Share

Tonjolan Mungil

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-07-14 16:43:01

"Man!"

"Eh? Tante tanya apa tadi?" Maman tersadar, pipinya memerah.

"Ihh, kamu ini... Emang tadi bengong mikir apaan? Ngebayangin Tante ya? Hihi..." Tante Zara tertawa genit, lalu mengedipkan matanya.

Maman merasa wajahnya panas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan.

"Gimana, Man? Gede ya?" tanya Tante Zara kembali.

Maman tersentak kaget. "Hah?! Apanya, Tante?"

"Loh? Ya ikannya, lah. Emang kamu mikir apaan?" Tante Zara tertawa renyah, membuat bahunya yang mulus berguncang.

"Eh, anu... bukan, enggak..." Maman gelagapan, gugup bukan main.

"Udah, santai aja kali, Man. Nggak usah canggung gitu sama Tante. Sini, Tante mau liat ikannya, gede apa enggak."

Dengan tangan gemetar, Maman mendekatkan keranjangnya. Begitu tutupnya dibuka, mata Tante Zara membelalak.

"Wah... gede banget! Ini asli Man? Nila beneran? Bukan AI, kan?"

"Ah, Tante bisa aja. Mana ada ikan nyata begini dibikin dari AI, hehe..."

Maman menjawab apa adanya. Namun, raut wajah Tante Zara masih menyiratkan ketidakpercayaan melihat ikan sebesar itu.

Di sela-sela percakapan, Maman beberapa kali mengatur napasnya agar tetap tenang. Hal itu dikarenakan dua beban yang dipikul Tante Zara benar-benar menyita perhatian.

"Tante beli separo aja ya? Banyak banget soalnya, nggak mungkin beli semua," ucap Tante Zara akhirnya.

Maman menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, Tante. Ambil aja semuanya. Bayar separonya aja, saya ikhlas kok."

Tante Zara tertegun sejenak, lalu menatap Maman dalam-dalam. "Serius kamu, Man? Jangan bercanda lho."

"Iya, Tante. Beneran. Besok juga saya bisa cari lagi di sungai," jawab Maman sambil tersenyum ramah.

Ia pun segera memindahkan ikan-ikan tersebut ke dalam beberapa kantong plastik dan menyerahkannya kepada Tante Zara.

Suasana mendadak hening. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Maman berkali-kali harus memalingkan wajah agar tidak terus-terusan terpaku pada pemandangan di balik daster Tante Zara.

Untuk mencairkan kecanggungan, Maman memberanikan diri bertanya, "Oh ya, suami Tante apa kabar? Kapan pulang?"

Tante Zara mendengus pelan, raut wajahnya berubah masam. "Loh, kamu ini malah nanya suami Tante. Emang nggak ada pertanyaan lain apa?"

"Hehe... maaf, Tante," cengenges Maman, merasa salah langkah.

Tante Zara mengalihkan topik dengan senyum manis. "Gini aja deh, malam ini kamu makan malam di rumah Tante ya. Tante bakal masak ikan-ikan ini. Kamu jangan nolak, ya? Kasihan kamu sendirian terus di rumah, nggak ada yang masakin."

"Ta-tapi, Tante..."

"Udah, nggak usah nolak. Ini bentuk terima kasih Tante karena kamu udah baik banget. Padahal Tante belinya cuma dikit, tapi dikasih bonus banyak sama kamu."

Tante Zara menatap Maman lekat-lekat, seolah menunggu jawaban pasti.

"Gimana, Man? Mau, kan?"

Maman terdiam sejenak. Undangan itu terasa mendadak, namun ada sesuatu yang sulit ia tolak.

"Eh? Y-ya udah deh, Tante. Boleh..."

Tante Zara tersenyum puas. Setelah percakapan itu berakhir, Maman pamit untuk pulang.

Sepanjang jalan pulang, jantungnya masih berdegup kencang. Undangan makan malam dari Tante Zara terasa begitu mendebarkan baginya.

