Share

Bab 6: Umpan di Meja Jamuan

Penulis: Denami
last update Tanggal publikasi: 2026-07-11 18:46:56

Mobil mewah yang dinaiki Hanzhen itu membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi, mengabaikan rintik hujan yang mulai menderas. Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti dengan decitan ban yang tajam di lobi drop-off rumah sakit. Namun, tepat saat Hanzhen melompat keluar dengan raut tegang, gawainya di dalam saku kembali bergetar.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor sang Nenek: ‘Nenek sudah bergeser ke restoran tradisional VVIP di distrik selatan. Kemarilah. Nenek menunggumu.’

Hanzhen terdiam sejenak. Sambil mengembuskan napas panjang, ia berbalik kembali ke arah mobil. Rasa cemasnya kini berganti menjadi rasa curiga yang pekat.

Begitu pintu kaca restoran mewah bernuansa klasik itu terbuka, Hanzhen langsung melangkah menuju area ruangan privat di bagian paling dalam. Pelayan membukakan pintu geser kayu ek, dan pandangan Hanzhen langsung mengunci seisi ruangan. Di sana, sang Nenek sedang duduk dengan anggun, tampak sehat bugar, bahkan sedang tertawa kecil.

Namun, langkah kaki Hanzhen mendadak terkunci di atas lantai kayu restoran.

Neneknya tidak sendirian. Di hadapan wanita tua itu, duduk seorang gadis muda berambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai rapi. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana, wajahnya tampak bersih tanpa riasan tebal, dan sedang tersenyum manis—sebuah senyuman yang mendadak membuat dada Hanzhen berdesir asing. 

"Ah, itu Hanzhen!" seru Nenek Lee dengan penuh semangat saat melihat cucunya berdiri kaku di ambang pintu privat.

Hanzhen menarik napas dalam-dalam, mengancingkan satu kancing jas hitamnya untuk mengembalikan wibawa, lalu melangkah mendekat dengan aura menindas yang sedingin es.

“Nenek, aku sampai harus meninggalkan rapat investor penting karena kukira kesehatanmu memburuk,” suara bariton Hanzhen bergaung rendah, menekan atmosfer ruangan. “Aku baru sadar... ternyata Nenek hanya sedang lapar.”

“Dasar cucu tidak sopan,” gerutu Nenek Lee, meski nadanya terdengar jenaka diiringi tawa kecil.

Meilin yang sempat tersedak tadi kini buru-buru berdiri dari kursinya. Ia mengulurkan tangannya yang ramping ke arah Hanzhen dengan senyuman canggung. "Halo, Pak Lee Hanzhen. Saya Meilin. Senang bisa bertemu dengan Anda."

Hanzhen menatap tangan yang terulur di depannya selama beberapa detik, lalu beralih menatap neneknya yang kini sedang berkedip jahil. Seketika itu juga, Hanzhen menyadari dengan sangat jelas: seluruh drama darurat ini adalah bagian dari skenario manis sang Nenek untuk menjebaknya ke dalam acara perjodohan mendadak.

Hanzhen mengulurkan tangannya, membalas jabat tangan itu. Namun begitu telapak tangan mereka bersentuhan, tubuh Meilin seketika menegang total. Cengkeraman Hanzhen terlalu kuat dan dominan—sebuah gestur dari pria yang terbiasa mengendalikan segala hal tanpa pernah menerima penolakan.

“Saat ini…” Hanzhen melepaskan tautan tangan mereka, mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arah sang Nenek. “Apa lagi yang sebenarnya sedang Nenek rencanakan?”

Suasana ruangan privat itu mendadak hening mencekam. Merasa situasi semakin tidak aman bagi kewarasannya, Meilin buru-buru mengalihkan pandangan pada pria tegap yang berdiri setia di belakang punggung Hanzhen.

“Maaf… Anda?” tanya Meilin memecah ketegangan.

Pria itu tampak sedikit terkejut namun langsung mengulas senyum ramah. “Saya Chen, Nona. Sekretaris pribadi Direktur Lee Hanzhen.”

Bzztt. Bzztt.

Penyelamat Meilin akhirnya datang berupa getaran ponsel di dalam tasnya. Sebuah panggilan dari stasiun televisi untuk jadwal rekaman acara psikologi yang sudah dijanjikannya.

“M-maaf,” ucap Meilin cepat sambil langsung berdiri, meraih tasnya. “Saya harus pergi sekarang juga. Ada jadwal rekaman penting yang tidak bisa saya tinggalkan.”

Nenek Lee tampak kecewa dan hendak menahannya. “Biar Hanzhen yang mengantarmu—”

“Tidak perlu, Nenek!” potong Meilin dengan nada yang terlalu cepat dan panik. Sadar bahwa dirinya terdengar kurang sopan, Meilin buru-buru mengulas senyum kaku. “Maksud saya, saya sudah memesan taksi online tadi. Taksinya sudah menunggu di depan gerbang restoran.”

Tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk membantah, Meilin segera membungkuk sopan penuh rasa hormat, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan privat itu secepat yang kakinya bisa melangkah.

Begitu pintu geser kayu ek itu tertutup rapat di belakang punggung Meilin, menyisakan keheningan baru, Hanzhen menduduki kursi kosong yang ditinggalkan wanita itu. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai, lalu menatap Ibu Meilin yang duduk di seberang meja dengan tatapan kosong tanpa emosi.

“Nyonya Gu,” ucap Hanzhen pelan namun sarat akan penekanan yang mengintimidasi. “Anda adalah dokter spesialis pribadi yang bertanggung jawab penuh atas kesehatan nenek saya.”

Ibu Meilin mempertahankan ekspresi profesionalnya yang tenang, tidak gentar menghadapi aura menindas sang Putra Mahkota. “Benar, Direktur Lee.”

“Kalau begitu, menurut analisis medis Anda…” Hanzhen menjeda kalimatnya sejenak, mengetukkan jemarinya yang berbalut jam tangan mewah di atas meja marmer. “Apa sebenarnya yang bisa membuat kondisi fisik beliau tetap stabil dan membaik secara signifikan?”

Ibu Meilin membalas tatapan itu, lalu menyunggingkan sebuah senyuman samar yang penuh ambisi terselubung. “Nyonya Lee sudah berusia lanjut, Direktur. Secara psikologis, beliau harus merasa bahagia dan tenang agar sistem imunnya membaik.”

“Hmm.” Tatapan mata Hanzhen menyipit tipis, seolah sedang menakar kejujuran di balik wajah dokter senior di hadapannya. “Dan menurut penilaian Anda, hal apa yang kira-kira bisa membuat nenek bahagia dan tenang?”

Ibu Meilin memajukan tubuhnya setapak. “Melihat cucu laki-laki satu-satunya segera menikah dan membangun keluarga… saya rasa itu akan sangat membantu proses pemulihan beliau.”

"Menikah?” Hanzhen mengangkat sebelah alisnya, mengunci manik mata Ibu Meilin dengan kilat berbahaya yang misterius. “Dengan siapa? Dengan putri Anda?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 70 : Kegelisahan Pagi Hari

    Pagi itu, suasana restoran utama di Bay Resort terasa cukup ramai dan bising oleh hilir mudik orang-orang. Beberapa tamu hotel sudah memenuhi area prasmanan yang luas, sembari menikmati panorama laut lepas yang biru jernih dari balik jendela kaca besar berukuran raksasa. Namun, di salah satu sudut ruangan yang agak terisolasi oleh tanaman hias, atmosfernya justru terasa jauh lebih tenang, kaku, dan formal. Hanzhen duduk tegap di samping Meilin, sesekali menyesap kopi hitam pekatnya tanpa gula sembari fokus membaca beberapa dokumen kerja penting di layar tablet pribadi.Melihat suaminya yang terlampau sibuk dan mengabaikan asupan gizinya sendiri sejak subuh, Meilin dengan telaten mengambilkan beberapa hidangan sehat ke atas piring porselen pria itu. Beberapa manajer eksekutif hotel sebenarnya sempat mencoba melangkah mendekat untuk memberikan laporan keuangan dadakan, namun Sekretaris Chen yang berdiri siaga tidak jauh dari sana langsung menghadang pergerakan mereka dengan sangat halu

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 69 : Kepanikan di Tepi Pantai

    Meilin hanya menatap garis matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala laut dengan tatapan kosong. Langit sore di Bay Resort itu begitu memukau; perpaduan gradasi warna jingga, merah muda, dan keemasan memantul indah di atas permukaan air laut yang tenang. Namun, sangat kontras dengan keindahan alam yang disuguhkan tersebut, isi pikiran Meilin justru terasa kian penuh, kalut, dan menyesakkan dada. Untaian kalimat manipulatif dan beracun dari Yiran tadi pagi terus berputar laksana kaset rusak di dalam kepalanya, melahirkan riak kegelisahan baru yang tak kunjung surut. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar yang hangat melingkar pelan di sekeliling pinggang mungilnya. Hanzhen memeluknya erat dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut Meilin. Seperti biasa, pria itu melakukan kontak fisik yang intim itu tanpa banyak bicara, tanpa ada rentetan pertanyaan interogasi yang melelahkan. Ia hanya diam mendekap tubuh mungil Meilin sembari ikut melempar pandang ke arah matah

