Beranda / Romansa / Malam Panas Sang Sekretaris / Pelajaran Kecil Untuk Rey

Share

Pelajaran Kecil Untuk Rey

Penulis: Nona Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-07-26 23:14:08

"Anda benar-benar keterlaluan, Rey!" cetus Marlina Navasya, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak membakar dadanya.

Rey Aldebaran masih bersandar santai di bantal ranjang penthousenya, menatap wanita bertubuh mungil itu dengan alis terangkat tipis. "Keterlaluan bagaimana? Aku hanya menegaskan batasan, Marlina."

"Batasan?!" pekik Marlina melompat turun dari kasur, membiarkan selimut tebal itu meluncur jatuh. "Anda mengancam akan menghancurkan karir orang lain hanya karena dia berbicar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Panggilan Dari Sang Ayah

    "Siapa, Tuan Rey?" tanya Marlina Navasya ragu, matanya menatap cemas pada rahang kokoh Rey Aldebaran yang tampak mengeras kaku. Rey tidak langsung menjawab. Pria tegap itu mengangkat teleponnya, menempelkan benda tipis bernilai puluhan juta itu ke telinganya tanpa melepas genggaman hangat jemarinya di tangan Marlina. "Ada apa lagi?" sapa Rey dengan suara bariton rendah yang teramat dingin, seolah sedang berbicara pada musuh bebuyutannya."Begitu caramu menyapa ayahmu sendiri, Rey?" suara berat dan berwibawa dari pria paruh baya di seberang telepon bergema halus, menyiratkan kekuasaan mutlak yang tak terbantahkan. "Malam ini ada makan malam keluarga besar di kediaman utama. Kau harus pulang." "Aku sibuk," balas Rey singkat, hendak mematikan sambungan telepon tersebut. "Jangan mencoba bertindak lancang!" potong suara di seberang sana dengan nada menekan yang makin menajam. "Ini bukan sekadar makan malam biasa. Kita perlu membahas ekspansi bisnis ke Eropa dan laporan dewan komisaris

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Katakan Sejujurnya

    "Kalian sudah gila, ya?!" seru Marlina dengan napas memburu, menatap tajam keempat wanita yang masih mengepungnya di sudut pantri. "Mana ada hubungan apa-apa antara aku dan Tuan Rey! Kalian ini suka sekali mereka-reka cerita!" "Halah, alasan!" sahut Siska dengan nada mengejek, melipat tangan di depan dada. "Mana ada atasan yang mau-maunya menggendong sekretarisnya di atas bahu kalau cuma gara-gara urusan kantor! Jelas-jelas muka Tuan Rey tadi merah karena cemburu buta!" "Betul! Pipimu juga merah banget tuh, Marlina!" timpal Maya ikut memanas-manasi. "Ngaku saja, deh! Kalian sudah resmi pacaran, kan? Atau jangan-jangan... sudah tinggal bersama?!" Marlina merasakan darahnya mendidih seketika. "Kalian kalau bicara jangan asal, ya! Aku tidak punya hubungan spesial apa pun dengan Tuan Rey! Dan tolong, singkirkan tangan kalian dari jalaniku sekarang juga!" "Ih, ngambek, Guys!" cibir salah satu staf keuangan sambil tertawa kecil. "Tanda-tanda orang yang ketahuan menyembunyikan status nih

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Ada Hubungan Apa Kau?!

    "Aku tidak mau lagi berpura-pura tidak dekat denganmu di kantor ini," cetus Rey Aldebaran tegas, menatap lurus sepasang mata bulat milik Marlina. Marlina Navasya yang mendengarnya seketika membelalakkan matanya kaget. "Tidak! Saya tidak mau, Tuan Rey!" "Kenapa tidak mau?" tuntut Rey, alis tebalnya bertaut rapat dengan raut wajah yang mulai mengeras. "Saya tidak mau jadi bahan gosip satu gedung ini!" sembur Marlina tajam, emosinya yang baru saja mereda mendadak tersulut kembali. "Saya tidak mau dipandang sebagai wanita gatal yang menggunakan posisinya untuk menggoda atasannya sendiri! Anda pikir enak berada di posisi saya, hm?!" Rey menatap Marlina dengan tatapan yang sangat masam. Pria tegap itu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar, lalu bersedekap dada sembari bergumam dengan nada cemburu yang begitu kentara. "Bilang saja kau memang sengaja ingin tetap lajang di mata orang-orang kantor, kan?" celoteh Rey sinis dengan suara pelan namun sangat jelas terdengar. "Supaya kau bi

