Compartir

5. Tuan Es Batu

Autor: prasidafai
last update Última actualización: 2025-11-29 17:56:24

"Tuan Jade,” panggil Daisy dengan suara yang mulai bergetar. “Tuan adalah pria baik yang tidak mungkin melecehkan wanita. Saya percaya Tuan, jadi tolong menjauh.”

“Sialan!” Jade tiba-tiba memalingkan wajahnya dengan kasar, membuat Daisy terdorong mundur.

Pria itu mengusap wajahnya frustasi dengan napas yang masih terengah-engah.

"Maaf," ucap Jade penuh penyesalan. "Maafkan saya, Daisy."

Jantung Daisy masih berdetak seperti genderang perang, pipinya memanas. Dia tidak berani bergerak, mendekat, atau pun menjauh.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah Jade yang megah. Daisy dapat melihat taman luas dengan kolam ikan mas di halaman depan.

"Kamar saya ada di lantai atas," instruksi Jade sambil berjalan tertatih-tatih, meraih pundak Daisy untuk menopang diri. "Bantu saya."

Daisy merasa segan, tetapi ketika melihat kondisi Jade yang benar-benar memburuk, dia tidak memiliki pilihan lain.

Dengan hati-hati, Daisy memandu pria itu naik tangga marmer yang lebar dan melewati koridor panjang dengan lukisan mahal menghiasi dinding.

"Kamar mandi ada di sana," tunjuk Jade pada salah satu pintu di dalam kamarnya. "Saya ingin berendam … di bathtub saja, tapi tambahkan … banyak es batu."

“Es batu?” Daisy tertegun.

“Saya tahu apa yang saya lakukan,” tukas Jade sambil menahan berat tubuhnya pada dinding. “Cepat!”

Daisy segera berlari ke kamar mandi. Dia menyalakan air, lalu mengatur suhu sambil mengisi bathtub dengan es batu yang dia ambil dari lemari pendingin khusus di kamar mandi.

“Dia punya banyak stok es batu di rumahnya,” komentar Daisy saat melihat hanya ada es batu yang memenuhi lemari pendingin itu.

Ketika bathtub sudah penuh dengan air yang cukup dingin, Jade masuk.

"Obat saya," ucap Jade sambil melepas jas dan kancing kemejanya. "Kotak P3K di atas wastafel. Ambilkan botol dengan label biru."

Kini Jade berbicara lebih cepat, seperti tengah terburu-buru.

Daisy menemukan kotak itu dan mencari botol yang dimaksud. Ketika dia memberikannya ke Jade, pria itu langsung meminum beberapa tablet.

Dalam beberapa detik, Jade tampak sedikit membaik.

"Sekarang kamu pergi ke ruang tamu," pinta Jade. "Tunggulah saya di sana. Jangan pergi ke mana-mana."

Daisy duduk di ruang tamu rumah Jade sambil meremas ujung blazernya.

Ruangan itu sangat besar, dengan sofa kulit hitam menghadap ke perapian dan lukisan-lukisan seni modern di dinding.

Beberapa menit kemudian, Jade muncul dari tangga dengan pakaian yang lebih kasual, celana abu-abu gelap dan kaus putih lengan panjang.

Wajah dingin dan mengintimidasi yang biasa Daisy lihat sudah kembali sepenuhnya.

"Maaf atas tindakan gegabah saya di mobil," ujar Jade tanpa basa-basi sambil duduk di sebelah Daisy. “Dalam rapat siang tadi, ada seseorang yang memberi saya minuman. Di dalamnya mungkin dicampur zat tertentu. Biasanya digunakan … untuk melunakkan kesepakatan bisnis dengan membuat target kehilangan kendali.”

Daisy mengangkat kedua alisnya, sementara Jade menghela napas.

“Obat perangsang, Daisy.” Jade menjelaskan. “Mereka ingin saya tidur dengan seorang wanita, lalu menjadikan itu sebagai alat pelicin.”