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 68 : Jejak yang Tertinggal

    Untaian kalimat manipulatif dari Yiran saat sarapan pagi tadi terus bergaung bising di kepala Meilin. Setiap untai katanya sengaja ditinggalkan untuk mengusik ketenangannya selama berada di Bay Resort ini. “Semakin posesif seorang pria, semakin rapi pula caranya menyembunyikan sesuatu di belakangmu.” Kalimat beracun itu sukses melahirkan riak kegelisahan yang membuat ulu hati Meilin terasa teramat tidak nyaman sepanjang hari. Di belahan tempat lain, Lee Hanzhen sendiri baru menyadari satu hal yang luput dari pengawasannya selama ini. Yiran ternyata telah dipindahkan ke divisi pemasaran Bay Resort semenjak beberapa minggu lalu atas rekomendasi manajer regional. Dan hal yang jauh lebih mengejutkannya lagi, wanita itulah yang memimpin presentasi utama untuk proyek besar pengembangan kawasan resort hari itu. Hanzhen duduk tegap di ruang rapat eksekutif dengan tatapan datar yang dingin, memperhatikan layar proyektor besar di depan. Yiran berdiri anggun dalam balutan setelan formal merah

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 67 : Racun Keraguan

    “Boleh aku duduk di sini?” tanya Yiran sembari mengulas senyum tipis yang penuh percaya diri. “Tentu,” jawab Meilin pelan, mencoba sekuat tenaga menekan gemuruh canggung dan tidak nyaman yang mendadak bergejolak di dalam dadanya. Yiran pun mendudukkan diri dengan gerakan yang teramat anggun di kursi kosong sebelah meja mereka. Aroma parfum mewahnya yang berwangi lembut namun pekat seketika tercium samar, mengusik atmosfer hangat meja sarapan mereka pagi ini. Di kejauhan, beberapa dokter residen muda di meja lain tampak diam-diam mulai melirik ke arah mereka dengan raut penuh rasa penasaran yang besar. “Aku baru tahu kamu dimutasi ke kantor cabang resort ini,” kata Yuwen sembari menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi, menatap tajam ke arah wajah Yiran dengan pandangan yang teramat datar. “Iya,” Yiran mengangguk santai, merapikan letak setelan kantor merah tuanya yang tampak mahal. “Kata pihak pimpinan kami di kantor pusat, peluang karier di kawasan resort Selatan ini jauh l

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 66 : Tamu di Meja Sarapan

    Semenjak Meilin mulai sering menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen, Sekretaris Chen menyadari satu perubahan yang sangat mencolok pada diri atasannya. Suasana hati sang CEO kini jauh lebih stabil. Setidaknya sekarang, jajaran manajer tidak lagi keluar dari ruang rapat dengan wajah pucat pasi hanya karena salah mencetak ukuran huruf proposal atau keliru menyusun urutan presentasi. Hanzhen memang tetaplah pria yang dingin, sulit ditebak, dan memiliki tatapan tajam yang bisa membuat seisi ruangan seketika sunyi senyap dalam hitungan detik. Namun, emosinya kini jauh lebih terkendali. Bagi Chen, Hanzhen mulai terlihat lebih "manusiawi". Bahkan, kebutuhan pribadi sang CEO tidak lagi serumit dan se-melelahkan dulu. Jika dulu memilih kopi saja bisa berubah menjadi perdebatan kecil karena rasa yang dianggap kurang konsisten, sekarang Hanzhen selalu menghabiskan kopi yang disiapkan langsung oleh Meilin tanpa banyak komentar. Keluhan vertigonya pun mulai jarang terdengar karena Hanzhen mula

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   bab 65 : Riak di Bay Resort

    Meilin yang mulai terbiasa menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen juga mulai menikmati peran barunya tersebut dengan hati yang jauh lebih lapang. Awalnya, ia sering kali didera rasa kewalahan yang luar biasa setiap kali mendampingi pria itu di lapangan. Setiap kali Hanzhen menapakkan kaki di lobi gedung perusahaan, jajaran manajer senior dan eksekutif papan atas sudah berbaris rapi menunggunya hanya untuk menyerahkan tumpukan dokumen, memberikan laporan darurat, atau sekadar berjalan beriringan meminta tanda tangan persetujuan. Langkah kaki Hanzhen yang selalu cepat, panjang, dan tegas, membuat Meilin di awal kebiasaan baru mereka hampir harus setengah berlari hingga napasnya terengah-engah hanya untuk menyamai ritme jalan suaminya.Namun lama-kelamaan, Hanzhen mulai menyadari keterbatasan fisik sang istri dan secara sadar menyesuaikan diri dengan keberadaan wanita itu di sisinya. Pria itu akan sengaja memperlambat tempo langkahnya, atau bahkan berhenti bergerak sejenak dan menol

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status