LOGIN"Ris!" Malik akhirnya membuka suara, menyuarakan protes keras. Tatapannya menusuk tajam, tangannya mengepal kuat, dan kepalanya menggeleng tegas. Bagi Malik, perintah Aris adalah sebuah penghinaan besar untuk Sheila. Bahkan, Malik selama ini sudah merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya di depan Aris agar pria itu bisa menyaksikan permainannya dengan Sheila—hal yang setengah mati Malik sembunyikan dari Sheila. Dan sekarang, Aris dengan lancang dan terang-terangan melontarkan permintaan bejatnya langsung pada Sheila! Hal itu sukses membuat Malik benar-benar tidak bisa tinggal diam lagi. "Ris, cukup! Kamu sudah benar-benar menghancurkan harga diri istrimu sendiri!" "Lalu apa masalahnya, Malik?! Aku membayarmu, kan?! Jadi lakukan saja! Aku gak minta dengan gratis, kok. Kamu sudah dapat pekerjaan dan uang dari aku, kan?!" Malik menahan napasnya dalam-dalam. Ia menggetakkan giginya, lalu menatap sekilas ke arah Sheila. Perempuan itu hanya mampu menggeleng pelan. Kedua
Genggaman yang terlalu keras itu membuat Sheila meringis kesakitan. Kulit mulus seputih pualam itu terlihat memerah. Malik yang melihatnya tak sanggup lagi menahan rasa kasihan dan amarah. "Oke, oke, Ris! Aku minta maaf, aku salah! Lepaskan tangan Sheila, kamu menyakitinya! Dia istrimu, Ris... Bersikaplah dengan lembut!" ucap Malik cepat. Ia mundur perlahan dan mengangkat kedua tangannya ke udara, menampakkan gestur mengalah, meski pandangannya tak lepas dari wajah Sheila yang terus meringis. "Loh, apa urusannya denganmu?! Dia istriku, bebas terserah aku! Bahkan aku bisa memberikan dia padamu untuk kamu gagahi, kan?! Sekalipun aku menyiksanya, itu hakku!" Mata Malik melotot tajam mendengar perkataan bejat dari mulut sahabatnya itu. "Ris, aku gak nyangka kamu bisa berubah sampai sebegininya... Dulu kamu gak begini, Ris! Apa gara-gara uang kamu berubah?!" Aris tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Malik. Pria itu lantas mengangguk mantap tanpa rasa malu sedikit pun. "Ya,
TIIIIIIIIT...! Suara klakson yang memekakkan telinga mendadak berbunyi nyaring di luar, membuat keduanya terperanjat kaget. Seketika, atmosfer di dalam kabin mobil berubah menjadi sangat canggung. "Nih, pakai ini... Bersih kok, kaosnya masih baru. Aku sempat membelinya untuk..." Sheila mendadak menjeda kalimatnya, seolah gengsi untuk melanjutkan ucapan itu. Malik mengerutkan dahi. Ia menundukkan kepala, menatap lurus ke arah wajah Sheila yang mendadak diam membisu. "Untuk siapa, Mbak?" "Ck, pakailah saja! Jangan banyak tanya, Malik!" Malik terkekeh pelan. Dengan sigap, ia melepaskan kemejanya yang basah kuyup lalu menggantinya dengan kaos hitam tersebut tepat di depan mata Sheila. Perempuan itu sebenarnya ingin memalingkan pandangan, namun lehernya seolah terkunci kaku, tak sanggup membuang muka dari dada bidang Malik. "Kenapa, Mbak? Terpesona, ya?" "Ish, geer banget kamu! Kamu kali yang terpesona sama aku!" "Memang," balas Malik cepat. Jawaban jujur itu memb
Malik kembali tergagap. Ia selalu tak bisa menahan diri setiap kali berada dekat dengan Sheila. Duuaarrr...! Tiba-tiba saja suara petir menyambar disusul guyuran hujan lebat yang langsung melumpuhkan jalanan menjadi macet total. Cuaca yang berubah secara ekstrim itu rupanya menandakan peralihan musim hujan. "Aduh, hujannya besar banget, Lik!" protes Sheila, merasa sedikit takut melihat intensitas hujan yang begitu lebat di luar sana. "Gak apa-apa, Mbak. Ini kan sudah masuki musim hujan, jadi memang sering seperti ini. Jalanan juga pasti semakin licin," balas Malik menenangkan. Hampir tiga puluh menit Malik dan Sheila terjebak dalam kemacetan total yang mengular. "Ada apa sih di depan?" protes Sheila lagi. Ia lantas membuka sedikit kaca mobil dan hendak menjulurkan kepalanya keluar. Dengan sigap dan cepat, Malik langsung menarik tangan Sheila agar perempuan itu tidak melakukan tindakan nekat tersebut. "Mbak, jangan begitu, bahaya! Biar aku saja yang lihat," selanya tegas.
"Loh, aku cuma magang kali, gak akan lama-lama di sini! Kamu ternyata gak berubah ya, She... Tetap angkuh!" balas Lily. Ia lantas membuang wajah ke arah Malik sambil tersenyum manis. "Untung kamu sudah nikah, She. Kalau belum, mungkin kita akan kembali berebut pria!" desisnya lagi, tanpa mengalihkan tatapan penuh minat dari Malik. Malik yang ditatap begitu, sangat paham apa maksud dari ucapan Lily. Sementara Sheila yang mendengarnya langsung mengerutkan dahi, bibirnya maju satu sentimeter menahan geram. "Berebut siapa?!" "Alah, sok polos!" Pertengkaran hebat pun tak terelakkan di antara keduanya. Malik memejamkan mata rapat-rapat sambil memegang kepalanya kuat-kuat saat kedua perempuan itu terus-menerus saling melontarkan ocehan panas. Rasanya seluruh energi Malik terkuras habis oleh ulah dua perempuan cerewet tersebut. "Ayo, Malik!" desis Sheila bangkit sambil menggebrak meja. "Antar aku pulang! Aku gak sudi lama-lama di sini!" lanjutnya seraya meraih pergelangan t
“Bercanda, Mbak! Itu juga hal yang mustahil. Mbak, kan, sudah memiliki Aris. gak mungkin juga Mbak menyukai pria kere seperti aku.” Malik buru-buru menyela, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ayo, Mbak, kita turun. Sebentar lagi sudah waktunya makan siang,” lanjutnya cepat. Seolah-olah pria itu sengaja memotong pembicaraan karena takut mendengar jawaban Sheila atas perkataannya barusan. Sheila yang menedengar itu langsung terdiam mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Hatinya bergetar hebat saat mendengar Malik merendahkan diri seperti itu. "Loh, enggak ada yang gak mungkin, Malik!" selat Sheila kesal, membuat Malik yang tadinya berniat membalikkan badan seketika membeku kaku. "Gimana, Mbak?" "Ish, udahlah! Ayo turun!" bentak Sheila gemas. "Kamu itu kalau lagi menyukai seseorang, perjuangkan dong! Jangan cuma memikirkan dia milik siapa... tapi lihat juga, apa perempuan itu bahagia bersama pemiliknya? Kalau kelihatannya dia tidak bahagia, rebut dia! Buat dia bahagia di pelukan







