Home / Romansa Pria / Main Api / Tawaran Baru Permainan Panas

Share

Tawaran Baru Permainan Panas

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-10-27 07:55:50

Monica melangkah pelan menuju tepi ranjang, lalu duduk perlahan. Jemarinya sibuk melepas beberapa perhiasan serta jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum akhirnya ia melepas ikatan rambutnya hingga tergerai indah menutupi bahunya.

Arman ikut menyusul, duduk di sisi Monica seraya menatap wanita itu santai, menunggu instruksi apa yang akan diberikan selanjutnya.

Monica menghela napas pelan, lalu menoleh menatap Arman. "Kamu tau, Man? Aku punya beberapa bisnis yang aku ha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Main Api   Godaan Dua Tipe

    Ayu mematung di sisi ranjang, menggenggam alat pemuas itu dengan jemari yang mendadak bergetar. Permukaan silikonnya terasa sangat halus dan dingin saat menyentuh kulit telapak tangannya. "Jadi Bu Monica sering pakai alat begini...?" gumam Ayu lirih, menatap benda itu tanpa berkedip. Benaknya mendadak berputar menelusuri tiap jejak yang tertinggal dari kejadian subuh tadi. Bayangan tubuh polos Arman yang mengalirkan kehangatan, serta erangan pasrah pria itu di balik remang kamar, kembali membakar ingatan Ayu. Dada Ayu naik turun seiring napasnya yang kian memburu dan memburu. "Mas Arman..." bisik Ayu pasrah pada gejolak di dadanya, perlahan mendudukkan diri di tepi ranjang empuk milik atasan wanita itu. Ia menekan tombol kecil pada gagang alat tersebut hingga getaran halus langsung merambat ke telapak tangannya. Sensasi getar yang konsisten itu membuat Ayu merinding seketika, membayangkan betapa intimnya benda ini menyentuh tubuh Monica saat merindukan sosok pria seperti A

  • Main Api   Ketegangan Emosi

    Ayu meremas ujung dasternya erat-erat, menahan gemuruh di dadanya yang kian bergejolak. Dengan napas terpatah-patah, ia melangkah mendekati daun pintu dan mengayunkan bukunya tiga kali. Tok! Tok! Tok! "Bu Monica? Maaf, sarapan dan kopi untuk perbekalan ke Puncak sudah Ayu siapkan di meja," panggil Ayu dengan suara bergetar yang berusaha dipaksakan tenang. Suara kecipak air di dalam kamar mandi seketika terhenti total. Keheningan mencengkeram ruangan, berganti dengan suara grasa-grusu mendadak dari balik pintu porselen. "I-iya, Yu! Makasih, sebentar lagi saya keluar!" sahut Monica dari dalam, suaranya terdengar agak panik dan tersengal. Ayu memejamkan mata sebentar, menyunggingkan senyum tipis yang getir di balik pintu. "Baik, Bu. Ayu tunggu di bawah ya, Mas Arman juga belum kelihatan di kamarnya soalnya," ucap Ayu sengaja menekankan kata terakhirnya sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi. Arman dan Monica melangkah menuruni anak tangga bersama menuju ruang mak

  • Main Api   Keringat Berkelanjutan

    Arman mengembuskan napas berat, membiarkan tubuhnya bersandar pasrah pada kepala ranjang saat Monica kembali menarik selimutnya."Jangan lama-lama, Mon... sebentar lagi subuh," bisik Arman serak sambil memejamkan mata.Monica tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis di balik kegelapan selimut sebelum melanjutkan niatnya. Sensasi hangat dan basah yang mendadak menyelimuti kejantanannya membuat Arman menyertakan desahan napas yang tertahan di tenggorokan."Ahh... Mon..." genggaman tangan Arman meremas pelan sprei di samping tubuhnya, menahan gejolak mendadak yang merayapi kesadarannya.Monica bergerak makin telaten dan ritmis, menikmati tiap respons pasrah dari Arman yang tak mampu menolak perbuatannya di remang udara subuh itu.Monica merayap perlahan ke atas tubuh Arman, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi dada bidang pria itu. Tatapannya begitu tajam dan penuh penguasaan di tengah remangnya udara subuh."Sekarang giliran aku yang pegang kendali, Man..." bisik Monica serak t