Pipi Daisy memerah, dia mengalihkan pandangan sesaat.

“Beberapa kali terjadi. Karena itu saya selalu membawa obat penawar. Hanya saja, hari ini saya lupa,” sambung Jade.

Daisy membatu. “Jadi … Tuan sudah pernah–”

“Tidak pernah sampai menyentuh siapa pun. Tidak akan pernah.” Tatapan Jade menusuk Daisy. “Saya tahu cara mengatasinya. Itu sebabnya saya bilang harus pulang. Ini pertama kalinya saya hampir lepas kendali. Maaf, Daisy.”

Daisy dan Jade saling menatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya gadis itu menunduk sambil mengangguk pelan. “Saya mengerti.”

“Baiklah.” Jade menyugar rambutnya, lalu berdiri hendak mengambil kunci mobil. “Biar saya antar kamu pulang.”

“Tuan Jade tidak perlu mengantar saya. Saya bisa naik kendaraan umum,” tolak Daisy perlahan berdiri juga.

Jade memperhatikan raut ketakutan gadis itu, lalu mengangguk. “Saya akan panggilkan taksi untukmu.”

Daisy mengangguk setuju

"Sebelum kamu datang ke kantor besok, datanglah ke sini dulu."

“Ada apa, Tuan?” tanya Daisy berusaha menetralkan detak jantungnya.

"Saya akan dinas luar kota bersama Renata sebagai tugas terakhirnya sebelum cuti melahirkan," jawab Jade. "Tapi Renata sudah mulai mudah lelah, jadi dia tidak bisa menyiapkan keperluan saya. Kamu yang akan melakukannya."

Daisy teringat Renata, asisten pribadi lama Jade, yang juga mengajari gadis itu beberapa hal di minggu pertama. Wanita berbadan dua itu memang mudah lelah, bisa berbahaya jika dia memaksakan diri.

"Baik, Tuan," jawab Daisy.

Keesokan harinya, Daisy tiba di rumah Jade cukup pagi, ketika cahaya matahari masih terlihat malu-malu menampakkan diri.

Dengan password pintu yang sudah Jade berikan lewat pesan, Daisy masuk ke rumah yang tampak sunyi itu.

Tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Jade di mana pun, Daisy langsung bergerak menuju kamar utama.

Ruang pakaian Jade terletak di sebelah kamarnya, sebuah ruangan berukuran besar dengan rak-rak yang rapi berisi puluhan jas, kemeja, dan pakaian berkualitas tinggi.

Renata juga sudah memberikan sebuah daftar barang bawaan yang harus Daisy siapkan.

Gadis itu mulai bekerja setelah menarik koper hitam besar ke tengah ruangan dan membukanya.

Supaya gerakannya lebih leluasa, Daisy melepas blazer dan meninggalkannya di kursi. Menyisakan blus putih tanpa lengan yang memamerkan memar-memar keunguan di sepanjang lengan.

Daisy terlalu fokus pada pekerjaannya untuk menyadari bahwa Jade telah keluar dari kamar mandi.

"Daisy …."

“Aahh!” Daisy menjerit kencang, hampir terjatuh karena tersandung koper.

Jade berdiri di ambang pintu ruang pakaian dengan hanya mengenakan handuk putih yang dililit di sekitar pinggang.

Sisa tetesan air masih mengalir di dada dan bahu Jade yang berotot. Rambut basah yang menempel di dahi menambah kesan seksi pada pria itu.

"Maaf! Maaf!" seru Daisy sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu memutar tubuh membelakangi Jade. "Saya pikir Tuan tidak ada di kamar. Saya akan pergi."

Daisy melangkah cepat ke arah pintu, tetapi tangan Jade menyambar dan memegang bahunya.

Gadis itu berhenti, tetapi dia tetap menjaga wajahnya tetap tertutup.

