登入"Man!"
"Eh? Tante tanya apa tadi?" Maman tersadar, pipinya memerah. "Ihh, kamu ini... Emang tadi bengong mikir apaan? Ngebayangin Tante ya? Hihi..." Tante Zara tertawa genit, lalu mengedipkan matanya. Maman merasa wajahnya panas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan. "Gimana, Man? Gede ya?" tanya Tante Zara kembali. Maman tersentak kaget. "Hah?! Apanya, Tante?" "Loh? Ya ikannya, lah. Emang kamu mikir apaan?" Tante Zara tertawa renyah, membuat bahunya yang mulus berguncang. "Eh, anu... bukan, enggak..." Maman gelagapan, gugup bukan main. "Udah, santai aja kali, Man. Nggak usah canggung gitu sama Tante. Sini, Tante mau liat ikannya, gede apa enggak." Dengan tangan gemetar, Maman mendekatkan keranjangnya. Begitu tutupnya dibuka, mata Tante Zara membelalak. "Wah... gede banget! Ini asli Man? Nila beneran? Bukan AI, kan?" "Ah, Tante bisa aja. Mana ada ikan nyata begini dibikin dari AI, hehe..." Maman menjawab apa adanya. Namun, raut wajah Tante Zara masih menyiratkan ketidakpercayaan melihat ikan sebesar itu. Di sela-sela percakapan, Maman beberapa kali mengatur napasnya agar tetap tenang. Hal itu dikarenakan dua beban yang dipikul Tante Zara benar-benar menyita perhatian. "Tante beli separo aja ya? Banyak banget soalnya, nggak mungkin beli semua," ucap Tante Zara akhirnya. Maman menggeleng cepat. "Nggak apa-apa, Tante. Ambil aja semuanya. Bayar separonya aja, saya ikhlas kok." Tante Zara tertegun sejenak, lalu menatap Maman dalam-dalam. "Serius kamu, Man? Jangan bercanda lho." "Iya, Tante. Beneran. Besok juga saya bisa cari lagi di sungai," jawab Maman sambil tersenyum ramah. Ia pun segera memindahkan ikan-ikan tersebut ke dalam beberapa kantong plastik dan menyerahkannya kepada Tante Zara. Suasana mendadak hening. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Maman berkali-kali harus memalingkan wajah agar tidak terus-terusan terpaku pada pemandangan di balik daster Tante Zara. Untuk mencairkan kecanggungan, Maman memberanikan diri bertanya, "Oh ya, suami Tante apa kabar? Kapan pulang?" Tante Zara mendengus pelan, raut wajahnya berubah masam. "Loh, kamu ini malah nanya suami Tante. Emang nggak ada pertanyaan lain apa?" "Hehe... maaf, Tante," cengenges Maman, merasa salah langkah. Tante Zara mengalihkan topik dengan senyum manis. "Gini aja deh, malam ini kamu makan malam di rumah Tante ya. Tante bakal masak ikan-ikan ini. Kamu jangan nolak, ya? Kasihan kamu sendirian terus di rumah, nggak ada yang masakin." "Ta-tapi, Tante..." "Udah, nggak usah nolak. Ini bentuk terima kasih Tante karena kamu udah baik banget. Padahal Tante belinya cuma dikit, tapi dikasih bonus banyak sama kamu." Tante Zara menatap Maman lekat-lekat, seolah menunggu jawaban pasti. "Gimana, Man? Mau, kan?" Maman terdiam sejenak. Undangan itu terasa mendadak, namun ada sesuatu yang sulit ia tolak. "Eh? Y-ya udah deh, Tante. Boleh..." Tante Zara tersenyum puas. Setelah percakapan itu berakhir, Maman pamit untuk pulang. Sepanjang jalan pulang, jantungnya masih berdegup kencang. Undangan makan malam dari Tante Zara terasa begitu mendebarkan baginya. Sesampainya di rumah, Maman bergegas menuju sumur di belakang untuk