Sesampainya di rumah, Maman bergegas menuju sumur di belakang untuk membersihkan diri. Dinginnya air sumur yang membasahi tubuhnya mendadak terasa berbeda.

Saat Maman menyabuni tubuhnya, ia tertegun. Tangannya berhenti bergerak. Otot perut yang dulunya rata, kini tampak lebih kencang dengan guratan six-pack samar yang mulai terbentuk.

Maman mematung, lalu perlahan menurunkan pandangan ke arah bawah.

"Alamak!" Maman tersentak kaget.

Ia memperhatikan timunnya yang kini tampak lebih besar dan tebal.

"Lah? Kok bisa?!" gumamnya tak percaya.

Maman masih bingung dengan perubahan yang ia rasakan hari ini. Namun, ia memilih menyudahi mandinya dan bergegas bersiap, tak ingin terlambat memenuhi undangan makan malam di rumah Tante Zara.

Malam tiba. Maman datang ke rumah Tante Zara dengan outfit terbaik yang ia punya.

Klek!

Pintu terbuka, memperlihatkan Tante Zara yang menyambutnya dengan senyum manis.

Ia mengenakan daster kuning bertali spaghetti. Dua beban kenyal yang dipikulnya terpampang jelas, berdendang indah saat ia bergerak, menandakan bahwa Tante Zara tidak memakai bra.

Glek!

Maman menelan ludah.

Lagi-lagi, timunnya bereaksi di dalam sana, terutama saat matanya tak sengaja menangkap guncangan indah di balik dasternya Tante Zara.

"M-malam, Tante..." sapa Maman akhirnya.

"Ayo masuk, Man. Tante udah siapin makanannya. Enak loh, resep baru soalnya, hihi..." ujar Tante Zara sambil tersenyum nakal.

Di meja makan, sembari menyantap hidangan, suasana perlahan mencair.

"Man, kamu udah punya pacar belum?" tanya Tante Zara tiba-tiba.

"Eh? Belum, Tante..."

"Masa sih? Padahal kamu ganteng, lho. Kok bisa belum punya pacar?"

"Hehe, nggak tau juga, Tante. Memang belum punya aja."

Tante Zara mengangguk-angguk kecil. "Berarti sering kesepian dong? Sama kayak Tante. Suami Tante jarang pulang, paling cepat lima bulan sekali. Kamu kebayang nggak sih, gimana rasanya sendirian terus di rumah?"

Maman menggeleng. "Nggak tau, Tante."

"Maksud Tante... rasanya jarang disentuh itu, lho. Kangen. Beda sama temen-temen Tante yang suaminya selalu ada tiap malem." Tante Zara menghela napas panjang, sorot matanya melembut. "Duh... rasanya haus kasih sayang banget."

Maman merasa keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia menangkap arah pembicaraan Tante Zara, namun memilih bersikap lugu agar suasana tidak terlalu canggung.

Di bawah meja, tangannya berusaha menekan pahanya sendiri, mencoba menenangkan timunnya yang tak bisa diajak kompromi.

"Kamu kenapa, Man? Kok gelisah banget?" tanya Tante Zara, memperhatikan gerak-gerik Maman.

"Eh, enggak kok, Tante. Nggak apa-apa."

"Kebelet pipis, ya? Ke kamar mandi aja dulu. Yuk, Tante temenin?"

"Eh?! Nggak usah, Tante. Saya nggak pengen pipis, kok," jawab Maman panik.

"Oh, ya udah." Tante Zara hanya tersenyum tipis.

Setelah makan selesai, Tante Zara beranjak ke wastafel untuk mencuci piring. Maman merasa tidak enak jika hanya duduk diam, apalagi pemandangan indah dari bokong Tante Zara yang cukup menyita perhatian.

Maman pun memutuskan berdiri. "Biar saya bantu rapikan piringnya, Tante," ucapnya sambil melangkah mendekat.

Saat berdiri tepat di samping Tante Zara, mata Maman sulit berpaling dari lekuk tubuh Tante Zara yang tercetak jelas di balik daster itu.

