Home / Romansa / Malam Pertama dengan Dosenku / Demi Sebuah Kedudukan

Share

Demi Sebuah Kedudukan

Author: Nia Kannia
last update Last Updated: 2025-03-21 08:58:34

Entah kenapa aku muak melihat pria yang berusia sebaya dengan Pak Kaivan itu.

Dia tidak sendiri. Dua orang lainnya berdiri di belakangnya layaknya bodyguard.

"Hai, kamu!" Kini ekor matanya beralih padaku yang berdiri di belakang punggung Pak Kaivan.

"Ayam kampus!" ejeknya sambil tersenyum miring. Dia maju beberapa langkah untuk mendekatiku. Namun, Pak Kaivan menggeser tubuhnya menghadang pria itu.

"Bukankah kita sudah janjian sebelumnya? Tapi di sini rupanya kamu!" Dia masih tak menyerah. Ya, dia memang Pak Arga. Dosen pembimbing skripsi yang membuatku tersesat di sini. Entah kenapa aku yakin jika dia sengaja memberiku nomor kamar yang salah. Jangan ditanya bagaimana keadaanku sekarang, rasanya seperti tak bermalu lagi.

"Bisakah kau berhenti melibatkan orang lain dalam masalah kita, Ga?" tekan Pak Kaivan dengan suara berat.

Pak Arga menyeringai lagi. "Sayangnya tidak. Tidak akan seru jika kita hanya bermain berdua, Kai." Dia menjawab santai.

"Ssst." Pak Arga setengah menoleh menatap pada salah seorang yang sejak tadi berdiri siap siaga. Dia memberi kode dengan menggerakkan kepalanya.

Pandanganku beralih pada pria berbadan tegap yang melangkah masuk. Dengan penuh keyakinan dia melangkah menuju nakas. Tangannya mengambil sesuatu dari vas bunga di sana. Sebuah benda kecil yang aku yakin adalah sebuah ... kamera pengintai.

"Br-eng. sek lo, Ga!"

Aku terkesiap menoleh pada Pak Kaivan yang sudah mendorong tubuh Arga. Namun, seseorang yang tadi berdiri di belakang Pak Arga dengan sigap menghadang.

Pak Arga menyeringai lagi, membenarkan jaketnya yang sedikit berantakan. Sungguh, rasanya aku ingin melemparnya dengan batu.

"Santai, Bro. Kita selesaikan masalah ini dengan santai." Pak Arga berucap dengan begitu santai. Seolah masalah yang dia buat ini adalah masalah kecil.

Pria itu melangkah melewati kami dan diikuti oleh pria yang tadi menghadang Pak Kaivan. Mereka menghampiri pria yang mengambil kamera pengintai tadi yang saat ini tengah sibuk dengan sebuah laptop. Entah kapan dan dari mana dia mendapatkan benda itu.

Aku masih menahan kesal, air mata sejak tadi pasang surut. Kenapa hal ini harus terjadi padaku? Tidak cukupkah aku hanya kehilangan kesucian saja. Mungkinkah hari ini akan menjadi awal dari kehancuranku?

"Tenang, Al. Saya janji semua akan baik-baik saja." Suara Pak Kaivan terdengar setengah berbisik mencoba menenangkan.

Bagaimana bisa dia bilang akan baik-baik saja? Kupikir pria itu akan melakukan apa pun yang dia mau.

"Tanda tangani ini, Kai, maka video rekaman adegan ran. jang kalian akan aman." Pak Arga setengah melempar sebuah map di atas tempat tidur.

Pak Kaivan melangkah mendekat pada rivalnya itu. Aku tidak tahu itu berkas apa, tetapi pria matang itu segera membubuhkan tanda tangann

setelah membaca beberapa saat.

"Kau puas!?" Pak Kaivan setengah membanting map itu ke lantai, sehingga membuat map dan isinya berhambur. Salah satu anak buah Pak Arga memungutnya.

"Kai ... Kai ..." Pak Arga menyeringai lagi. "Kau memang adik ipar yang paling payah. Jika kau mendengarkanku beberapa hari yang lalu, ini tidak akan terjadi. Sekarang semua sudah telanjur. Telanjur ada korban dan ...." Pak Arga melirikku sesaat. "Dan ... kalau Kinan tahu ini ...."

"Kinan akan tahu seperti apa kakak kesayangannya ini sebenarnya." Pak Kaivan menyahut dengan cepat. "Sekarang bawa mereka pergi dan tinggalkan benda itu." Pak Kaivan menunjuk laptop yang di sana sudah tertanam chip memori kamera pengintai yang mereka pasang. Aku bisa mendengar suaranya yang seakan menahan amarah.

"Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau mau?" lanjutnya kemudian.

