로그인Hanzhen membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan privat restoran tradisional itu, meninggalkan Ibu Meilin yang masih terpaku dengan senyuman ambisiusnya. Langkah kaki tegapnya membawa Hanzhen membelah lobi restoran hingga tiba di pelataran parkir. Begitu Sekretaris Chen membukakan pintu, Hanzhen langsung masuk dan mengempaskan tubuhnya ke kursi belakang mobil mewah yang beraroma kulit premium.
Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Hanzhen menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi yang empuk, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut halus. Hanya saja, hari ini kepala Hanzhen terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Beberapa minggu ini, pekerjaan menumpuk ekstrem di meja kerjanya. Pria itu dipaksa melakukan serangkaian perjalanan dinas luar negeri berturut-turut hingga memotong habis jam istirahat pribadinya. Namun, di tengah kepungan rasa lelah yang mendera fisik, hal yang paling jelas bergaung di kepalanya justru ucapan sang Nenek. Kalimat-kalimat itu terus terngiang tanpa ampun di dalam benaknya.
Setiap sindiran. Setiap desakan. Setiap tatapan penuh tekanan. Semuanya kini terasa seperti labirin jebakan yang sengaja disiapkan wanita tua itu untuk mengurungnya.
Sebagai pewaris tunggal sekaligus roda penggerak utama Tianyu Enterprise Group, Hanzhen sudah sangat terbiasa menghadapi ruang rapat yang penuh intrik politik dan negosiasi bisnis bernilai miliaran dolar. Namun, menghadapi neneknya sendiri selalu terasa jauh lebih melelahkan daripada menghadapi musuh bisnis mana pun. Wanita tua itu tidak pernah memberinya ruang untuk bernapas jika sudah menyangkut kehidupan pribadi. Terutama... soal pernikahan.
Sudah berminggu-minggu Hanzhen sengaja memperpanjang perjalanan bisnisnya di Eropa hanya untuk menghindari topik keramat itu. Namun, begitu kakinya kembali menginjakkan kaki di rumah, sang Nenek langsung menyerangnya tanpa belas kasihan.
“Hanzhen, usiamu itu sudah kepala tiga,” suara parau namun tegas milik neneknya malam itu kembali terngiang, memutus keheningan batinnya. “Kalau kamu terus-terusan menunda dan sibuk bekerja, kapan keluarga Lee bisa melihat penerus?”
Hanzhen ingat betul, waktu itu ia hanya diam dan berpura-pura fokus membaca dokumen laporan keuangan di tangannya. Namun, Nenek Lee jelas bukan tipe wanita yang mudah diabaikan dengan keheningan.
“Pilih satu wanita. Nenek tidak peduli bagaimana latar belakang keluarganya,” desak wanita tua itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. “Asal kau menyukainya, Nenek akan langsung merestuinya.”
Ketika Hanzhen tetap memilih bungkam, emosi wanita tua itu akhirnya terpancing. Pada dasarnya, neneknya hanya sedang dicekam ketakutan. Beliau takut cucu laki-laki satu-satunya itu akan hidup kesepian tanpa ada yang mengurus jika suatu saat nanti beliau harus meninggalkan dunia ini.
“Apa kau mau menunggu wajahmu keriput dan berkerut dulu baru mau menikah?!” bentak sang Nenek. Beliau terdiam sejenak, lalu menyipitkan matanya penuh kecurigaan yang mendalam. “Atau jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa, Nenek?” Hanzhen akhirnya menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
“Kau sebenarnya punya hubungan khusus dengan Sekretaris Chen?”
Untuk pertama kalinya malam itu, pulpen mewah di tangan Hanzhen berhenti bergerak di udara. Sementara Sekretaris Chen yang sedang berdiri tegap di samping meja kerjanya langsung tersedak ludahnya sendiri, wajahnya memucat seketika karena syok.
“Nenek, tuduhanmu—”
“Kalau benar begitu, lebih baik aku mengangkat Chen jadi cucu angkatku saja sekarang!” potong wanita tua itu tanpa ampun. “Setidaknya keluarga Lee masih punya harapan untuk melihat cicit dari Chen!”
Hanzhen mengembusen napas pendek dari hidungnya, membuyarkan potongan ingatan jenaka namun menjengkelkan itu. Baginya, hubungan romantis hanyalah sebuah gangguan yang tidak efisien waktu. Ia terlalu sibuk membangun kekaisaran bisnis Tianyu Enterprise Group hingga menggurita seperti sekarang.
