Share

Malam Pertama dengan Dosenku
Malam Pertama dengan Dosenku
Author: Nia Kannia

Jebakan Skripsi

Author: Nia Kannia
last update Last Updated: 2025-03-21 08:57:57

"Saya tahu ini adalah kesalahan besar, tapi saya harap kamu bisa melupakan malam ini. Anggap yang telah terjadi tidak pernah terjadi." Pria berusia matang itu bersuara. Berat. Dia terburu-buru mengenakan kembali semua pakaiannya. Wajahnya masam karena sebuah petaka besar yang baru saja menimpa kami.

Sementara aku duduk di tepi ranjang. Beberapa saat menatap pria itu, lalu membuang muka. Mendadak aku muak dengan orang yang kukagumi sejak resmi menjadi mahasiswi.

Siang kemarin, aku baru saja memuji kewibaannya. Semua peserta seminar pasti terkagum-kagum setiap dosen itu menjadi nara sumber. Karena setiap Kaivan Satria Aksa mengisi pasti bahan yang disampaikan sangat berbobot untuk para mahasiswa. Sehingga seminar yang diisi dengan Kaivan Satria Aksa sebagai narasumbernya tidak pernah sepi peserta.

Bimbingan skripsi yang harusnya membawaku pada pintu kelulusan, siapa sangka justru membawaku pada petaka yang tak 'kan pernah kulupakan seumur hidup.

Aku masih bergeming. Meresapi penyesalan yang terlalu dalam. Menjaga kesucian hingga pernikahan kini tinggal angan. Semua terampas dalam semalam.

Dia adalah Kaivan Satria Aksa. Seorang dosen muda di kampus tempatku mengenyam pendidikan meniti sarjana.

Pak Kaivan yang kukenal selama ini adalah seorang yang bijak dan berwibawa. Meskipun masih muda, tetapi dia cukup disegani oleh mahasiswa dan juga koleganya sesama dosen. Bahkan kabar terakhir yang kudengar, dia dicalonkan menjadi dekan Fakultas Ekonomi di kampusku.

Akan tetapi, yang terjadi hari ini cukup mampu merusak citra baik itu di mataku. Ya, aku akui jika ini jug kesalahanku.

Demi menuntaskan cepat bimbingan skripsi, aku terjebak bersama Pak Kaivan yang seperti kesetanan sejak pertama aku masuk salah satu kamar hotel ini.

Sebelumnya, aku menghadiri seminar yang diadakan di ballroom hotel dan dimentori oleh pria itu.

"Kamar no 207, saya tunggu sekarang. Saya hanya ada waktu sore ini." Itu adalah pesan dari Pak Arga, dosen pembimbing skripsiku setelah acara seminar usai sore tadi.

Kupikir tidak ada salahnya hanya mengantar hasil revisi skripsiku. Setelah itu aku bisa pergi. Daripada harus menunggu lebih lama lagi. Karena berdasarkan kabar yang kudengar dari mahasiswa senior, Pak Arga termasuk dosen yang paling sulit ditemui untuk bimbingan. Sebab itu, aku tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Meskipun sebenarnya mendadak aku merasa tidak enak badan. Demi bisa cepat lulus, bisa ditahan sebentar.

Akan tetapi, saat sampai di depan pintu kamar yang disebutkan, tiba-tiba ....

Cess ... cess!

Suara seperti semprotan kecil terdengar lirih. Beberapa detik kemudian, aku bisa mencium aroma citrus yang lembut di sekitarku. Belum sempat aku menoleh ....

Tubuhku terdorong menabrak pintu yang ternyata tidak terkunci. Kejadiannya begitu cepat, sehingga membuatku tidak sempat berpikir. Hanya hitungan detik, pintu pun sudah tertutup dan terkunci dari luar. Tentu saja aku khawatir. Meski memang sengaja datang ke sini, aku hanya berniat mengantar berkas revisi di depan pintu saja. Namun, sekarang?Sepertinya aku ... dijebak.