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Keributan

    "T-Tuan Rey, tolong lepaskan tangan Nona Navasya," panggil Yoga memberanikan diri, melangkah maju satu langkah sembari menatap takut-takut pada sang CEO. "Nona Navasya tampak kesakitan, Tuan." Rey Aldebaran memutar kepalanya perlahan. Sepasang netra kelabunya yang sedingin es mengunci lurus pada staf IT muda itu dengan kilatan membunuh yang amat pekat. "Kau mau ikut campur dalam urusanku, Yoga?" tanya Rey dengan suara bariton rendah yang sanggup membekukan seluruh aliran darah orang yang mendengarnya. "Saya cuma kasihan pada Nona Navasya, Tuan—" "Mulai hari ini kau dipecat," potong Rey singkat, datar, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Kemas barang-barangmu dari divisi IT sekarang juga dan keluar dari gedungku sebelum jam satu siang." Suara pekikan kaget dari puluhan karyawan yang menyaksikan adegan itu seketika pecah membelah keheningan kafetaria. Semua orang saling berbisik panik melihat kejamnya keputusan sang atasan. "T-Tuan Rey! Jangan gila!" teriak Marlina Navasya tidak teri

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Pelajaran Kecil Untuk Rey

    "Anda benar-benar keterlaluan, Rey!" cetus Marlina Navasya, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. Rey Aldebaran masih bersandar santai di bantal ranjang penthousenya, menatap wanita bertubuh mungil itu dengan alis terangkat tipis. "Keterlaluan bagaimana? Aku hanya menegaskan batasan, Marlina." "Batasan?!" pekik Marlina melompat turun dari kasur, membiarkan selimut tebal itu meluncur jatuh. "Anda mengancam akan menghancurkan karir orang lain hanya karena dia berbicara pada saya! Anda pikir Anda siapa, Rey?! Anda merasa punya kekuasaan penuh untuk mengatur hidup saya dan memperlakukan saya seperti barang milik Anda?!" "Kau memang milikku, Marlina," sahut Rey datar, nada suaranya begitu arogan tanpa penyesalan sedikit pun. Marlina tertawa hambar, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa kecewa dan kesal yang memuncak. Tanpa memedulikan tatapan Rey yang tertegun, Marlina meraih pakaian kerjanya yang tersangkut di kursi, lalu memakaikannya kembali ke tubuhnya denga

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Ancaman?

    "Gila! Anda benar-benar gila, Rey!" cicit Marlina Navasya panik setengah mati, buru-buru membungkam bibir tebal Rey menggunakan telapak tangan mungilnya. Marlina menahan napasnya kaku, mendengarkan langkah kaki wanita di luar pintu yang akhirnya berbunyi melangkah menjauh setelah menggerutu karena pintu ruang dokumen tak kunjung terbuka. Begitu suasana kembali hening, Marlina mendorong dada bidang sang CEO dengan sisa tenaganya, bergegas merapikan kemejanya yang agak kusut. "Kenapa? Bukankah itu cara tercepat agar semua orang tahu siapa pemilikmu?" sahut Rey Aldebaran tenang, menyunggingkan senyum miring tanpa rasa dosa sedikit pun. "Saya tidak mau jadi bahan cemoohan satu gedung ini!" sembur Marlina kesal, matanya berkaca-kaca menatap pria tegap di hadapannya. "Saya permisi kembali ke meja kerja sekarang!" Marlina berbalik hendak kabur, namun Rey hanya menatap punggung kecil itu dengan tatapan mengunci. Pria itu tahu persis, permainan pura-pura ini akan berakhir begitu jam kantor

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Kenangan Saat Hujan

    Sepanjang perjalanan menuju lokasi meeting, Rey beberapa kali meliriknya dari sudut mata. Setiap kali Marlina menyadarinya dan menoleh, Rey langsung mengalihkan pandangan pura-pura melihat ke luar jendela.Saat tiba di lobi hotel tempat pertemuan, Rey berjalan sedikit lebih cepat, lalu tiba-tiba be

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Permainan Berbalik Arah

    Sejak beberapa hari terakhir, Marlina mulai sadar bahwa Rey selalu punya cara untuk menyentuhnya, entah sengaja atau tidak. Dia memutuskan untuk tidak memberi reaksi. Jika Rey ingin bermain, dia tidak akan menjadi pihak yang kalah.Pagi ini, saat Rey memanggil ke ruangannya, Marlina hanya berdiri t

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Lelaki Dalam Foto

    Udara malam menusuk kulit saat mereka keluar dari restoran. Satu per satu pegawai berpamitan, sebagian memilih naik taksi, sebagian diantar temannya. Rey berjalan pelan ke arah mobilnya, lalu menoleh. "Marlina." Suara itu datar, tapi ada sesuatu yang memaksa Marlina berhenti. "Ya, Tuan Rey?""A

  • Malam Panas Sang Sekretaris   Menjaga Jarak?

    "Wah, lihat ini. Kenapa aku gelisah sekali." Mata lelaki tampan itu nampak gelisah. Menjaga jarak ternyata bukan hal yang mudah. Awalnya Rey pikir, mengikuti saran Marlina akan meredakan gosip. Nyatanya, itu hanya membuatnya gila. Setiap kali dia keluar dari ruangannya dan melihat Marlina terta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status