Hotel, properti, mall, hingga resor wisata mewah, semuanya berkembang pesat di bawah komando mutlaknya. Bahkan, demi fokus memperluas jaringan bisnis internasional di luar negeri, ia sampai menyerahkan operasional utama domestik kepada Gu Junhao sebagai CEO profesional—yang tidak lain adalah kakak kandung dari Meilin. Hanzhen mengenal watak tegas Gu Junhao sejak ayah pria itu ditunjuk oleh sang Nenek sebagai kepala firma hukum utama yang menangani seluruh birokrasi perusahaannya.
Dan karena status, ketampanan, serta kekuasaannya yang mutlak itu, terlalu banyak wanita yang mencoba mendekati Hanzhen selama ini. Mereka datang dengan parfum mahal yang menyengat, gaun ketat yang mengekspos lekuk tubuh, dan senyuman yang dipoles seolah-olah polos namun palsu. Semuanya terasa sama di mata Hanzhen. Membosankan, transaksional, dan penuh kepalsuan.
Namun anehnya… wajah Meilin yang canggung di ruangan privat restoran tadi justru melintas di benaknya tanpa diundang.
Gadis itu berbeda. Sangat berbeda dari standar wanita yang biasa berputar di lingkaran sosial kelas atasnya. Badannya mungil, pakaian kremnya sederhana, bahkan sepatu yang dikenakannya hanyalah flat shoes biasa yang tampak nyaman untuk berjalan. Namun, entah kenapa, keberadaan Meilin meninggalkan kesan yang menenangkan di mata Hanzhen. Tatapan matanya yang bulat jernih tidak dipenuhi oleh ambisi terselubung untuk menguras hartanya. Meilin tidak mencoba menarik perhatiannya, seolah gadis itu memiliki dunianya sendiri yang damai.
Hanzhen menatap rintik hujan di kaca mobil, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar. Kehadiran gadis itu perlahan... mulai memicu rasa penasarannya yang sudah lama mati.
Lorong berkarpet tebal di lantai teratas hotel mewah itu mendadak kehilangan suhunya secara drastis, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Lee Hanzhen berdiri mematung dengan tatapan mata elang yang menggelap sempurna, memancarkan kilat berbahaya. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Yiran terasa laksana sebuah hantaman palu godam yang menghancurkan telak seluruh harga diri, ego, dan martabat tingginya sebagai seorang pria terhormat.“Meilin... dialah orang pertama yang menceritakan bahwa pernikahan kalian hanyalah selembar kertas kontrak bisnis yang dingin.”Kata-kata provokasi itu terus bergaung bising di dalam kepala Hanzhen, membakar habis seluruh sisa kehangatan dan kedamaian yang sempat singgah di dadanya sejak pagi tadi. Ingatan manis tentang bagaimana Meilin menyiapkan tas baju dinasnya dengan perhatian, kecupan hangat penuh kerinduan yang ia tinggalkan di kening istrinya sebelum berangkat, hingga melodi piano romantis malam lalu—semuanya mendadak terasa laksana
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat ketika Hanzhen melangkah keluar dari ruang konferensi hotel bintang lima di Kota Timur. Perjalanan dinas dua hari ini benar-benar telah menguras seluruh sisa energi di dalam tubuhnya. Meskipun rapat koordinasi dengan para investor lokal berjalan sangat mulus tanpa kendala, denyut halus yang berulang di pelipisnya menandakan bahwa kondisi fisiknya belum pulih benar dari serangan vertigo yang menyiksa tempo hari.Pria tegap itu berjalan dengan tenang namun berwibawa menyusuri lorong panjang berkarpet tebal menuju lift khusus, diikuti oleh Chen yang sibuk mencatat beberapa poin penting hasil rapat di layar tabletnya."Pak Lee,” panggil Chen dengan suara pelan setelah mereka berdua masuk ke dalam lift pribadi yang kedap suara. “Seluruh agenda penting untuk hari ini sudah selesai dengan baik. Jadwal Anda berikutnya adalah makan malam semi-formal dengan kepala dinas pariwisata nanti malam. Setelah ini, Anda bisa langsung beristirahat di pen