Tiba-tiba, cipratan air dari keran mengenai bagian dada Tante Zara. Kain daster itu pun seketika basah dan menempel erat, memperjelas isi di baliknya.

Tante Zara menoleh, menyadari tatapan Maman yang tertuju pada dadanya yang basah.

"Aduh, jadi basah begini, deh. Kamu liat ya, Man?"

Glek!

Maman menelan ludah dalam-dalam.

Dua tonjolan kecil pada bukit kembarnya Tante Zara membuat jantung Maman serasa berhenti berdetak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Tertindih Aset Kenyal

    Glek!Maman menelan ludah.Posisi dadanya yang tepat berada di ujung sapu Ririn membuat Maman tak berani bergerak sembarangan.Namun, entah reflek pria normal atau semacamnya, pandangan mata Maman justru tak bisa berhenti melirik ke arah bukit kembarnya Ririn.Gadis di depannya ini hanya mengenakan kaus tipis berwarna putih yang sedikit agak longgar.Karena Ririn sedang emosi dan bernapas memburu, kaus tipis itu menempel kencang mencetak bentuk dua bukit kembar Ririn yang begitu padat, kencang, dan membusung indah.Ditambah lagi, posisi Ririn yang memegang sapu itu dengan kedua tangan terangkat ke atas membuat bagian dada kausnya terangkat semakin ketat."Punya si Ririn padat amat, yak? Beda sama Lisa kayaknya," batin Maman mengagumi keindahan alami gadis galak di depannya."Tapi... kagak pasti juga sih. Kan dia masih pake bra, ya?" batinnya kembali.Ririn yang sadar akan arah pandangan mata Maman menjadi semakin meradang. Pipinya memerah bukan main."Maman! Mata lo ngeliat ke mana, s

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Kain Segitiga Berenda

    Maman kembali teringat bisikan gaib semalam, yang masuk ke telinganya sebelum ia tertidur.Terdapat sebuah benda berharga di halaman belakang rumah seorang gadis yang ibunya pernah kamu tolong saat dijambret preman. Di kampung sebelah.Rumah Ririn di Kampung Suka Maju.Tanpa membuang waktu lagi, Maman melangkah keluar rumah menyusuri jalan setapak menuju Kampung Suka Maju untuk berburu benda berharga selanjutnya.Maman melangkah menyusuri jalan setapak yang membelah persawahan menuju Kampung Suka Maju. Angin pagi yang berembus segar sama sekali tak mampu mendinginkan gejolak di dadanya.Setelah berhasil lolos dari cengkeraman Juragan Surya lewat sandiwara cerdik bersama Lisa, kini pikirannya terbagi menjadi dua.Kekhawatiran akan nasib benihnya di rahim Lisa, dan rasa penasaran luar biasa terhadap petunjuk gaib tentang benda berharga di halaman belakang rumah Ririn.Maman sengaja tidak mengajak Togel. Selain karena tak ingin sahabatnya itu banyak bertanya, ada alasan pribadi lain yang

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Lis, listen to me

    "MAMAN! KELUAR KAMU!"Suara teriakan yang dipenuhi amarah itu melengking menembus pintu depan.Maman dan Lisa sontak membeku. Wajah Lisa yang tadinya mulai agak tenang kini berubah menjadi sangat pucat, matanya membelalak ketakutan.Lisa mengenali suara bentakan itu dengan sangat jelas."A-Ayah...?" bisik Lisa dengan bibir gemetaran, tubuhnya seketika gemetar ketakutan di dalam pelukan Maman. "Itu suara Ayah, Man... Ayah udah tau aku ada di sini!"Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu depan semakin menjadi-jadi, disusul makian kasar yang membuat suasana pagi itu mendadak tegang luar biasa.Juragan Surya di luar sana tidak datang sendirian. Terdengar derap langkah banyak kaki yang mengepung sekitar rumah Maman."MAMAN! BUKA PINTUNYA! SAYA TAU LISA ADA DI DALAM!" teriak Juragan Surya murka. "Jangan sampai saya dobrak rumah kamu ini!"Di dalam kamar, Lisa menangis sesenggukan. Tubuhnya gemetar hebat sambil memeluk rapat sarung yang menutupi tubuh telanjangnya."Man... gimana ini, Man? Ayah

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Kalau Hamil, Gimana?!

