arman seketika tertegun mendapati Keysha sedang berdiri di depan kompor gas, sibuk mengaduk wajan. Di balik mantel tidur tipis yang tidak terkancing sempurna, siluet lingerie sutra yang dikenakannya semalam masih membungkus lekuk tubuhnya dengan begitu menggoda. Pemandangan pagi itu mendadak membakar hangat darah Arman. Sambil tersenyum tipis, Arman melangkah pelan tanpa suara. Ia mendekat dari belakang, merengkuh pinggang Keysha yang ramping lalu mendaratkan cumbuan halus di ceruk lehernya yang harum. Keysha tersentak pelan, namun ia tidak menolak ataupun merasa risih. Gerakan tangannya yang memegang spatula hanya memelan, menikm

  • Main Api   Saldo Rekening

    "Kamu minum obat itu, Mas?" suara Keysha meninggi, nada bicaranya mendadak dipenuhi kepanikan yang tak bisa ditutupi. Arman menatap istrinya dengan pandangan sayu, pusing di kepalanya masih menyisakan denyut pelan. Ia mengangguk lambat. Keysha seketika bangkit berdiri di atas ranjang, menatap suaminya dengan mata membelalak penuh. "Mas... kamu benar-benar minum?" Reaksi berlebihan itu membuat Arman mengerutkan kening. Rasa herannya merayap naik, mengalahkan sisa rasa pusing di pelipis. "Iya. kenapa kamu punya obat kayak gitu, Key?" Keysha mengalihkan pandangannya tajam, menunjuk tas oren yang tergeletak di atas meja rias. "Itu bukan obatku!" "Bukan obat kamu?" Arman memiringkan kepala, keningnya makin berkerut dalam. "Bukan! Tasnya juga bukan punyaku!" tegas Keysha seraya mengepalkan jemarinya. Arman terdiam. Pandangannya beralih menatap tas berbahan parasut berwarna oren terang di meja rias. Pikiran Arman berputar ke belakang, mencoba mengingat-ingat. Sekian lama tinggal bers

  • Main Api   Masih Menegang?

    Arman tidak menjawab. Suara Keysha terdengar samar di tengah denging yang memenuhi kepalanya. Tubuhnya terasa panas, jantungnya berdetak terlalu cepat, dan pikirannya sulit berkonsentrasi pada apa pun selain perempuan di hadapannya.“Aku... kepengin kamu, Key,” bisik Arman serak.Ia mendekat dan merengkuh tubuh istrinya dari belakang. Keysha tersentak, lalu menoleh melalui pantulan cermin dengan raut heran."Mas... ahh... kamu kenapa sih? Tumben banget—"Belum sempat Keysha menyelesaikan kalimatnya, jemari Arman bergerak agresif melintasi sela-sela kain, mencengkeram lekuk dadanya dengan remasan yang kelewat kencang."Nghh! Pe-pelan-pelan dong, Mas!" teriak Keysha terperanjat, desahan tertahan lolos begitu saja dari bibirnya seraya menahan lengan Arman yang makin liar. "Khh... kamu kenapa sih hari ini?!"Arman tetap membisu. Tatapannya redup oleh gairah yang meluap di luar kendali. Tanpa memberi jeda untuk sekadar bernapas, Arman mendaratkan cumbuan kasar di ceruk leher Keysha, menyap

  • Main Api   Reaksi Gairah Tak Terduga

    Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kontrakan. Arman membuka mata di atas kasur tipis, lalu meraba ponsel di samping bantal. Notifikasi perbankan itu masih terpampang tajam. Saldo Efektif: Rp5.450.000,00. "Lima juta..." gumamnya lirik, mengusap wajah kasar. Nominal itu bukan sekadar angka. Lima juta rupiah itu adalah hasil dari satu sore yang tidak pernah ia bayangkan akan ia jalani. Beban utangnya terasa sedikit terangkat, meski ada rasa asing yang menyusup di dada. Jam tujuh pagi, Arman sudah berdiri di lorong lantai tiga gedung perkantoran tempatnya bekerja. Ia menyapu lantai granit dengan ayunan kain pel yang konstan. Sret. Sret. Irama ayunan tangannya konstan, tapi pikirannya melayang jauh melompati tembok-tembok kaca gedung ini. Pandangannya berulang kali tertuju pada jajaran staf berpakaian rapi yang lalu-lalang membawa cangkir kopi mahal. Dulu ia menatap mereka dengan rasa minder yang menggerogoti dada. Beberapa staf yang lewat bahkan tidak lagi membuatnya bu

  • Main Api   Undangan Tak Biasa

    Ikon video itu membisu di layar ponsel Arman, memperlihatkan cuplikan sudut pandang dari langit-langit studio. Arman menekan tombol play. Rekaman tiga puluh detik itu berjalan, membuat wajahnya perlahan menegang.Sudut pengambilan gambarnya sangat rapi, tersembunyi sempurna di balik temaram lampu studio. Arman menelan ludah saat melihat dirinya sendiri di layar.Sejak awal masuk ke tempat ini, Arman memang sudah menduga kalau aksinya pasti akan direkam. Arman menelan ludah. Jempolnya sempat berhenti di atas layar sebelum akhirnya ia mematikan video itu.Tanpa berpikir panjang, Arman memencet tombol panggil pada kontak Fony. Panggilan itu diangkat pada dering kedua."Kenapa, Arman? Uangnya kurang?" suara Fony terdengar di seberang sana, sangat santai."Fony, video ini... nggak bakal disebar bebas, kan?" sergah Arman dengan napas memburu, tak bisa menyembunyikan nada paniknya.Fony tertawa terkekeh dari balik telepon, seolah pertanyaan Arman adalah hal paling lucu yang ia dengar hari in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status