تسجيل الدخولMobil mewah yang dinaiki Hanzhen itu membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi, mengabaikan rintik hujan yang mulai menderas. Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti dengan decitan ban yang tajam di lobi drop-off rumah sakit. Namun, tepat saat Hanzhen melompat keluar dengan raut tegang, gawainya di dalam saku kembali bergetar.
Sebuah pesan singkat masuk dari nomor sang Nenek: ‘Nenek sudah bergeser ke restoran tradisional VVIP di distrik selatan. Kemarilah. Nenek menunggumu.’ Hanzhen terdiam sejenak. Sambil mengembuskan napas panjang, ia berbalik kembali ke arah mobil. Rasa cemasnya kini berganti menjadi rasa curiga yang pekat. Begitu pintu kaca restoran mewah bernuansa klasik itu terbuka, Hanzhen langsung melangkah menuju area ruangan privat di bagian paling dalam. Pelayan membukakan pintu geser kayu ek, dan pandangan Hanzhen langsung mengunci seisi ruangan. Di sana, sang Nenek sedang duduk dengan anggun, tampak sehat bugar, bahkan sedang tertawa kecil. Namun, langkah kaki Hanzhen mendadak terkunci di atas lantai kayu restoran. Neneknya tidak sendirian. Di hadapan wanita tua itu, duduk seorang gadis muda berambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai rapi. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana, wajahnya tampak bersih tanpa riasan tebal, dan sedang tersenyum manis—sebuah senyuman yang mendadak membuat dada Hanzhen berdesir asing. "Ah, itu Hanzhen!" seru Nenek Lee dengan penuh semangat saat melihat cucunya berdiri kaku di ambang pintu privat. Hanzhen menarik napas dalam-dalam, mengancingkan satu kancing jas hitamnya untuk mengembalikan wibawa, lalu melangkah mendekat dengan aura menindas yang sedingin es. “Nenek, aku sampai harus meninggalkan rapat investor penting karena kukira kesehatanmu memburuk,” suara bariton Hanzhen bergaung rendah, menekan atmosfer ruangan. “Aku baru sadar... ternyata Nenek hanya sedang lapar.” “Dasar cucu tidak sopan,” gerutu Nenek Lee, meski nadanya terdengar jenaka diiringi tawa kecil. Meilin yang sempat tersedak tadi kini buru-buru berdiri dari kursinya. Ia mengulurkan tangannya yang ramping ke arah Hanzhen dengan senyuman canggung. "Halo, Pak Lee Hanzhen. Saya Meilin. Senang bisa bertemu dengan Anda." Hanzhen menatap tangan yang terulur di depannya selama beberapa detik, lalu beralih menatap neneknya yang kini sedang berkedip jahil. Seketika itu juga, Hanzhen menyadari dengan sangat jelas: seluruh drama darurat ini adalah bagian dari skenario manis sang Nenek untuk menjebaknya ke dalam acara perjodohan mendadak. Hanzhen mengulurkan tangannya, membalas jabat tangan itu. Namun begitu telapak tangan mereka bersentuhan, tubuh Meilin seketika menegang total. Cengkeraman Hanzhen terlalu kuat dan dominan—sebuah gestur dari pria yang terbiasa mengendalikan segala hal tanpa pernah menerima penolakan. “Saat ini…” Hanzhen melepaskan tautan tangan mereka, mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arah sang Nenek. “Apa lagi yang sebenarnya sedang Nenek rencanakan?” Suasana ruangan privat itu mendadak hening mencekam. Merasa situasi semakin tidak aman bagi kewarasannya, Meilin buru-buru mengalihkan pandangan pada pria tegap yang berdiri setia di belakang punggung Hanzhen. “Maaf… Anda?” tanya Meilin memecah ketegangan. Pria itu tampak sedikit terkejut namun langsung mengulas senyum ramah. “Saya Chen, Nona. Sekretaris pribadi Direktur Lee Hanzhen.” Bzztt. Bzztt. Penyelamat Meilin akhirnya datang berupa getaran ponsel di dalam tasnya. Sebuah panggilan dari stasiun televisi untuk jadwal rekaman acara psikologi yang sudah dijanjikannya. “M-maaf,” ucap Meilin cepat sambil langsung berdiri, meraih tasnya. “Saya harus pergi sekarang juga. Ada jadwal rekaman penting yang tidak bisa saya tinggalkan.” Nenek Lee tampak kecewa dan hendak menahannya. “Biar Hanzhen yang mengantarmu—” “Tidak perlu, Nenek!” potong Meilin dengan nada yang terlalu cepat dan panik. Sadar bahwa dirinya terdengar kurang sopan, Meilin buru-buru mengulas senyum kaku. “Maksud