"Baiklah, silakan nikmati waktu berdua kalian. Masih ada waktu untuk ronde kedua sebelum subuh." Pak Arga menyeringai lagi, kemudian berlalu dengan diikuti oleh kedua kaki tangannya. Pintu ditutup kembali oleh salah satu dari mereka.

Pak Kaivan menghempaskan bokongnya ke kasur. Dia menunduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Dia kemudian meraih laptop yang masih terbuka di sana. Dia tampak serius menggerakkan jari di atas touch pad, mungkin mencari sesuatu di sana, beberapa saat kemudian tangannya berhenti bergerak. Matanya fokus menatap layar. Namun, beberapa saat kemudian dia menutup laptop itu dengan kasar.

Sementara aku masih mematung. Meresapi berbagai macam perasaan yang tak jelas. Tak tahu bagaimana langkah selanjutnya.

Dia lalu mendongak, menatap padaku. Membuatku menggeser sedikit arah pandangan darinya.

"Maafkan saya, Al," desahnya kemudian. "Kamu harus terlibat dalam masalah ini. Saya nggak habis pikir Arga bisa melakukan ini hanya demi sebuah kedudukan yang bagi saya sebenarnya tidak begitu penting."

Aku bergeming. Masih berdiri di tempat yang sama. Sejak tadi aku masih terus berusaha untuk menguatkan diri sendiri.

"Duduklah, kita harus bicara. Semua sudah terjadi." Pak Kaivan bersuara lagi sambil menatap.

Aku menunduk. Kemudian duduk di ranjang yang sama, tetapi di sudut yang berbeda. Apalagi yang harus dibicarakan? Dia tak kan mungkin berpikir untuk menikahiku, kan?

Jika, ya, mau dikemanakan istrinya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Memilih Pulang (end)

    Alya menahan napas sejenak. Ditatapnya wajah suaminya dengan sedikit bingung. Lalu tertawa sambil memukul pelan lengan sang suami. Membuat Kaivan nyengir "Bercandanya jangan aneh-aneh deh, Mas." Alya menimpali. "Siapa yang bercanda, aku serius." Kaivan menarik Alya yang masih berdiri untuk duduk. "Jangan aneh-aneh deh, Mas. Ingat umur. Malu sama cucu," lanjut Alya lagi. Kaivan menarik bibirnya membentur lengkungan. "Kamu masih cocok gendong bayi, Yang. Masih seksi dengan perut besar." Kaivan menatap kosong pada Alya, seolah-olah sedang melihat istrinya dari versi yang berbeda. "Mas pikir hamil di usia lanjut itu mudah? Laki sih enak, cuma lihat doang." Alya berlanjut mengomel. Dia melirik kesal pada sang suami. Bukannya marah, Kaivan tersenyum lagi. Itu adalah ekspresi Alya yang lama ia rindukan. Terlihat kesal, tetapi bukan dingin. "Ya udah, kalau kamu gak mau, gak apa-apa, Yang. Aku cuma mengutarakan keinginanku aja. Kalau kamu gak setuju, aku gak maksa," ucapnya lirih kemudia

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Keinginan Absurd

    Kaivan merasa gamang setelah pintu tertutup. Satu kata yang diucapkan Alya barusan cukup mengganggu pikirannya. Bukan kosakatanya, tetapi bagaimana Alya mengucapkannya. Jelas ada yang berbeda.Ia berdiri sejenak dalam diam. Mencoba mencari apa yang salah. Kenapa Alya mempertanyakan keraguan lagi. Lantas, bagaimana ia membuktikannya? Bagaimana ia menghilangkan keraguan dari dalam diri Alya? Nyaris tiga puluh tahun, merek bersama. Namun, kali ini begitu sulit untuk menyelami hati Alya. Meski ia terus mencoba. Kaivan memutar tubuh, membuka kembali pintu kamarnya dan kembali ke ruang tengah tempat di mana ia meninggalkan Alya sendirian tadi. Dia mempercepat langkahnya, sehingga menghasilkan suara ketukan pada lantai dari tongkatnya. Alya yang masih duduk di tempat yang sama, menoleh dan spontan berdiri melihat langkah tergesa-gesa sang suami.Ia makin heran saat melihat Kaivan tampak terengah-engah. Namun, ia masih berdiri di tempat untuk menunggu, tanpa menghampirinya lebih dulu."Al