Tak jawaban apa pun saat aku menggedor pintu dari dalam. Terlebih, fisik ini rasanya semakin tidak nyaman. Entah kenapa? Aku tidak merasa aneh seperti ini. Rasanya seperti ....

"Kinan, kamu di sini, Sayang." Suara berat khas orang mengantuk itu mengejutkan dan seketika membuatku berjingkat.

Belum sempat aku melihat siapa pemilik suara itu, yang terjadi selanjutnya membuat detak jantung semakin cepat.

Sungguh, aku tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa yang ada di kamar bukan Pak Arga, dosen pembimbingku, tetapi malah Pak Kaivan? Dan, dia seperti orang kesetanan. Lebih gilanya lagi, dia mengira aku adalah istrinya. Dia berulangkali memanggilku dengan nama istrinya.

Aku terus mencoba untuk berontak dan tak berhenti mengatakan jika aku ini bukan istrinya. Namun, semua itu tidak ada artinya. Telinganya seakan menjadi tuli. Tenagaku pun tak berarti apa-apa untuk melawan. Entahlah, tenaga ini seakan makin lama makin menipis.

Sungguh, ini adalah sebuah petaka besar. Tidak pernah kubayangkan jika semua ini terjadi padaku. Malam ini aku benar-benar kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang seharusnya aku berikan pada suamiku setelah menikah nanti.

Suara musik yang berasal dari ponsel Pak Kaivan sukses membuyarkan lamunanku tentang pristiwa semalam. Aku menyeka bulir mata yang tiba-tiba mengalir. Mungkin bagi sebagian orang kehilangan kesucian sebelum pernikahan itu hal biasa. Namun, tidak bagiku.

Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu terlihat begitu frustrasi. Sama frustrasinya denganku. Kaivan Satria Aksa yang kukenal adalah pria yang setia. Dia dan istrinya adalah pasangan dosen muda yang dikenal serasi dan romantis. Tiada hari tanpa datang dan pulang bersama. Namun, yang terjadi semalam benar-benar di luar ekspektasi.

"Br*ngs3k, kita dijebak, Al." Pak Kaivan melempar ponsel pintarnya ke kasur. Kemudian menjatuhkan bok°ngnya di sana. Kemudian memijit pangkal hidung.

Aku bergeming. Sejujurnya tidak tahu apa yang harus dibuat sekarang.

Aku sudah mengira, jika semua terjadi karena sabotase seseorang. Namun, siapa yang tega melakukan hal ke ji ini? Apakah jangan-jangan ... tetapi untuk apa?

"Saya nungguin kamu sampai malam. Kenapa nggak datang? Gimana mau cepat lulus kalau bimbingan aja malas." Pak Arga mengirimkan pesan.

Aku meletakkan ponsel setengah membanting di kasur. Pesan dikirim tadi malam.

Sekarang sudah nyaris pagi aku pun sudah tidak tertarik dengan skripsi. Peristiwa semalam benar-benar mampu menghancurkan mimpi yang telah lama kurajut. Butuh waktu untuk mengembalikan semangat lagi.

Tunggu, ada yang aneh, sebelum chat tadi ada dua pesan sebelumnya. Yang pertama adalah pesan yang dia tarik. Pesan kedua adalah pesan yang menampil no kamar 107. Tunggu, bukankah dia bilang petang kemarin kamar nomor 207?

"Ayo, Alya. Kita harus segera pergi." Pak Kaivan terdengar gelisah.

Dengan gerakan cepat, dia menyambar jas dan kunci di atas nakas.

"Sebelum mereka sampai di sini." Dia berbicara lagi. "Untuk hal lain kita bicarakan nanti."

Mereka? Siapa yang dia maksud. Aku pun menurut tanpa banyak bicara.

Namun, belum sempat Pak Kaivan mencoba membuka pintu, pintu itu sudah didorong dari luar.

Seketika itu ritme jantung yang tadi sudah mulai teratur kembali menggila. Aku menunduk saat orang itu melempar tatapan padaku. Meski di belakang punggung Pak Kaivan, aku bisa tahu siapa pria itu. Jadi, benar firasatku tadi. Orang yang merencanakan semua ini adalah dia.

