LOGINAku hanya bisa terdiam. Robert Calloway adalah pria dengan kekayaan termahsyur. Dia adalah keturunan konglomerat yang memiliki sejumlah bisnis di beberapa bidang. Rumahnya sudah pasti megah dan mewah.
Kenapa di rumah sebesar itu, kamarku dan Jason malah bersebelahan? Aku menghela napas. Selesai makan malam di restoran mahal itu, kami pulang tak lama kemudian. Itu adalah pengalaman pertamaku naik mobil mewah yang disetir oleh sopir pribadi. Saat masuk ke rumah itu, rumahnya benar-benar besar. Aku menelan ludah gugup. Sudah bertahun-tahun rasanya sejak terakhir kali masuk ke lingkungan semewah ini. "Jason, antar adikmu ke kamarnya." Robert berpesan, sembari satu lengannya melingkari pinggang Ibu dan membawanya pergi ke arah yang lain. Ibu terlihat tersipu. Pemandangan itu membuatku sedikit geli. Inikah kebahagiaan pengantin baru? Namun, tak bisa dipungkiri aku juga merasa senang. Setidaknya, Ibu terlihat jauh lebih bahagia dibanding pernikahan pertamanya. Jason tak berkata apa-apa, langsung mengambil tas jinjing dari tanganku, membuatku terdiam sebelum buru-buru mengekorinya.Sikapnya itu terasa familiar. Rasanya aku sering mengalami hal ini sejak SMA. Jason suka sekali tanpa aba-aba mengambil tas ransel di punggungku dan membawakannya masuk kelas. Ketika giliranku piket dan mengumpulkan buku PR anak-anak kelas ke ruang guru, ia juga langsung mengambil alih tanpa bilang apa-apa.
Setelah diingat-ingat lagi, sebenarnya sebagian kelakuan Jason juga tidak sepenuhnya menyebalkan. Begitu sampai di lantai dua, Jason menunjuk sebuah pintu dengan dagunya. "Itu kamarmu." Aku menatap pintu itu sejenak. Tak sadar, pandanganku bergeser ke pintu di sebelahnya. Itu pasti ... kamar Jason. Suara pintu yang terbuka membuat lamunanku terpecah, dan aku menyadari jika Jason sudah masuk ke kamarku. Buru-buru aku mengikutinya masuk. "Barangmu hanya ini saja?" tanya Jason. Ia mungkin sedikit heran melihat aku hanya membawa satu tas jinjing. "Ya," aku mengangguk tanpa memperhatikannya. Sebab perhatianku teralihkan oleh isi kamar ini. Kamar itu besar, furnitur dan dekorasinya lengkap. Jauh berbeda dengan kamar asrama yang kutempati di kampus di luar kota. Pernikahan ibuku benar-benar membuat hidupku berubah dalam semalam. Saat mengagumi tempat yang akan menjadi kamarku itu, aku tidak sadar dengan suara resleting dari tas jinjingku yang dibuka Jason. Begitu menoleh, aku mendapati Jason hendak membuka isi tasku! "Tunggu, jangan!" Panik, aku langsung berlari ke arahnya dan mendorongnya, tapi aku malah menubruknya. Tubuh Jason lebih dulu membentur lantai, sedangkan aku menindihnya di atas. Wajah kami nyaris beradu. Bibirku tidak sengaja bertabrakan dengan bibirnya. Sontak jantungku berdebar kencang. Bukan hanya karena kontak fisik ini, melainkan karena ... Jason hampir saja membuka tas yang isinya beberapa pasang pakaian dalamku. "Maaf," ucapku singkat di tengah kepanikanku. Aku hendak bangkit, tapi tidak bisa. Karena lengan Jason di pinggangku justru mengerat. Saat kutatap pria itu di bawahku, aku mendapati senyum miringnya yang khas itu. "Ini ... trik barumu, ya?" Entah kenapa, kurasakan pipiku terasa panas. Betapa memalukannya, Jason mengira aku sengaja menggodanya! "Lepas, Jason!" protesku sambil menggeliat. "Aku bilang lepas!" Jason seolah menikmati perlawananku, ia malah menaruh satu tangan di belakang kepalaku dan menuntunku agar bersadar di bahunya, hingga aku terpaksa mencium wangi maskulin yang entah kenapa membangkitkan memori lama. Benar juga. Ini wangi Jason. "Adik nakal," bisiknya, getaran suaranya yang rendah di dadanya terasa karena kedekatan fisikku dengannya. Napasnya menggelitik telingaku. "Siapa bilang kau bisa memanggilku begitu? Di rumah ini, kau harus panggil aku 'Kak Jason'."Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida
Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.
“Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada
"Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc
Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak
Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I