saya, saya sudah memesan taksi online tadi. Taksinya sudah menunggu di depan gerbang restoran.” Tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk membantah, Meilin segera membungkuk sopan penuh rasa hormat, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan privat itu secepat yang kakinya bisa melangkah. Begitu pintu geser kayu ek itu tertutup rapat di belakang punggung Meilin, menyisakan keheningan baru, Hanzhen menduduki kursi kosong yang ditinggalkan wanita itu. Ia menyandarkan punggungnya dengan santai, lalu menatap Ibu Meilin yang duduk di seberang meja dengan tatapan kosong tanpa emosi. “Nyonya Gu,” ucap Hanzhen pelan namun sarat akan penekanan yang mengintimidasi. “Anda adalah dokter spesialis pribadi yang bertanggung jawab penuh atas kesehatan nenek saya.” Ibu Meilin mempertahankan ekspresi profesionalnya yang tenang, tidak gentar menghadapi aura menindas sang Putra Mahkota. “Benar, Direktur Lee.” “Kalau begitu, menurut analisis medis Anda…” Hanzhen menjeda kalimatnya sejenak, mengetukkan jemarinya yang berbalut jam tangan mewah di atas meja marmer. “Apa sebenarnya yang bisa membuat kondisi fisik beliau tetap stabil dan membaik secara signifikan?” Ibu Meilin membalas tatapan itu, lalu menyunggingkan sebuah senyuman samar yang penuh ambisi terselubung. “Nyonya Lee sudah berusia lanjut, Direktur. Secara psikologis, beliau harus merasa bahagia dan tenang agar sistem imunnya membaik.” “Hmm.” Tatapan mata Hanzhen menyipit tipis, seolah sedang menakar kejujuran di balik wajah dokter senior di hadapannya. “Dan menurut penilaian Anda, hal apa yang kira-kira bisa membuat nenek bahagia dan tenang?” Ibu Meilin memajukan tubuhnya setapak. “Melihat cucu laki-laki satu-satunya segera menikah dan membangun keluarga… saya rasa itu akan sangat membantu proses pemulihan beliau.” "Menikah?” Hanzhen mengangkat sebelah alisnya, mengunci manik mata Ibu Meilin dengan kilat berbahaya yang misterius. “Dengan siapa? Dengan putri Anda?”Meilin seolah menemukan kembali sumbu semangat hidupnya yang sempat padam. Ia mencoba mengikuti saran praktis dari kakaknya untuk menyibukkan diri di dalam rumah. Pagi-pagi sekali, ketika embun masih membasahi dedaunan, sosok mungilnya sudah menyibukkan diri di area dapur bersih yang luas dan bernuansa modern. Jari-jemarinya yang lentik bergerak lincah menyiapkan menu sarapan khusus untuk Hanzhen sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Kali ini, ia memilih untuk memasak semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan cakwe renyah dan irisan daun bawang yang segar.Para pelayan rumah tangga pun perlahan-lahan mulai menyesuaikan diri dengan perubahan kebiasaan baru semenjak kehadiran Meilin. Rumah besar yang dulunya terasa sangat kaku, formal, dan senyap laksana hotel berbintang, kini perlahan-lahan mulai terasa jauh lebih hidup dan hangat. Area dapur utama hampir setiap hari selalu dipenuhi oleh aroma harum masakan yang menggugah selera, berpadu apik dengan suara langkah-langkah kecil M
Meilin menyampaikan kepada salah satu kepala pelayan di rumah bahwa ia ingin disiapkan sopir siang ini, dengan alasan ingin keluar mencari makan siang bersama kakak kandungnya, Yuwen. Namun, Meilin tahu betul bahwa permintaan sederhana itu bukan sekadar instruksi operasional biasa di rumah ini. Secara tidak langsung, ia sadar dirinya sedang meminta izin tertulis kepada Hanzhen. Ia sangat yakin bahwa para pelayan yang bekerja di sini pasti akan segera melaporkan setiap gerak-gerik dan langkah kakinya kepada pria itu melalui Sekretaris Chen.Dan benar saja dugaan Meilin, tidak lama setelah pesan itu disampaikan, sebuah sedan hitam mewah beserta sopir pribadi sudah bersiap rapi di area lobi depan mansion. Artinya, Hanzhen memberikan izin baginya untuk keluar rumah siang ini. Entah kenapa, hal kecil yang transaksional itu justru membuat hati Meilin yang sempat didera kepanikan luar biasa terasa sedikit lebih lega. Paling tidak, Hanzhen tidak benar-benar berniat mengurungnya laksana seor