membersihkan diri. Dinginnya air sumur yang membasahi tubuhnya mendadak terasa berbeda. Saat Maman menyabuni tubuhnya, ia tertegun. Tangannya berhenti bergerak. Otot perut yang dulunya rata, kini tampak lebih kencang dengan guratan six-pack samar yang mulai terbentuk. Maman mematung, lalu perlahan menurunkan pandangan ke arah bawah. "Alamak!" Maman tersentak kaget. Ia memperhatikan timunnya yang kini tampak lebih besar dan tebal. "Lah? Kok bisa?!" gumamnya tak percaya. Maman masih bingung dengan perubahan yang ia rasakan hari ini. Namun, ia memilih menyudahi mandinya dan bergegas bersiap, tak ingin terlambat memenuhi undangan makan malam di rumah Tante Zara. Malam tiba. Maman datang ke rumah Tante Zara dengan outfit terbaik yang ia punya. Klek! Pintu terbuka, memperlihatkan Tante Zara yang menyambutnya dengan senyum manis. Ia mengenakan daster kuning bertali spaghetti. Dua beban kenyal yang dipikulnya terpampang jelas, berdendang indah saat ia bergerak, menandakan bahwa Tante Zara tidak memakai bra. Glek! Maman menelan ludah. Lagi-lagi, timunnya bereaksi di dalam sana, terutama saat matanya tak sengaja menangkap guncangan indah di balik dasternya Tante Zara. "M-malam, Tante..." sapa Maman akhirnya. "Ayo masuk, Man. Tante udah siapin makanannya. Enak loh, resep baru soalnya, hihi..." ujar Tante Zara sambil tersenyum nakal. Di meja makan, sembari menyantap hidangan, suasana perlahan mencair. "Man, kamu udah punya pacar belum?" tanya Tante Zara tiba-tiba. "Eh? Belum, Tante..." "Masa sih? Padahal kamu ganteng, lho. Kok bisa belum punya pacar?" "Hehe, nggak tau juga, Tante. Memang belum punya aja." Tante Zara mengangguk-angguk kecil. "Berarti sering kesepian dong? Sama kayak Tante. Suami Tante jarang pulang, paling cepat lima bulan sekali. Kamu kebayang nggak sih, gimana rasanya sendirian terus di rumah?" Maman menggeleng. "Nggak tau, Tante." "Maksud Tante... rasanya jarang disentuh itu, lho. Kangen. Beda sama temen-temen Tante yang suaminya selalu ada tiap malem." Tante Zara menghela napas panjang, sorot matanya melembut. "Duh... rasanya haus kasih sayang banget." Maman merasa keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia menangkap arah pembicaraan Tante Zara, namun memilih bersikap lugu agar suasana tidak terlalu canggung. Di bawah meja, tangannya berusaha menekan pahanya sendiri, mencoba menenangkan timunnya yang tak bisa diajak kompromi. "Kamu kenapa, Man? Kok gelisah banget?" tanya Tante Zara, memperhatikan gerak-gerik Maman. "Eh, enggak kok, Tante. Nggak apa-apa." "Kebelet pipis, ya? Ke kamar mandi aja dulu. Yuk, Tante temenin?" "Eh?! Nggak usah, Tante. Saya nggak pengen pipis, kok," jawab Maman panik. "Oh, ya udah." Tante Zara hanya tersenyum tipis. Setelah makan selesai, Tante Zara beranjak ke wastafel untuk mencuci piring. Maman merasa tidak enak jika hanya duduk diam, apalagi pemandangan indah dari bokong Tante Zara yang cukup menyita perhatian. Maman pun memutuskan berdiri. "Biar saya bantu rapikan piringnya, Tante," ucapnya sambil melangkah mendekat. Saat berdiri tepat di samping Tante Zara, mata Maman sulit berpaling dari lekuk tubuh Tante Zara yang tercetak jelas di balik