Langkah kaki Meilin terdengar mantap namun terasa sangat berat saat memasuki area lobi anak perusahaan Tianyu Enterprise Group bagian resort pagi itu. Di sinilah Yiran sekarang ditempatkan dan diasingkan setelah dimutasi secara sepihak oleh Hanzhen beberapa waktu lalu. Meilin sengaja tidak menghubungi wanita itu terlebih dahulu; ia sengaja datang tanpa peringatan tertulis karena tidak ingin memberikan celah atau waktu sepeser pun bagi Yiran untuk menyusun skenario kebohongan yang baru.Begitu pintu kaca ruang kerja divisi pemasaran dibuka perlahan, tatapan mata Meilin langsung bergerak cepat mengunci sosok Yiran yang sedang sibuk memeriksa beberapa berkas laporan di atas mejanya. Sadar ada seseorang yang berdiri mematung di ambang pintu masuk, Yiran mendongakkan kepalanya. Detik ketika sepasang matanya menangkap wajah Meilin, ekspresi terkejut yang nyata sempat melintas sekilas di wajahnya sebelum dengan sangat cepat digantikan oleh ulas senyuman manis artifisial yang biasa ia gunak
Kata-kata Junhao malam itu laksana hantaman badai yang memporak-porandakan seluruh ketenangan di dalam dada Meilin. Yiran. Nama sahabat yang paling ia percayai sejak masa kuliah, sosok yang dulunya selalu berbagi tawa dan rahasia dengannya, kini menjelma menjadi sosok asing yang mengerikan di dalam benaknya. Kenyataan pahit ini mencabik-cabik sudut hatinya yang terdalam.Malam semakin larut ketika Meilin memutuskan untuk merebahkan diri di atas ranjang kamar tidurnya. Suasana kamar yang familier dengan aroma kayu pinus yang meneduhkan ini biasanya selalu berhasil membuatnya tertidur lelap dalam hitungan menit. Namun malam ini, sepasang matanya enggan terpejam sedikit pun. Pikirannya melayang jauh menembus kegelapan malam, menarik paksa ingatan Meilin pada beberapa hari yang lalu-hari di mana badai kecemburuan Hanzhen pertama kali pecah berkeping-keping.Malam ini, suaminya tidak pulang, namun ia pun gelisah, sehingga ia memutuskan untuk menghunginya."Hallo" kata suara Hanzhen di seb
Meilin tiba di depan rumah kediaman keluarganya yang asri tepat ketika semburat langit senja mulai berubah gelap keunguan. Di tangan kanannya, ia mencengkeram erat sebuah kotak kue tart kecil dengan hiasan lapisan cokelat Belgia yang sederhana, sementara tangan kirinya membawa sebuah kotak hadiah jam tangan mewah yang sudah ia pilih khusus untuk sang kakak.Begitu daun pintu rumah kayu itu terbuka, aroma harum masakan rumahan yang sangat akrab langsung menyergap hangat indra penciumannya. Aroma bumbu dapur buatan sang ibu yang selalu berhasil membuat hati Meilin yang belakangan ini dipenuhi kecemasan mendadak terasa begitu damai dan tenang. Belum sempat ia melangkah masuk lebih jauh menembus ruang tamu, suara bariton Yuwen sudah terdengar menggelegar riang dari arah ruang tengah. “Wah, adik perempuan tersayangku akhirnya datang juga!”Pria tegap itu langsung berjalan mendekat dengan ulasan senyum lebar khasnya yang menjengkelkan namun dirindukan. Tatapan matanya langsung tertuju luru
Kelopak mata Meilin bergerak gelisah sebelum akhirnya perlahan terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah pendar samar cahaya matahari pagi yang menyusup malu-malu melalui celah tirai kamar utama yang megah.Namun, kesadarannya tidak pulih dengan instan. Selama beberapa detik, otak Meilin mendadak kosong, mencoba mencerna di mana ia berada. Ketika rasa hangat yang teramat asing menyergap permukaan kulitnya, Meilin tersentak kecil di dalam hati. Ia tersadar, sebuah lengan kekar yang kokoh sedang melingkar posesif di sekeliling pinggangnya, sementara embusan napas yang teratur terasa begitu dekat menyapu tengkuknya. Hanzhen masih memeluknya erat dari belakang.Seketika itu juga, pasokan udara di paru-parunya seolah tersendat. Ingatan tentang melodi piano semalam, ciuman impulsif yang ia mulai sendiri di ruang tengah, hingga bagaimana Hanzhen menggendongnya menaiki tangga mendadak berputar laksana rol film di kepalanya. Pipi Meilin instan memanas, rona merah me







