Share

7. Permintaan Nakal Daisy

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2025-11-29 19:01:39

Jade menoleh, satu tangannya masih memegang koper yang terbuka.

“Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?” tegur Jade, kemudian menjawab, “supaya koordinasi lebih mudah, Daisy.”

“Ah ya,” ucap Jade lagi, kali ini sambil merogoh sesuatu dari saku celananya dan mendekat. “Kunci khusus pintu penghubung ini, kamu yang pegang. Silakan kunci saja.”

Daisy menerima uluran kunci itu, meski wajahnya masih tampak terkejut.

“Baik, Tuan,” sahut Daisy kemudian.

“Istirahat yang cukup,” tukas Jade sambil berjalan menjauh. “Besok jadwal kita padat.”

Daisy mengangguk cepat, lalu menutup pintu penghubung dari sisinya.

Walaupun sudah mandi dengan air dingin, jantung Daisy masih belum merasa tenang. Namun tubuhnya terasa sangat lelah.

Baru hitungan menit sejak Daisy terlentang di kasur, kelopak matanya mulai terasa berat.

Daisy hampir saja terpejam ketika ponsel di atas nakas berbunyi. Pesan masuk dari Bianca.

Hanya membaca namanya saja, wajah Daisy memucat.

[Di mana kamu, Jalang?]

Daisy menegang. Dia membaca pesan itu berkali-kali sambil menggigit bibirnya kuat.

Tangan Daisy mulai bergetar. Bianca tidak pernah mencarinya, kecuali untuk melampiaskan amarah.

Daisy mengusap wajah frustasi. Pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak membalas.

Gadis itu menutup ponsel dan meringkuk di bawah selimut.

“Aku tidak di rumah. Dia tidak bisa melakukan apa-apa,” bisik Daisy menenangkan diri.

Daisy tidak sadar kapan mimpi buruk itu mulai.

Dalam mimpi, seseorang menarik tangan Daisy dan menyeretnya ke ruang gelap. Suara Bianca terdengar marah, lalu berubah menjadi jeritan.

Napas Daisy memburu. Dia mencoba berlari, tetapi kakinya seperti terikat.

"Tolong! Tolong!" jerit Daisy dalam tidur, tubuhnya berkeringat dingin di atas ranjang. "Kak Bianca, jangan! Jangan!"

Jade tersentak, tubuhnya spontan duduk tegak.

“Daisy?” ucap Jade pelan, berusaha memastikan pendengarannya tidak salah.

Begitu Daisy kembali berteriak dari kamar sebelah, Jade melompat dari ranjangnya dan berlari ke pintu penghubung.

“Daisy?!” panggil Jade sambil mengetuk pintu penghubung. “Daisy, buka pintunya!”

Tidak ada respons.

Jade mengetuk lebih keras. “Daisy!”

Tetap tidak ada jawaban. Suara Daisy justru berubah menjadi isakan yang memilukan.

“Sialan!” Jade mengumpat pelan lalu bergegas menelepon resepsionis hotel dan meminta mereka membuka paksa kamar Daisy dari pintu utama.

Ketika pintu terbuka, pemandangan yang Jade lihat membuat hatinya mencelos.

Daisy terbaring di ranjang sambil menangis dalam tidurnya yang gelisah. Keringat mengalir di wajah gadis itu, dan tubuhnya bergetar seperti sedang mengalami kedinginan ekstrem.

Tanpa berpikir panjang, Jade duduk di tepi ranjang. Pria itu melingkarkan lengannya di sekitar tubuh Daisy dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Shhh, saya di sini. Kamu aman." Jade membisikkan kata-kata yang menenangkan, meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Daisy terbangun, setengah sadar akan kehangatan yang membungkusnya.

Gadis itu perlahan mendongak pelan dan berusaha membuka mata.

“Tuan … Jade?” bisik Daisy memastikan.

Pandangannya masih tampak kabur.