daster itu. Tiba-tiba, cipratan air dari keran mengenai bagian dada Tante Zara. Kain daster itu pun seketika basah dan menempel erat, memperjelas isi di baliknya. Tante Zara menoleh, menyadari tatapan Maman yang tertuju pada dadanya yang basah. "Aduh, jadi basah begini, deh. Kamu liat ya, Man?" Glek! Maman menelan ludah dalam-dalam. Dua tonjolan kecil pada bukit kembarnya Tante Zara membuat jantung Maman serasa berhenti berdetak.Maman membaca ulang pesan itu. Ririn ikut menunduk di sebelahnya."Dia nyebut nama Bayu," kata Ririn. "Padahal kamu baru tahu nama itu dua hari lalu.""Berarti dia tahu kejadian di bawah panti.""Atau dia memang bagian dari kejadian itu."Rudi berdiri sambil membawa nampan kosong. "Kalian bisik-bisik soal apa? Soal bakso? Kalau ada komplain, sampaikan langsung ke koki.""Bukan soal bakso, Rud." Maman menyodorkan ponselnya.Rudi membaca pesan itu, lalu melihat fotonya. Wajahnya langsung berubah. "K.S? Itu inisial cincin yang bikin kita naik gunung?""Iya.""Bukannya orangnya udah ditelan pilar?""Itu juga yang mau kita cari tahu."Lisa mengambil ponsel itu dan melacak nomornya dengan laptop cadangan. Ia mengetik cepat sambil menggigit bibir. Sepuluh menit kemudian, ia mengangkat wajah."Nomornya terdaftar atas nama Pak Kades Sukamati.""Kades yang anaknya Karta?" tanya Ririn."Iya. Dan lokasi ponselnya sekarang ada di desa itu."Rudi menjatuhkan nampannya. "Balik ke desa kuntilanak? Ak
Maman berdiri kaku. Tangannya masih terangkat setengah, seperti baru akan memeluk."Bu," katanya pelan. "Ini aku. Bayu."Laras mengerutkan dahi, berusaha keras mengingat. "Bayu... nama itu rasanya kukenal. Tapi aku nggak bisa ingat wajah kamu. Maaf, Nak.""Nggak apa-apa.""Kamu kelihatan sedih.""Aku cuma capek, Bu."Surya mendekat dan menyentuh bahu istrinya. "Laras, kamu ingat aku?"Laras menoleh. Matanya langsung hangat. "Surya. Tentu saja.""Dan Raka?""Raka juga." Ia menatap Raka sambil tersenyum. "Kamu tinggi sekali sekarang.""Terus yang ini siapa, Bu?" tanya Raka sambil menunjuk Maman. Suaranya bergetar.Laras menatap Maman lama. Ada sesuatu di wajahnya, tapi ingatannya tidak mau muncul. "Aku cuma ingat... waktu itu aku hamil lagi. Anakku yang kedua. Tapi aku nggak ingat dia lahir.""Yang kedua itu Sari," kata Surya pelan.Sari melangkah maju sambil memeluk boneka kelinci kosong. "Ibu ingat Sari?""Ibu kenal kamu karena Mimi," jawab Laras sambil mengelus rambutnya. "Kamu hanga
Hartono, atau sosok yang memakai tubuhnya, memutar leher sampai berbunyi. Mata ungunya menyapu semua orang di lapangan. "Ramai juga," katanya santai. "Padahal aku cuma mau lewat." "Lewat ke mana?" tanya Maman sambil berdiri di depan Ririn. "Ke bawah panti. Ke pintu." Ia menunjuk reruntuhan bangunan di seberang jalan. "Ki Dasar yang lembek itu memilih jadi teman. Aku tidak. Aku dibuat untuk menjaga pintu, dan aku benci setiap detiknya." "Jadi kamu mau membukanya?" "Mau melihat apa yang selama ini kujaga. Itu saja." "Dan kalau terbuka, dunia ini kena," sahut Surya dingin. "Itu bukan masalahku." Rudi, yang masih berlutut sambil memegangi leher, mengangkat tangan lemah. "Permisi. Boleh nanya?" "Diam, Rud," bisik Lisa. "Aku cuma mau tahu, kamu punya nama nggak? Soalnya dari tadi aku manggil kamu 'yang bukan Ki Dasar', capek juga." Sosok itu menoleh padanya. "Mereka menyebutku Si Penolak." "Kedengarannya kayak orang yang sering ditolak lamarannya." Ririn menahan taw