  • Main Api   Malam Menjelang Pagi

    "Sebentar!" sahut Arman sedikit meninggikan suara ke arah pintu.Keysha yang mendengar sautan itu di seberang telepon langsung menaruh curiga. "Siapa, Mas?""Itu pekerja di sini... kayaknya mau bawain kopi," jawab Arman dengan nada pelan, mencoba sesantai mungkin agar adiknya tidak bertanya lebih jauh."Ohh gitu... terus gimana di sana, Mas? Nyaman gak?" tanya Keysha lagi."Nyaman kok, yaa baru sehari lah," balas Arman jujur sembari mengulas senyum tipis."Oh gitu. Yaudah Mas, sana ngopi dulu. Aku mau keluar ya sama Bella, mau jajan, Mas..." ucap Keyshapamit."Yaudah Key, hati-hati ya..."Telepon pun terputus.Arman meletakkan ponselnya di atas meja kecil, lalu melangkah menuju pintu. Saat gagang pintu diputar dan ditarik, sosok Ayu sudah berdiri di sana.Ayu mengenakan daster tidurnya yang longgar, rambutnya terurai bebas menutupi sebagian bahu. Tatapannya ragu-ragu saat matanya bertemu dengan pandangan Arman."Aku boleh masuk, Mas?" tanya Ayu pelan, suaranya hampir menyerupai bisika

  • Main Api   Stay New Home

    Arman mengangguk pelan, memahami keseriusan proyek besar yang sedang disiapkan Monica. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil yang empuk.​"Oke, Mon. Kalau emang itu urusan proyek besar, aku siap berangkat besok," jawab Arman tenang tanpa ragu.​Monica menginjak pedal gas saat lampu lalu lintas berubah hijau, menyunggingkan senyum puas atas kesiapan Arman. "Bagus. Aku butuh ketajaman analisis kamu waktu kita tinjau lahannya langsung di sana."​"Nanti malam aku bakal siapin berkas pendukungnya sekalian," tambah Arman.​"Sip. Nanti sampai rumah, kamu kasih tahu Ayu biar dia gak bingung kalau kita gak pulang beberapa hari," balas Monica santai sambil membelokkan kemudi memasuki kawasan perumahan mewahnya.Mobil sedan Monica akhirnya berhenti dengan mulus di garasi rumah. Begitu pintu depan dibuka, aroma harum rempah yang menggugah selera langsung menyambut kedatangan mereka berdua, memenuhi seluruh sudut ruangan utama.Ayu yang baru keluar dari arah dapur dengan celemek yang

  • Main Api   Tempat Baru Yang Lebih Nyaman

    "Bekas OB bukan berarti gak bisa baca situasi, Mon," balas Arman santai, sama sekali tidak berniat memperpanjang cerita soal masa lalunya di vila Nyonya Veronica. "Kalau kita sibuk ngungkit masa lalu, target ekspansi minggu ini malah gak bakal keburu."Monica tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang sarat akan kekaguman lolos dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala pelan melihat cara Arman memutar arah pembicaraan dengan begitu mulus."Kamu bener-bener licin juga ya, Man," gumam Monica, lalu melangkah masuk duluan ke dalam ruang kerjanya. "Ya udah, masuk. Masih banyak berkas di meja yang harus kamu bedah buat strategi minggu depan."Di dalam ruang kerja pribadi Monica yang tertutup rapat, suasana berubah drastis menjadi serius. Arman berdiri di hadapan meja kerja besar, membuka lembar demi lembar dokumen proyek yang baru saja diserahkan oleh staf administrasi.Monica duduk di kursinya, memperhatikan setiap gerakan tangan Arman dengan saksama. "Bagaimana pembagian tugas untuk divisi logis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status