“Ya.” Jade mengusap punggung Daisy pelan. “Kamu hanya bermimpi buruk.”

Daisy menutup mata lagi berusaha mengatur napas. "Tidurlah di sini, Tuan."

Jade membeku. Tatapannya turun pada wajah Daisy yang pucat dan basah oleh air mata.

“Tolong .…” Daisy menambahkan, terdengar putus asa.

Matahari pagi masuk melalui celah gorden. Daisy terbangun dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Namun ketika Daisy membuka mata sepenuhnya, Jade yang duduk di tepi ranjang dan memunggunginya, mengejutkan gadis itu.

“Tu-Tuan Jade?!” manik Daisy membulat.

Jade bergeming.

Beberapa detik kemudian, Jade menoleh dan Daisy melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih.

Ponselnya berada di tangan Jade. Dengan layar yang menyala dan menu riwayat pesan terbuka.

"Tuan!" Daisy langsung bangkit dan merebut ponselnya. “Kenapa Tuan membuka ponsel saya?! Kenapa Tuan ada di kamar saya?!”

Daisy lupa bahwa semalam dia sendiri yang memintanya.

Jade tidak menjawab. Tatapannya justru melunak melihat Daisy berdiri gemetar.

Piyama Renata yang kebesaran menggantung longgar di tubuh Daisy, membuat memar-memarnya terlihat samar.

Mengingatkan Jade pada pesan di ponsel Daisy yang baru saja dia baca, penuh hinaan dan ancaman.

[Jalang tidak berguna! Sebenarnya di mana kamu?!]

[Lihat saja, Daisy, aku akan membunuhmu, jika aku berhasil menemukanmu!]

[Angkat teleponnya, Bodoh! Apa kau sibuk melacur?]

[Berapa pria yang kau layani tadi malam?]

Itu beberapa yang Jade ingat. Dikirim dari satu kontak yang sama, Bianca Lulla.

"Apa hubunganmu dengan Keluarga Lulla?" tanya Jade, mengabaikan protes Daisy.

Daisy tersentak. “Saya … tidak ada hubungan apa-apa.”

“Daisy.” Jade menatapnya tajam. “Saya sudah membaca semua pesannya. Percuma kamu berbohong.”

Daisy menggigit bibir. “Tuan sudah bersikap lancang. Meskipun Tuan atasan saya, Tuan tidak punya hak–”

"Kamu berteriak minta tolong semalam!" potong Jade, suaranya meninggi karena emosi yang meledak, “dan kamu ketakutan setengah mati sambil menyebut nama Bianca.”

Jade berdiri, mata cokelatnya berkilat dengan kekhawatiran yang bercampur kemarahan. "Lihat dirimu, Daisy! Memar-memarmu, mimpi buruk yang membuatmu menangis dalam tidur, semua itu membuat saya merasa harus melindungimu dari sesuatu. Dari apa atau siapa pun yang membuatmu ketakutan seperti itu!"

Daisy menatap Jade dengan air mata berlinang. “Kenapa?”

Jade hendak menjawab, tetapi nyatanya dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaan Daisy dalam kepalanya.

Daisy mengusap air mata dengan punggung tangan. “Saya … anak pembantu Keluarga Lulla. Diangkat menjadi anak mereka setelah ibu saya meninggal.”

Berdasarkan pesan Daisy yang Jade baca, dia memang sudah menebak seperti itu. Namun mendengarnya langsung membuat dada Jade berdesir aneh.

“Jadi memar itu …” ucap Jade pelan, “ulah mereka?”

Daisy menunduk. “Bukan mereka. Hanya satu orang.”

Tanpa bertanya lebih jauh, Jade sudah tahu siapa orangnya. Pria itu tidak sadar mengepalkan tangan.

"Di pesta pertunangan Tuan," lanjut Daisy, "saya tidak tahu Kak Bianca akan bertunangan dengan Tuan, karena selama ini yang saya tahu, kekasih Kak Bianca adalah–"

Daisy berhenti. Mata gadis itu membulat menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.