    Ngiiiing!!!Tiba-tiba telinga Maman berdenging keras."Terdapat sebuah benda berharga. Di halaman belakang rumah seorang gadis yang ibunya pernah kamu tolong saat dijambret preman. Di kampung sebelah.""Eh?!" Maman tersentak.Beberapa saat kemudian, suara itu perlahan menghilang. Kamar kembali sunyi, hanya menyisakan suara malam yang samar dari luar rumah.Namun, ucapan terakhir dari bisikan tadi masih terngiang-ngiang di kepala Maman."Bentar... kampung sebelah?" gumamnya dalam hati.Maman seketika teringat pada Kampung Suka Maju.Tempat itu adalah kampung tempat Ririn tinggal, gadis cantik anak Kepala Desa yang ibunya pernah ia tolong saat hampir menjadi korban penjambretan beberapa pekan lalu.Namun semakin dipikirkan, semakin terasa aneh.Bisikan tadi menyebut ada sebuah benda berharga di halaman belakang rumah seorang gadis, tapi sama sekali tidak menjelaskan benda apa yang dimaksud.Maman mengernyitkan dahi. "Benda apa ya kira-kira? Jam saku lagi, kah?"Sayangnya, tubuhnya sudah

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Unboxing Lisa

    Maman menatap dalam-dalam sepasang mata Lisa yang berbinar pasrah. Cahaya lilin di sudut meja bergetar pelan, memantulkan bayangan dua raga yang sedang dimabuk asmara di atas kasur itu.Tak ada lagi keraguan di antara mereka. Rasa cinta yang lama terpendam, serta gelora gairah dewasa yang meledak hebat malam itu meluruhkan segala canggung yang tersisa."Lis..." bisik Maman pelan, mengelus lembut pipi Lisa. "Aku sayang sama kamu..."Lisa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum manis yang penuh kepasrahan. "Aku percaya sama kamu, Man. Malam ini... aku serahin semuanya ke kamu."Tanpa membuang waktu, Maman kembali menyambar bibir indah Lisa. Ciuman mereka berlangsung begitu panas, menyalurkan kehangatan yang merambat cepat ke seluruh aliran darah.Tangan Maman bergerak lembut membuka sisa kancing piyama yang dikenakan Lisa. Kain itu meluncur pelan melewati bahu mulusnya, menyisakan tubuh molek Lisa yang polos tanpa sehelai benang pun di hadapan Maman.Glek!Maman menelan ludah melihat k

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Genggaman Lisa

    "Anjir!" batin Maman. "Nyampe jebol sempak gue!"Karena terlalu fokus pada urusan lain, Maman bahkan belum sempat membeli celana dalam baru.Uang hasil penjualan setrika arang sebelumnya sudah ludes untuk melunasi hutang sang ayah. Kini, dompetnya hanya menyisakan dua puluh juta rupiah setelah terpakai untuk membeli dua ponsel.Ia belum sempat melengkapi kebutuhan pribadi yang mendesak seperti celana dalam, padahal barang itu sangat krusial mengingat ada peliharaan di luar nalar yang bersarang di balik celananya.Maman mencoba menggeser pinggulnya secara perlahan, berusaha agar tidak membangunkan Lisa. Ia berniat membetulkan posisi celananya yang rusak.Namun, tepat saat Maman bergerak beberapa milimeter, tiba-tiba...Srett...Kaki Lisa bergerak spontan dalam tidurnya. Kaki jenjang itu terangkat dan mengangkang tipis, lalu menumpangkan pahanya tepat di atas pangkal paha Maman.Deg!Area sensitif di paha bagian dalam milik Lisa mendarat tepat di atas belutnya Maman yang sedang berdiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status