"Wow, ini kejutan! Dosen muda kebanggan mahasiswa, kesayangan rektor, kebanggaan dewan senat ternyata doyan ayam kampus juga. Kalau berita ini tersebar ... pasti heboh."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Gasiithaa As
hallo.. aku pembaca baru dinovel ini ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Memilih Pulang (end)

    Alya menahan napas sejenak. Ditatapnya wajah suaminya dengan sedikit bingung. Lalu tertawa sambil memukul pelan lengan sang suami. Membuat Kaivan nyengir "Bercandanya jangan aneh-aneh deh, Mas." Alya menimpali. "Siapa yang bercanda, aku serius." Kaivan menarik Alya yang masih berdiri untuk duduk. "Jangan aneh-aneh deh, Mas. Ingat umur. Malu sama cucu," lanjut Alya lagi. Kaivan menarik bibirnya membentur lengkungan. "Kamu masih cocok gendong bayi, Yang. Masih seksi dengan perut besar." Kaivan menatap kosong pada Alya, seolah-olah sedang melihat istrinya dari versi yang berbeda. "Mas pikir hamil di usia lanjut itu mudah? Laki sih enak, cuma lihat doang." Alya berlanjut mengomel. Dia melirik kesal pada sang suami. Bukannya marah, Kaivan tersenyum lagi. Itu adalah ekspresi Alya yang lama ia rindukan. Terlihat kesal, tetapi bukan dingin. "Ya udah, kalau kamu gak mau, gak apa-apa, Yang. Aku cuma mengutarakan keinginanku aja. Kalau kamu gak setuju, aku gak maksa," ucapnya lirih kemudia

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Keinginan Absurd

    Kaivan merasa gamang setelah pintu tertutup. Satu kata yang diucapkan Alya barusan cukup mengganggu pikirannya. Bukan kosakatanya, tetapi bagaimana Alya mengucapkannya. Jelas ada yang berbeda.Ia berdiri sejenak dalam diam. Mencoba mencari apa yang salah. Kenapa Alya mempertanyakan keraguan lagi. Lantas, bagaimana ia membuktikannya? Bagaimana ia menghilangkan keraguan dari dalam diri Alya? Nyaris tiga puluh tahun, merek bersama. Namun, kali ini begitu sulit untuk menyelami hati Alya. Meski ia terus mencoba. Kaivan memutar tubuh, membuka kembali pintu kamarnya dan kembali ke ruang tengah tempat di mana ia meninggalkan Alya sendirian tadi. Dia mempercepat langkahnya, sehingga menghasilkan suara ketukan pada lantai dari tongkatnya. Alya yang masih duduk di tempat yang sama, menoleh dan spontan berdiri melihat langkah tergesa-gesa sang suami.Ia makin heran saat melihat Kaivan tampak terengah-engah. Namun, ia masih berdiri di tempat untuk menunggu, tanpa menghampirinya lebih dulu."Al

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Rasa yang Tertinggal

    “Surat pengajuan cerai talak antara Bapak Kaivan dan Ibu Sahara Cahya Prameswari. Semua data administratif sudah diverifikasi dan disesuaikan. Hanya tinggal tanda tangan Bapak di sini dan di sini …,” ujarnya sambil menunjuk dua lembar halaman.Kaivan tidak langsung menyambut. Tangannya menggenggam ujung sofa, seolah butuh sesuatu untuk dipeluk. Alya pun bergeming, seolah tidak ingin ikut campur tangan dalam keputusan sang suami. Namun, tanpa diminta atmosfer ruang itu seakan berubah—perlahan, tetapi pasti.Reinaldi menoleh. “Jika Bapak membutuhkan waktu untuk membaca detailnya dulu, silakan. Saya bisa menunggu.”Kaivan mengangguk pelan. “Boleh, saya baca dulu.”Alya menatap pria di sebelahnya itu mengambil berkas dengan tangan gemetar, lalu mulai fokus menyusuri kalimat demi kalimat yang tertera di sana. Sesekali ia mengerjap, seperti mencerna tidak hanya kata-kata hukum, tetapi juga luka-luka yang tersembunyi di baliknya. Setidaknya itu yang ditangkap Alya.Alya meremas jari-jari mil

