Teilen

Bab 61-Paraji?

last update Veröffentlichungsdatum: 11.09.2026 22:18:20

“Ternyata dugaanku benar. Setelah berpisah dariku, hidupmu benar-benar tak terarah. Lihat saja dirimu sekarang, seperti gembel!” Maya tertawa lepas. Ada kepuasan tersendiri di wajahnya saat melihat mantan suaminya berdiri lusuh di hadapannya.

"Kerja apa sih kamu Lik? Kamu mulung? Dan kenapa aku lihat kamu keluar dari rumah besar itu? Minta-minta ya?" ucapnya lagi. Tawa meremehkan kembali lolos dari bibir yang dipolesi lipstik begitu merah, belum lagi bedak yang keputihan—jauh lebih putih dari
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 90-Bagaimana Mbak?

    Bles Batang itu menghujam masuk sepenuhnya, membuat Malik mengerang berat sementara Sheila mendesah lega saat merasakan milik Malik memadati liangnya tanpa celah. Malik menundukkan wajahnya, meneliti setiap lekuk tubuh Sheila dari atas. Pemandangan itu kian membakar gairahnya hingga membumbung tinggi. Dengan sigap, Malik menaikkan satu kaki mulus Sheila ke atas bahunya, membiarkan satu kaki lainnya terbentang di bawah—menciptakan posisi yang membuat himpitan di dalam sana terasa makin erat dan menjepit tajam. "Ah, ini nikmat banget, Mbak..." erang Malik. Ia menunduk menciumi kaki Sheila yang sedang digenggamnya, mengelus dan menyesap kulit mulus itu bak predator yang terbuai aroma khas tubuh korbannya. "Engh... Lik! Iya, terus... hentakkan lebih dalam, Sayang!" teriak Sheila nyaring. Malik langsung membungkam suara itu dengan lumatan bibirnya, menggigit bibir bawah Sheila dengan gemas hingga wanita itu melenguh pasrah. "Begini, Mbak?" Plok! Plok! Plok! Suara ben

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 89-Tugas

    "Cukup, Mbak... enghh, jangan terus di sana. Nanti aku meledak di dalam mulutmu," bisik Malik seraya menarik lembut tubuh Sheila agar kembali menghadap ke arahnya. Wajah Sheila memerah padam, bibirnya tampak begitu basah dan berkilau oleh saliva. Malik menyeka sisa-sisa kebasahan di bibir Sheila menggunakan ibu jarinya. Ia mengelus pelan bibir bawah wanita itu lalu menekannya lembut, membuat Sheila memejamkan mata menikmati sentuhan hangat yang Malik berikan. "Buka matanya, Mbak... lihat aku," pinta Malik. Sheila langsung menuruti perintah itu. Tatapan mata belonya yang berkedip dengan bulu mata lentik alami bak boneka Barbie—terpadu sempurna dengan rona merah di pipinya—membuat Malik sempat tertegun dan enggan berkedip. "Apa yang membuat Mbak lari ke sini, hm?" tanya Malik. Tangannya yang jahil mulai bergerilya, meremas dan menelusuri setiap lekuk tubuh Sheila yang kini sudah polos total. "Jangan mau tahu... tugasmu cuma memuaskanku, shhh..." jawab Sheila masih dengan sifat

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 88-Gairah Di Pagi Hari

    Malik langsung menelusupkan kepalanya ke pangkal paha Sheila, membenamkan lidahnya tepat di pusat keintiman wanita itu. Ia melancarkan jilatan dan tusukan lidah yang begitu dalam dan presisi, membuat Sheila seketika memejamkan mata dan merintih pasrah menikmati sensasi memabukkan yang merayapi seluruh saraf tubuhnya. "Engh... Lik!" erang Sheila hebat. Ia refleks merapatkan kedua paha mulusnya, menghimpit kepala Malik kuat-kuat seolah tak sanggup menampung gelombang gairah yang datang bertubi-tubi. "Sstt... Mbak, jangan terlalu berisik," bisik Malik seraya sedikit mengangkat kepalanya. Namun Sheila tak peduli lagi pada peringatan itu. Ia justru makin beringas mencengkeram rambut Malik dan mendorong kepala pria itu kembali melesak di antara pahanya. Tubuhnya melengkung ke atas, membusung nikmat saat keintiman bagian bawahnya disedot kuat dan dilumat habis oleh Malik. "Ah... shit!" erangnya dengan mata terpejam rapat. Tangannya tanpa henti memaksa kepala Malik agar masuk lebih

