Share

Tekanan Benda Empuk

Penulis: Joker Sarjana
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 16:46:24

"Anjir! Hampir aja... Kalau nggak cepet-cepet kabur, bisa berabe jadinya!" gumam Maman.

Pintu rumahnya baru saja tertutup rapat, menyisakan napas Maman yang memburu. Ia masih terbayang kejadian sepuluh menit yang lalu di rumah Tante Zara.

Kejadian canggung yang sempat memperlihatkan tonjolan kecil pada bukit kembar Tante Zara masih membekas di benak Maman. Ia memutuskan undur diri karena timunnya yang sudah sangat mendesak.

Hingga sampai saat ini, timunnya masih berdiri tegak, seolah menolak tunduk.

"Yaelah... ngapa masih bangun, sih?!" bentak Maman pada celananya sendiri.

Perlahan, ia membuka sedikit bagian pinggang celananya, bermaksud mengintip.

"Alamak!" Maman tersentak kaget.

Urat-urat timunnya menonjol drastis, lebih tebal dan lebih panjang. Maman sempat mengira bahwa itu bukanlah miliknya.

Plak!

Maman menamparnya dengan kesal, berharap rasa sakit bisa membuatnya lemas. Namun, bukannya mereda, timunnya justru terasa semakin berdenyut kuat.

"Huft..."

Maman akhirnya menyerah. Ia melempar tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit kamar dengan napas yang masih tersengal.

Ia menatap telapak tangan kanannya. Di tengah-tengah telapak itu, masih ada bekas bulat samar.

"Jadi... koin itu bener-bener masuk ke tangan gue?" bisiknya pelan.

Satu per satu keanehan mulai terpikirkan. Ukuran timunnya yang tak wajar, hingga hasil tangkapan ikan yang melimpah ruah sejak koin itu ada.

Rasa lelah yang mendalam akhirnya membawa Maman ke alam mimpi, hingga suara ayam berkokok menyadarkannya bahwa hari sudah berganti.

"Hoaaamm..."

Maman bangkit, badannya terasa lebih segar dan bertenaga. Tanpa banyak basa-basi, ia menyiapkan peralatan pancing dan umpan cacing.

Ia sempat menunggu Rudi di depan rumah, namun sahabatnya itu tak kunjung datang.

"Mana tuh anak, ya? Tumben amat jam segini belum nongol," gumamnya.

Karena tak mau membuang waktu, ia melangkah menuju sungai sendirian.

Di sungai, hal yang sama kembali terulang. Ikan-ikan besar seolah mengantri untuk dipancing olehnya.

Tapi, masalah baru muncul, ia tidak mungkin menjualnya ke Tante Zara karena pasti masih memiliki banyak stok ikan.

Terlebih-lebih, ingatannya tentang kejadian canggung semalam membuatnya bergidik ngeri jika memang harus kembali ke sana.

"Bukan nggak mau sih, tapi kan nggak mungkin? Bini orang cuy!" batinnya bicara.

Maman memutuskan untuk membawa hasil tangkapannya ke pasar. Namun, di tengah perjalanan lewat jalan pintas yang sepi, tiba-tiba...

"Tolong... Tolong!"

"Eh?!" Maman menghentikan langkahnya, menoleh ke arah sumber suara.

Di sana, seorang wanita paruh baya sedang ditarik paksa oleh dua pria bertopeng.

"Woi! Jambret! Tolong... ada jambret!" teriak Maman, mencoba mencari bantuan dari warga sekitar, tapi jalanan itu benar-benar sunyi.

Mendengar teriakan Maman, kedua preman itu menoleh ke arahnya.

"Mampus!" batin Maman, panik.

"Cabut lu! Kagak usah ikut campur!" bentak salah satu preman itu.

Maman gemetaran, tapi kakinya enggan beranjak. Ia memberanikan diri maju, walau dengan lutut yang bergetar.

"Ka-kalian yang cabut! Nga-ngapain jambret ibu itu?!" bentak Maman gelagapan.

"Banyak omong nih bocah!"

Preman itu mendorong wanita tersebut hingga jatuh, lalu mereka berdua bergerak mendekati Maman.

"Yaelah... mana nyamperin lagi! Si Rudi ke mana sih?! Giliran sikon kayak gini malah nggak nongol tuh anak!" batin Maman, semakin panik.

Wussh!

Preman pertama melayangkan bogem mentah ke wajah Maman, namun tubuhnya reflek seketika. Ia memiringkan kepala, membuat tinju lawan hanya menyambar angin.

"Eh?!"