"Sari! Sar, bangun!" Raka mengguncang bahu gadis kecil itu pelan-pelan. Tidak ada reaksi. Napasnya sangat tipis. Maman berlutut dan memeriksa nadinya. "Masih ada. Tapi lemah banget." "Eyang!" Ia memegang dadanya. "Ada cara?" *Ada,* jawab Eyang. *Tapi kamu nggak akan suka.* *Aku nggak peduli suka atau nggak. Bilang!* *Rajah putih itu kosong. Dia butuh sesuatu untuk mengisi, dan sesuatu itu harus sama jenisnya dengan yang menyegel.* *Maksudnya?* *Penjaga. Ki Dasar dulu dibuat jadi penjaga pintu. Kalau dia sekarang mau jadi teman, pintunya butuh penjaga baru. Kalau tidak, pintunya terbuka.* *Siapa yang jadi penjaga?* Eyang diam sebentar. *Aku.* Maman terdiam. *Apa?* *Aku sudah ratusan tahun hidup di tubuh keturunanku. Aku sudah terlalu lama. Dan aku berutang janji pada makhluk itu.* *Kalau Eyang pergi, Eyang nggak akan ada lagi di kepalaku?* *Betul.* *Eyang nggak boleh...* *Bayu.* Suara Eyang terdengar lembut. *Selama ini kamu merasa aku cuma mengganggu. Ta
"Nggak," kata Maman cepat. "Nggak ada yang tidur selamanya." Sari menatapnya. "Kak Bayu, aku cuma bilang apa yang Mimi bilang." "Mimi itu boneka, Sar." "Mimi itu Ibu." Sari mengangkat boneka kelinci biru itu dan menatap Laras. "Ibu juga lihat, kan?" Laras berlutut dan memegang telinga boneka yang putus sebelah. Tangannya gemetar. "Ibu yang jahit boneka ini. Dua puluh tahun lalu, sebelum kebakaran. Ibu nggak sempat kasih ke kamu." "Ibu nyimpen jiwa Ibu di boneka itu?" tanya Raka. "Bukan Ibu yang sengaja." Laras menggeleng. "Waktu Ki Dasar mulai menarikku, bagian dari diriku masuk ke satu-satunya benda yang kupegang. Boneka itu." "Dan boneka itu ditemukan di depan gerbang panti bersama Sari," gumam Surya. "Karena Sari memang dilahirkan setelah itu," lanjut Laras pelan. "Aku nggak tahu bagaimana. Mungkin anak ini lahir dari sisa kekuatan yang nggak bisa dipakai Ki Dasar." Hartono yang berdiri di pojok ruangan menunduk. "Aku tahu soal ini." Semua menoleh. "Aku tahu La
"Berhenti di situ, Rud!" bentak Ririn sambil menghadang. Rudi yang bukan Rudi menoleh santai. "Minggir, Nak. Aku nggak mau melukai istri pembawa rajah. Belum." "Kalau mau ke anak-anak, lewati aku dulu." "Dengan pisau kecil itu?" "Dengan apa pun yang ada." Ia terkekeh. Matanya yang ungu bergeser ke Lisa, Dina, dan Bu Ratmi, yang sudah berdiri merentangkan tangan di depan anak-anak panti. "Bu Ratmi, minggir," kata Ki Dasar lewat mulut Rudi. "Tubuh tuamu nggak akan tahan." "Saya sudah dua puluh tahun jaga anak-anak ini," jawab Bu Ratmi, suaranya gemetar tapi tegas. "Kamu harus lewati saya dulu." "Lucu. Semua orang bilang begitu." Ia mengangkat tangan. Garis hitam di lengannya berdenyut, dan angin kencang menghantam Ririn sampai terpental dua meter. Ririn jatuh berguling dan pisaunya terlepas. "Ririn!" Dina berlari membantunya. "Aku nggak apa-apa!" Ririn bangkit sambil memegangi bahunya yang masih sakit. "Lisa! Ada ide?" "Alat pemindai mati!" teriak Lisa. "Tapi kabe