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 87-Apem Legit

    "Lik... ah, punyamu keras banget, gila! Andai saja punya Aris sebesar ini..." erang Sheila menyebut nama suaminya, terang-terangan membandingkan kejantanan sang suami dengan milik Malik. Malik sama sekali tidak tersinggung. Ia pernah melihat sendiri milik Aris yang memang berukuran kecil. Sebuah seringai puas terbit di wajah tampannya. "Gak bakal ada yang punya kayak gini, Mbak. Cuma aku," balas Malik bangga, menyombongkan asetnya yang dulu kerap dihina Maya karena terlalu besar hingga membuat wanita itu kewalahan. Namun wanita di hadapannya ini berbeda—Sheila selalu memuja dan mengagumi ukurannya, membuat rasa percaya diri Malik membumbung tinggi. Sheila mencondongkan tubuhnya rapat ke wajah Malik, menatap dalam-dalam paras tampan yang kini tengah memandangnya dengan tatapan sayu penuh gairah. "Kamu boleh keluarkan di dalam. Aku sudah minum pil tadi," bisik Sheila tepat di depan bibir Malik. Tanpa menunggu balasan, Sheila langsung menyambar bibir itu dengan ganas. Lidah me

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 86-Permintaan Sheila

    "Lik," panggil Sheila. Matanya menyiratkan rasa kesal sekaligus keputusasaan yang mendalam. "Aku pusing, Lik..." ucapnya lagi. Ia masih duduk di atas perut Malik, kedua tangannya bertumpu pas di atas dada bidang pria itu. Malik mengerutkan dahi. Ia sedikit menggeser posisi duduk Sheila agar bergeser agak ke bawah, pas di atas miliknya. "Ada apa, Mbak? Kenapa? Butuh obat?" tanya Malik seraya memegang pinggang ramping Sheila. Sheila menggeleng pelan. "Bukan itu, Lik. Kayaknya obatnya itu kamu deh," balas Sheila, sukses membuat mata Malik terbelalak. Pagi-pagi buta begini tertimpa Mbak Sheila... buset, hoki bener, gumam Malik dalam hati. Namun raut wajahnya tetap diatur bingung, menyembunyikan rasa senang yang membuncah. Tatapan Malik perlahan menjalar menelusuri seluruh tubuh Sheila. Wanita itu mengenakan kaus pendek ketat yang membingkai sempurna lekuk tubuhnya, memamerkan dadanya yang membusung indah. Celana tidur panjang yang membalut kakinya bergesekan langsung dengan

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 85-Sheila Datang Kekamar?

    Malik seolah mengenali suara itu. Dadanya tiba-tiba terasa panas. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya dan tetap berpikir positif, meskipun suara yang baru saja didengarnya sangat sulit untuk dijelaskan. "Ah... mungkin saja itu orang lain. Suaranya cuma mirip," ucap Malik berbisik pada dirinya sendiri. Ia melangkahkan kaki lebih cepat keluar, keningnya berkeringat saat menahan emosi yang bergejolak. Jika saja prasangka Malik benar, mungkin pria itu sudah ia hajar sampai babak belur. Namun, ia tidak bisa menuduh tanpa bukti yang jelas. Malik terus berjalan cepat menuju area parkiran. Ia masuk dan duduk di kursi kemudi, menyandarkan tubuhnya lalu mendongakkan kepala. Tangannya mengepal kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih, merasakan dadanya terbakar oleh rasa kesal yang berkecamuk. "Tapi... suara pria tadi mirip banget sama Aris," gumam Malik, pikirannya mulai tidak karuan. "Kalau sampai benar itu Aris, aku gak akan pernah memaafkannya!" bisiknya dengan ceng

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status