تسجيل الدخولLanjut yaaa..
Gila... Kenapa sorot matanya bisa semirip ini? Apakah Reyna juga sudah telanjur dirasuki, ataukah makhluk celaka itu kembali meretas wujud keponakan Ramita ini demi menjebak tubuh kokohku ke dalam perjanjian berdarah baru? batin Bhaskoro kini bergejolak.Berada di antara pusaran gairah dan ancaman maut ghaib yang siap menerkamnya dalam semalam."Kamu itu sebenarnya sudah memiliki sebuah kekuatan ghaib yang besar, yang selama ini mengeram tenang di dalam tubuhmu. Tinggal bagaimana cara kamu menggerakkan dan memicu fokus batinmu saja, maka kekuatan leluhur itu akan keluar menumpas musuhmu, Bhaskoro..."Sekelumit draf petuah dan pesan mistis dari Julak Atoi yang dulu pernah ia kunjungi di pedalaman Kalimantan, mendadak bergaung nyaring membelah isi kepala Bhaskoro.Ingatan keramat itu kontan membuatnya tersentak sadar dari kepungan hipnotis yang di rasanya mulai tak wajar ini.Kenapa aku harus takut? Aku memiliki darah Haris Sanjaya dan tameng suci Ramita di nadiku, juga transfer ilmu da
Rangkaian kalimat polos yang meluncur dari bibir ranum Reyna laksana petir di siang bolong, seketika membuat isi otak dan batin Bhaskoro terkejut bukan main untuk kesekian kalinya malam itu. Jantungnya berdegup kencang didera guncangan takdir yang teramat sangat rumit.“Kenapa jadi kebetulan begini?” batin Bhaskoro, mata tajam Bhaskoro menatap Reyna dan baru nyadar, ada kemiripan wajahnya dengan Dewi Ramita.Dunia ternyata selebar daun kelor. Silsilah darah mistis yang selama ini ia selidiki, kini mempertemukannya langsung dengan keponakan kandung dari wanita misterius yang kemarin mengunci tameng gaib di dalam kamarnya di Bogor!Misteri mengapa apartemen megah lantai lima puluh ini memiliki aura negatif pesugihan dari sang mantan kekasih kini mulai terjawab dengan sangat masuk akal.Bhaskoro membetulkan posisi duduknya, menahan getaran emosionalnya rapat-rapat agar penyamarannya tidak terbongkar di mata sang model."Aura... Aura negatif yang bagaimana maksudnya yang dirasakan oleh Bi
"Ke mana aku harus mengantarmu pulang, Reyna?" Bhaskoro membuka suara, menatap lekat garis wajah sang model cantik yang duduk di jok sampingnya."Ke apartemen pribadiku saja, Bang," sahut Reyna lembut, lalu menyebutkan nama kompleks hunian vertikalnya yang berada di kawasan elite di Jakarta Selata.Detik berikutnya, jip sangar mewah milik Bhaskoro langsung meluncur mulus, membelah jaringan aspal jalanan ibu kota yang kondisinya mulai berangsur lengang karena waktu sudah resmi bergeser memasuki tengah malam.Lumayan mewah juga arsitektur gedungnya, batin Bhaskoro memberikan penilaian taktis di dalam hati, sesaat setelah kendaraannya merapat sempurna di area lobi halaman sebuah kompleks apartemen raksasa bertingkat tinggi hingga lima puluh lantai tersebut."Mampir dulu, Bang... Mungkin kita bisa melanjutkan obrolan santai sembari meminum kopi hangat di atas?" tawar Reyna, melayangkan sebuah draf kode rahasia yang sarat akan undangan manja.Bhaskoro terdiam sejenak, menimbang-nimbang taw
Tapi Bhaskoro tetap bergeming di kursinya. Dia masih ingin melihat sampai di mana kesombongan orang ini.Gurat wajah tampannya sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan seujung kuku pun. Dengan gerakan yang teramat tenang dan dingin, ia mengisap dalam-dalam rokok mild-nya.Lalu tanpa di duga-duga, Bhaskoro mengembuskan asap abu-abu pekat tepat ke arah wajah botak Jack Palijau, membuat pria yng ngaku legislator di Senayan itu terbatuk-batuk menahan geram.Cincin batu akik di jemari Bhaskoro mendadak bergetar tipis, memancarkan hawa hangat yang menegaskan dominasi batinnya yang kuat.Bhaskoro menyunggingkan senyuman sinis yang teramat merendahkan, auranya mistisnya mulai keluar."Menghancurkan hidupku dalam semalam...?" Bhaskoro membuka suara, nada baritonnya terdengar begitu tegap dan berwibawa, sanggup mampu bikin nyali para centeng di sekelilingnya secara instan."Jack Palijau... Anggota dewan fraksi kuning sekaligus pemilik draf izin tambang batu bara ilegal di pedalaman Borneo. Ka