"Memar ini …" ucap Jade sambil mengusap lembut tangan Daisy dari bagian atas ke bawah. "Daisy, siapa yang membuatmu seperti ini?!”

Mata Daisy membulat, spontan dia menarik tangannya dari genggaman Jade.

‘Bodoh!’ rutuk Daisy dalam hati sambil mengambil blazernya.

"B-bukan urusan Tuan," jawab Daisy sambil memakai kembali blazernya, menyembunyikan memar-memar itu. "Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dan segera pergi."

Jade memang berhenti bertanya. Namun bukan berarti dia menyerah mencari tahu.

Pria itu mengikis jarak dengan Daisy.

"Buka blazermu!” perintah Jade tegas.

Daisy menggigit bibir. Jantungnya berdetak dengan cepat.

"Tuan, saya benar-benar harus–"

"Buka," ulang Jade penuh penekanan, manik cokelatnya menggelap. "Sekarang, Daisy."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   134. Lebih Banyak, Lebih Mahal, Lebih Cantik

    “Tidak sengaja,” jawab Daisy akhirnya. “Saat aku melihat Hyper Move mendapatkan tender yang sama dengan Poseidon Exports.”Vincent mengangguk-angguk perlahan sambil mengamati Daisy. Anggukan itu disertai senyum samar.Daisy mengalihkan pandangannya untuk mengatur napas, lalu berkata, “Terima kasih untuk gaunnya.”Senyum Vincent langsung melebar. Tangan pria itu terhenti di rambut Daisy. Mata abu-abunya memancarkan kelegaan.“Aku bisa memberikan lebih banyak,” balas Vincent percaya diri. “Lebih mahal, dan lebih cantik.”Mata Daisy membola kecil. Gadis itu spontan menggeleng sambil mengangkat kedua tangan di pangkuan untuk menciptakan jarak yang sopan.“Tidak perlu, Vincent. Aku jarang pergi ke acara-acara formal yang memerlukan gaun cantik seperti ini.”Vincent mencondongkan sedikit tubuh, tatapannya turun menyusuri wajah Daisy dari mata hingga bibir, lalu kembali naik dengan lambat.“Kau jauh lebih cantik dari g

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   133. Calon Suami Daisy

    Daisy menaruh cangkirnya yang kosong dengan bunyi lembut di atas tatakan. Jemarinya masih melingkar di pegangan cangkir sejenak sebelum akhirnya terlepas."Saya butuh penjelasan mengapa Tuan Vincent hadir malam ini sebagai ...."Daisy tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.Vincent mengangkat kedua alisnya tinggi. Salah satu sudut bibir pria itu sedikit terangkat."Calon suamimu?" tanyanya.Daisy mengangguk perlahan. Tenggorokannya terasa kering meski baru saja minum teh."Rasanya pertemuan-pertemuan kita, lebih dari sekadar kebetulan, Tuan," tukas Daisy hati-hati.Vincent tertawa geli. Suaranya rendah dan dalam, terdengar menyenangkan di telinga. Namun pria itu tidak pernah melepaskan tatapannya pada Daisy, mata abu-abunya tetap terkunci pada wajah gadis itu."Aku akan menjelaskannya." Vincent berhenti tertawa. "Tapi pertama-tama, aku perlu memperbaiki sesuatu di antar

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   132. Kita Akan Menjadi Keluarga