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Rasa yang Tertinggal

    “Surat pengajuan cerai talak antara Bapak Kaivan dan Ibu Sahara Cahya Prameswari. Semua data administratif sudah diverifikasi dan disesuaikan. Hanya tinggal tanda tangan Bapak di sini dan di sini …,” ujarnya sambil menunjuk dua lembar halaman.Kaivan tidak langsung menyambut. Tangannya menggenggam ujung sofa, seolah butuh sesuatu untuk dipeluk. Alya pun bergeming, seolah tidak ingin ikut campur tangan dalam keputusan sang suami. Namun, tanpa diminta atmosfer ruang itu seakan berubah—perlahan, tetapi pasti.Reinaldi menoleh. “Jika Bapak membutuhkan waktu untuk membaca detailnya dulu, silakan. Saya bisa menunggu.”Kaivan mengangguk pelan. “Boleh, saya baca dulu.”Alya menatap pria di sebelahnya itu mengambil berkas dengan tangan gemetar, lalu mulai fokus menyusuri kalimat demi kalimat yang tertera di sana. Sesekali ia mengerjap, seperti mencerna tidak hanya kata-kata hukum, tetapi juga luka-luka yang tersembunyi di baliknya. Setidaknya itu yang ditangkap Alya.Alya meremas jari-jari mil

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Tamu yang Ditunggu

    “Naik, pelan-pelan … ya, begitu,” ucap Bagas, sang terarapis yang tengah mendampingi Kaivan menjalani fisioterapi pagi ini.Tangan Alya menopang lengan Kaivan ketika pria itu berusaha menaiki satu tangga kecil ke atas step board bertekstur karet. Sementara Bagas berdiri tepat di sisi satunya. Matanya awas, memperhatikan setiap detail gerak kaki pasiennya yang perlahan-lahan mulai menunjukkan kemajuan.Kaivan menggigit bibir bawah. Ia tahu tidak boleh memaksakan beban ke lutut kirinya terlalu berat. Tapi hari ini, ia ingin mencoba lebih banyak."Bagus, Pak Kaivan. Tahan, dua detik, ya. Sekarang turun, perlahan,” kata Bagas sambil mencatat sesuatu di ponselnya.Kaivan menuruni tangga kecil itu pelan-pelan, kemudian duduk di kursi rotan yang sudah disiapkan di sudut teras samping rumah mereka.Alya cepat-cepat menyodorkan handuk kecil untuk menyeka keringat di pelipis suaminya. “Cukup, Mas. Udah bagus banget hari ini,” katanya pelan.Kaivan menoleh, mata mereka bertemu. Tatapan itu tak

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Tertangkap Basah

    "Aku geser kalau kamu baring, Yang. Benaran," jawab Kaivan pelan. Alya tak menjawab, tetapi akhirnya pelan-pelan merebahkan tubuh di sisi Kaivan dengan membelakangi tubuh sang suami. Sesuai janjinya Kaivan menggeser tubuhnya pelan, memberi tempat yang cukup pada Alya untuk ikut mengistirahatkan diri. Sementara itu, Kaivan yang tadi terlentang, kini mengubah posisi miring menghadap tubuh sang istri. Perlahan tangannya terulur menggapai pinggang Alya dan sedikit menarik untuk membuat lebih rapat. Alya sedikit menggerakkan tagannya untuk menepis, tetapi Kaivan cepat menghalau dengan setengah berbisik," Biar kamu gak jatuh, Yang." Tak ada respons ataupun penolakan Alya. Napas Alya terdengar lebih berat, tetapi mulai teratur. Beberapa detik berlalu. Mereka masih sama-sama menjemput kantuk yang seperti enggan untuk datang. “Sayang,” bisik Kaivan kemudian, nyaris seperti gumaman sebelum tidur. “Kalau kamu tanya apa aku menyesal … jawabannya, iya. Tapi bukan menyesal karena mengucap tal

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Menguasai Hati

    "Duh, refleksnya jelek banget, lemah banget ya aku. Kamu malah gak jadi tidur, Yank." Kaivan yang masih terduduk di lantai tertawa nyengir menatap pada Alya yang sudah ikut berlutut di lantai.Kaivan masih menata kekuatannya sendiri untuk bangkit. Ia berusaha duduk, tangannya bertumpu pada lantai kayu yang dingin. Napasnya sedikit memburu pelan, lebih karena kaget daripada sakit.“Mas, gak apa-apa?” tanya Alya masih terlihat cemas. Tangannya meraih bahu pria itu, menopangnya."Aku nggak apa-apa, Yang." Kaivan cepat-cepat berkata, meski getaran halus masih terasa di suaranya. “Cuma kaget aja, bisa-bisanya lupa kalau aku belum jalan normal."Alya bergeming. Mengulum senyum agar tak terbit. Sebenarnya ingin tertawa karena kalimat sang suami. Namun, berusaha ia tahan."Makanya jangan keras kepala, deh, Mas,” omel Alya lirih. “Harusnya jam segini tuh tidur, bukan kelayapan," lanjutnya lagi sambil merangkul bahu Kaivan dan membantunya berdiri.Kaivan menatap mata Alya. Dan untuk sesaat, wak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status