Maman sendiri terkejut melihat tangannya berhasil menangkap lengan preman itu dengan cengkeraman kuat.

Preman kedua menyerang dari belakang dengan pisau. Maman berputar, melakukan sapuan kaki yang sangat cepat hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjungkal.

Tanpa membuang waktu, Maman melayangkan pukulan telak ke arah ulu hati lawan.

Bugh!

Preman itu tersungkur, mengerang kesakitan. Sementara rekannya yang tadi lengannya ditahan Maman, kini gemetaran melihat temannya tak berdaya.

"Gimana? Masih berani sama gue?!" bentak Maman.

Melihat lawannya bukan orang sembarangan, kedua preman itu memucat. Mereka segera bangkit dan lari terbirit-birit, meninggalkan tas hasil jarahan di atas jalan.

Wanita itu merapikan pakaiannya yang sedikit kusut sambil menatap Maman dengan mata berkaca-kaca.

Maman terengah-engah, ia memungut tas wanita itu dan menyerahkannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Makasih banyak, Nak. Kalau bukan karena kamu, tas saya pasti berhasil dibawa kabur mereka," ucapnya tulus.

"Sama-sama, Bu. Kebetulan aja saya lewat," jawab Maman rendah hati.

Setelah saling berkenalan, Maman akhirnya tahu bahwa wanita itu bernama Ratna, warga desa sebelah.

Sebagai ungkapan rasa syukur yang tak terhingga, Bu Ratna memaksa Maman untuk mampir ke rumahnya. Meski sempat sungkan, Maman akhirnya setuju untuk naik ke jok belakang motor matic milik Bu Ratna.

Sepanjang perjalanan, Maman hanya bisa berpegangan erat pada behel jok, sementara Bu Ratna dengan lihai membelah jalanan desa.

Sesampainya di rumah Bu Ratna yang cukup asri, Maman dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu yang cukup empuk. Tak lama, Bu Ratna memanggil putrinya.

"Rin, buatin minum, Nak. Ini ada tamu, dia yang nolongin Mama tadi," panggil Bu Ratna.

Tidak berselang lama, putri Bu Ratna keluar dari arah dapur. Langkahnya yang perlahan menuju ruang tamu, sontak membuat Maman terpana.

Ririn memiliki paras yang cantik dengan sepasang lesung pipi yang muncul saat ia tersenyum tipis, meski tatapannya terlihat sedikit ketus. Ia menyuguhkan segelas es sirup dingin ke meja di depan Maman.

"Silakan, Mas," ucap Ririn singkat, lalu duduk di samping ibunya.

Perbincangan mengalir hangat. Bu Ratna menceritakan bahwa uang di dalam tas itu baru saja ia ambil dari bank untuk modal usaha, dan ia bersikeras memberikan uang sebesar satu juta rupiah kepada Maman sebagai bentuk terima kasih sekaligus membeli habis ikan hasil tangkapan Maman yang masih ia bawa.

Maman sempat menolak keras, namun Bu Ratna bersikeras, membuat Maman akhirnya pasrah menerima pemberian itu.

"Rin, tolong anterin Maman pulang ya? Mama capek banget rasanya," titah Bu Ratna.

Maman buru-buru menolak, "Eh? Nggak usah, Bu. Saya bisa jalan kaki aja, lagian..."

"Nggak usah nolak, Nak. Rumah kamu jauh, pasti capek kalau pulang jalan kaki," sela Bu Ratna.

Ririn bangkit dari duduknya dengan wajah masam, seolah enggan menuruti perintah ibunya. Saat mereka sudah berada di dekat motor, Ririn masih saja terlihat cukup cemberut.

"Nih, kamu yang bawa. Aku nggak mau," ujar Ririn ketus sambil menyodorkan kunci motor.

"Tapi... aku beneran nggak bisa bawa motor," jawab Maman jujur, wajahnya mulai berkeringat dingin.

Ririn mendengus sinis. "Eh? Emang jaman sekarang ada ya cowok nggak bisa bawa motor? Udah, jangan sok polos deh. Cepetan!"

Tak ingin berdebat lebih lanjut dengan gadis galak itu, Maman akhirnya naik ke jok depan, sementara Ririn duduk di belakang.

Motor pun dinyalakan. Maman yang gugup setengah mati menjalankan motor dengan kaku. Gas yang ia tarik tidak stabil, membuat motor tersendat-sendat maju-mundur.

Setiap kali motor tersendat, tubuh Ririn terdorong ke depan, membuat bukit kembarnya menghantam keras punggung Maman.

Dess!

"Ih! Kamu sengaja ya ngerem dadakan?!" pekik Ririn kesal.