    Vincent sangat manis.Pria itu bahkan menarik kursi untuk Daisy, baru kemudian dia duduk di sebelah gadis itu. Dia terus tersenyum tipis, tetapi penuh perhatian, seolah Daisy adalah satu-satunya orang di ruangan itu.Neil duduk di kursi kepala keluarga. Di sebelah kanannya ada Olga dan Bianca, sementara di sebelah kirinya ada Vincent dan Daisy.Meja panjang itu penuh dengan hidangan mewah, mulai dari daging panggang, salad segar, sup krim, hingga berbagai makanan pembuka.Neil menegakkan punggung, memperjelas posisinya sebagai tuan rumah."Selamat datang di kediaman Keluarga Lulla, Vincent," ucap Neil ramah.Vincent mengangguk dan tersenyum tipis."Terima kasih sambutannya, Papa," sahut Vincent penuh hormat.Neil tersentak. Kedua alisnya terangkat tinggi."Papa?" ulang Neil tidak percaya."Ya, Papa." Vincent menjawab tanpa ragu, seolah itu adalah hal yang sangat wajar. "Saya boleh memanggil Tua

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   131. Siapa Pria Itu?

    Daisy mendorong pintu kamarnya dan berhenti tepat di ambang.Gadis itu sedikit terkejut kala melihat kamar yang biasa dia tempati sudah didekorasi ulang. Penuh dengan furnitur baru dan didominasi dengan warna putih yang minimalis.Tempat tidur dengan sprei linen putih, meja rias kayu oak dengan cermin besar, bahkan karpet bulu halus di lantai.Olga pasti menyiapkan ini semua untuk berjaga-jaga. Namun Daisy merasa ini sia-sia. Kenyataannya tidak ada siapa pun lagi yang tinggal di kamar ini.Daisy melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Mata gadis itu langsung tertuju pada kotak besar di atas meja rias, kotak yang Olga maksud.Dengan napas panjang, Daisy membuka kotak itu. Di dalamnya terbentang sebuah gaun satin berwarna gading pucat yang memantulkan cahaya dengan kilau lembut. Kain itu terasa dingin saat jemari Daisy menyentuhnya.Daisy akhirnya mandi dengan air hangat yang menenangkan saraf tegangnya. Setelah keluar, g

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   130. Akal-akalan Jade

    Adam yang berada di tengah-tengah mereka, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan seperti penonton pertandingan tenis. Pria paruh baya itu terlihat canggung, tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Daisy menatap lurus ke depan, tidak pada Jade, tetapi pada vas bunga di atas meja di samping sofa. Bibirnya mengatup rapat, menahan kata-kata yang ingin keluar. Jade juga menatap Daisy, matanya tidak pernah lepas dari wajah gadis itu. Ada keinginan besar di sana. Keinginan untuk meraih tangan Daisy, untuk bicara langsung tanpa perantara, dan menghancurkan tembok yang Daisy bangun di antara mereka. Namun Jade tahu dia tidak bisa melakukan itu di sini. Adam berdeham pelan, mencoba memecah keheningan. "Nona Daisy, maaf, tapi keputusannya sudah tidak bisa diubah." Adam menatap Daisy penuh penyesalan. "Bukankah gaji 10 juta per bulan dengan berbagai tunjangan itu masih lebih masuk akal daripada 60 juta per bulan?"

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   129. Menjaga Kepercayaan Daisy

    Pertanyaan itu menggantung di udara. Jade berhenti melangkah, tetapi tidak menoleh ke belakang. Punggung pria itu tegap, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara dia berdiri. Seolah pertanyaan Elias menyentuh sesuatu yang selama ini Jade coba abaikan. "Kenapa, Kak?" Elias mendesak. "Mereka kakak beradik. Seharusnya hubungan mereka baik-baik saja." Jade perlahan memutar tubuhnya. Wajah pria itu tidak lagi dingin, tetapi juga tidak hangat. Hanya datar, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. "Kau pikir semua keluarga seperti keluarga kita, Elias?" Suara Jade rendah. "Tidak semua kakak beradik memiliki hubungan yang baik. Ada yang lebih buruk dari yang kau bayangkan." Elias terdiam. Pria itu menatap kakaknya dengan mata yang mulai mengerti, meski belum sepenuhnya. "Lalu ... apa yang terjadi antara mereka?" Jade menghela napas pelan, seolah pertanyaan Elias bukan hal ya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status