"Duduklah di sini... Siapa namamu?" ujar Bhaskoro dengan nada suara baritonnya yang tenang dan dalam, sembari memperkenalkan namanya sendiri secara singkat demi meredakan ketegangan."Namaku Reyna Andini, Bang Bhaskoro," sahut wanita berparas rupawan tersebut sembari mengembuskan napas lega.Didorong oleh rasa panik yang perlahan mencair, Reyna tanpa canggung bergerak meraih sebatang rokok mild milik Bhaskoro, menyalakan pemantiknya, lalu nekat menyesap sisa cairan wine mahal langsung dari gelas milik pria matang berkharisma di sampingnya itu."Aku bekerja sebagai model, Bang. Malam ini aku sebenarnya diajak ke sini oleh salah seorang temanku, tapi sesampainya di pub, aku malah diperkenalkan secara paksa dengan pria kasar bernama Jack Palijau itu. Penampilannya sih sok kaya raya, ke mana-mana selalu mengabaikan sopan santun dan membawa empat orang anak buah bertubuh kekar. Tapi perilakunya benar-benar tidak beradab, dan malah berubah semakin beringas saat pengaruh alkohol mulai mengua
"Ini ada sedikit draf rezeki untuk bekal jajan Kakak berdua bersama abang ipar selama menghabiskan waktu di Jakarta," bisik Bhaskoro perlahan, lalu berbalik arah memotong halaman dan langsung memasuki kabin jip mewah miliknya tanpa menunggu jawaban.Mesin sangar kendaraan itu menderu halus sebelum melesat membelah aspal ibu kota. Sarah dan Mona hanya bisa terpaku menatap jalan setelah mobil kokoh itu menghilang di balik tikungan jalanan, Mona dengan rasa penasaran yang memuncak segera membuka draf ikatan kantong plastik pemberian adik bungsunya tersebut.Begitu melihat isi di dalamnya, matanya seketika membelalak sempurna laksana kelereng."Kak Sarah... Lihat ini! Ini... Ini tumpukan uang dolar Amerika Serikat?!" sahut Mona dengan nada suara yang bergetar menahan syok, menatap segepok uang asing bernilai miliaran bila dirupiahkan yang kini berpindah tangan ke pelukannya.Sarah yang berdiri di sampingnya ikut terpaku membisu, kehilangan kata-kata menyadari betapa tak terbatasnya kekuas
Tanpa rasa keder sedikitpun Bhaskoro keluar dari rumahnya, dan dia melihat seorang pria ngamuk di rumah tetangganya yang berjarak 30 meteran dari rumahnya sendiri.Gigi Bhaskoro seketika gemeletuk menahan marah. Apalagi saat melihat si pemilik rumah tentu saja ketakutan. “Katakan di mana Surti, tadi
“Sial, kalau saja aku tidak mengambil keputusan bodoh itu di masa lalu, kini aku pasti bisa hidup tenang!” keluh Bhaskoro, mirip rintihan, ingat kebodohannya dahulu, tapi inilah syarat berat yang sudah ia setujui dan tak bisa di tarik lagi.Dia tak bisa batalkan perjanjian maut ini sepihak, apa yang
Besok paginya jelang siang…“Hemm…ada apa ribut-ribut di depan kantor kelurahan itu?” batin Bhaskoro, lalu buru-buru memarkir mobil jadulnya dan mendekat ke arah keributan ini.“Ganti uang kami, panen kami gagal akibat ulah mantan suaminya yang kurang ajar bawa duit kas desa dan kami tak bisa beli p
“Tolonggg….!”Sebuah jeritan sudah cukup membangkitkan jiwa kesatria Bhaskoro, sejenak dia hentikan aktivitas di rumah miliknya ini, tak peduli gerimis mulai deras dan agaknya sebentar lagi akan hujan.Bhaskoro bergegas keluar rumah sederhana miliknya dan dia melihat seorang penjual jamu keliling te