"Kan aku udah bilang, aku nggak bisa bawa motor!" sahut Maman panik, tangannya semakin gemetar memegang stang.

"Nggak mungkin! Kamu pasti sengaja mesum, kan?" Ririn yang tersulut emosi mulai memukul-mukul punggung Maman sambil terus mengomel.

Karena konsentrasi Maman terpecah oleh omelan dan pukulan Ririn, motor pun kehilangan keseimbangan di sebuah tikungan tajam yang licin, hingga akhirnya...

Ciiittt... Braakk!

Motor itu oleng dan jatuh ke pinggir jalan. Keduanya terpelanting.

Tragisnya, Maman terjatuh lebih dulu dengan punggung menghantam tanah, sementara Ririn jatuh tepat menimpanya.

Dalam posisi itu, tubuh Ririn menempel erat pada Maman. Wajah Maman tertanam tepat di dada Ririn.

Aroma parfum Ririn menyeruak masuk ke hidung Maman. Jantungnya berdegup kencang, bahkan nyaris berhenti karena ia benar-benar kesulitan bernapas akibat tekanan bukit kembar gadis itu yang begitu rapat menindihnya.

Deg!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 136

    Hartono, atau sosok yang memakai tubuhnya, memutar leher sampai berbunyi. Mata ungunya menyapu semua orang di lapangan. "Ramai juga," katanya santai. "Padahal aku cuma mau lewat." "Lewat ke mana?" tanya Maman sambil berdiri di depan Ririn. "Ke bawah panti. Ke pintu." Ia menunjuk reruntuhan bangunan di seberang jalan. "Ki Dasar yang lembek itu memilih jadi teman. Aku tidak. Aku dibuat untuk menjaga pintu, dan aku benci setiap detiknya." "Jadi kamu mau membukanya?" "Mau melihat apa yang selama ini kujaga. Itu saja." "Dan kalau terbuka, dunia ini kena," sahut Surya dingin. "Itu bukan masalahku." Rudi, yang masih berlutut sambil memegangi leher, mengangkat tangan lemah. "Permisi. Boleh nanya?" "Diam, Rud," bisik Lisa. "Aku cuma mau tahu, kamu punya nama nggak? Soalnya dari tadi aku manggil kamu 'yang bukan Ki Dasar', capek juga." Sosok itu menoleh padanya. "Mereka menyebutku Si Penolak." "Kedengarannya kayak orang yang sering ditolak lamarannya." Ririn menahan taw

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 135

    "Sari! Sar, bangun!" Raka mengguncang bahu gadis kecil itu pelan-pelan. Tidak ada reaksi. Napasnya sangat tipis. Maman berlutut dan memeriksa nadinya. "Masih ada. Tapi lemah banget." "Eyang!" Ia memegang dadanya. "Ada cara?" *Ada,* jawab Eyang. *Tapi kamu nggak akan suka.* *Aku nggak peduli suka atau nggak. Bilang!* *Rajah putih itu kosong. Dia butuh sesuatu untuk mengisi, dan sesuatu itu harus sama jenisnya dengan yang menyegel.* *Maksudnya?* *Penjaga. Ki Dasar dulu dibuat jadi penjaga pintu. Kalau dia sekarang mau jadi teman, pintunya butuh penjaga baru. Kalau tidak, pintunya terbuka.* *Siapa yang jadi penjaga?* Eyang diam sebentar. *Aku.* Maman terdiam. *Apa?* *Aku sudah ratusan tahun hidup di tubuh keturunanku. Aku sudah terlalu lama. Dan aku berutang janji pada makhluk itu.* *Kalau Eyang pergi, Eyang nggak akan ada lagi di kepalaku?* *Betul.* *Eyang nggak boleh...* *Bayu.* Suara Eyang terdengar lembut. *Selama ini kamu merasa aku cuma mengganggu. Ta

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 134

    "Nggak," kata Maman cepat. "Nggak ada yang tidur selamanya." Sari menatapnya. "Kak Bayu, aku cuma bilang apa yang Mimi bilang." "Mimi itu boneka, Sar." "Mimi itu Ibu." Sari mengangkat boneka kelinci biru itu dan menatap Laras. "Ibu juga lihat, kan?" Laras berlutut dan memegang telinga boneka yang putus sebelah. Tangannya gemetar. "Ibu yang jahit boneka ini. Dua puluh tahun lalu, sebelum kebakaran. Ibu nggak sempat kasih ke kamu." "Ibu nyimpen jiwa Ibu di boneka itu?" tanya Raka. "Bukan Ibu yang sengaja." Laras menggeleng. "Waktu Ki Dasar mulai menarikku, bagian dari diriku masuk ke satu-satunya benda yang kupegang. Boneka itu." "Dan boneka itu ditemukan di depan gerbang panti bersama Sari," gumam Surya. "Karena Sari memang dilahirkan setelah itu," lanjut Laras pelan. "Aku nggak tahu bagaimana. Mungkin anak ini lahir dari sisa kekuatan yang nggak bisa dipakai Ki Dasar." Hartono yang berdiri di pojok ruangan menunduk. "Aku tahu soal ini." Semua menoleh. "Aku tahu La