Pada dasarnya, rumah sakit pusat tempat Meilin mengabdi selama ini memang bukan instansi medis biasa. Rumah sakit tersebut merupakan salah satu aset besar milik keluarga besar dari pihak ibunya. Hampir seluruh anggota keluarga besarnya berkecimpung di dunia medis; ada yang menjadi dokter spesialis bedah ternama, profesor kedokteran, hingga menduduki kursi jajaran direksi. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki saham kepemilikan yang cukup besar di sana, termasuk ibu Meilin sendiri.Karena latar belakang itulah, ketika Hanzhen menjatuhkan titah mutlak untuk melarang Meilin bekerja, keputusan itu dieksekusi dengan sangat rapi tanpa celah sedikit pun. Pria itu langsung menggunakan seluruh jaringan pengaruhnya untuk berkoordinasi dengan Direktur Utama rumah sakit, yang tidak lain adalah paman kandung Meilin sendiri.Pagi itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Meilin saat ia baru saja mendudukkan diri di tepi ranjang dengan benak yang masih teramat kusut pascakonfrontasi dini hari.—Mei
Jarum jam sudah menunjuk tepat ke angka sebelas malam ketika sedan hitam mewah itu akhirnya memasuki pelataran halaman rumah utama keluarga Lee. Suasana di sekitar rumah besar itu tampak sunyi senyap, diselimuti oleh kegelapan malam yang teramat pekat dan dingin.Begitu roda mobil berhenti sempurna di area carport, Hanzhen langsung membuka pintu, turun dengan gerakan cepat, dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Sekretaris Chen yang berada di belakangnya. Langkah kakinya yang berat dan dipenuhi gelora amarah yang terpendam berdentum berat di sepanjang lantai marmer koridor, langsung menuju ke arah tangga lantai dua.Brak!Pintu kayu mahoni kamar utama didorong terbuka lebar dengan satu sentakan kasar, seketika mengejutkan Meilin yang saat itu sedang tertidur lelap. Wanita itu langsung terduduk tegap di atas ranjang dengan jantung yang berdebar kencang akibat serangan kepanikan instan yang menyerang sistem sarafnya. Di bawah pendar temaram lampu tidur yang kuning redup, ia
Lorong berkarpet tebal di lantai teratas hotel mewah itu mendadak kehilangan suhunya secara drastis, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Lee Hanzhen berdiri mematung dengan tatapan mata elang yang menggelap sempurna, memancarkan kilat berbahaya. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Yiran terasa laksana sebuah hantaman palu godam yang menghancurkan telak seluruh harga diri, ego, dan martabat tingginya sebagai seorang pria terhormat.“Meilin... dialah orang pertama yang menceritakan bahwa pernikahan kalian hanyalah selembar kertas kontrak bisnis yang dingin.”Kata-kata provokasi itu terus bergaung bising di dalam kepala Hanzhen, membakar habis seluruh sisa kehangatan dan kedamaian yang sempat singgah di dadanya sejak pagi tadi. Ingatan manis tentang bagaimana Meilin menyiapkan tas baju dinasnya dengan perhatian, kecupan hangat penuh kerinduan yang ia tinggalkan di kening istrinya sebelum berangkat, hingga melodi piano romantis malam lalu—semuanya mendadak terasa laksana
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat ketika Hanzhen melangkah keluar dari ruang konferensi hotel bintang lima di Kota Timur. Perjalanan dinas dua hari ini benar-benar telah menguras seluruh sisa energi di dalam tubuhnya. Meskipun rapat koordinasi dengan para investor lokal berjalan sangat mulus tanpa kendala, denyut halus yang berulang di pelipisnya menandakan bahwa kondisi fisiknya belum pulih benar dari serangan vertigo yang menyiksa tempo hari.Pria tegap itu berjalan dengan tenang namun berwibawa menyusuri lorong panjang berkarpet tebal menuju lift khusus, diikuti oleh Chen yang sibuk mencatat beberapa poin penting hasil rapat di layar tabletnya."Pak Lee,” panggil Chen dengan suara pelan setelah mereka berdua masuk ke dalam lift pribadi yang kedap suara. “Seluruh agenda penting untuk hari ini sudah selesai dengan baik. Jadwal Anda berikutnya adalah makan malam semi-formal dengan kepala dinas pariwisata nanti malam. Setelah ini, Anda bisa langsung beristirahat di pen