"Andrew?" tanya Jade sambil mengangkat salah satu alis.

"Bagaimana Tuan tahu nama itu?" tanya Daisy.

"Waktu kita bertemu di pesta pertunangan, saya diam-diam mengikutimu dan tidak sengaja mendengar semuanya dari luar toilet wanita," jawab Jade seraya tersenyum miring. "Termasuk saat dia berkata bahwa dia sedang menunggu Bianca."

Daisy jatuh berlutut. Air mata meluncur lagi tanpa bisa dia tahan.

“Tuan, saya mohon jangan bilang pada Kak Bianca, maupun orang tuanya kalau saya bekerja dengan Tuan, dan memberitahu tentang hubungan Kak Bianca dengan Andrew pada Tuan. Saya tidak bisa kehilangan pekerjaan saya.” Daisy merendahkan tubuhnya, bersujud di kaki Jade dengan lutut gemetar. “Saya harus bertahan supaya bisa keluar dari rumah mereka hidup-hidup.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   276. Jade Tidak Akan Bisa Menebaknya

    “Nona Daisy!” Suara wanita itu memecah udara pagi yang masih dipenuhi kabut tipis. Daisy yang baru saja menuruni anak tangga kereta berhenti melangkah. Dia menoleh ke arah sumber suara itu. Di ujung peron, seorang wanita muda melambaikan tangan beberapa kali dengan semangat. Senyumnya pun sangat lebar. Daisy langsung mengenalinya. “Martha?” sapa Daisy. Pelayan yang pernah Vincent pekerjakan khusus untuk melayani Daisy yang terkurung di rumah itu mengangguk cepat sambil tertawa kecil, lalu berjalan mendekat. Daisy ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kota, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Begitu jarak mereka cukup dekat, Martha berhenti dan sedikit menundukkan kepala. “Selamat datang, Nona Daisy.” Daisy terkekeh pelan. “Tolong, pakai nama saja,” pinta Daisy. “Kamu bukan lagi pelayanku.”

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   275. Memantaskan Diri

    Jade meraih amplop itu. Hampir terlihat seperti sedang merebutnya dari tangan Sam. Pria itu membukanya dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi. Dia mulai membaca dengan mata yang bergerak cepat dari baris ke baris. [Tuan Jade, Saat Tuan membaca surat ini, mungkin saya sudah tidak berada di tempat yang bisa Tuan jangkau. Jangan khawatir. Saya tidak pergi karena membenci Tuan. Justru sebaliknya. Saya pergi karena terlalu menghormati Tuan. Terima kasih sudah datang ke hidup saya saat dunia terasa begitu gelap. Terima kasih sudah memegang tangan saya ketika saya bahkan tidak yakin masih pantas untuk hidup. Tuan pernah berkata bahwa saya kuat. Padahal sebenarnya, kekuatan saya selama ini hanyalah karena Tuan berdiri di belakang saya. Jika suatu hari Tuan melihat langit sore yang cerah, anggap saja itu saya yang sedang tersenyum dari jauh.

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   274. Bertemu Daisy untuk yang Terakhir Kali

    "Daisy?" panggil Gea seraya mengangkat kedua alis penuh kekhawatiran melihat sahabatnya termenung terlalu lama dengan tatapan kosong. Panggilan Gea membuyarkan lamunan Daisy. Daisy segera menjawab sambil menggeleng pelan, "Aku mengganti nomor telepon. Dan sejak awal bertemu kembali setelah aku sadar, kami tidak saling bertukar nomor." Kini luntur sudah prasangka Daisy yang mengira bahwa Jane, Sereia, dan Elias tidak menjenguknya karena menjaga perasaan Jade atau ikut kecewa pada Daisy karena menolak lamaran kakak mereka. Namun ternyata itu semua karena mereka sudah tidak ada di Suri. "Ah ya, Elias titip salam untukmu, Daisy. Dia juga minta maaf karena tidak sempat berpamitan," sahut July yang sedang memeriksa ponselnya. Sepertinya July sedang saling mengirim pesan dengan Elias. Wajahnya terlihat lebih cerah saat menatap layar ponsel. "Sampaikan kembali salamku," balas Daisy sambil tersenyum tipis. "Semoga Elias ce

