INICIAR SESIÓNWajah Maya mengerut saat menatap perempuan itu dari atas sampai bawah. Ada rasa minder yang luar biasa menyelusup di dadanya.Kaki jenjang, postur tubuh lebih tinggi darinya, kulit putih pualam walau hanya memakai piyama panjang—kulit itu benar-benar bersinar, bahkan tumit kakinya saja sangat mulus. Warna leher dan wajahnya ketara cantik alami tanpa make up, benar-benar membuat Maya menelan ludah kasar. Dalam hatinya, ia diam-diam mengagumi sosok perempuan di depannya itu.Sheila yang mendapat tatapan seperti itu hanya bisa tersenyum remeh."Kenapa? Aku cantik, ya? Jelaslah!" balasnya sambil mengibaskan rambut panjangnya di depan wajah Maya, membuat kibasan rambut itu menyambar wajah Maya."Siapa kamu?!" tanya Maya lagi.Namun, sebelum Sheila sempat menjawab, pintu kembali terbuka dari dalam. Kedua perempuan itu refleks menoleh ke arah Malik, membuat pria itu seketika terdiam mematung di ambang pintu. Tatapan tajam dan penuh intimidasi dari keduanya langsung menyambutnya.“Malik!”Mal
Malik menghela napas panjang, benar-benar merasa malas dan muak. Namun, pria itu tetap bangkit, lalu meletakkan gelasnya dengan sedikit kasar. Begitu pintu dibuka, sosok Maya sudah berdiri tepat di hadapannya.Penampilan Maya yang tampak sangat berbeda dari biasanya membuat Malik mengerutkan dahi. Raut muak terpampang jelas di wajahnya, seolah ia enggan berlama-lama berhadapan dengan perempuan itu.“ Butuh sesuatu?” tanya Malik tanpa basa-basi.Mendengar pertanyaan itu, Maya sedikit menegang.Maya datang memakai gaun yang pernah Malik hadiahkan. Dulu, Maya menolak gaun itu mentah-mentah dengan alasan harganya murah dan bisa membuat kulitnya gatal-gatal.Saat itu Malik tak protes; pria itu hanya bisa pasrah sambil membungkus kembali baju tersebut dan memasukkannya ke dalam lemari kayu yang sedikit reot. Namun lihat hari ini, ketika keduanya sudah saling terpisah, Maya seolah tanpa malu datang memakai baju yang pernah ia caci. Ia bahkan memakai riasan berlebih. Jika dulu mungkin Malik a
Raut kelelahan Malik setelah berbincang dengan Sinta tadi tampak jelas saat ia melangkah keluar dari gerbang. Matahari sudah mulai terbit, menyinari langit pagi. Ketika melirik jam tangannya, Malik terkejut melihat jarum jam telah menunjukkan pukul enam pagi. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Berarti, ia sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk berbincang dengan perempuan genit itu, pikirnya.Namun, rasa lega menyusul di dalam dadanya. Sheila pasti sedang tidur pulas sekarang. Semoga saja Aris belum pulang, biar Mbak Sheila bisa tidur nyenyak dulu. Kasihan, soalnya semalaman aku gempur gara-gara efek alkohol itu, gumamnya sambil terkekeh pelan.Tangannya menggeser pintu gerbang. Dari pandangannya, para satpam terlihat belum datang. Malik tahu betul kedua satpam memang diberi libur oleh Sheila kemarin."Eh, loh... Ada bujang ganteng di sana!" Tiba-tiba suara seorang ibu-ibu yang cempreng mengagetkan Malik.Rupanya itu adalah gerombolan ibu-ibu komplek. Di komplek elite seperti
"Ehh, Mbak Sinta? Ngapain pagi-pagi banget udah ada di sini?" tanya Malik.Mendengar pertanyaan konyol itu, Sinta langsung mengerutkan dahinya lebih dalam. "Ini hari Minggu, Mas Malik. Kalau hari Minggu kan memang biasanya jam kerja lebih awal."Mendengar hal itu, Malik meringis sambil memejamkan mata rapat-rapt. Ia benar-benar merasa bodoh dan teledor—bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting itu? Memang benar, para pekerja di rumah Sheila dan Aris memiliki jadwal yang ketat untuk hari Minggu. Pukul setengah lima pagi mereka sudah harus mulai membersihkan rumah dan mengerjakan tugas masing-masing."Mas Malik nginep, toh? Kok bisa keluar dari kamar tamu?" tanya Sinya lagi sambil sedikit memiringkan kepala, menoleh ke arah celah pintu kamar tamu yang sedikit terbuka.Namun dengan gerakan refleks, Malik meraih pergelangan tangan Sinta dan membawanya agak menjauh dari sana. Usaha itu spontan membuat pipi Sinta memerah seperti udang rebus."Aduh, Mas... Aku belum siap, uuuh. Mas mau bawa
"Maaf sudah terlalu kasar ya, Mbak... Aku gak bisa ngontrol diriku sendiri," lanjut Malik serak saat melihat raut kaget di wajah Sheila."Terserah," balas Sheila acuh tak acuh, meski berbanding terbalik dengan gejolak di dalam hatinya."Ayo makan mienya, biar aku suapin ya, Mbak. Takutnya Mbak masih sakit," ucap Malik lagi penuh perhatian."Iyalah sakit! Gila aja kamu gempur aku semalaman, lemas lah... Untung besok weekend," omel Sheila meluapkan kekesalannya.Malik terkekeh pelan. Ia menyendok mie dengan garpu lalu menyuapkannya pada Sheila yang sudah duduk bersandar di sebelahnya."Mbak, ini udah pukul empat pagi, btw," ucapnya santai sambil menyuapkan porsi berikutnya.Sheila yang baru saja menerima suapan itu mendadak menegang. Ia hampir tersedak kalau saja Malik tak buru-buru menyodorkan gelas air minum padanya."Malik! Gila aja, jam empat pagi?! Astaga, kamu menggempurku benar-benar semalaman penuh?!" tanya Sheila dengan nada tak percaya. Melihat Malik hanya tersenyum manis samb
"Mbak... engghh, aku mau keluar, Mbak..." erang Malik setelah mereka bercumbu dan bergumul selama berjam-jam lamanya. Hari bahkan sudah hampir berganti pagi, dan malam ini Sheila benar-benar habis tak berdaya di bawah kungkungan Malik."Cepat, Lik! Keluarkan, aku udah gak kuat... ahhhh!" protes Sheila melengking.Jemarinya mencengkeram sprei makin kuat. Bibirnya tak henti-hentinya melontarkan jeritan dan desahan tinggi. Area intimnya sudah teramat sensitif, sehingga gesekan sekecil apa pun akan langsung memancing desahan panjang dari tenggorokannya.Malik memacu ritme pompanya makin cepat dan beringas, membuat tubuh Sheila terguncang hebat akibat serangan yang semakin bertubi-tubi."Aah, sial! Ini sakit tapi nikmat... Ayoo, Malik, cepat!" erang Sheila lagi. Kedua tangannya sudah tak sanggup lagi menahan tumpuan tubuhnya.Malik merasakan miliknya di dalam sana kian membengkak, mengeras, dan menegang hebat. Hingga akhirnya—Crrrtt! Crrrttt! Crrrttt!Malik menyemburkan seluruh lahar hang







