แชร์

Dekat Sumur Tua

ผู้เขียน: Joker Sarjana
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-26 20:48:02

Maman melangkah gontai menyusuri jalan menuju rumahnya. Tubuhnya terasa cukup lemas setelah pergulatan panjang dan melelahkan di dapur rumah Tante Zara.

Setibanya di rumah, ia langsung merebahkan diri di atas ranjang tanpa sempat mengganti pakaiannya. Matanya yang terasa amat berat nyaris terpejam rapat.

"Kok gue ngantuk banget ya rasanya?" gumamnya pelan.

Tepat saat kesadarannya mulai melayang, tiba-tiba...

"Di belakang rumah, dekat sumur tua, terkubur setrika arang kuno peninggalan Belanda."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 143

    "Semua mundur!" teriak Maman.Dimas, yang matanya hitam pekat, turun dari altar dengan gerakan kaku. Lima titik hitam di telapak tangan kirinya berdenyut, dan bayangan di lantai mulai merayap ke arah Bintang."Dim, ini aku!" Bintang maju selangkah. "Bintang!""Aku tahu," jawab suara dua lapis itu. "Sahabat yang kutunggu.""Itu bukan Dimas!" seru Rudi sambil mengangkat gayung kuah. "Itu orang tua yang numpang!""Rud, jangan disiram dulu!" Maman menahan tangannya. "Itu badan anak orang!""Terus aku harus gimana?""Tahan aja.""Aku bawa panci, bukan perisai!"Kusuma Sentana tertawa pelan dari sisi ruangan. "Kalian pikir aku akan membiarkan kalian bertarung? Aku hanya ingin tontonan sederhana. Dua sahabat. Satu kunci. Satu pintu."Bayangan di lantai menyambar. Surya melompat dan menarik Bintang ke belakang, tepat sebelum sulur hitam menghantam tempat ia berdiri."Bintang, jangan maju sendirian!" bentak Surya."Dia temanku, Kek!""Teman yang sedang dikuasai!"Lisa mengarahkan alat pemindai

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 142

    Maman berlari ke perpustakaan sambil menarik Bintang. Rudi menyusul di belakang, masih memeluk pancinya."Man, pelan-pelan! Aku bawa kuah panas!""Taruh dulu!""Kalau kutaruh, itu senjata satu-satunya!"Pintu perpustakaan terbuka lebar. Di dalam, hanya ada rak buku, meja baca, dan seorang penjaga perpustakaan yang tertidur di kursi dengan mulut menganga. Jendela tempat pria tua tadi berdiri kosong."Dia hilang," kata Ririn sambil mengecek semua sudut."Atau memang nggak ada orangnya," sahut Rudi. "Mungkin kita salah lihat.""Aku lihat jelas," jawab Maman. "Cincin K.S, tongkat hitam, senyumnya.""Kalau gitu pasti Karta. Kan dia yang bikin pesan ke ponselmu tiga bulan lalu.""Karta sudah ditarik Sekar.""Berarti ada Karta yang lain?"Maman terdiam. Itu pertanyaan yang sama di kepalanya.Bintang menarik lengan bajunya. "Yah. Dimas nggak ada di sini.""Iya, Ayah tahu.""Kita harus cari dia.""Kita cari.""Sekarang.""Bintang." Maman berlutut dan memegang kedua bahu anaknya. "Dengar. Orang

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 141

    Bintang berlari sampai napasnya hampir habis. Ia berhenti tepat di depan gerbang, terengah-engah, dan berdiri di antara ibunya dan lima pria berjas hitam itu."Mundur, Bu!""Bintang, kamu ngomong apa?" Ririn menurunkan rantang makanannya pelan-pelan. Matanya tidak lepas dari para pria itu. "Siapa mereka?""Aku nggak tahu! Tapi mata mereka hitam semua!""Ibu lihat."Kala, pria paling tinggi di antara mereka, tersenyum sopan seperti petugas bank. "Selamat pagi, Nyonya Ririn. Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami hanya ingin mengajak putra Anda berbicara.""Berbicara di sekolah dengan lima orang bermata hitam?""Kami tidak punya banyak waktu.""Kalau begitu cari waktu di tempat lain."Ririn merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah pisau perak kecil yang sudah lama tidak ia sentuh. Bilahnya masih mengilap. Bintang melongo."Ibu bawa pisau?""Ibu selalu bawa. Dari dulu.""Kenapa nggak bilang?""Karena kamu nggak pernah tanya."Kala mengangkat satu alisnya. "Menarik. Ibu rumah tangga y