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Tamu yang Ditunggu

    “Naik, pelan-pelan … ya, begitu,” ucap Bagas, sang terarapis yang tengah mendampingi Kaivan menjalani fisioterapi pagi ini.Tangan Alya menopang lengan Kaivan ketika pria itu berusaha menaiki satu tangga kecil ke atas step board bertekstur karet. Sementara Bagas berdiri tepat di sisi satunya. Matanya awas, memperhatikan setiap detail gerak kaki pasiennya yang perlahan-lahan mulai menunjukkan kemajuan.Kaivan menggigit bibir bawah. Ia tahu tidak boleh memaksakan beban ke lutut kirinya terlalu berat. Tapi hari ini, ia ingin mencoba lebih banyak."Bagus, Pak Kaivan. Tahan, dua detik, ya. Sekarang turun, perlahan,” kata Bagas sambil mencatat sesuatu di ponselnya.Kaivan menuruni tangga kecil itu pelan-pelan, kemudian duduk di kursi rotan yang sudah disiapkan di sudut teras samping rumah mereka.Alya cepat-cepat menyodorkan handuk kecil untuk menyeka keringat di pelipis suaminya. “Cukup, Mas. Udah bagus banget hari ini,” katanya pelan.Kaivan menoleh, mata mereka bertemu. Tatapan itu tak

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Tertangkap Basah

    "Aku geser kalau kamu baring, Yang. Benaran," jawab Kaivan pelan. Alya tak menjawab, tetapi akhirnya pelan-pelan merebahkan tubuh di sisi Kaivan dengan membelakangi tubuh sang suami. Sesuai janjinya Kaivan menggeser tubuhnya pelan, memberi tempat yang cukup pada Alya untuk ikut mengistirahatkan diri. Sementara itu, Kaivan yang tadi terlentang, kini mengubah posisi miring menghadap tubuh sang istri. Perlahan tangannya terulur menggapai pinggang Alya dan sedikit menarik untuk membuat lebih rapat. Alya sedikit menggerakkan tagannya untuk menepis, tetapi Kaivan cepat menghalau dengan setengah berbisik," Biar kamu gak jatuh, Yang." Tak ada respons ataupun penolakan Alya. Napas Alya terdengar lebih berat, tetapi mulai teratur. Beberapa detik berlalu. Mereka masih sama-sama menjemput kantuk yang seperti enggan untuk datang. “Sayang,” bisik Kaivan kemudian, nyaris seperti gumaman sebelum tidur. “Kalau kamu tanya apa aku menyesal … jawabannya, iya. Tapi bukan menyesal karena mengucap tal

  • Malam Pertama dengan Dosenku   Menguasai Hati

    "Duh, refleksnya jelek banget, lemah banget ya aku. Kamu malah gak jadi tidur, Yank." Kaivan yang masih terduduk di lantai tertawa nyengir menatap pada Alya yang sudah ikut berlutut di lantai.Kaivan masih menata kekuatannya sendiri untuk bangkit. Ia berusaha duduk, tangannya bertumpu pada lantai kayu yang dingin. Napasnya sedikit memburu pelan, lebih karena kaget daripada sakit.“Mas, gak apa-apa?” tanya Alya masih terlihat cemas. Tangannya meraih bahu pria itu, menopangnya."Aku nggak apa-apa, Yang." Kaivan cepat-cepat berkata, meski getaran halus masih terasa di suaranya. “Cuma kaget aja, bisa-bisanya lupa kalau aku belum jalan normal."Alya bergeming. Mengulum senyum agar tak terbit. Sebenarnya ingin tertawa karena kalimat sang suami. Namun, berusaha ia tahan."Makanya jangan keras kepala, deh, Mas,” omel Alya lirih. “Harusnya jam segini tuh tidur, bukan kelayapan," lanjutnya lagi sambil merangkul bahu Kaivan dan membantunya berdiri.Kaivan menatap mata Alya. Dan untuk sesaat, wak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status