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 133

    "Berhenti di situ, Rud!" bentak Ririn sambil menghadang. Rudi yang bukan Rudi menoleh santai. "Minggir, Nak. Aku nggak mau melukai istri pembawa rajah. Belum." "Kalau mau ke anak-anak, lewati aku dulu." "Dengan pisau kecil itu?" "Dengan apa pun yang ada." Ia terkekeh. Matanya yang ungu bergeser ke Lisa, Dina, dan Bu Ratmi, yang sudah berdiri merentangkan tangan di depan anak-anak panti. "Bu Ratmi, minggir," kata Ki Dasar lewat mulut Rudi. "Tubuh tuamu nggak akan tahan." "Saya sudah dua puluh tahun jaga anak-anak ini," jawab Bu Ratmi, suaranya gemetar tapi tegas. "Kamu harus lewati saya dulu." "Lucu. Semua orang bilang begitu." Ia mengangkat tangan. Garis hitam di lengannya berdenyut, dan angin kencang menghantam Ririn sampai terpental dua meter. Ririn jatuh berguling dan pisaunya terlepas. "Ririn!" Dina berlari membantunya. "Aku nggak apa-apa!" Ririn bangkit sambil memegangi bahunya yang masih sakit. "Lisa! Ada ide?" "Alat pemindai mati!" teriak Lisa. "Tapi kabe

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 132

    Ririn menempelkan telinganya lebih rapat ke tanah. Ketukan itu sudah berhenti. Suara Maman juga hilang. "Rin?" Rudi menghampiri sambil terpincang. "Kamu ngapain? Nyium tanah?" Ririn berdiri pelan. Ia sengaja tidak langsung menoleh. "Nggak apa-apa. Cuma dengar sesuatu." "Sesuatu apa?" "Ketukan. Lima kali." "Dari bawah?" Rudi melirik retakan di tanah. "Itu biasanya bukan pertanda bagus. Di film-film, ketukan dari bawah tanah itu selalu bawa masalah." "Ini bukan film, Rud." "Aku tahu. Tapi film itu belajar dari kenyataan." Ririn akhirnya menoleh dan memperhatikan Rudi dari atas sampai bawah. Wajahnya berdebu, bajunya robek di bahu, tangannya masih memegang sisa linggis yang patah. Semuanya normal. Kecuali satu hal. Di sisi lehernya, di balik kerah jaket, ada garis tipis berwarna gelap yang menjalar naik ke belakang telinga. "Rud. Lehermu kenapa?" "Hah?" Rudi menggaruk lehernya. "Gatal dari tadi. Kayaknya efek setrum." "Coba lihat." "Kamu mau lihat leherku? Rin, a

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 131

    Semua orang membeku. Sari berdiri di antara anak-anak lain, memeluk boneka kelinci biru. Mata putihnya menatap lurus ke Maman. Cahaya di telapak tangan kanannya berdenyut pelan. "Kak Bayu," katanya lagi. Kali ini suaranya keluar dari mulutnya sendiri, kecil dan jernih. "Aku sudah lama mimpi tentang Kakak." Maman menelan ludah. "Kamu kenal aku?" "Kakak yang selalu datang ke mimpiku. Kakak bilang nanti kita ketemu, tapi Kakak harus kuat dulu." Raka mundur satu langkah. "Itu... itu kalimat yang dulu kuucapkan ke Bayu waktu dia kecil. Setiap malam sebelum tidur." "Kak Raka juga ada di mimpiku," lanjut Sari. "Tapi Kakak lebih sedih." Raka menutup wajah dengan tangan. Bahunya bergetar. Di kepala Maman, Eyang bersuara cepat. *Dengarkan aku. Rajah di tangan anak itu bukan terbalik dua kali. Itu rajah yang tegak.* *Maksudnya?* *Rajah merahnya Raka terbalik satu kali. Rajah hitam yang dipegang kembaranmu terbalik dua kali dari aslinya. Tapi yang di tangan anak itu... itu bent

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status