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   273. Pesta Perpisahan

    Pintu apartemen itu akhirnya terbuka, tepat setelah Daisy menekan tombol kirim di ponselnya. Gea muncul dari sana mengenakan bathrobe putih dan handuk berwarna senada di kepalanya. "Maaf, Daisy, aku baru saja selesai mandi dan July sedang mendengarkan musik dengan headphone, jadi dia tidak mendengarmu," ucap Gea sambil membukakan pintu lebih lebar. "Masuklah." Daisy masuk sambil membungkuk sopan. "Tidak apa-apa. Kupikir kalian belum sampai," balas Daisy. Gea menutup pintu apartemennya kembali. Dia mengajak Daisy masuk lebih dalam. Apartemen Gea memiliki ruang tamu yang cukup luas dengan sofa berwarna krem dan meja kaca yang bersih. Walaupun tidak seluas apartemen Daisy yang dulu, tetapi tempat ini tetap terasa nyaman dan penuh dengan sentuhan personal. "Di mana Rex?" tanya Daisy sambil menyapu pandangannya ke sekeliling, mencari-cari sosok berbulu yang sangat dia rindukan.

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   272. Titipan Daisy

    Daisy tidak tahu dirinya merasa kesal karena Jade seperti mengingkari janjinya, atau karena bukan Jade yang ada di sana untuk menyambutnya keluar dari rumah sakit. Kedua perasaan itu bercampur aduk di dadanya, membuat Daisy semakin bingung dengan apa yang sebenarnya dia inginkan. "Tuan Jade tidak mungkin lupa," jawab Sam. "Beliau berani mengirim saya ke sini, karena tahu Nona Daisy akan mampir ke suatu tempat sebelum benar-benar pergi." Daisy membulatkan kedua bola matanya sesaat. "Tahu dari mana?" tanya Daisy sambil menyipitkan mata. Tatapan Daisy penuh dengan kecurigaan dan sedikit amarah yang mulai memuncak. Selain bekerja sebagai sopir Jade, Daisy yakin Sam melakukan hal lebih dari itu, seperti mungkin memata-matai pergerakan Daisy, mencatat setiap langkahnya, dan melaporkan segala aktivitasnya pada Jade tanpa sepengetahuan dirinya. "Saya tidak berhak bertanya seperti

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   271. Berpura-pura Tidak Mendengar

    Daisy memutuskan untuk mengabulkan permintaan terakhir Jade, karena pria itu juga setuju untuk mengabulkan permintaan terakhirnya. Ini adalah kesepakatan yang adil. Selama satu bulan penuh, Daisy menjalani fisioterapi dengan penuh dedikasi dan tekad yang sangat kuat untuk bisa berjalan kembali. Sampai akhirnya di suatu siang yang cerah, dokter masuk ke ruangan Daisy saat gadis itu tengah berdiri di sisi ranjang sambil merapikan barang bawaannya yang tidak begitu banyak. Daisy sudah tidak lagi mengenakan pakaian pasien. Kini gadis itu memakai pakaian kasual warna kesukaannya, blus merah muda pastel yang lembut dengan celana panjang krem yang nyaman. "Selamat siang, Nona Daisy!" sapa dokter dengan ceria sambil melangkah masuk. "Senang sekali melihat Anda hari ini. Anda akan pulang, bukan?" Daisy tersenyum. "Ya, fisioterapi saya sudah selesai. Berkat dokter, perawat, dan terapis, saya sudah bisa berjalan kembali. Ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status