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 140

    *** EMPAT BELAS TAHUN KEMUDIAN ***"Bintang! Sudah jam enam lewat!"Teriakan Ririn menembus pintu kamar di lantai dua. Tidak ada jawaban. Ririn menghela napas, lalu memanggil lagi dengan nada lebih tinggi."Bintang Wiratama! Ibu hitung sampai tiga!""Iya, Bu! Aku udah bangun!""Bangun dari mana? Itu suara orang masih ngorok!"Pintu kamar terbuka. Seorang anak laki-laki empat belas tahun keluar sambil mengucek mata. Rambutnya berantakan, seragam SMP-nya dipakai terbalik."Baju kamu kebalik.""Itu fashion, Bu.""Itu kelalaian."Dari dapur, Maman muncul sambil membawa dua piring nasi goreng. Rambutnya sudah mulai beruban di sisi telinga, tapi badannya masih tegap. "Sudah, Rin. Biarin dia makan dulu.""Kamu selalu belain dia.""Aku bukan belain. Aku cuma mau nasi gorengnya nggak dingin."Bintang duduk di meja makan dan langsung melahap sesuap besar. "Enak, Yah.""Ayah masaknya pakai cinta.""Pakai garam kebanyakan juga.""Itu bagian dari cinta."Ririn mendelik. "Kalian berdua sama aja."D

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 139

    Tiga bulan kemudian, halaman Panti Asuhan Kasih Bunda penuh orang. Bangunan barunya sudah berdiri, dua lantai dengan cat kuning cerah dan taman kecil di depan. Di atas pintu masuk terpasang spanduk besar bertuliskan PERESMIAN PANTI KASIH BUNDA."Spanduknya miring," kata Ririn sambil menyipitkan mata."Kata siapa miring?" Rudi berdiri di atas tangga, memegang ujung spanduk. "Itu desain modern.""Rud, miring tuh miring.""Ini miring artistik.""Turun dulu, nanti jatuh.""Aku nggak akan jatuh. Aku sudah pengalaman diserang makhluk gaib, masa jatuh dari tangga?"Baru selesai bicara, tangganya bergoyang. Rudi berteriak dan memeluk tiang spanduk. Maman dan Lisa buru-buru memegangi kaki tangga."Tuh kan," kata Lisa. "Sombong sedikit langsung dihukum alam.""Itu bukan hukuman, itu... gangguan teknis!"Sari berlari menghampiri sambil membawa boneka kelinci biru. Telinganya sekarang utuh, dijahit rapi oleh Laras. "Kak Rudi, turun! Nanti Kakak jatuh beneran!""Iya, Sari. Kakak turun pelan-pelan.

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 138

    Maman membaca ulang pesan itu. Ririn ikut menunduk di sebelahnya."Dia nyebut nama Bayu," kata Ririn. "Padahal kamu baru tahu nama itu dua hari lalu.""Berarti dia tahu kejadian di bawah panti.""Atau dia memang bagian dari kejadian itu."Rudi berdiri sambil membawa nampan kosong. "Kalian bisik-bisik soal apa? Soal bakso? Kalau ada komplain, sampaikan langsung ke koki.""Bukan soal bakso, Rud." Maman menyodorkan ponselnya.Rudi membaca pesan itu, lalu melihat fotonya. Wajahnya langsung berubah. "K.S? Itu inisial cincin yang bikin kita naik gunung?""Iya.""Bukannya orangnya udah ditelan pilar?""Itu juga yang mau kita cari tahu."Lisa mengambil ponsel itu dan melacak nomornya dengan laptop cadangan. Ia mengetik cepat sambil menggigit bibir. Sepuluh menit kemudian, ia mengangkat wajah."Nomornya terdaftar atas nama Pak Kades Sukamati.""Kades yang anaknya Karta?" tanya Ririn."Iya. Dan lokasi ponselnya sekarang ada di desa itu."Rudi menjatuhkan nampannya. "Balik ke desa kuntilanak? Ak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status